Losing Religion


Saya mempercayai apa yang orangtua saya ajarkan, tentang sopan santun dan tentang menjadi seorang beragama. Bahwa menjadi seorang beragama bukanlah sebatas tulisan pada KTP, tetapi juga harus ditunjukkan dengan kualitas ibadah dan keimanan. Tidak harus menjadi seorang fanatis, cukup beriman dan berbuat baik sesama manusia.

Setiap agama mengajarkan ajaran yang sama, yaitu tentang kebajikan dan belas kasih. Hanya cara beribadahnya saja yang berbeda, dan ini merupakan turunan secara tidak langsung dari adanya perbedaan objek yang disembah. Yang beda sendiri mungkin atheis. Ini adalah ‘agama’ yang dianut oleh orang-orang yang tahu bahwa manusia tidak sekonyong-konyong hadir di bumi, tapi tidak mau mengakuinya.

Dan kalo kamu ga tau apa yang terjadi di kampus gajah duduk, saya akan kasih tau kamu apa yang terjadi: orang-orang merasa bangga dengan ke-atheis-annya, beberapa lagi merasa bangga karena menganut agama yang ilegal di Indonesia, katanya ini agamanya para filsuf, agama yang bla bla blah…, dan itu sangat cepat menular, secepat mengalirnya air liur seekor anjing saat melihat makanan.

Bagaimana mereka bisa begitu cepat berpaling? Sudahkah mereka membuktikan bahwa agama kultural mereka salah? Atau ini hanya trend belaka agar dianggap eksis karena memiliki pemikiran seorang filsuf? Jika hal ini benar-benar terjadi pada seseorang, maka alangkah kasihan orang itu. Karena ketika seseorang ingin memiliki pola pikir seorang filsuf, dia harus mengasah pikiran dan hatinya, bukan dengan berpindah agama menjadi agama para filsuf.

Sebenarnya boleh-boleh saja memperluas wawasan dengan mempelajari agama lain dan bergaul dengan orang-orang yang menganutknya. Tapi teuteup… prinsip agama kita harus kuat dulu. Ketika seorang muslim meninggalkan kebiasaan sholatnya dengan alasan karena terbawa arus atau terbiasa dengan kebiasaan orang-orang Islam KTP di sekitarnya, saya juga akan bilang orang ini kasihan.

Menganut agama itu seperti kuliah di gajah duduk. Mudah masuk dan mudah keluar, semudah mengisi soal-soal SPMB dan semudah mendapatkan IP di bawah 1,0 lalu didamprat keluar; plural, di mana kita bisa memilih salah satu dari banyak pilihan, banyak godaannya: mabal, percintaan, males, jadi aktivis, dll; dan harus diperjuangkan agar kita tidak tersesat.

Advertisements

One thought on “Losing Religion

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s