0

Mereka adalah Kowak-malam Kelabu

Beberapa bulan terakhir warga ITB dibuat bertanya-tanya tentang siapa gerangan yang membuat jalanan menjadi putih dan tercium bau anyir tak sedap di sekitar Jalan Ganeca. Bagi orang-orang yang memperhatikan, pasti langsung menyadari bahwa cairan putih itu berasal dari burung-burung besar yang melintasi Jalan Ganeca dan kampus ITB. Pertanyaan 5W+1H kemudian mulai terlontar: Siapa mereka? Mengapa mereka di sini? Sejak kapan mereka ada di sini? Di mana tempat tinggal mereka? Bagaimana mereka hidup? Let’s check it out!

Mereka adalah Kowak-malam kelabu (Nyticorax nyticorax). Burung ini dapat diamati dengan mata telanjang tanpa harus menggunakan alat bantu seperti teropong, karena ukuran tubuhnya yang relatif besar. Panjang tubuhnya bisa mencapai 60 cm, dengan kepala yang besar, tubuh yang kekar, dan warna bulu hitam, abu-abu, dan putih. Untuk jenis dewasa burung ini memiliki mahkota hitam serta bulu putih di bagian dada dan leher.

Burung ini biasa memakan kadal, tikus, atau ikan, namun juga mempunyai sifat kanibal. Mereka disebut juga Kowak maling karena kegemarannya mencari dan memakan anak burung jenis lain. Jadi jangan heran kalau tiba-tiba Kamu melihat potongan ikan atau kadal atau anak burung di tengah Jalan Ganeca atau sekitar kampus. Kemungkinan itu adalah hasil gondolan mereka yang terjatuh.

Berdasarkan hasil wawancara Kami dengan Bapak Rohman Suryaman — staf kurator burung Kebun Binatang Bandung (KBB) — pada hari Sabtu (25/02/06), Kowak-malam kelabu pertama kali dibawa ke KBB sekitar tahun 1990, tepatnya berjumlah tiga ekor. Mereka kemudian diberi kandang yang cukup luas dan makanan yang baik. Karena kondisi tempat tinggal dan makanan yang menunjang, burung-burung ini kemudian berkembang biak dengan sangat cepat. Pada tahun 1993 populasi Kowak di KBB berjumlah sekitar 75 ekor.

Karena kondisi kandang yang sudah tidak memungkinkan menampung burung Kowak sebanyak itu, pihak KBB berniat melepaskan sebagian dari mereka ke alam. Dalam dua periode, sebanyak 45 ekor burung Kowak dipindahkan ke kandang terbuka dan disatukan dengan burung-burung jenis bangau-bangauan lain seperti Bangau tong-tong. Sebelum benar-benar dilepas di alam, mereka diperkenalkan dengan kolam ikan, rumput, dan pohon-pohon. Itulah alasan mengapa burung-burung itu dipindahkan ke kandang terbuka terlebih dahulu. Dengan sendirinya mereka akan pergi ke dunia luar, dunia yang sesungguhnya. Namun pelepasan burung-burung ini bukanlah tanpa tanggung jawab. Pihak KBB menyediakan 17 kg ikan per hari di kolam, khusus untuk burung Kowak yang belum bisa mencari makan sendiri atau burung Kowak yang ‘malas’ mencari makan.

Beberapa tahun kemudian populasi Kowak di alam juga meledak. Selain sistem reproduksinya yang relatif mudah dan cepat, sifat Kowak yang suka menjelajah juga berperan dalam overpopulasi ini. Keberadaan Kowak di wilayah ini ternyata mengundang Kowak dari wilayah lain untuk menetap dan berkembang biak di wilayah ini.

