Jaket Siyalan…

Bandung, 2 Maret 2006

Di selasar Gedung Segi Delapan, Institut Gadjah Doedoek yang berdiri sedjak 1920, alkisah berkumpulah jaket-jaket dengan warna beragam.

Jaket Merah: “Ngapain sih ngamatin burung, dasar gila! Emang ngamatin burung bisa ngasilin uang?”
Jaket Kuning: “……. (Hahaha…. Ngemeng lagi nih orang!)”

Jaket Kuning memilih untuk diam dibanding harus membalas perkataan si Jaket Merah. Sudah mendarah daging, baik untuk si Jaket Kuning maupun si Jaket Merah. Jaket Merah memang selalu begitu. Jaket yang aneh. Blak-blakan, namun tidak pada tempatnya.

Jika saat itu Jaket Kuning berpikiran lain, maka terdapat dua peluang kejadian yang akan terjadi. Kemungkinan yang pertama adalah terjadi perkelahian, minimal perang mulut hebat tentang jaket mana yang lebih bagus. Kemungkinan kedua Jaket Kuning tidak hanya diam, namun tidak berpotensi menimbulkan perkelahian atau keributan lain. Cukup dengan berkata (misalnya) “Ngapain sih nyoblos di PEMILU buat milih presiden? Emang nyoblos bisa ngasilin uang?” dengan nada yang sama dengan perkataan lawan bicara sebelumnya.

Mencoblos di PEMILU untuk memilih presiden tidak akan menghasilkan uang. Tapi dari proses tersebut kemudian akan dihasilkan sesuatu yang besar. Mungkin revolusi atau kesejahteraan rakyat. Tergantung dari hasil proses sebelumnya. Warga negara Indonesia yang dengan sukarela mendatangi Tempat Pemungutan Suara, lalu mendaftar, lalu menunggu giliran, lalu masuk ke bilik suara, lalu mencoblos salah satu pilihan, lalu memasukkan amplop ke dalam kotak suara, lalu salah satu jarinya diberi tinta, adalah seorang warga negara yang telah menunaikan tugasnya. Tugas warga negara yang baik adalah berguna bagi nusa dan bangsa.

Untuk melanjutkan tindakannya yang memilih untuk tidak diam namun tidak ingin membuat keributan, Jaket Kuning cukup mengatakan kalimat-kalimat pada paragraf di atas. Untuk paragraf selanjutnya, Jaket Kuning hanya tinggal mensubstitusi beberapa kata atau frasa atau klausa dengan yang baru. Tidak perlu aku beri tahu apa kata-kata substitannya di sini, karena aku hanya menulis untuk orang-orang yang seperjuangan denganku, dan aku yakin mereka tahu apa itu.

Namun Jaket Kuning memilih untuk diam, tidak peduli apa yang Jaket Merah pikirkan tentang dirinya. Biarlah dia berbicara, toh sebenarnya dia tidak tahu apa-apa. Apa yang Jaket Merah pikirkan adalah tidak penting. Yang penting adalah apa yang dia pikirkan, dan apakah dia dapat menunaikan tujuan hidupnya yang sebenar-benar.

Uang? Apakah hanya itu yang mereka pikirkan? Tidak adakah hal lain yang bisa dijadikan orientasi hidup? “Ingin menantangku mencari uang?” Jangan kaget, si Jaket Kuning bisa saja tergantung pada sebuah kursi berlabel Freeport, Medco, atau Exxon jika dia mau, hanya untuk membuktikan pada si Jaket Merah bahwa tidak semua hal di dunia ini bersatuan Rupiah. Siap bertanding?

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s