2

Mimpi

Perih….
Saat tahu kamu sudah tidak lagi dibutuhkan dalam hari-hari cerahnya
Saat dia hanya datang padamu saat hari mendung atau hujan
Saat kamu harus mengukir senyum ketika dia bercerita betapa cerahnya hari ini
Dan kamu tersenyum, karena harus ikut bahagia untuknya

————————————————————————-

Saia selalu ingat akan hal ini: jangan terbang terlalu tinggi kalau ga pengen jatuh terlalu keras.

Mungkin ini juga yang bikin saia ga jadi seorang pemimpi: mimpi jadi orang kaya, mimpi punya suami kaya (hehe…), mimpi dapet cowo sekeren Brad Pitt, atau mimpi punya IPK 4 saat pake toga. Saia hanya berani berharap di kemudian hari punya kehidupan yang lebih baik dan lebih bahagia dari sekarang, dan yang paling penting saia juga bisa membahagiakan orang-orang yang sudah bekerja keras sampai saia bisa hidup hari ini.

Tapi namanya juga manusia: sadar ga sadar pasti bermimpi. Dalam prinsip hidup saia, boleh-boleh saja bermimpi, asal ada batasnya, dan ga boleh kecewa saat tiba-tiba apa yang dimimpikan hanya menjadi sebuah mimpi belaka.

Seperti hari ini. Saia baru tersadar kalau ternyata saia terjerat dalam sebuah mimpi. Sebuah mimpi yang sederhana tapi kandas, sebuah pertemanan tulus yang sejati.

2

Sway

Don’t stray
Don’t ever go away
I should be much too smart for this
You know it gets the better of me

Sometimes
When you and I collide
I fall into an ocean of you
Pull me out in time

Don’t let me drown
Let me down
I say it’s all because of you

And here I go
Losing my control
I’m practicing your name
So I can say it to your face

It doesn’t seem right
To look you in your eye
Let all the things you mean to me
Come tumbling out my mouth

Indeed it’s time
To tell you why
I say it’s infinitely true

Say you’ll stay
Don’t come and go
Like you do
Sway my way
Yeah I need to know
All about you

And there’s no cure
And no way to be sure
Why everythings turned inside out
Instilling so much doubt

It makes me so tired
I feel so uninspired
My head is battling with my heart
My logic has been torn apart

And now it all turns sour
Come sweeten
Every afternoon

Say you’ll stay
Don’t come and go
Like you do
Sway my way
Yeah I need to know
All about you

It’s all because of you
It’s all because of you

-Bic Runga –

1

Hari Ini Banyak Cerita Kali Pun

Laporan Planaria
Orang-orang pada sibuk banget bikin laporan hari ini. Komlebs dipenuhi oleh anak-anak biologi 2003 yang berisik nanya ini nanya itu sama temen di sebelahnya maupun yang ada di ujung sana. Kita bikin keributan serasa komlebs milik sorangan, tapi desibelnya ga segede anak kimia kalo lagi bikin laporan.

Gua heran, kenapa orang-orang bisa jadi sedepresi ini ketika harus membuat laporan yang jumlahnya cuman satu dalam seminggu atau dua minggu. Dulu jaman-jaman tingkat dua, bikin lima laporan dalam seminggu oke-oke aja tuh — heueuh da make master.

Apa yang harusnya kita tulis dalam pembahasan adalah apa yang menurut kita benar berdasarkan logika dan hasil pengamatan, lalu dibandingkan dengan hipotesis dan fakta-fakta dari studi literatur. Pada kenyataannya kebanyakan mahasiswa dibuat pusing saat berkutat dengan data statistik dan bla bla bla. Padahal mah kitu-kitu kemod, ANOVA lagi ANOVA lagi, masa dari dulu pusing terus… kapan pinternya?

Trus nih banyak juga (biasanya cewe) yang suka down begitu tahu bahwa laporan si A tebelnya dua kali lipat dari laporan yang dia buat. Poin penting pada sebuah laporan tidak ditentukan dari tebalnya tumpukan kertas Jeng, Tapi dari kemampuan kita membahas atau menganalisis permasalahan. Susah sih mental orang Indonesia mah: nulis banyak = bagus. Padahal kan belum tentu. Kalo banyak tapi muter-muter mah sama aja boong, malah bikin lieur. Gua jadi inget laporan proyek ekologinya si Harry yang 150 halaman tapi cuman dapet nilai 50 apa 60 gitu.

