Pempek dan Sampah Kota Bandung

Pempek dan Sampah Kota Bandung

Hari ini tiba2 aja ngidam mpek2 Simpang Dago. Dipaksa2in deh jalan ke Simpang walopun ujan gerimis mengundang. Ternyata apa yg diberitain di tipi muncul juga di depan mata gua. Tumpukan sampah di kota Bandung. Trauma beberapa bulan lalu muncul lagi, teror gunung sampah di kota mode Indonesia. Pernah terdengar selentingan: “Padahal kan Bandung punya TL ITB, ko bisa ada kasus gunung sampah di tengah kota?”. Ah, ga usah didenger.. mereka emang cuma ngomong doang. Emangnya masalah kaya gini tuh efek setaun – dua taun aja? Ga. Ini masalah akibat kesalahan metode yg mengakumulat sejak sangat lama.

TPA Leuwigajah ditutup, akibatnya TPA Jelekong dan TPA2 lain yg udah ditutup dibuka kembali. Sekarang saat semuanya dah pada abis kapasitasnya, kita harus puter otak lagi mikirin sampah. Pemerintah juga kerjanya lelet bgt, masa sampe sekarang belom bisa nyediain TPA baru. Emang sih milih2 tempat dan segala tetek bengeknya ngebutuhin waktu yg ga sebentar, tapi kan ga mesti selama ini dan ga mesti nunggu tragedi gunung sampah terjadi kembali di tengah kota Bandung.

Apa yg terjadi di Leuwigajah adalah akibat dari kesalahan dalam pengelolaan sampah. Sebenernya saat pendirian TPA tuh udah jelas bahwa metode yg digunakan adalah Sanitary Landfill. Sanitary Landfill adalah metode penyimpanan sampah di dalam tanah. Pada setiap beberapa satuan berat sampah dilakukan pengepresan dan pengepakan (berbentuk kotak misalnya), kemudian disusun pada sebuah lahan yg dikeruk membentuk cekungan, dan kemudian ditutup kembali dengan tanah. Bagian atas “kuburan sampah ini” bisa dijadikan lahan asal bukan lahan bangunan, misalnya dijadikan taman kota atau tempat bermain anak2.

Emang sih dibutuhin banyak dana dan tenaga kerja dalam pengerjaan metoda Sanitary Landfill ini, namun karena metode ini paling baik diterapin di Indonesian, mau ga mau kita harus ngejalanin. Semua TPA di Indonesia harus nerapin metode ini dalam pengolahan sampah. Ambil contoh TPA Leuwigajah, jangan tanggung2… Konon (kata anak TL) di sana metode itu emang jalan dalam beberapa tahun pertama. Tapi lama2 dana makin tipis dan otomatis tenaga kerja jadi sedikit, lama kelamaan pekerjaan ini ditinggalkan. Lalu? Ya apalagi selain menimbun sampah begitu saja. Akhirnya penimbunan sampah menjadi kebiasaan dan dianggap sebagai langkah yg benar. Hal ini juga ditunjang oleh keberadaan para pemulung yg semakin hari semakin bertambah jumlahnya. Jelas mereka akan lebih diuntungkan jika sampah tidak berada di bawah tanah. Ya toh?

Sedikit demi sedikit lama2 menjadi bukit, inilah semboyan yg sangat cocok buat ngegambarin TPA2 di Indonesia. Khusus untuk TPA Leuwigajah Bandung ada tambahan ‘bom’nya. Bom yg tahun lalu berhasil merenggut banyak nyawa ini berasal dari akumulasi gas metan hasil dekomposisi sampah organik. Munculnya bom ini juga sebagai akibat dari tercampurnya sampah organik dan anorganik. Ga nyangka kan? Masalah sepele seperti memisahkan sampah organik dan anorganik bisa berakibat fatal kaya gituh. Jika saja masyarakat Indonesia sedikit cerdas dengan memisahkan kedua jenis sampah tersebut, hal semacam ini ga perlu terjadi. TPA hanya akan menerima sampah anorganik, sedangkan sampah organik diolah menjadi pupuk kompos (tuh kan, malah nambah profit..).

Ngomong2 masalah pemilahan, gua jadi inget ma tong sampah pemilu yg ada di setiap pojok kampus gajah duduk. Orang2 menyebutnya “pemilu” karena punya tiga warna: merah-kuning-hijau, persis pemilu jaman orde baru =P… Pernah suatu hari gua mendapati semua karung dari ketiga jenis sampah dimasukin ke dalam kontainer yg sama. Lah, trus ngapain juga pake tong sampah pemilu segala kalo ujung2nya disatuin juga. Dari beberapa orang yg gua ajak diskusi tentang masalah ini keluar pernyataan klasik: “Mo dimasukin ke kontainer yg beda sekalipun tetep aja nantinya bakal masuk TPS ato TPA yg sama, ga akan dipisahin”. Iya ya… percuma aja sampah dipisah2in berdasarkan jenisnya kalo belum ada alternatif pengolahan masing2 jenisnya. Artinya tong sampah pemilu itu ga berguna, kecuali memberikan fasilitas bagi warga gajah duduk untuk membiasakan diri memilah sampah. Susah emang… cara berpikir bangsa kita masih jauh terbelakang dibanding bangsa lain masalah sampah. Boro2 mikirin sampah, makan aja susah…

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s