3

Berenang…


Memalukan, renang gaya bebas 50 meter aja ga bisa. Tes kemaren harusnya 200 meter, tapi gua menyerah di meter ke 50 (bahkan kurang). Hiks, menyedihkan, kenapa gua ga berani pake gaya katak ya…. padahal kan bisa ngehemat energi.

Udah 3 taun lebih gua ga berenang (kamana wae atuh neng….). Otot-otot gua kaku…. punggung gua nyaris kram… tenggelam dikit aja udah panik…. jadi kaya pertama kali berenang aja (parah betul lah pokonya). Dan saat pertama kalinya berenang setelah 3 taon absen, gua kehilangan skil berenang gua—padahal ini tes untuk kuliah scuba. Tes bo…. kalo ga lulus gua bisa dieliminasi dari mata kuliah ini.

Ironis, mengingat selama ini gua ngerasa fine-fine aja dengan skil berenang gua—secara pas arung jeram di sungai atau danau, gua kan pake pelampung, ya iya lah fine-fine ajah. Pada kenyataannya: terrible.

Draft kesalahan gua kemarin adalah: kurang pemanasan, kurang latihan renang dan lari, kurang makan, dan ngemeng aja (kebanyakan ngobrol kata si Bapa, hahaha….). Waduh pak, saya mah susah kalo disuruh ga ngobrol…..

PRS masih seminggu dua minggu lagi. Masih ada waktu buat gua belajar lagi teknik-teknik renang (terutama renang gaya bebas siyalan yang bakal dites beberapa minggu lagi), masih ada waktu buat latihan fisik (keliling sabugeng 20 keliling, ayo semangat…!!!), dan masih ada waktu untuk gua memikirkan kira-kira mata kuliah ini gua pertahanin atau gua buang.

Andi said: “Gua emang paling ga bisa banget kalo disuruh renang. Puguhan gua ngambil kuliah ini teh supaya gua bisa renang…. eh malahan dijadiin tes. Lieur urang.”

Dan gua bilang: “Hehehehe….. sama Ndi, gua juga ga bisa….”

Dan seseorang yang namanya tidak disebutkan berkata: “Wah, Andi keren, six pack bo!”

* * *

Hari ini gua lari di sabugeng bareng Amal, dosen olahraga sementara gua. Lumayan lah, hari ini bisa 16 keliling. Besok -besok Amal juga bakal ngajarin gua berenang. Asik juga nih punya temen anak URPA, bisa dimanfaatin, heheheh….. Ayo Amal, semangat ya ngelatih gua, haha 😀

Advertisements
5

Into the Wild

Into the Wild karya Jon Krakauer

Menceritakan seorang petualang muda bernama Cris McCandless, pemuda nyentrik yang terobsesi untuk hidup di alam liar setelah membaca buku-buku karangan Tolstoy dan Thoreau.


Chris McCandless di depan bus tempat jenazahnya ditemukan pada tahun 1992

Dianggap sinting, karena ga peduli pada keluarga yang mencintainya dan bertindak gegabah karena menyia-nyiakan hidupnya yang nyaris sempurna. Tapi menurut gua, justru kadar kenormalannya lebih tinggi daripada orang-orang yg menyebutnya sinting.

Entah, kenapa gua ngebela Chris, mungkin karena gua keburu ngefens sama dia berdasarkan cerita di buku itu. Mungkin juga karena gua juga adalah seorang yang memilih tidur di bawah bintang-bintang dan kelaparan daripada tidur di tempat tidur yang empuk dan berlimpah makanan.

Orang ini KEREN BANGET. Bukunya juga KEREN BANGET. Lu harus baca buku ini sampe selesei, dan cerita sama gua tentang apa yang lu pikirkan…

6

Bintang Jatuh

Lagi musim panas ginih, di kota Bandung makin susah aja ngeliat bintang-bintang, apalagi bintang jatuh. Di langit paling banyak dapet dua bintang, itu pun bintangnya kelap-kelip ga mau diem. Yang satu di ujung Utara, yang satu di ujung Barat.

