Hujan Kurasa

Bandung, 11 Mei 2006, 13.45 WIB

Hujan lagi hari ini, dan aku terperangkap dalam sebuah gedung besar berlantai delapan. Mungkin seharusnya aku merasa beruntung dengan hal ini. Tapi entahlah, kelas akan dimulai lima belas menit lagi.

Saat ini aku hanya berpikir untuk duduk dan diam, menunggu hujan deras yang baru turun ini segera mereda. Atau jika ceritanya lain, aku akan berteriak memanggil seseorang yang kukenal yang melintas di depanku dengan membawa payung.

Hujan tak kunjung reda. Kuputuskan untuk tetap berada di sini walaupun jam sudah menunjukkan lima belas menit berlalu sejak terakhir kali aku melihatnya. Hujan hari ini agak berbeda. Dia berhasil membuatku lebih memilihnya daripada novel yang baru saja kubuka halaman tengahnya.

Persetan dengan murni atau tidaknya keberhasilan sang hujan. Hari ini dia memang indah di mataku. Rintik-rintik airnya yang sudah tak suci lagi membuat ruas jalan di depanku terlihat lengang. Sehingga hanya ada satu atau dua atau sepuluh orang yang melintas, sambil berlari atau berpelukan erat dengan payungnya. Yang bisu, yang dalam seketika mengusir orang-orang yang merasa memiliki jalan itu.

Aku perhatikan langit kala ini. Sebagian biru muda, sebagian putih, dan sebagian kelabu. Langit tepat di atasku berwarna kelabu, dan semakin lama semakin pucat warnanya. Aku tidak tahu apakah harus merasa beruntung atau merasa rugi dengan kehadiran warna kelabu itu. Yang aku tahu, selalu terjadi ketidakadilan ketika langit memiliki tiga warna.

Aku dapati kawanan burung walet menari-nari di tengah deras hujan. Mereka tampak begitu bersemangat, dan jika boleh kuterka, mereka sedang berbahagia. Aku mulai menyadari bahwa ternyata waktu yang manusia hindari mungkin saja merupakan waktu yang makhluk lain tunggu-tunggu.

Hujan menjadi semakin deras, dan tarian pun menjadi semakin ramai. Aku belum pernah melihat kawanan walet sebanyak ini pada tempat yang sama. Ketika tarian menjadi semakin ramai, dan waktu menjadi semakin lama, gerakan tarian pun semakin cepat. Jika boleh kuterka lagi, mereka kini semakin bahagia.

Daerah edar tarian mereka pun semakin besar seiring berjalannya waktu. Jalur tempuh menjadi semakin luas, dan ketinggian pun menjadi semakin rendah. Semakin bebas melesat di depan mataku, seakan-akan mereka tidak menyadari keberadaanku. Pikirku itu adalah kehidupan yang sempurna: bebas melakukan apa pun tanpa mempedulikan apa pun.

Rintik-rintik air yang tidak suci lagi kini semakin mengecil. Memberi kebebasan kepada matahari untuk menunjukkan keperkasaannya, juga kebebasan kepada manusia-manusia yang dibuat menunggu beberapa waktu karena ulahnya untuk kembali bergerak. Manusia-manusia berdiri dari duduk lamanya, menyunggingkan seupil senyum. Burung-burung walet di udara menghilang satu demi satu, pulang atau mungkin menari di tempat lain. Semuanya kembali pada keadaan udara yang kering, keadaan yang manusia pikir sebagai keadaan normal.

Kotak paraf kuliahku hari ini kosong, tapi tak apalah, hidup memang tak selalu harus sempurna. Aku tidak menyalahkan hujan atau diriku sendiri yang memilih untuk diam di tempat ini. Tidak perlu harus duduk di dalam kelas, di atas anak tangga pun kita bisa belajar sesuatu. Seperti tentang hujan hari ini…

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s