1

Burangrang, haha…


Hahaha… Burangrang…

Gua belum pernah ke puncaknya sekali pun. Bayangkan sodara-soadara! Padahal gua kan tinggal di Bandung….

Ah, tidak menarik. Tapi lumayan juga sih buat koleksi puncak, hohoho…. 😀

Hari ini gua ke sana, tapi cuman sampe pintu angin, dengan kata lain ga sampe puncak. Jalan-jalan kali ini adalah dalam rangka latihan buat lomba trekking di Solo tanggal 30 entar. Ceritanya gua ma Anna bakal jadi official team, makanya kita nungguin aja di pintu angin, kalo ikutan trekking ke puncak kan bisa gila….

Perlu waktu dua jam untuk lari ke Puncak Burangrang dan balik lagi ke Pintu Angin. Jadi selama dua jam itu gua curhat-curhat aja sama Anna, hoho….. Khususnya tentang percintaan, huek… Tentang gimana kita ditembak cowo-cowo (ahak… ahak…), tentang bagaimana kita menolak atau menerimanya, dan gimana mereka sekarang. Wo…. dalem bo….

Jam 8 pagi berangkat, jam 2 siang kita udah nyampe lagi di Bandung. Haha… perjalanan outdoor yang paling singkat sepanjang masa.

Advertisements
0

Di Luar Batas Nalar

….
Jadi kelanjutannya gimana? Keep in touch?
Enggak.
Ih kan sayang, Ma…
Iya sih sayang cowo ganteng gitu disia-siain, gua lagi nunggu seseorang. Ga cuman dia kok, selama gua nunggu, dia orang keempat.
Wah.. yang mana, yang mana?
Yang itu.
Oh…
Padahal yang gua tunggu itu ga ada apa-apanya dibandingin sama yang lain. Tapi justru kesederhanaan itu yang menarik. Ga semua hal di dunia ini bisa dijelaskan dengan nalar…

1

Menghitung Hari versi cowok (cewek juga deng..)

menghitung hari detik demi detik
menunggu itu kan menjemukan
tapi ku sabar menanti jawabmu
jawab cintamu

jangan kau beri harapan padaku
seperti ingin tapi tak ingin
yg aku minta tulus hatimu
bukan pura-pura

jangan pergi dari cintaku
biar saja tetap denganku
biar semua tahu adanya
dirimu memang punyaku

0

Benar, Hari Anak Nasional

Kok, gua bisa lupa ya ttg Hari Anak Nasional…? Padahal biasanya gua hafal, walaupun tanpa dengan melakukan apapun untuk menyambut hari itu.

Waktu kecil, gua suka nonton film Unyil (sebenernya serial, tapi lebih asyik kalo disebut ‘film’), yang bersifat heroik, dan berteman dengan si Usro dan lain-lain (eh, bener ga namanya Usro? udah lupa euy..)

Ceritanya sederhana, tapi cukup rame untuk manusia-manusia mungil yang baru mengenal dunia.

Sekarang gua udah gede, dan masih suka unyil, tapi dalam bentuk seperti ini:

Hehehe…. Nuri ama Novi,, Moses juga… kalo balik ke Bandung dari Bogor, jangan lupa bawain roti unyil buat gua ya… 😀

2

Jangan Pernah ke PAU Jam 23.30

Kenapa jangan? Karena PAU tutup jam 23.00, hahaha….. Tapi kalo mau coba sih boleh, paling kejadiannya bakal sama ma Anna seperti ini….

Jadi begini ceritanya (kismis lagi):

[ini perbincangan via telepon antara Rima dan Anna]