KBB kemudian menghentikan suplai makanan untuk Kowak, salah satu tujuannya adalah menekan populasi mereka di alam. Burung-burung ini kemudian mulai menginvasi wilayah yang lebih jauh untuk mencari makan, mulai dari Taman Ganeca sampai daerah Ujung Berung. Ternyata bukan hanya masalah makanan yang membuat pihak KBB bingung, karena ternyata kotoran mereka — yang berwarna putih — dapat merusak tumbuhan yang dikenai. Kotoran burung Kowak bersifat panas, dapat merusak jaringan tumbuhan, pH tanah, dan mungkin bisa saja merusak benda-benda lain seperti bodi mobil.

Upaya-upaya KBB menekan populasi Kowak di alam tidak sebatas menghentikan suplai makanan, tapi mereka juga melepaskan tiga ekor Elang ruyuk ke alam. Elang ruyuk akan berperan sebagai predator yang akan memangsa Kowak, dan akhirnya ‘mengusir’ mereka. Metoda ini tidak efektif, terbukti dari masih meledaknya populasi Kowak di KBB. Kegagalan upaya ini kemungkinan disebabkan oleh kurang ‘buas’-nya sang elang. Elang-elang ini merupakan hewan bekas peliharaan manusia yang mungkin naluri predasinya sangat rendah atau limit mendekati nol.

Upaya lain yang dilakukan oleh KBB untuk mengurangi populasi Kowak adalah dengan memasang misnet di area dekat gerbang KBB. Upaya ini dilakukan pada tahun 2003 dan merupakan hasil kerjasama dengan pemanjat tebing dari salah satu organisasi Pencinta Alam di UNPAD. Diharapkan burung-burung Kowak akan terjaring dan kemudian dapat ditindaklanjuti. Namun metoda ini juga mengalami kegagalan dengan fakta jumlah burung yang terjaring sama dengan nol.

Upaya terakhir yang dilakukan adalah membuat ‘kokoprak’. Kokoprak adalah alat pengusir burung yang terbuat dari kaleng-kaleng bekas dan tali tambang panjang. Kaleng-kaleng dipasang di atas pohon dan tali tambang dibuat menjuntai sampai permukaan tanah. Jika tali tambang digoyang, kaleng-kaleng bekas di atas pohon akan menimbulkan suara sehingga dapat menakut-nakuti Kowak. Upaya ini cukup berhasil, minimal untuk satu periode waktu. Untuk beberapa bulan mereka sempat menghilang dari wilayah KBB dan tinggal di daerah PINDAD (Kiaracondong). Namun setelah interval tersebut mereka kembali bermukin di KBB. Walaupun kurang efektif, usaha ini merupakan senjata pamungkas, terbukti dari masih dipakainya metoda ini sampai sekarang.

Bicara tentang burung Kowak memang tidak akan ada habisnya. Semua pihak yang merasa dirugikan akan bertanya-tanya bagaimana cara menghilangkan burung ‘kotoran putih’ ini tanpa merugikan pihak manapun termasuk burung Kowak itu sendiri. Sampai saat ini para peneliti dari ITB masih melakukan penelitian terhadap burung ini guna mewujudkan tercapainya solusi terbaik yang dimaksud. Kita sebagai ‘korban’ diharapkan terus berhati-hati mengingat masih berkembangnya isu flu burung di indonesia. Trus, ngapain dong tulisan ini dibuat? Yah… just let you know… 🙂

Advertisements
1

Vulgar ya…?

Barusan banget di kelas metpen, si mami cerita kalo tadi malem buka blog ini. Trus dia bilang blog gua terlalu vulgar. Iya sih… beberapa postingan emang rada vulgar malah mengandung sarkasme. Lagian gua pikir “siapa juga yg mo baca blog gua”. Makanya gua nulisnya seenak bagong. Ternyata ga sesimpel yang gua bayangin. Ini introspeksi buat gua. Untuk ke depannya kalo mo nulis sesuatu harus dipikir dua kali. Layak dibaca ma orang-orang pa engga. Trus buat postingan-postingan yg udah keburu diposting, sekarang gua sortir lagi.