Satu lagi yang rada nyentil nih, gua baru tau bahwa ternyata di angkatan gua yang katanya sebentar lagi mau TA ini, masih aja terdengar kata “master” saat pengerjaan laporan. Gua bukannya sok alim atau begimana…. Gua juga pernah sekali dua kali mah nyontek laporan ke master. Kaya semester kemaren pas mata kuliah proyek mikro, gua sampe ngutang 3 laporan ke asisten gara-gara ga sempet bikin dan gua ga mau liat master. Tapi akhirnya nge-master juga gara-gara dipaksa-paksa sama si mamih dan iman gua kurang kuat, hehehe…. Status quo: kalo ga digituin sama si mamih, gua ga akan ngerjain ntuh laporan sialan.

Itu kan jaman dulu, jaman-jaman jadi kuli dan jadi mumi (semaleman bikin laporan dan siangnya tidur di kelas). Gua sekarang sadar, tindakan itu bodoh dan hanya membodoh-bodohi diri sendiri. Sayangnya ini terjadi juga pada orang-orang dengan IP 3 koma dan 4. Ah, ga asik. (Mendingan kaya gua, IP satu koma tapi minimal berusaha ngerjain laporan sendiri dengan pemikiran sendiri — kecuali jurnal yah, hehehe). Apalagi sekarang kita udah semester 6, laporannya cuman satu tiap minggu. Berarti ga ada alesan lagi kaya waktu tingkat 2, kecuali emang orangnya males dan ga mau mikir. Peduli bagong ah, itu mah balik lagi ke pribadi masing-masing. Harusnya kalo ngaku pinter, bisa nentuin mana yang bener dan mana yang salah, dan berpikir tentang esensi IP 4 yang sesungguhnya.

Praktikum Biper
Praktikum biper hari ini nongton pelem jadul lagi. Gapapa lah, gua mah mendingan disuruh bikin resume daripada bikin laporan :p. Judul pelemnya”Sign and Signals” dan “Living Together”. Isinya keneh kemod orangnya itu-itu lagi: Niko Tinbergen deui…. Konrad Lorenz deui…. Gua suka banget ma orang-orang kaya Tinbergen dan Lorenz ini. Kalo mereka masih umur 20-an atau 30-an mah pasti gua kecengin.

Praktikum Biostatistika
Seperti biasa, sok teu baleg, asistennya mudah dirayu, hahahaha 😀

Koprik 1.0 KMPA
Namanya juga koprik alias kopi dan keripik, ga dibutuhin keseriusan dan konsentrasi dalam berdiskusi apalagi notulensi, tapi minimal kita harus fokus sama apa yang bakal dilakuin. Aturan, kita diskusi ringan sambil makan keripik, tapi dasar KMPA, yang ada malah makan keripik sambil diskusi. Ngobrolnya jadi ga fokus, soalnya pada sibuk rebutan keripik dan ngunyah “kriuk… kriuk…”. Beberapa di antaranya ga fokus gara-gara gundah gulana pengen buru-buru ke Altim buat tanding DOTA yang diadain sama KMPn.

WC PAU
Merin pengen dianterin pipis. Sebenernya gua males sih, soalnya lagi asik-asik browsing. Tapi begitu tau dia mo pipis di PAU, gua putusin buat nemenin dia, soalnya kasian kalo malem-malem cewe pipis sendirian di gedung PAU yang spuki grumpi itu. Gua putusin mendingan kita ke WC lantai 3 aja jangan WC lantai 1. Walopun banyak cerita aneh tentang WC lantai tiga (dan emang terasa ada sesuatu yang aneh), gua ngerasa lebih nyaman aja di situ soalnya lebih terang dan banyak orang lewat, plus deket mushola. Kalo di WC lantai satu: udah mah gelap, sepi, ada gambar barong pula di dalem WC. Bisa gila….

Lendy Jago DOTA
Torah dan Sigit langsung cerita tentang lawan-lawan main DOTA mereka yang tangguh sepulang dari arena pertandingan. “Untung kita ga menang, kan kalo menang kita besok lawan si orang itu yang jago banget. Ntar malu-maluin lagi!”

Kata Sigit di sana juga ada Lendy yang ikut bertanding dan katanya jago banget mainnya, jadinya menang terus. Katanya dia tuh pernah jadi juara 1 pertandingan DOTA di manaaaaaa gituh. Ga nyangka, orang yang paling males belajar di kelas setelah Toge ternyata jadi jagoan main DOTA di kampus. Horeeeee….