Anna: Ma, tadi malem kan gua balik ke rumah jam setengah 3 pagi…
Rima: Nanaonan heula atuh?
Anna: Jadi tadi malem teh gua nonton Pearl Harbor dulu di sel ampe selesai, udah gitu tiba-tiba pengen pipis. Trus gua nanya sama Sigit, di PAU masih bisa enggak… Trus Sigit bilang PAU mah tutupnya jam 10.. dan saat itu jam setengah 12..
Rima: Bukan.. jam 11 tau… Trus?
Anna: Trus ya udah we Anna coba-coba buka pintu PAU, siapa tau masih buka… Dan ternyata masih buka (sambil ngedumel “Ah, si Sigit boong nih”). Tapi siyalnya, pas gua balik dari WC, si pintunya dah dikunci. Waduh,,, panik, mana gua inget cerita lu tentang lantai 1 lagi… mana tengah malem lagi…
Rima: (Itu mah WC-nya yang serem, lantainya mah enggak) Wahahaha…. 😀
Anna: Trus gua ngedenger ada suara tipi, dan gua nyari sumber suara itu. Di ruang itu ada penjaga yang udah tidur, trus gua bangunin. Siyal, ga bangun-bangun… Ya udahlah…
Rima: Trus.. trus… (penasaran, hihi…)
Anna: Trus Anna nyari-nyari aja orang di lab, siapa tahu ada yang bisa bantu. Dan ternyata ada aa-aa yang masih bangun. Trus si aa-aa itu ngebangunin bapa-bapa penjaga satunya yang udah tidur juga. Ah, siyal… ga bangun juga. Trus gua nanya sama aa-aa itu, “PAU bukanya jam berapa?”, dan aa-aa itu menjawab jam 6 pagi. Ya udah, gua mutusin aja buat nunggu di situ ampe pagi.
Rima: Lu nunggu di mana? Di korsi coklat bukan? (sambil berpikir: wah, keren euy, kaya cerita Meteor Garden, pas Tau Ming Se ma Sancai kekurung di gedung sampe pagi, haha…)
Anna: Iya, tapi ga lama kemudian dateng bapa-bapa yang tadi kita bangunin, trus ngebukain pintu. Trus gua nanya “Pak, emang gedung ini tutupnya jam berapa?”, dan si bapa itu menjawab “Jam 11 neng…”. Trus gua nanya lagi “Kok tadi jam setengah 12 pintunya belum dikunci?”, dan si bapa itu menjawab “Oh, barusan ada urusan…”
Rima: Hihihi…
Anna: Ah… sebel sebel…
Rima: Lu keluar jam setengah tiga? Aje gile….
Anna: Enggak, gua keluar jam 12-an. Balik jam setengah tiga mah gara-gara di sel ribut banget…
Rima: Hahaha…

Sehari sebelumnya, kita berdua makan mpek-mpek di tangga depan fotokopian PAU (di bawah cahaya lampu bohlam yang remang-remang) dan nyuci piring di wastafel WC lantai 1. Bwahahaha… nyucinya juga pake sabun mandi.

Tangga depan fotokopian adalah pilihan terakhir setelah tangga depan perpus yang malam itu gelap gulita. Jajanan yang kita bawa adalah hasil jalan-jalan dari Simpang Dago. Biasanya sih kita makan di sel, tapi berhubung lagi ada rapat KBPA tentang Pangandaran, dan makanan kita cuman sedikit, jadi dari pada nggak enak gara-gara ga bagi-bagi, mending kita makannya di luar aja.

Trus kita ke gudang dan ngambil dua mangkuk dan dua garpu, bukan sendok, karena hanya barang-barang itu yang tersedia. Sebagai informasi, mangkuk yang kita gunakan adalah mangkuk yang ada gambar ayam jagonya, yang sama sama mangkuknya tukang baso.

Kamu tau kan, betapa kental dan hitamnya kuah mpek-mpek yang dijual di Simpang Dago? Nah, sekarang bayangkan bagaimana kita mencucinya di wastafel. Tapi karena kita jagoan, kita bisa menyelesaikan tugas itu dengan baik. Yeah… mission accomplished.

Dan saat itu gua menceritakan tentang WC lantai 1, yang membuat Anna paranoid satu hari setelahnya, hihihi…

2

Oleh-oleh yang Bukan Gudeg

[Kompi di rumah lagi ngadat euy, jadi baru bisa nulis sekarang. Gapapa lah telat juga, daripada ga sama sekali :p…. Tumben-tumbenan nih lagi pengen nulis pake bahasa yang rada formal, heuheu…]

Sepertinya memang sudah ditakdirkan seperti ini. Tiba-tiba saja kalimat ini terlontar ketika saia berjalan menuju kamar mandi bersama Asti. Asti juga berpikiran sama. Bukannya geer atau bagaimana, tapi kami merasa bahwa kami memang orang-orang terpilih yang harus berada di sana hari itu.

Tidak ada dasar pemikiran lain untuk berpendapat seperti itu selain kesadaran kami akan deja vu-deja vu yang datang secara beruntun. Saia seperti sudah mengenal personel-personel tim ini jauh sebelum hari perkenalan yang sebenarnya. Saia juga merasa pernah mengalami potongan-potongan aktivitas yang saia kerjakan di sana. Seperti sebuah mimpi yang muncul kembali dalam ingatan, dan sama persis dengan apa yang saia lakukan saat itu. Ini yang orang sebut dengan deja vu.

