Oleh-oleh yang Bukan Gudeg

[Kompi di rumah lagi ngadat euy, jadi baru bisa nulis sekarang. Gapapa lah telat juga, daripada ga sama sekali :p…. Tumben-tumbenan nih lagi pengen nulis pake bahasa yang rada formal, heuheu…]

Sepertinya memang sudah ditakdirkan seperti ini. Tiba-tiba saja kalimat ini terlontar ketika saia berjalan menuju kamar mandi bersama Asti. Asti juga berpikiran sama. Bukannya geer atau bagaimana, tapi kami merasa bahwa kami memang orang-orang terpilih yang harus berada di sana hari itu.

Tidak ada dasar pemikiran lain untuk berpendapat seperti itu selain kesadaran kami akan deja vu-deja vu yang datang secara beruntun. Saia seperti sudah mengenal personel-personel tim ini jauh sebelum hari perkenalan yang sebenarnya. Saia juga merasa pernah mengalami potongan-potongan aktivitas yang saia kerjakan di sana. Seperti sebuah mimpi yang muncul kembali dalam ingatan, dan sama persis dengan apa yang saia lakukan saat itu. Ini yang orang sebut dengan deja vu.

Siapa yang sangka, sepulang dari kota Jakarta (21/7) saia ditawari oleh seseorang untuk menjadi relawan mental recovery untuk anak-anak korban gempa di Jogjakarta selama dua minggu atau lebih. Walaupun mendadak dan agak mengundang syoking, saia menyatakan setuju untuk bergabung dalam tim yang semua personelnya belum saia kenal sama sekali. Keberangkatan kami ke Jogja adalah benar-benar sehari setelah saia menginjakkan kembali kaki di di kota Bandung. Agak nekat sih, karena selain menggunakan metoda pamit-kabur, saia juga tidak membawa cukup banyak uang untuk jaga-jaga di sana.

Beberapa jam sebelum keberangkatan, saia berkenalan dengan semua personel tim. Agak kaget juga, awalnya saia kira saia akan berkenalan dengan orang-orang dari jurusan-jurusan yang berbeda di kampus gajah duduk ini. Ternyata mereka semua anak SR plus satu anak TL. Agak canggung juga awalnya, takut merasa tidak cocok dengan lingkungan ini, lingkungan yang didominasi oleh cowo-cowo berondong ’04 yang kesan pertamanya mereka punya tipikal pergaulan yang berbeda dengan saia.

(ah, aneh ah gaya ngomongnya, balik lagi aja ke gaya original gua ya :)……..)

Yang gua bayangin pertama kali saat tau bakal jadi relawan adalah harus mau bersengsara ria naik kereta ekonomi yang benar-benar menguji kesabaran kita sebagai manusia. Jauh dari bayangan, ternyata kita naik kereta eksekutif. Gua jadi benar-benar blank, kita relawan kan? Royal amat…. hehehe…

Hubungan gua yang rada kaku sama mereka hanya bertahan selama beberapa jam. Selebihnya: bocor. Ternyata gua merasa sangat cocok dan nyaman sama mereka. Gua jadi membayangkan betapa mengasyikkannya kita ketika nanti bekerja.

(ini keterangan tentang desa tempat kita bermain: Dusun Cepoko, Desa Sumbermulyo, Kecamatan Bambanglipuro, Kabupaten Bantul, Jogjakarta)

Entahlah, apakah karena mereka masih terlalu muda untuk melakukan pekerjaan seperti ini atau karakter mereka memang tidak cocok untuk bekerja di lapangan, gua merasa etos kerja mereka kurang baik di lapangan. Gua ga menyebut ini sebagai masalah, hanya sebuah kebiasaan buruk yang harus sedikit dihilangkan, minimal selama kita menumpang di desa itu. Karena kebiasaan buruk ini menimbulkan banyak persepsi negatif dan juga kesalahan yang diulang setiap harinya.

Secara gitu loh…. tenda kita tuh sebelahan sama musola yang setiap jam setengah lima pagi muter pengajian atau lagu-lagu solawatan secara stereo, tapi anak-anak pada baru bangun jam tujuh. Mungkin anak-anak itu merasa nyaman dengan kondisi ‘nyeleneh’ itu, tapi bagi kami yang juga bangun jam setengah lima pagi untuk solat subuh, kebiasaan tersebut mengundang rasa tidak nyaman, terutama ketika para jamaah melintasi tenda terbuka kita dan melihat di dalamnya bergelimpangan manusia bersliping beg. Para penduduk itu sih diem aja, tapi gua tau sebenernya mereka pengen ngomong sesuatu sama kita (kultur Jawa gitu loh…).

Sebenernya udah ditentuin juga dari awal bahwa kita harus menyesuaikan diri dengan pola hidup masyarakat sekitar (seperti bangun subuh dan menghentikan pekerjaan saat maghrib), tapi masalah ini beberapa kali masuk sebagai bahasan evaluasi, dan tetep aja anak-anaknya ndablek.

Cuman itu aja sih persoalan yang rada susah diilangin, soalnya menyangkut kebiasaan dan gaya hidup. Kebanyakan dari kita orangnya cuek, jadi rada-rada ga peduli gitu sama hal kaya gituan. Kalo cuek mah gua juga cuek, tapi gua masih menjungjung tinggi adat pertamuan, hehe :p… Ah ya sudahlah.. mau begimana lagi..