Kue Black Forest
Mami Laila ditraktir sama Oki makan di Victoria Cafe tadi sore, trus beli dua kue black forest mini, satu untuk gua satu lagi untuk Torah. Kuenya enaaaaaak banget dan gua bagi-bagiin aja ntuh kue ke anak-anak yang ada di sel. Gapapa lah dapetnya sepotong-sepotong kecil juga, yang penting mah berbagi 🙂

Gua sangat menghargai perhatian-perhatian sederhana yang orang berikan buat gua. Seperti kue black forest yang gua dapat. Thanks a lot 🙂

1

Jalak Bali, Riwayatmu Kini…

Ini adalah tulisan gua di Synaps edisi April 2005 tentang Jalak Bali



Jalak Bali (Leucopsar rothschildi) satwa simbol Provinsi Bali adalah salah satu burung paling langka di dunia, dan mewakili genus tunggal dari jenis jalak-jalakan yang hidup endemik di Pulau Bali bagian Barat.Dalam sejarah penyebaran, burung Jalak Bali tersebar luas di bagian Barat Pulau Bali termasuk di kawasan taman nasional, hutan savana kering, dan semak-semak hutan meluruh (moonson) di taman nasional dan hutan kebun di pedesaan. Namun dengan berkembangnya wilayah permukiman dan perkebunan, dari tahun ke tahun populasi Jalak Bali terfragmentasi menjadi populasi-populasi kecil, yang semakin lama semakin berkurang.

Saat ini berdasarkan sensus tahun 2001, jumlah burung Jalak Bali di alam tidak lebih dari 6 ekor. Dan pada bulan Desember 2001 telah direintroduksi sebanyak 10 ekor Jalak Bali dari penangkaran. Dengan jumlah populasi seperti itu, secara internasional Jalak Bali dikatakan sudah punah di alam. Selam kurun waktu 10 tahun, populasi terus berkurang dengan sangat cepat. Tidaklah heran jika saat ini manusia tidak pernah melihat Jalak Bali yang terbang berkelompok. Hanya ditemukan satu-dua burung yang terbang, dan itupun sulit dideteksi.

Populasi Jalak Bali dari tahun ke tahun relatif menurun. Selain deforestasi, harga yang mahal untuk seekor burung Jalak Bali juga mempengaruhi jumlah individunya di alam. Pencurian adalah ancaman terbesar pada saat ini. Bukti-bukti pencurian seringkali ditemukan berupa lem, tali, dan net (jaring-red). Metoda terbaru yang dilakukan oleh pencuri yang tertangkap oleh aparat hukum adalah dengan “mengecat” burung Puter dengan warna putih sehingga mirip dengan Jalak Bali, kemudian digunakan sebagai pemikat (lawan jenis-red) dan disimpan di pohon sarang dan pohon tempat mencari makan Jalak Bali. Selain itu beberapa tahun belakangan ini upaya pencurian meningkat dan dibarengi dengan perampokan populasi Jalak Bali di pusat penangkaran. Perampokan paling besar terjadi pada tahun 1999 di mana sebanyak 39 ekor Jalak Bali berhasil dijarah dari pusat penangkaran Taman Nasional Bali Barat.

Di sisi lain upaya penyelidikan terhadap semua pencurian dan perampokan tersebut selalu ditanggapi dengan tidak serius dengan cenderung main-main oleh pihak taman nasional, kepolisian, dan pengadilan. Namun berkat upaya-upaya keras dari kelompok LSM dan jaringan kerja Bali Barat, pada akhirnya upaya hukum mulai dapat dilaksanakan dengan menjatuhkan hukuman penjara bagi para pencuri. Lemahnya komitmen para penegak hukum menjadi kendala besar yang akan terus menghalangi upaya pelestarian Jalak Bali. Peran LSM dan masyarakat masih sangat diperlukan untuk mengontrol upaya-upaya penegakan hukum berkait dengan kasus-kasus pencurian dan perampokan Jalak Bali di kemudian hari.

Rekomendasi kegiatan pelestarian Jalak Bali di antaranya
– Monitoring populasi Jalak Bali di alam dan di penangkaran sangat penting dilanjutkan dengan melibatkan para pihak selain taman nasional dengan berbagai pengembangannya.
– Melanjutkan dukungan bagi upaya pendidikan yang telah disiapkan dengan bantuan teknis dan pendanaan.
– Meningkatkan tekanan terhadap penegak hukum untuk memperbaiki upaya penegakan hukum terhadap kasus-kasus Jalak Bali.
– Meneruskan program-program berbasis riset lapangan sebagai bagian dari upaya pemantauan populasi dan riset ekologi Jalak Bali serta perbaikan pengelolaan penangkaran dengan prosedur standar penangkaran yang berlaku.

