Jakarta Bird Race 2006: Selamat Datang di Kota Polusi

[ini bukan laporan perjalanan, ini hanya curhat ga penting]

Sabtu, 3 Juni 2006

07.30 — Cabut dari himpunan menuju Jakarta naik Sephia-nya Cimeng bersama Agni. Sebagian tim naik bus jurusan Kampung Rambutan bersama Agogo Orenggo. Selama di perjalanan gua bertanya-tanya, emang ada ya tempat pengamatan burung di Jkt? Ternyata Muara Angke yang kita tuju itu adalah suaka margasatwa.

10.30 — Nyampe di Jakarta, telpon sana telpon sini, tanya sana tanya sini. “Kalo mau ke Muara Angke lewat mana ya?”

12.00 — Nyampe di daerah Muara Angke. Jauh dari perkiraan. Awalnya gua kira lahan hijau yang tanpa pagar di sebelah kiri jalan adalah kebon punya orang. Ternyata tempat itu adalah Suaka Margasatwa Muara Angke (SMMA). Hanya ada satu jalan masuk, itupun hanya untuk pejalan kaki dan sepeda motor. Mobil ijo akhirnya kita parkir di ruko depan SMMA.

Gua mulai berpikir tentang betapa anehnya tempat ini. SMMA adalah suaka margasatwa yang bersebelahan dengan perumahan elit yang sedang dibangun. Konon, lahan perumahan tersebut dulunya termasuk areal suaka margasatwa, namun karena adanya kepentingan perut manusia, maka terjadi deforestasi.

14.00 — Saatnya daftar ulang dan briefing. Ternyata lombanya beda ma yang di Malang dulu. Kita ga boleh bawa field guide pas di lapangan, jadi buku MacKinnon-nya disimpen ma panitia, trus baru dibalikin besok pas identifikasi. Di sini gua bertemu dengan seseorang yang selanjutnya gua sebut “Charming Man”, soalnya ga tau namanya siapa :p

15.00 — Bird Race sesi 1 dimulai. Gua sekelompok ma Ica dan Bebe anak 2005, junior hehe… Bagian tengah suaka margasatwa ga bisa diobok-obok, soalnya jembatan kayunya putus dan ga dibenerin sejak beberapa tahun lalu. Paling jauh 100 meter dari pintu masuk kita bisa ngamatin burung di dalem.

Karena ga seru dan macaca-nya menyebalkan, kita caw aja keluar. Di luar sama menyebalkannya dengan di dalem. Arus lalu lintas yang dan konstruksi bangunan ditambah kuli-kuli yang berisik dan cunihin, menyebabkan burung-burung yang nongkrong di luar cuman sedikit. Tidak adanya jalur akses menuju bagian dalam suaka margasatwa jadi masalah bagi semua kelompok yang ikut lomba saat itu. Hari ini kelompok kami dapet sekitar 15 spesies. Not bad lah..

18.00 — Bird Race sesi 1 selesai. Gua mulai risih sama nyamuk-nyamuk yang berseliweran dan seenak bagong ngisep darah. Setengah jam kemudian semua peserta naik tronton menuju UNAS (Universitas Nasional) untuk bermalam di sana. Seperti biasa, di dalam tronton pun kita rame banget. Kadang anak nimpea tuh rame-nya ga ngeliat sikon. Ini sebuah kelebihan atau kekurangan sih?

19.45 — Kita makan nasi padang, dan lagi-lagi dengan keributan yang berlebihan untuk ukuran orang-orang yang lagi makan.

21.00 — Peserta beristirahat di lab kimia. Lab kimia? Yyyyyu… Pikiran kita udah aneh-aneh aja nih, tapi setelah ngeliat labnya yang cukup bersih dan lebih manusiawi dibanding lab-lab kimia yang ada di ITB, pikiran kita jernih kembali.