Siapa yang sangka, sepulang dari kota Jakarta (21/7) saia ditawari oleh seseorang untuk menjadi relawan mental recovery untuk anak-anak korban gempa di Jogjakarta selama dua minggu atau lebih. Walaupun mendadak dan agak mengundang syoking, saia menyatakan setuju untuk bergabung dalam tim yang semua personelnya belum saia kenal sama sekali. Keberangkatan kami ke Jogja adalah benar-benar sehari setelah saia menginjakkan kembali kaki di di kota Bandung. Agak nekat sih, karena selain menggunakan metoda pamit-kabur, saia juga tidak membawa cukup banyak uang untuk jaga-jaga di sana.

Beberapa jam sebelum keberangkatan, saia berkenalan dengan semua personel tim. Agak kaget juga, awalnya saia kira saia akan berkenalan dengan orang-orang dari jurusan-jurusan yang berbeda di kampus gajah duduk ini. Ternyata mereka semua anak SR plus satu anak TL. Agak canggung juga awalnya, takut merasa tidak cocok dengan lingkungan ini, lingkungan yang didominasi oleh cowo-cowo berondong ’04 yang kesan pertamanya mereka punya tipikal pergaulan yang berbeda dengan saia.

(ah, aneh ah gaya ngomongnya, balik lagi aja ke gaya original gua ya :)……..)

Yang gua bayangin pertama kali saat tau bakal jadi relawan adalah harus mau bersengsara ria naik kereta ekonomi yang benar-benar menguji kesabaran kita sebagai manusia. Jauh dari bayangan, ternyata kita naik kereta eksekutif. Gua jadi benar-benar blank, kita relawan kan? Royal amat…. hehehe…

Hubungan gua yang rada kaku sama mereka hanya bertahan selama beberapa jam. Selebihnya: bocor. Ternyata gua merasa sangat cocok dan nyaman sama mereka. Gua jadi membayangkan betapa mengasyikkannya kita ketika nanti bekerja.

(ini keterangan tentang desa tempat kita bermain: Dusun Cepoko, Desa Sumbermulyo, Kecamatan Bambanglipuro, Kabupaten Bantul, Jogjakarta)

Entahlah, apakah karena mereka masih terlalu muda untuk melakukan pekerjaan seperti ini atau karakter mereka memang tidak cocok untuk bekerja di lapangan, gua merasa etos kerja mereka kurang baik di lapangan. Gua ga menyebut ini sebagai masalah, hanya sebuah kebiasaan buruk yang harus sedikit dihilangkan, minimal selama kita menumpang di desa itu. Karena kebiasaan buruk ini menimbulkan banyak persepsi negatif dan juga kesalahan yang diulang setiap harinya.

Secara gitu loh…. tenda kita tuh sebelahan sama musola yang setiap jam setengah lima pagi muter pengajian atau lagu-lagu solawatan secara stereo, tapi anak-anak pada baru bangun jam tujuh. Mungkin anak-anak itu merasa nyaman dengan kondisi ‘nyeleneh’ itu, tapi bagi kami yang juga bangun jam setengah lima pagi untuk solat subuh, kebiasaan tersebut mengundang rasa tidak nyaman, terutama ketika para jamaah melintasi tenda terbuka kita dan melihat di dalamnya bergelimpangan manusia bersliping beg. Para penduduk itu sih diem aja, tapi gua tau sebenernya mereka pengen ngomong sesuatu sama kita (kultur Jawa gitu loh…).

Sebenernya udah ditentuin juga dari awal bahwa kita harus menyesuaikan diri dengan pola hidup masyarakat sekitar (seperti bangun subuh dan menghentikan pekerjaan saat maghrib), tapi masalah ini beberapa kali masuk sebagai bahasan evaluasi, dan tetep aja anak-anaknya ndablek.

Cuman itu aja sih persoalan yang rada susah diilangin, soalnya menyangkut kebiasaan dan gaya hidup. Kebanyakan dari kita orangnya cuek, jadi rada-rada ga peduli gitu sama hal kaya gituan. Kalo cuek mah gua juga cuek, tapi gua masih menjungjung tinggi adat pertamuan, hehe :p… Ah ya sudahlah.. mau begimana lagi..

Ada satu lagi, kita tuh kebanyakan ide, bari jeung ga pernah terealisasikan. Pengen ini pengen itu, tapi banyak yang terbengkalai karena lupa. Mereka –anak SR– adalah tipikal orang-orang yang spontan, yang ketika dapet satu ide maka akan langsung diflorkan. Tapi mereka juga mudah lupa sama ide-ide itu (ini kata Bule).