Gua mo minta maap kalo ada pihak-pihak yang keberatan ma tulisan gua. Soalnya gua adalah penganut “aing-aing maneh-maneh”, yang berprinsip “blog-blog aing, kumaha aing we…”. Tapi sekarang gua sedikit sadar bahwa ga semua orang punya pola pikir yg sama. So, ditunggu kritikannya kalo nemu tulisan vulgar di blog ini. Tengs bifor. xoxo

0

Hari ini di prenster gua dapet bulletin board aneh bin ga penting

From:
Date: localDateTimewithTimezone(“February 26, 2006 10:27 PM”,”datetimetag”);Monday, February 27, 2006 13:27:00
Subject: GOSIP TERBARU PHB
Message: 1.NEDI vocalis PHB mau bikin buku.jangan pada beli
yah ga akan berguna,rrugi jgn ketipu untuk yg ke 2
kalinya.
makeURL(“2.website PHB segera di buka http://www.orkesphb.net”,”eHNsL2J1bGxldGluLnhzbA==”);2.website PHB segera di buka www.orkesphb.net
3.pemain kecrek PHB “iman” sakit muntaber doain
supaya cepat……………………..amien
4.album ketiga mau beres euy
0

Pertama Kali Diusir dari Kelas di Semester ini

Gu ga tau apa yg terjadi sama semua jam di rumah gua, ga ada yang beres. Gua pikir jam di kamar gua yang paling bener, eh kampret ga taunya jadi lelet 15 menit. Sapa nih nyang berani ngubah-ngubah?

Yo wiss… gua todong aja si mamih yang baru aja nyampe rumah abis nganterin adek gua untuk puter balik, gua juga minta dianterin. Gawat nih kalo ngandelin ojek doang, ga akan kekejar… 15 menit lagi kelas bu Ir akan dimulai, dan gua harus masuk soalnya ada tugas. Pokonya hari ini gua harus ngumpulin tugas itu, masa udah cape-cape dikerjain ga dikumpulin? Masa mau ngulang bisel lagi taun depan? Nggak lahayyyyy…

Iya iya,, gua tau telatnya maksimal 15 menit. Tapi gua keukeuh sumeukeuh pengen masuk buat ngumpulin tugas. Gua emang niatnya gitu: ngumpulin tugas trus caw. Tapi belom sempet gua ngomong, si ibu langsung ngomelin. Sebenernya dia pengen langsung ngusir, tapi make basa-basi dulu “Gimana nih yang lain, dia boleh masuk ga?”. Ada yg nyeletuk “Nggak..”. Pasti nih anak 2004 yg dendam ma gua gara-gara ospek tahun kemarin. Gini nih, ga asiknya masuk kelas ngulang, kita berpotensi buat dipermalukan di depan adek kelas yg pada kurang ajar itu.

Trus dengan tegas dan kerennya gua bilang “Ya udah deh Bu, gua ngumpulin tugas trus Saya pergi dari kelas..”. Beuh… anjir, si aing keren pisan. Gua mah ga peduli mereka sekelas bakal ngetawain gua atou ngomongin gua, yang penting gua ngelaksanain dan ngumpulin tugas gua tepat waktu. That’s the point!




0

Hari Pusing

Biasanya gua tidur malem 5 jam, tapi tadi malem 12 jam. Biasa lah, begini nih kalo bales dendam, suka ga inget waktu. Bangun-bangun kepala langsung puyeng ga jelas.

Karena hari Minggu ini gua ga ada kegiatan, gua diem aja di rumah, ceritanya mo istirahat. Tapi ga bisa, soalnya kepala cekot-cekot. Gua biasanya sibuk banget tiap hari. Ngurusin ini ngurusin itu, idar-ider ga jelas. Diem di rumah rasanya aneh banget dan malah bikin gua tambah cekot-cekot.

Ya udah, gua putusin buat ikutan nganterin si bokap ke stasiun, sekalian jalan-jalan. Di mobil sih cekot-cekotnya dah ilang, tapi begitu keluar mobil buat ngambil duit di ATM, kepala langsung pusing lagi gara-gara kepanasan. Hari ini emang edan gila panasnya. Menyengat bo…!

