Jalak Bali, Riwayatmu Kini…

Ini adalah tulisan gua di Synaps edisi April 2005 tentang Jalak Bali



Jalak Bali (Leucopsar rothschildi) satwa simbol Provinsi Bali adalah salah satu burung paling langka di dunia, dan mewakili genus tunggal dari jenis jalak-jalakan yang hidup endemik di Pulau Bali bagian Barat.Dalam sejarah penyebaran, burung Jalak Bali tersebar luas di bagian Barat Pulau Bali termasuk di kawasan taman nasional, hutan savana kering, dan semak-semak hutan meluruh (moonson) di taman nasional dan hutan kebun di pedesaan. Namun dengan berkembangnya wilayah permukiman dan perkebunan, dari tahun ke tahun populasi Jalak Bali terfragmentasi menjadi populasi-populasi kecil, yang semakin lama semakin berkurang.

Saat ini berdasarkan sensus tahun 2001, jumlah burung Jalak Bali di alam tidak lebih dari 6 ekor. Dan pada bulan Desember 2001 telah direintroduksi sebanyak 10 ekor Jalak Bali dari penangkaran. Dengan jumlah populasi seperti itu, secara internasional Jalak Bali dikatakan sudah punah di alam. Selam kurun waktu 10 tahun, populasi terus berkurang dengan sangat cepat. Tidaklah heran jika saat ini manusia tidak pernah melihat Jalak Bali yang terbang berkelompok. Hanya ditemukan satu-dua burung yang terbang, dan itupun sulit dideteksi.

Populasi Jalak Bali dari tahun ke tahun relatif menurun. Selain deforestasi, harga yang mahal untuk seekor burung Jalak Bali juga mempengaruhi jumlah individunya di alam. Pencurian adalah ancaman terbesar pada saat ini. Bukti-bukti pencurian seringkali ditemukan berupa lem, tali, dan net (jaring-red). Metoda terbaru yang dilakukan oleh pencuri yang tertangkap oleh aparat hukum adalah dengan “mengecat” burung Puter dengan warna putih sehingga mirip dengan Jalak Bali, kemudian digunakan sebagai pemikat (lawan jenis-red) dan disimpan di pohon sarang dan pohon tempat mencari makan Jalak Bali. Selain itu beberapa tahun belakangan ini upaya pencurian meningkat dan dibarengi dengan perampokan populasi Jalak Bali di pusat penangkaran. Perampokan paling besar terjadi pada tahun 1999 di mana sebanyak 39 ekor Jalak Bali berhasil dijarah dari pusat penangkaran Taman Nasional Bali Barat.

Di sisi lain upaya penyelidikan terhadap semua pencurian dan perampokan tersebut selalu ditanggapi dengan tidak serius dengan cenderung main-main oleh pihak taman nasional, kepolisian, dan pengadilan. Namun berkat upaya-upaya keras dari kelompok LSM dan jaringan kerja Bali Barat, pada akhirnya upaya hukum mulai dapat dilaksanakan dengan menjatuhkan hukuman penjara bagi para pencuri. Lemahnya komitmen para penegak hukum menjadi kendala besar yang akan terus menghalangi upaya pelestarian Jalak Bali. Peran LSM dan masyarakat masih sangat diperlukan untuk mengontrol upaya-upaya penegakan hukum berkait dengan kasus-kasus pencurian dan perampokan Jalak Bali di kemudian hari.

Rekomendasi kegiatan pelestarian Jalak Bali di antaranya
– Monitoring populasi Jalak Bali di alam dan di penangkaran sangat penting dilanjutkan dengan melibatkan para pihak selain taman nasional dengan berbagai pengembangannya.
– Melanjutkan dukungan bagi upaya pendidikan yang telah disiapkan dengan bantuan teknis dan pendanaan.
– Meningkatkan tekanan terhadap penegak hukum untuk memperbaiki upaya penegakan hukum terhadap kasus-kasus Jalak Bali.
– Meneruskan program-program berbasis riset lapangan sebagai bagian dari upaya pemantauan populasi dan riset ekologi Jalak Bali serta perbaikan pengelolaan penangkaran dengan prosedur standar penangkaran yang berlaku.

So…sebagai mahasiswa yang sudah secara jelas mengerti arti pentingnya sebuah spesies bagi ekosistem, malu dong kalo tiba-tiba ketauan Kamu “ngumpetin” satwa liar apalagi yang dilindungi di rumah Kamu. Jalak Bali, Riwayatmu Kini….

Pustaka
Putra, Made Wedana Adi. 2002. Laporan Kegiatan Program Partisipatif Untuk Pemulihan Jalak Bali. Bandung: Konservasi Alam Nusantara (KONUS).

Hari Rabu kemarin, gua ngobrol-ngobrol sama Karno ’00 tentang satwa punah dan hampir punah. Yang jadi salah satu objek pembicaraan adalah si Jalak Bali ini. Jalak Bali sudah dikatakan punah jika populasi di habitat alaminya kurang dari 50 ekor. Jika penghitungan dilakukan di Indonesia (habitat alaminya) Jalak Bali memang dikatakan punah, tapi kalo dilakukan penghitungan di dunia (termasuk di penangkaran-penangkaran di luar negeri) dia belum dikatakan punah.

Kata Karno, di Amrik ada penangkaran yang isinya ribuan Jalak Bali, cuman orang-orang Indonesia banyak yang ga tau. Dulu pernah ada reintroduksi ke habitat sebenarnya dari penangkaran itu sebanyak 40.000 ekor, tapi dalam waktu lima tahun populasinya habis lagi. Edan ya orang-orang Indonesia teh.

Gua masih bertanya-tanya tentang hal ini. Siapa pemberi lisensi pendirian penangkaran di Amrik sana yang jelas-jelas iklim dan bentang alamnya beda banget sama di Bali? Siapa juga di Indonesia yang ngasih lisensi Jalak Bali boleh dibawa ke Amrik buat ditangkar? Dan siapa pula si penangkar-penangkar misterius itu?

Mari kita bertanya pada rumput yang bergoyang…. hohohoho….

Advertisements

One thought on “Jalak Bali, Riwayatmu Kini…

  1. sekali lagi.. curik bali. bukan jalak.. (beda genus!)apa salahnya dilestarikan ex-situ kalau aparat nggak becus ngurusnya?tapi tentu saja.. buat gue, tidak ada itu namanya melestarikan *satu* jenis satwa. yang harus dilestarikan adalah ekosistemnya! dan itulah masalah reintroduksi di TNBB.. (loooong sighh…)

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s