Selain karena emang langit penuh awan musim panas, kota ini udah kena polusi cahaya. Jadi aja…. bintang-bintangnya ga keliatan…

Kemarin waktu di Lawu, di lereng gunung yang hina dan banyak hantunya, beberapa meter di atas awan, hiburan yang ada satu-satunya adalah bintang-bintang. Tersebar di langit yang bersih dari ujung Utara ke Selatan dan dari Barat ke Timur. Ada bintang jatuh….!

Gua ngeliat sembilan bintang jatuh selama memandang langit. Wah, senangnya, berarti make a wish sembilan kali…

Kata Jo, dulu… waktu orang-orang masih sangat percaya dan dekat pada Tuhan, ketika melihat bintang jatuh mereka berpikir: “Bintang saja yang ukurannya besar, yang tempatnya jauh di atas sana, bisa dengan mudah dipindahkan oleh Tuhan… Berarti tidak ada hal yang tidak mungkin di dunia ini. Maka dari itu Aku berdoa kepada Tuhan atas keinginan-keinginanku…”

Dan gua memohon hal yang sama sebanyak sembilan kali.

6

Amran Jreng Jreng…


Kemarin, tepatnya tanggal 22 Agustus 2006, di mana semua mahasiswa Gajah Duduk melaksanakan kuliahnya untuk pertama kali di tahun ajaran ini, dan di mana untuk pertama kalinya gua masuk kelas Farmasi dalam rangka ngulang kuliah biokim, yang dosennya killer-kalo-ngajar-di-jurusan-gua-tapi-ga-killer-kalo-ngajar-di-jurusan-Farmasi, gua dan teman2 KMPA kedatangan tamu dari Jakarta. (Edan…. satu kalimat jadi satu paragraf gini, jagoan pisan…)

Namanya Amran. Beliow adalah salah satu anggota tim gua waktu ngedaki Pangrango bareng Herman Lantang, Desember tahun lalu. Tidak banyak yg berubah dari dia, sepatu kerja yang dia pake hari ini masih sama dengan yang dipake ke Pangrango lalu. Yang berbeda hanya pakaiannya, sekarang lebih kaya bapak2 gitu, maklumlah orang kantoran sekarang mah… dan juga kata-katanya sekarang mah lebih behave dikit (ga pake jrang-jreng-jrong lagi).

Dia ngucapin selamet ulang taun yang terlambat. Aha.. gua juga ngucapin selamat ultah balik, soalnya hari ulang taun kita sama. Dia adalah orang ke sekian yang punya hari ultah sama ma gua setelah Tsabit, Bayuaji, Acunk, Dimas, dan Trini si Power Ranger warna kuning.

Oiya, dia juga bawa foto-foto Pangrango yang udah gua tagih sejak tahun lalu. Janjinya sih bakal diaplot di frenster, tapi dia lupa mulu. Edan gitu lupanya 8 bulan nonstop, mamen! Ini dia foto-fotonya….

Depan: Herman Lantang
Belakang: Menur, Rima, Tonte, Amran, Agi

Sam, Torah, ???, Agi, Herman Lantang, Firdaus, Haqul, Kaka Irland, Mario

Makan pancake buatan Herman Lantang ennnnak bgt, rahasianya adalah pake baking soda.

Jadi inget sama film Gie…

Gunung Salak diliat dari Lembah Mandalawangi, katanya gunung ini paling garing sedunia….

Ke sini lagi ah, kapan-kapan…. ada yang mau ikut?

1

Tebak Foto



Hayo, tebak… ini asli apa palsu? Tampak seperti di studio foto kan? Walaupun muka Arfan emang palsu (wuahaha..), tapi ini fotonya asli loh.


Ayo tebak, benda apakah ini…? Ini adalah Gugum –korban tabrak lari yang lukanya belum sembuh—yang rambutnya digimbal secara paksa, dan kemudian dibuka secara gotong-royong.