21.30 — Dimulai acara perkenalan yang garing dan kuis kelompok. Kuis ini bobotnya cukup besar dalam nilai kumulatif lomba. Kita wakwaw gitu ngejawabnya juga, asal bunyi dan asal tulis. Kebanyakan dari soal yang dilontarin objeknya adalah burung air, sedangkan kita sama sekali belum pernah pengamatan burung air selain burung yang namanya tidak sudi gua sebut di sini (inisialnya K, O, W, A, K). Jadi we reaksi kita saat menjawab soal didominasi dengan kata “meneketehe”.

Jadi minder nih ngeliat peserta lain yang jago banget apal nama-nama burung air lengkap dengan nama latinnya. Kita hanya menguasai burung-burung kota dan pegunungan, sedangkan mereka menguasai burung-burung pantai. So, ga heran ketika pada pertanyaan yang jawabannya Burung kacamata biasa (Zosterops palpebrosus), anak-anak Bandung paling yakin ngejawabnya, sedangkan anak-anak Jakarta dan Surabaya mikir-mikir dulu 13 kali. Dan pada pertanyaan yang jawabannya Blekok sawah, tim dari Bandung dan Bogor hanya bisa diam menunggu soal selanjutnya.

24.00 — Akhirnya gua dapet kamar mandi kosong buat mandi. Itupun kamar mandi cowo.Wakwaw…

Minggu, 4 Juni 2006

04.45 — Ketemu Charming Man di koridor, dan kita ngobrol bentar tentang CPOI (berhubung saat itu gua pake kaos CPOI). Katanya kaos itu dia yang buat, dan dulu dipesennya warna putih, tapi kok jadinya warna abu-abu ya? Trus harusnya juga ga ada lambang Fakultas Biologi UNAS-nyah. Dia nanya, “Buletinnya udah dibaca belum? Kalo udah, kamu pasti tau Saya”. Halah… ternyata orang ini adalah kordinator infokom CPOI.

05.10 — Makan nasi goreng eneug dan pengen boker tapi ga boleh gara-gara trontonnya mau berangkat. Siyal.

06.20 — Bird Race sesi 2 dimulai. Tim gua turun di zona G. Asik banget nih di sini, banyak burung yang gua kenal. Ica dan Bebe masih kurang peka sama gerakan burung yang cepet, jadi setiap nemu burung baru, gua mesti ngasih tau mereka dulu.

Memasuki zona F, burung-burung makin banyak. Di zona ini ada pintu masuk Hutan Lindung Angke – Kapuk yang jembatannya juga udah potong tapi ga dibenerin, sama kaya suaka margasatwa di sebelahnya. Burung-burung banyak yang nongkrong di atas potongan pohon tumbang di atas rawa boker. Gua bilang ini rawa boker karena ada empangnya dan emang ada bau boker menusuk hidung di sekitar sana.

Memasuki zona antara F dan E, burung-burungnya makin banyak. Di sini gua nemu burung Kipasan warna item. Jalan yang kita lalui adalah batas antara hutan lindung dengan tanah lapang dan permukiman kuli bangunan.

Bau boker semakin menusuk. Tepat di pinggir jalan setapak yang sedang kita laui, jongkok seseorang dengan pose yang kalo lu liat lu pasti nyangka dia sedang boker. Kita pura-pura aja ga ngeliat dan menambah kecepatan berjalan.

Beberapa meter ke depan ternyata pemandangannya lebih parah. Di kanan kiri jalan ada kotoran yang kalo diliat dari ukurannya, itu adalah kotoran Homo sapiens. Hewan yang satu ini emang goblok banget, kalah sama kucing yang selalu mengubur kotorannya dalam tanah. Lalat-lalat bergerayangan. Mungkin ini yang kemaren orang-orang ributin dengan “zona ranjau”.

Sebenernya amit-amit males banget buat diliat, tapi mau ga mau kita harus perhatiin jalan supaya ga salah nginjek. Ditambah lagi terdengar suara kuli-kuli yang super cunihin, bikin kita pengen cepet-cepet nyampe ke zona E. Benar kata orang, Jakarta memang kejam.

09.30 — Kita mulai cape dan bosan setelah berjalan beberapa kilometer yang penuh rintangan. Kita lanjutkan hari ini dengan bercerita hal-hal ga penting.