So…sebagai mahasiswa yang sudah secara jelas mengerti arti pentingnya sebuah spesies bagi ekosistem, malu dong kalo tiba-tiba ketauan Kamu “ngumpetin” satwa liar apalagi yang dilindungi di rumah Kamu. Jalak Bali, Riwayatmu Kini….

Pustaka
Putra, Made Wedana Adi. 2002. Laporan Kegiatan Program Partisipatif Untuk Pemulihan Jalak Bali. Bandung: Konservasi Alam Nusantara (KONUS).

Hari Rabu kemarin, gua ngobrol-ngobrol sama Karno ’00 tentang satwa punah dan hampir punah. Yang jadi salah satu objek pembicaraan adalah si Jalak Bali ini. Jalak Bali sudah dikatakan punah jika populasi di habitat alaminya kurang dari 50 ekor. Jika penghitungan dilakukan di Indonesia (habitat alaminya) Jalak Bali memang dikatakan punah, tapi kalo dilakukan penghitungan di dunia (termasuk di penangkaran-penangkaran di luar negeri) dia belum dikatakan punah.

Kata Karno, di Amrik ada penangkaran yang isinya ribuan Jalak Bali, cuman orang-orang Indonesia banyak yang ga tau. Dulu pernah ada reintroduksi ke habitat sebenarnya dari penangkaran itu sebanyak 40.000 ekor, tapi dalam waktu lima tahun populasinya habis lagi. Edan ya orang-orang Indonesia teh.

Gua masih bertanya-tanya tentang hal ini. Siapa pemberi lisensi pendirian penangkaran di Amrik sana yang jelas-jelas iklim dan bentang alamnya beda banget sama di Bali? Siapa juga di Indonesia yang ngasih lisensi Jalak Bali boleh dibawa ke Amrik buat ditangkar? Dan siapa pula si penangkar-penangkar misterius itu?

Mari kita bertanya pada rumput yang bergoyang…. hohohoho….

0

de Cupangs in de Room

Nyante atuh, jangan negatip ting-ting dulu dong. Suka gitu sih kamu mah. Maksudnya ikan cupang, bukan cupang yang lain…

Tadi malem di tengah-tengah ngerjain laporan, gua ke kamar buat ngambil sesuatu, sekalian nengokin si Cupang dan si Cuping lagi ngapain. Ternyata eh ternyata itu cupang bedua lagi pada ST dan FT. Haha…. ga ngerti ya? Oke oke.

ST adalah ‘side threat’ : mengancam dari pinggir dengan membuka operkulum, dagu direndahkan, dan semua sirip dikembangkan saat berhadapan dengan lawan. Sedangkan FT adalah ‘frontal threat’ : sama ama ST cuman dari depan, dan yang dikembangin cuman sirip dada doang. Intinya mah kedua perilaku di atas adalah perilaku agonistik. Nih yah buat kamu-kamu yang belum tau, agonistik teh artinya berkelahi, tapi mencakup juga mengancam, menakut-nakuti, menyerang, dan lain sebagainya.

Saat gua amati, si Cupang dan si Cuping berada dalam botol yang berbeda, tapi dijejerin. Da namanya juga punya mata, walopun dipisahin pake kaca tetep we pada ngajak berantem. Trus ya udah we gua aduin, kan kasian udah beberapa hari ga berantem. Iya sih ga berperikehewanan, tapi kan mereka seneng kalo berantem, dan itu udah jadi tabiat mereka yang terkenal. Lagian kan gua pengen pencil alias penelitian kecil sama dua cupang ini, jadi kamu jangan salahin saya ya. Kan buat pendidikan…… :p

Gua cemplungin si Cupang dan si Cuping pada satu wadah yang rada gede, tapi ga segede akuarium yang dipake pas praktikum biper. Gua biarin selama 15 menit, dan gua amati perilaku agonistiknya. Frekuensi perilakunya ga gua catet kaya pas praktikum, alesannya adalah karena ini pencil gua, berarti suka-suka gua dong.