Trus juga mereka tipikal orang yang ga mau nyatet, pengennya ngomong. Barangkali ini penyebab kenapa si Kopral menunjuk gua untuk jadi tukang catet. Mungkin ini adalah takdir gua: menjadi tukang catet di mana pun gua berada. Kalo kata si Mala, gua udah cum laude jadi sekretaris, haha…

Hmmm… apa lagi ya yang kurang… oiya dokumentasinya kurang. Dua-duanya orang yang bawa kamera (dua-duanya adalah versi angka dua dari satu-satunya) adalah Arif dan Rangga. Kebetulan Arif cuman satu minggu di sana, itu pun mobail terus mondar-mandir kota-desa, jadi Arif cuman sempet moto-moto dikit. Kalo Rangga kameranya rada bermasalah: baterenya cuman tahan buat 10-20 kali jepretan dowang. Selebihnya jeprat-jepret pake kamera hape.

(bai de wei, tulisan gua ini sangat tidak sistematis, terlalu amburadul. Gapapa lah yah, justru yang spontan itu yang asik… uhuyyyy…!)

Bermain dengan anak-anak di desa adalah pengalaman yang seru. Gua ga nyangka kita bakal disambut sehangat ini oleh anak-anak di sana. Ini adalah tanah Jawa, di mana kultur Jawa masih sangat melekat dan dianut oleh para penduduk desa. Dalam kultur Jawa, hubungan orangtua-anak memang tidak terlalu dekat, entah apa tujuannya dan apakah disadari atau tidak. Penjagajarakan ini otomatis akan menguatkan hubungan kakak-adik kandung, that’s why hubungan kakak-adik terjalin lebih erat daripada orangtua-anak pada masyarakat Jawa. Ketika anak-anak itu bertemu dengan orang dewasa yang mau bermain dengan mereka secara terbuka, pastilah mereka menyambutnya dengan senang hati.

Gua adalah orang Jawa, dan gua pernah jadi anak-anak yang merasakan didikan serupa, jadi gua tau apa yang mereka rasakan. Percaya atau tidak, gua baru menyadari hal ini pada usia gua yang ke dua puluh, hari ini.

Mari beralih ke topik obrolan lain…. Overall, gua suka sama tim ini — tim yang Ijul kasih nama tim “P.D. CERIA”. PD? Perusahaan dagang? Atau Panda diet? Wekekekek… :p

Gua kadang berpikiran seperti ini: Sebenernya kedatangan kita ke sini ini berguna bagi mereka atau malah merepotkan sih? Apakah kita malah memberi pengaruh yang buruk bagi mereka dengan mengajak mereka bermain tapi malah membuat mereka ketagihan dan ga mau belajar? Ah, persetan dengan pemikiran-pemikiran tidak jelas ini. Yang penting kan niat kita baik. Yang penting tujuan kita tercapai: mengembalikan kepercayaandiri anak-anak korban gempa untuk berkreativitas dan berkembang.

Kalo mau berbicara masalah duit, duit kita masih banyak banget. Nyisanya sekitar 7-an lah. Awalnya, sisa duit itu bakal dipake buat biaya operasional tim berikutnya setelah kita. Tapi ternyata, tim yang diimpikan itu tidak ada. Dengan kata lain mahasiswa-mahasiswa di ITB tidak cukup bersedia untuk menggantikan kita sebagai relawan. Mungkin mereka sedang mudik, atau berlibur, atau mungkin lagi nonton MTV di kosannya.

Gua pribadi sih pengennya duit sisa itu disumbangin aja ke Cepoko, secara cash, atau dibeliin sembako kek, atau dibeliin alat-alat buat permainan anak-anak kek, atau apa saja lah. Sayangnya duit itu malah dibalikin ke JMN. (Pak Dani jangan tersinggung ya Pak….)

Gua udah ada lagi di Bandung hari Senin (10/7) dengan naik kereta eksekutif (again?) dari Jogjakarta. Trus gua ngobrol sama Andre di sel, katanya mereka –relawan KBPA– make duit pribadi buat transport ke Jogja sana. Gua jadi ngerasa ga enak –sebagai relawan royal yang pulang pergi pake kereta eksekutif secara gratis. Hiks, maafkan aku teman-teman….

0

Aca… aca… OSKM 2003… meregehesssee….