10.00 — Waktunya identifikasi spesies. Panitia cuman ngasih waktu satu jam, ga serius nih panitianya, huhu… masa cuman satu jam? Saat itu di tempat yang sama ada acara peringatan hari lingkungan hidup sedunia, ada banyak anak-anak SD sampe SMA dan sebagian orang dewasa. Di menit-menit terakhir waktu identifikasi, seorang panitia Bird Race ribut-ribut ngasih tau kita kalo di situ ada Nicholas Saputra. Trus kita jawab “Kita ga peduli, ini datanya belum selesai”. Hohoho… kita keren sekali bukan?

11.00 kurang dikit — Di detik-detik terakhir identifikasi, Charming Man memberi gua tiga pasang kupon makan siang dan snack. Trus ada bapa-bapa yang nawarin kita buat diwawancara sama Nico. Katanya kalo bisa cewe aja. Anak-anak udah main tunjuk “Kamu aja, kamu aja”. Akhirnya Ago ama Ika yang maju.

11.04 — Gua ngumpulin data pengamatan, sambil teriak-teriak sama tim lain buat ngumpulin juga. Mereka pada ngga nyadar kali ya sekarang udah jam 11.00, soalnya panitianya diem aja, ga berkoar-koar. Karena mereka ngumpulinnya setelah 11.05, spesies yang mereka temuin dikurangi 1 (peraturannya keterlambatan 5 menit adalah pengurangan satu spesies)..

Gua kemudian berjalan menuju teras rumah penjaga hutan, di mana tempat tersebut dipake sebagai ‘panggung’. Di sana ada Ago, Ika, Nico, dan seorang ibu-ibu presenter. Nico tampak miriiiiiiip banget sama Toge.

Si Ago ngejawab pertanyaan dari Nico dengan asal-asalan dan sekenanya banget. Waduh… kacau, malu-maluin aja nih. Setelah turun dari ‘panggung’, Ago kita interogasi kenapa ngejawabnya asal-asalan begitu. Ago punya dua alasan. Alasan pertama adalah karena Nico bintang tamu, jadi iya-in aja lah, kasian, jangan dimalu-maluin. Yang kedua, saat itu ga ada yang ngedengerin selain anak-anak yang pasti ga ngerti kalo dijelasin tentang migrasi burung air, jadi dia mengiyakan waktu Nico nanya burung airnya (inisialnya K, O, W, A, K) nyari makan di kampus apa engga.

12.00 — Lomba udah selesei dinilai. Beberapa kelompok ditanya-tanya oleh para juri yang menyangsikan spesies burung air yang mereka cantumkan di lembar pengamatan. Edan lah, ngomongnya pake nama latin semua, dan mereka semua nyambung. Cuman kita aja yang ga nyambung, karena boro-boro apal nama latinnya, ngeliat burungnya aja ga pernah.

12.15 — Waktunya pembacaan juara. Juara satu timnya Agus dari ITS, juara dua dari UNAS, dan juara tiga ITS lagi tapi yang tua-tua. Agus nih dulu start lomba pengamatan burungnya bareng sama gua pas di Malang, tapi dia selalu ikutan lomba-lomba setelah itu, sedangkan gua ga pernah ikutan dengan alasan sibuk dan haroream, haha.. Jadi anda bisa menyimpulkan sendiri, betapa berbedanya kekuatan kita dengan mereka.

Ditambah lagi mereka jago banget masalah perburungairan. Jadi jangan heran, tim dari Bandung dan Bogor menempati urutan paling kebrot, karena kita manusia gunung, hehe…. Tim gua sendiri juara 6 (peringkat 6 sebenernya, tapi biar gaya makanya pake kata “juara”), dan 4 tim lainnya peringkat 7, 9, 10, dan 11 dari 11 tim yang bertanding. Huahahahaha… kasian kali pun kita ini. Gapapa lah, yang penting mah pengalaman.