Ada satu lagi, kita tuh kebanyakan ide, bari jeung ga pernah terealisasikan. Pengen ini pengen itu, tapi banyak yang terbengkalai karena lupa. Mereka –anak SR– adalah tipikal orang-orang yang spontan, yang ketika dapet satu ide maka akan langsung diflorkan. Tapi mereka juga mudah lupa sama ide-ide itu (ini kata Bule).

Trus juga mereka tipikal orang yang ga mau nyatet, pengennya ngomong. Barangkali ini penyebab kenapa si Kopral menunjuk gua untuk jadi tukang catet. Mungkin ini adalah takdir gua: menjadi tukang catet di mana pun gua berada. Kalo kata si Mala, gua udah cum laude jadi sekretaris, haha…

Hmmm… apa lagi ya yang kurang… oiya dokumentasinya kurang. Dua-duanya orang yang bawa kamera (dua-duanya adalah versi angka dua dari satu-satunya) adalah Arif dan Rangga. Kebetulan Arif cuman satu minggu di sana, itu pun mobail terus mondar-mandir kota-desa, jadi Arif cuman sempet moto-moto dikit. Kalo Rangga kameranya rada bermasalah: baterenya cuman tahan buat 10-20 kali jepretan dowang. Selebihnya jeprat-jepret pake kamera hape.

(bai de wei, tulisan gua ini sangat tidak sistematis, terlalu amburadul. Gapapa lah yah, justru yang spontan itu yang asik… uhuyyyy…!)

Bermain dengan anak-anak di desa adalah pengalaman yang seru. Gua ga nyangka kita bakal disambut sehangat ini oleh anak-anak di sana. Ini adalah tanah Jawa, di mana kultur Jawa masih sangat melekat dan dianut oleh para penduduk desa. Dalam kultur Jawa, hubungan orangtua-anak memang tidak terlalu dekat, entah apa tujuannya dan apakah disadari atau tidak. Penjagajarakan ini otomatis akan menguatkan hubungan kakak-adik kandung, that’s why hubungan kakak-adik terjalin lebih erat daripada orangtua-anak pada masyarakat Jawa. Ketika anak-anak itu bertemu dengan orang dewasa yang mau bermain dengan mereka secara terbuka, pastilah mereka menyambutnya dengan senang hati.

Gua adalah orang Jawa, dan gua pernah jadi anak-anak yang merasakan didikan serupa, jadi gua tau apa yang mereka rasakan. Percaya atau tidak, gua baru menyadari hal ini pada usia gua yang ke dua puluh, hari ini.

Mari beralih ke topik obrolan lain…. Overall, gua suka sama tim ini — tim yang Ijul kasih nama tim “P.D. CERIA”. PD? Perusahaan dagang? Atau Panda diet? Wekekekek… :p

Gua kadang berpikiran seperti ini: Sebenernya kedatangan kita ke sini ini berguna bagi mereka atau malah merepotkan sih? Apakah kita malah memberi pengaruh yang buruk bagi mereka dengan mengajak mereka bermain tapi malah membuat mereka ketagihan dan ga mau belajar? Ah, persetan dengan pemikiran-pemikiran tidak jelas ini. Yang penting kan niat kita baik. Yang penting tujuan kita tercapai: mengembalikan kepercayaandiri anak-anak korban gempa untuk berkreativitas dan berkembang.

Kalo mau berbicara masalah duit, duit kita masih banyak banget. Nyisanya sekitar 7-an lah. Awalnya, sisa duit itu bakal dipake buat biaya operasional tim berikutnya setelah kita. Tapi ternyata, tim yang diimpikan itu tidak ada. Dengan kata lain mahasiswa-mahasiswa di ITB tidak cukup bersedia untuk menggantikan kita sebagai relawan. Mungkin mereka sedang mudik, atau berlibur, atau mungkin lagi nonton MTV di kosannya.

Gua pribadi sih pengennya duit sisa itu disumbangin aja ke Cepoko, secara cash, atau dibeliin sembako kek, atau dibeliin alat-alat buat permainan anak-anak kek, atau apa saja lah. Sayangnya duit itu malah dibalikin ke JMN. (Pak Dani jangan tersinggung ya Pak….)

Gua udah ada lagi di Bandung hari Senin (10/7) dengan naik kereta eksekutif (again?) dari Jogjakarta. Trus gua ngobrol sama Andre di sel, katanya mereka –relawan KBPA– make duit pribadi buat transport ke Jogja sana. Gua jadi ngerasa ga enak –sebagai relawan royal yang pulang pergi pake kereta eksekutif secara gratis. Hiks, maafkan aku teman-teman….

Advertisements

2 thoughts on “Oleh-oleh yang Bukan Gudeg

  1. deja vuThe déjà vu experience has aroused considerable interest and is occasionally felt by most people, especially in youth or when they are fatigued. ~britannica.comhohoho.. harusnya kemaren kamu ngajak sita, Ma.. sebagai pendongeng handal. cita-cita dari jaman tsunami aceh adalah membacakan dongeng buat anak-anak (saya story teller loh, seriusan, meskipun nggak sehandal M Toh. waktu dulu ngomong gitu, pada ngetawain.. nggak lama kemudian, Kak Seto nongol ditipi lagi ngasih terapi psikologis ke anak-anak dengan metode cerita dan bermain..tuh kan.. intinya adalah.. nikmati masa-masa blom kejeblos ke dunia kerja yang hina ini. aaarrgghhhh.. pengen cutiiiiiiii!!!!

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s