Waktu latensi penyerangannya cuman beberapa detik, mamen! Edan, kayanya teh udah pada gatel pengen berantem setelah beberapa hari terkurung dalam botol dan do nothing selain makan dan berenang dan mengibaskan sirip dan melakukan gerakan mulut yang kalo dalam imajinasi gua mah mereka ngomong “mmoch…. mmoch…. mmoch…”.

Pas praktikum Jumat kemaren gua ga sempet ngeliat mereka bertarung dengan teliti, soalnya gua jadi tukang catet turusnya T_T hiks menyedihkan. Ternyata mereka lucu banget kalo diperhatiin. Mentang-mentang namanya ikan cupang, pas disatuin langsung monyong-monyong aja. Dua-duanya ST dan FT, dan dua-duanya agresif, keliatan dari warnanya yang gelap ga pucet-pucet sampe akhirnya gua pisahin lagi.

Fakta yang ada menyebutkan bahwa hanya cupang jantan yang beradu satu sama lain. Standar: memperebutkan betina, jadi mereka pajago-jago, pakasep-kasep, pakeren-keren. Hampir sama ma hewan lain kecuali manusia. Kalo di dunia manusia (ini mah hipotesis aja ya, gua belum jadi manusia seutuhnya, sori aja kalo sotoy) justru kebalikannya : para betina berlomba-lomba mendapatkan si jantan. Tapi ga juga sih, banyak juga para jantan yang berantem buat memperebutkan satu betina.

Back to the cupangs…. Saat gua amati mereka bertarung, sasaran utama gigitan dan cupangan adalah sirip perut dan sirip ekor (pokonya sirip yang indah-indahnya), walopun badan, mulut, dan bagian tubuh lain juga jadi sasaran kemonyongan lawan. Berarti di dunia cupang para jantan bertarung dengan saling merusak sirip lawan. Sirip menjadi kata kunci dalam hal daya tarik seekor jantan terhadap betina. Jadi kalo ada jantan yang siripnya rusak gara-gara berkelahi berarti dia langsung turun pasaran dan ga laku buat para betina.

Kalo di dunia manusia ada ga ya pertarungan yang kaya gitu. Pasti ada, ya mereka-mereka itu yang disebut manusia berhati binatang yang biasa kita lihat di sinetron-sinetron Indonesia dan telenovela ga bermutu dari Amerika Latin, hahahaha…. Kalo dianalogiin secara ekstrim, pertarungan cupang ini (mencakup tujuan dan aspek-aspek lain) bisa jadi seperti ini dalam dunia manusia : ada dua orang cewe memperebutkan cowo ganteng, trus cewe yang satu nyiram air keras ke muka cewe satunya sampe rusak.. sak… sak… dan akhirnya cowo itu menjadi milik si cewe bejat. Ah tapi hare gene geto loh, ada operasi face-off kan, gampang….

Mereka bertarung udah lebih dari lima menit dan dua-duanya masih agresif. Yang mencengangkan nih : mereka berdua nempelin mulutnya ke lawan masing-masing alias cipokan. Sebenernya ini basi, tapi spektakuler karena ini terjadi pada proyek pribadi gua, hahaha…. Ih, cipokannya pake lama lagi, 2 menit 11 detik, pake muter-muter segala. Selama cipokan bagian dorsal lebih sering menghadap ke bawah dan ventral ke atas. Nah lo… bingung lagi? Maksudnya bagian punggung menghadap bawah dan bagian perut menghadap ke atas.

Gua kira abis cipokan mereka baikan, eh ternyata engga :p Mereka langsung ST dan FT lagi, trus berantem lagi. Asik sih liat mereka berantem terus, berarti dua-dunya lagi fit, tapi kalo kelamaan kasian merekanya juga. Karena gua janji ngaduinnya cuman 15 menit doang, setelah 15 menit gua pisahin mereka ke botol masing-masing. Duh dodol nih, mereka belum ditandain mana si Cupang dan si Cuping. Warna dan ukuran tubuh mereka sama banget, jadi ga bisa dibedain secara jelas. Ntar-ntar mah harus ditipex-in dulu.

Untuk nentuin mana si Cupang mana si Cuping, gua asal ambil aja, jangan pilih-pilih kata Bu Ria juga (PS: Bu Ria ini adalah dosen statistik). Si Cupang dinyatakan kalah dengan jumlah kerusakan 5 buah pada sirip perut dan sirip ekor, sedangkan si Cuping kerusakannya cuman 2. Untuk ke depannya gua bakal amatin recovery progress dari sirip yang rusak. Cepat sembuh ya…. 🙂

1

Kenapa Semuanya Harus Serba Sempurna?