12.30 — Makan siang Wendy’s Chicken yang berisi nasi plus ayam tok. Tidak ada pilihan lain, jadi gua makan aja tuh ayam (sekilas info: gua masih makan ayam kalo kepaksa banget mah… yang pantang banget tuh daging merah…). Pas lagi makan, kita ngeliat Nico mau masuk ke mobilnya untuk pulang. Sebelum dia masuk mobil, kita manggil dia “Togeeeeeeee…..”, dan dia nengok sambil ngedadah, trus kita ketawa-ketawa hahaha…

13.30 — Evaluasi intern KPB selesai, dan kita juga mo pulang, jadi kita pamitan sama panitia dan peserta lainnya. Pamitannya udah kaya halah-bihalal lebaran aja, satu banjar dan sambil jalan di atas jembatan rawa payau. Di sini gua ketemu lagi sama Charming Man yang mencoba mengingat kembali nama gua, tapi gua lupa untuk melakukan hal yang sama (jahat ya… :p). Sampai jumpa lagi Charming Man.

13.45 — Kita menjemur pakaian dan menyimpan barang-barang lain di atas mobil Cimeng. Ceritanya mah beberes binok dan barang-barang lain. Cewe-cewe berbondong-bondong beli minuman dingin dan cowo-cowo ganti baju. Kostum mereka jadi aneh-aneh begitu. Agni jadi kaya bawa piano karena ga pake baju (maksudnya tulang iganya kaya piano, haha..). Kalo kata anak KMPA mah bukan piano, tapi papan gilesan cucian baju. (haha, lebih parah). Acil jadi kaya Fir’aun gara-gara pake anduk di kepala. Ago jadi semakin aneh dengan celana sontog kotak-kotak merahnya. Dan kita semua bau keringet karena belum mandi, hahahaha….

17.30 — Kita nyampe di himpunan, trus langsung cerita-cerita sama Osep. Dan si Osep pun ngakak-ngakak mendengar cerita kami yang konyol.

Advertisements

One thought on “Jakarta Bird Race 2006: Selamat Datang di Kota Polusi

  1. wakakakakak.. baca blog kamu tuh ya, penyegaran ditengah penat kerja. makanya, kamyu tiap hari posting yak. huekekek.. eh, nambah satu lagi fans blog kamu (dengan ini secara tidak langsung saya menyatakan diri sbg fans blog ini), yaitu Sandra, mantan penyiar ardan yg skr jadi penyiar prambors. kmr kita ketawa ketiwi (sita doang deng, diamah cool) baca blog kamu, dilanjutkan dengan sesi pemotretan di toilet. eh, dia juga suka majang foto2 kucingnya. makanya kmr kita liat2 blog kamu. betewe, aku dapet info lucu nih, bu.. mungkin penting buat kamu yang anak biologi. inilah.. *jeng jreng*Misteri Telur Terpecahkan!Setelah lama penasaran, akhirnya misteri “Lebih dulu, ayam atau telur?” sudah terjawab. Menyetujui hasil penelitian para ilmuwan dari England’s University of Nottingham, Inggris, para ahli filsafat dan pakar ternak unggas akhirnya bersepakat menentukan telur. Mengapa demikian?Ternyata nggak semua materi genetik berubah dalam bentuk kehidupan binatang. Burung pertama yang berkembang menjadi ayam hanya memiliki keberadaan awal sebagai embrio dalam telur. Ketua tim penelitian, Prof John Brookfield mengatakan ”Telur telah ada jauh sebelum ayam pertama muncul,”. Ia juga mengatakan bahwa kehidupan organisme dalam sel telur punya DNA yang sama, ketika berubah menjadi ayam. Bukti inilah yang menunjukkan secara tegas bahwa bentuk pertama kehidupan adalah telur. Kesimpulan John Brookfield didukung oleh Prof David Papineau dari King’s College, London, dan Ketua Badan Perdagangan Ayam Ingris Raya, Charles Bourns. David Papineau, ahli filsafat ilmu, berpendapat bahwa ayam pertama muncul dari telur, sekalipun itu spesies burung yang berbeda. Tapi ini tetap telur ayam karena di dalamnya adalah ayam. ”Oleh karena itu, kesimpulannya harus telur yang muncul pertama, dan baru kemudian ayam,” kata David Papineau.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s