[maaf, gua ga dapet logo OSKM 2003, adanya 2004… gapapa lah ya…]

Sepertinya orang berbaju biru dan lagi nelfon itu Aca anak elektro, pikir gua. Dan serta merta saat itu –pasca makan malam nasi asik di Gelapnyawang– gua langsung nyeritain pengalaman nista waktu dikerjain sama Balthazor (tadis OSKM 2003) ke Anna.

Jadi ceritanya begini (euleuh, kismis pisan…):

Di hari kedua OSKM 2003 yang penuh kenangan (halah..), gua telat bangun gara2 lupa masang alarm di hape, dan otomatis kedatangan gua ke kampus juga terlambat. Secara gitu loh…. gua ga mungkin ga mandi sebelum ke kampus. Walopun cuman mandi bebek, yang penting mah mandi.

Trus, akhirnya gua telat lima menit. Itu sudah termasuk lari sekuat tenaga di trotoar Jalan Ganesha (yang dulu belum ada ee burungnya), sambil riweuh megang tas, topi SMA, topi gajah OSKM, nametag, slayer… pokona mah riweuh lah.

Aturan sih telat lima menit tuh masih dikasih toleransi buat langsung masuk ke barisan yang dibarisin di lapangan sipil yang dulu masih berdebu. Namun malang nasib gua, gua dicegat sama Balthazor yang lagi nongkrong di sana. Akhirnya gua berhenti berlari dan kemudian berjalan ke arah berlawanan dengan orang-orang yang telat 3 menit atau 4 menit. Hiks…. coba aja tadi larinya lebih cepet, ga ketangkep deh T_T

Di ‘ruang tahanan’ gua langsung dikerubungin sama sekitar 5-6 cewe-cewe berbaju hitam, cantik, tapi judes dan galak. Anjissss… gua masuk kandang macan. Tahanan di sana ga hanya gua, banyak manusia malang lain yang juga bertaruh nasib dengan memutuskan berangkat menuju kampus hari ini walaupun kesiangan.

“Heh, malu dong, dapet pita biru kok kesiangan. Kamu mau dihukum apa?” –(pita biru adalah semacam penghargaan kepada mahasiswa yang cukup aktif dan kritis, diberikan oleh taplok kelompok masing-masing). Ya udah gua jawab aja hukuman fisik, sambil nyebutin semua alternatif hukuman fisik: push up, atau sit up, atau skotjam (telah mengalami Indonesiasi, hehe), atau bending pun hayu….

Akhirnya gua dibending. 1.. 2.. 3.. 4.. 5.. 10..

“Ayo, sekarang mau dihukum apa lagi?”. Kampret juga nih tadis, hukumannya minta ditambah. Ya udah gua bilang fisik lagi. Tapi merekanya ga terima, dan kemudian maksa gua untuk nerima hukuman dari mereka yang bersifat ‘mental’. Aih….

“Heh, sini kamu!”, sambil memposisikan seorang mahasiswa berwajah tegang di depan gua. Namanya Aca, NIM-nya 13203xxx. “Ayo, sekarang kamu semangatin Aca pake gaya cheerleaders!!!”.

Anj*r, apa ga ada hukuman lain yang lebih manusiawi? Tapi berhubung gua ga mau ada di sini lebih lama lagi, ya udah lakuin aja. Arrgghh…. kejadian deh gua bergaya cheers di depan orang-orang yang sama sekali belum gua kenal, bari jeung masang muka badak.

Aca udah nahan ketawa, dan kayanya Balthazor2 itu juga. Gua ga peduli, yang penting gua bisa cabut dari sana. Tertawalah sebelum tertawa itu dilarang (dono kasino indro banget). Gua langsung lari menuju lapangan sipil sambil berharap ga pernah bertemu lagi sama anak elektro itu. Hihi, maluuu…

Saat gua ceritakan hal itu sama temen-temen OSKM kelompok gua tiga tahun lalu, mereka langsung ketawa ngakak, sambil ga percaya gua bisa melakukan hal gila itu demi pembebasan diri dari Balthazor. Sengakak Anna yang mendengar cerita gua malam ini.

Tapi ternyata gua ketemu lagi sama Aca, di diklat taplok OSKM 2004. Dan kayanya dia udah lupa, hehe,, bagus lah…

Hihi… OSKM itu emang asik, banyak cerita-cerita serunya… OSKM 2003 adalah OSKM terakhir yang OSKM banget. Ahak… ahak.. ahak… (ketawa bangga) 😀