Obat yang paling mujarab adalah bersenang-senang. Bener loh… terbukti dengan jalan-jalan gua hari ini. Tapi what about pusing susulan gua ini? Gua ke Hero Supermarket aja, gua kan hobi juga tuh belanja-belanja ga jelas. Di Hero gua beli jambu ma alpuket ma es krim Conello. Waaa… ga sabar nih makan es krimnya. Bikin lebih ga sabar lagi begitu tau kasirnya cuman ada dua dari 5 kasa di sana. Udah gitu pembeli yang ngantri belanjaannya banyaaaaaaaaaaaaak banget, mana pake milih-milih hadiah lagi, kasirnya juga kurang sigap mencet-mencet keyboardnya. Udah deh es krim gua leleh di antrian. Pas bayar gua minta ganti aja tuh es krim leleh ma es krim yang beku. Liat aja kalo ga boleh!

Pusing gua ilang lagi berkat Conello yang yummy itu. Tapi tau ga, tau ga, kepala gua pusing lagi gara-gara diem di depan komputer warnet selama 3 jam penuh. Halah… padahal biasanya juga semaleman depan komputer gapapa, ini malah pake acara pusing segala. Males kali nyah…

Di jalan ada gorengan, salah satu obat pusing ala gua juga. Sambil nongkrong di tempat emang jualannya gua makan dua gorengan. Ga nyembuhin sih, tapi sedikit mengurangi, sugesti kali yah…

Dari emang tukang gorengan gua jalan ke angkot odong-odong. Gua duduk paling pojok belakang. Di sebelah gua duduk ibu-ibu yang mangku anak perempuan yang kira-kira umurnya 4-5 tahun. Tuh anak maceuh banget, masa sambil dipangku dia loncat-locat sambil berdiri. Karena kemaceuhan ga jelas anak itu, kepalanya ngebentur kepala gua. “Jeduk!!!!”. Waaaaaaa… kepala gua jadi tambah pusing. Huaaa… kalo dunia ini milik gua, gua bakal nangis kenceng-kenceng saat itu. Sekalian gua tonjok tuh anak kecil.

Di perjalanan menuju rumah, jalan gua sempoyongan. Laper, pusing, dan masih bete sama anak kecil itu. Ujan turun rada deres. Gua ga peduli sama sendal ato tas gua yang basah, gua cuman peduli sama kepala gua dan pengen cepet-cepet sampe rumah.

Di rumah si nyokap langsung ngasih Neuralgin. Obat ini katanya emang analgesik yang paling mujarab. Tapi mungkin gara-gara sakit kepala gua yang edan amit-amit sakit banget ini, Neuralgin sekalipun ga mempan. Akhirnya gua mengusahakan upaya terakhir yaitu bikin mie rebus yang pedeeeees banget. Gua bikin mie ABC selera pedas ditambah beberapa cengek yang dipotong tipis-tipis. Edan pedes banget, tapi ampuh ngilangin pusing gua hari ini. Horeeee…!

0

Kapan Lagi ke Bonbin Gratisan…?!

Pasca Dies Natalis tadi malem, sel dipenuhi oleh orang-orang yang lagi bobo. Mereka udah kaya pindang aja. Geletak sana geletak sini. Gua jadi ikutan ngantuk juga nih. Rencana sih hari ini mo ke bonbin bareng Eko, nyari info tentang kowak. Mumpung Eko belum dateng dan pasti ngaret, gua bobo dulu ah.

Eko dateng jam 12, tapi karena kudu ke MAHITALA UNPAR dulu, ke bonbinnya entar aja rada sorean. Yess… bobo lagi.

Jam 14 akhirnya ke bonbinnya jadi, bareng Jupri juga. Kita naik mobil Eko dari Sunken Court menuju arah depan. Kirain bakal parkir di bonbin, ga taunya parkir di Sipil. Ya ampun, dari ITB ke ITB aja make mobil, gaya kali pun! Oiya kita juga bawa keranjang rotan, isinya si Widyo. Widyo bakal kita serahin ke bonbin aja, daripada dikurung di sel ga mau makan, paling bentar lagi juga mati.