Siapakah orang dalam foto di atas?
a. Oscar Lawalata
b. Aming
c. Ketua KMPA
d. Semua jawaban benar


Siapa sebenernya objek yang dituju untuk dipotret oleh Rima dan Mala?
a. Agam
b. Agam dan Peye
c. Helmet
d. Mas-mas fotografer


Menurut kamu ini KSM beneran atau boongan? Percaya ga kalo foto ini di-Adobe dulu supaya matanya jadi warna biru?
a. Beneran – percaya
b. Beneran – ah masa sih?
c. Boongan – percaya
d. Boongan – plis deh…



Percaya ga kalo kucing hama Sunken Court ini moto diri sendiri? Ini kucing kesannya megang kamera sendiri, trus poto narsis… Padahal ini gua yang moto.


Percaya ga? Ini foto di depan rumah rektor yg ada patung gajahnyah di Jalan Dago. Motonya jam 12 malem, pake timer…. Hasilnya jadi blur, menceng ke kanan (jadinya Berry ga keambil), dan objek yg kepoto banyakan orbs-nya daripada manusianya. Believe it or not.


Tebak…. Ini di mana? Ini di dalem kampus UNS. Saking luasnya itu kampus, kambing pun ngekos dan beranak pinak di sini. Jadi pengen pindah kampus nih…


Siapakah makhluk aneh ini?
a. Jupri si budak Sipil
b. Bencong kampus
c. Metamorfosa Jupri Bencong

— Maaf, tidak penting —

1

Kampus Gajah Duduk, 19 Agustus 2006

Adalah ide buruk, bahwa stand unit agama berinisial G tepat bersebelahan dengan stand unit KMPA. Tapi memang begitu adanya, dan kejadian ini begitu tidak disangka-sangka.

OHU yang sekarang – tahun 2006 – tampaknya memang disiapkan secara lebih baik dibanding tahun-tahun sebelumnya. Saking baiknya, sampai-sampai tata letak stand diatur juga oleh panitia. Mungkin maksudnya supaya ‘rapi’ aja dan ‘enak dipandang’. Tapi yang ada malah bikin garing.

Sekarang gini aja deh… bayangin beberapa stand unit olahraga bertumpuk-tumpuk di satu tempat, trus stand unit kesenian di satu tempat, trus stand unit pendidikan di satu tempat.

Adalah iya, kumpulan stand kesenian ramai dengan alat musik masing-masing, dengan baju adat masing-masing, dengan suara alat musik masing-masing, ditambah kebisingan simultan yang dihasilkan.

Adalah iya, kumpulan stand pendidikan menjadi sangat garing, karena tidak punya daya tarik semenarik unit kesenian atau olahraga, dan tentu saja ditambah kegaringan simultan yang diderita secara akut.

Kenapa bisa tidak ada daya tarik? Sebenernya bisa aja ada, tapi gua yakin itu minimal. Elemen pendidikan didominasi dengan sesuatu yang abstrak, yang sulit divisualisasikan, apalagi bisa dipajang dalam sebuah stand.

Jadi, kalo standnya aja udah kosong, pengunjungnya sedikit, dan merasa hari ini buruk, yang dilakukan oleh anggota unit-unit ini tidak lain adalah sesuatu yang bersifat autis masal seperti main kartu atau nongkrong-nongkrong ga jelas di depan stand – tentu saja kecuali unit agama berinisial G. Seperti yang kami lakukan. Dua set kartu dimainkan, dengan push-up sebagai hukumannya.

* * *

Tapi ternyata hari ini tidak begitu buruk. The Panas Dalam manggung sore ini…..!!!! Waaaaaaa….. setelah sekian lama gua gagal terus nonton The Panas Dalam, akhirnya sekarang nonton juga.


Coba simak kata-kata Alga (vokalis The Pandal) kutipan Dimas

Kebanyakan lagunya lagu lama (atau emang semuanya lama?). Ada satu lagu yang gua ga tau itu judulnya apaan. Pokonya semuanya keren. My favorite one is Metamorfosa Jono Bencong, soalnya dipraktekin langsung sama si Alga-nya, hahaha… 😀

Bila bicara seperti desir angin,
Bibirnya basah kuyup….
Bila berjalan seperti tanpa tulang,
Si bencong tulang lunak….