Kemarin di perpus jurusan si Angga ‘04 cerita tentang praktikum fiswan ato apa lah yang asistennya Ibnu. Jadi ceritanya Ibnu ngejelasin laporannya harus gini harus gitu. Biasanya nih ya (dari jaman jebot sampe masa depan kali) asisten selalu rese masalah daftar pustaka. Minimal segini, nulisnya harus gini, tanggal akses, wewew tu de blablah….

Stereotip itu juga menurun pada si Ibnu. Teuing, meureun balas dendam teuing kumaha, pokonya jadi so’ rese gitu. Dia pengen kalo praktikan ngambil source dari internet di dapus harus ditulis tanggal akses berikut jam, menit, dan detiknya. (Ini masih ceritanya Angga) Trus si Daus nyeletuk “Sama nama warnetnya sekalian ga, Kak?”. Hehehe… lucu banget sih, dodol.

Pas Angga selesei cerita kita langsung pada asbun: “Kenapa ga sekalian aja sama tanda tangan penjaga warnetnya plus nama lengkap di bawah tanda tangannya…”. “Ato sekalian pasang poto tukang warnetnya aja apa….”. Itu tanggapan yang dodol tapi brilian. Iya, kenapa ga sekalian aja merek komputernya, kapasitas harddisk, RAM, VGA, dan sebagainya.

Gua suka aneh ngeliat orang yang suka ngepenting-pentingin hal yang ga penting kaya gitu. Jawabannya sih simpel, karena dia, aku, dan kamu adalah manusia, makhluk yang selalu menuntut kesempurnaan dalam segala hal.

9

Gagal Nongton Panas Dalam

Sial, kenapa hari Sabtu kemaren mesti ujan gede. Uh sebel, kan Konser Hari Buminya jadi gatot alias gagal total. Padahal udah asik-asik dapet The Panas Dalam plus Kurabadadamurata, gratis lagi!

Kita hanya mengandalkan link dalam membujuk band-band itu untuk mau tampil tanpa dibayar. Kemaren emang aneh, 2 band yang gagal tampil adalah 2 band utama yang ukuran tulisannya dicetak paling besar di poster dan selebaran. Gua juga ga tau kenapa 2 band itu dipasang paling akhir sama Imoth, mungkin buat keeper supaya massa ga pulang duluan. Tapi emang sial, semakin sore ujan semakin menggila, dan akhirnya mereka ga jadi tampil. Jadi ga enak nih, udah mah gratis, cek sound dari pagi (si Alga dateng jam 9 loh, rajin banget ya, padahal acaranya mulai siang-siang…), ga jadi tampil lagi!

Sekedar informasi, dulu vokalis The Panas Dalam adalah Pidi Baiq, tapi sekarang dah keluar, diganti sama Alga si mantan Presiden KMSR thea. Pidi kemudian bikin band baru, namanya Kacrut — band yang setipe sama The Panas Dalam, tapi kata gua mah band ini lebih gelo. Beberapa lagunya sama ma Panas Dalam, mungkin karena yang nyiptain lagunya si Pidi sendiri, makanya dinyanyiin lagi.

Nah, kemaren si Pidi ini dateng ke acara kita, trus dikenalin ma gua. Pas kenalan gua sok jaim gituh, padahal mah ngepens berat (eh, ga berat deng,ngepens ajah, hehehe…).

Untuk menghibur hati, The Panas Dalam bikin show akustikan eksklusif buat panitia yang udah bersusah payah hari ini. Sayang banget gua ga ikutan, soalnya gua ga tau ada begituan, lagian gua harus ngurusin meja-meja kalo ga mau digorok sama Bapak BRT yang jutek… Yah, gapapa deh ga nonton The Panas Dalam live ato akustikannya, yang penting kenalan ma Pidi 😀

This is my favourite one…

Sudah Jangan Ke Jatinangor

Sudah jangan ke Jatinangor
Dia sudah ada yang punya
Lebih baik diam di sini
Temani aa bernyanyi di sini

Demi cinta engkau berikan
Buku-buku dan cenderamata
Demi cinta engkau praktekkan
Buku teknik menguasai wanita

Ini asmara itu asrama
In Harmonia Progressio

Sudah jangan ke Jatinangor
Masih ada kota lainnya
Perempuan tak cuma dia
Ada tiga milyar dua puluh satu

Ini asmara itu asrama
In Harmonia Progressio


Ini nyepet cowo-cowo ITB banget yak…. 😀