Dengan alasan mo nyerahin satwa, kita digratisin masuk bonbin. Trus kita masuk ke kantor staf bonbin, nyerahin Widyo, trus duduk dan nanya-nanya masalah kowak. Bapak Rohman Suryaman sebagai kurator burung welkam banget ke kita, dan ga ngerasa keberatan kita nanya-nanya kowak yang rada nyerempet-nyerempet masa lalu.

Di pojok kantor ada kurungan besi isinya 4 ekor bayi Surili yang lucu-lucu. Mereka baru dilahirin beberapa hari lalu tapi induknya ga mau ngurus. Jadi mereka diurusin ma manusia. mereka lucu-lucu banget. Satu ekor tidur sambil duduk, satu ekor ngelamun, yang dua sisanya ngunyah-ngunyah toge. Uuuuhh… lutuna, kucuk kucuk kucuk…


Dari kantor kita nyempetin liat binatang-binatang dulu walopun hujan turun dengan deras. Kayanya cuman kita orang goblok di sana yang mau ngeliatin binatang-binatang sambil kuyup ujan-ujanan. Mumpung gratis cenah. Jupri ma Eko eksaiting banget ngeliat binatang-binatang di sana. Gua jadi ketawa-ketiwi sendiri ngeliatin mereka yang kaya anak kecil ngeliatin barang baru yang aneh. Maklum lah, si Jupri dah 4 taun di Bandung tapi belum pernah ke bonbin. Kalo si Eko lagi nostalgia, soalnya terakhir kali ke sini pas kelas 1 SD. Katanya dulu pas kelas 1 SD dia pernah difoto ma gajah di sini. Iya iya ko, percaya…

Hewan favorit kita adalah Elang Jawa, si gagah dari Pulau Jawa. Dia lagi bertengger dengan tegapnya. Ditambah lagi sama jambulnya yang berdiri, tambah gagah aja nih burung.

Ada satu hewan yang bikin kita kaget sekaligus serem sekaligus ketawa-ketawa : burung hantu. Serem karena dipelototin dari atas, kaget karena dia bisa ngebalikin kepalanya 180 derajat, dan ketawa-ketawa karena kita kaget, heuheuheu. Jadi ceritanya ada burung hantu yang lagi nongkrong ngebelakangin kita tapi jaraknya deket banget ma kawat pembatas kita dengan dia. Si Eko sambil jongkok nyiul-nyiul ngegodain, layaknya cowo ngegodain cewe lah. Ga taunya burung itu noleh 180 derajat sambil melotot. Si Eko langsung kaget. Mampus lu Ko! Buat ngebuktiin ke kita, dia nyiul-nyiul lagi. Sekarang giliran gua ma Jupri yang kaget. Cobain sendiri deh kalo ke bonbin…

Pulang-pulang kita kedinginan deh. Titah saha atuh merekedeweng?

0

Mmmmmuah… Big Kiss for KMPA

Get graphics at Nackvision.com

Hari ini KMPA ulang taun yang ke-15… Wawawawa…. semua orang gembira dan bahagia… hore… hore…!

Ini lomba-lomba yg dipertandingkan berikut pemenangnya….
1. Lomba makan cabe rawit pake tahu, pemenangnya GM XIV (Koko)
2. Lomba estafet, pemenangnya G XIV (Gugum, Irland, Berry)
3. Lomba masak, pemenangnya G XIV (Rima, Anna.. makasih, makasih…)

Sebagai juara umum, gua dan angkatan gua mengucapkan terima kasih kepada pihak penyelenggara acara (walopun acaranya berantakan dan medalinya jengkol dan pete, hehe…), juga Saudara Haqul yang meminjamkan sepeda motornya sebagai fasilitas belanja bahan-bahan makanan buat lomba masak, juga tukang-tukang poto yang mengabadikan momen indah angkatan kami hari ini.

Semoga KMPA selalu jaya. Amin…