Dolan neng Solo 310706-010806: Lawu Meneh


Sebenernya Gunung Lawu termasuk salah satu gunung yang gua hindari untuk didaki ulang. Ketika mendaki Lawu, manusia akan berurusan dengan mental mereka. Entah, mental gua kurang kuat atau terlalu kuat untuk naik ke sana, yang jelas gua ga nyaman ketika gua ngerasa dikuntit dan kerjain.

Tapi mereka (tim hura-hura) maksa gua buat ikutan naik. Pemaksaan berlangsung selama beberapa hari sejak di kereta sampai di sini. Hhhhh… yo wis lah… (sambil menghela nafas). Piye to iki, gua ga bawa sepatu, ga bawa baju lapangan, ga bawa ini ga bawa itu. Mana belum latihan fisik pula. Tapi nya nggeus we lah, kumaha engke we….

Kita jadinya berangkat ber-12: Atlet, ofisial, tim hura-hura, Jo si pemandu jalan (again), dan 2 orang anak SMU PGRI 1 Pati yang bolos sekolah hari ini dan besok, haha…. Dua belas = angka genap. Konon, kalo naik dengan jumlah personel ganjil, bakal ada apa-apa. Tidak masuk akal, tapi gua percaya

***

Bang SMS siapa ini Bang…
..(na na na na na)….. sayang-sayang…

Hhhh…. lagu ini lagi? Setelah lagu ini sempat gua dengar di angkot-angkot Bandung, sempat jadi perbincangan heboh dan dinyanyikan setiap hari oleh Ijul selama di Jogja, dan sempat diputar di sekre Brahma beberapa jam lalu, lagu ini juga nongol di bus menuju Tawangmangu. Tiga kali. Ga tanggung-tanggung itu DVD diputer-puter ulang. Bisa gila…

Efek doktrinasi lagu SMS bisa langsung dirasakan saat kita “makan malam” jam setengah 6 sore di Terminal Tawangmangu, saat Sam mulai bernyanyi:

Orang salah kirim lah…
Orang iseng-iseng lah…

Tuhanku, lindungilah kami dari lagu SMS terkutuk. Amin.

Hari ini langit penuh awan, tapi Puncak Lawu dapat terlihat disela-selanya. Memandang Puncak Lawu dari Tawangmangu seperti memandang Puncak Burangrang dari kampus gajah duduk. Tapi Lawu jauh lebih keren. Karena puncaknya berada di atas awan, sore ini kita bisa melihat segitiga berwarna oranye yang indah.

Di musim panas tahun ini, panas di siang hari dan dingin di malam hari lebih menyengat dibanding tahun lalu. Mengingat kegagalan pendakian tahun lalu (gagal mencapai sunrise di puncak), tim memutuskan untuk memulai pendakian pukul 21.30 dari Cemoro Sewu.

Kesunyian mendominasi selama perjalanan dari pos Cemoro Sewu sampai pos 3. Gua ga pengen mengalami kejadian seperti tahun lalu gara-gara kita berisik trus keceplosan. Dan sepertinya semua personel tim berpikiran sama. Mereka rada down gara-gara si Jo cerita-cerita tentang seremnya pos 2 pas di Tawangmangu (gelo sugan… cerita-cerita serem kan harusnya pas pulangnya aja.. ini malah pas mau naik). Sebenerani-beraninya gua, gua juga merinding di sana. Mungkin ini penyebab kenapa Eko dilarang ngedaki Lawu sama eyangnya yang di Surabaya. Mungkin di sini yang paling besar.

Pos 3 ke atas, barulah kita ribut, ketawa-ketawa, dan istirahat sesuka hati. Kalo di bawah tadi, boro-boro mau istirahat, pengennya sih kalo bisa lari aja di gunung yang mirip tebing ini (tapi kan kita ga mungkin lari, soalnya kakinya cuman 2). Padahal jalur trek pos 1 sampe pos 3 didominasi oleh bebatuan tapi kita sama sekali ga tergerak buat istirahat. Yah, tau sendiri lah apa penyebabnya…

Di pos 4, trek bebetuan berubah menjadi pasir. Sudut kemiringan semakin kecil mendekati datar. Angin bertiup semakin menggila, menghempas tubuh-tubuh lelah yang mengantuk. Boleh percaya boleh tidak, beberapa dari kami hampir jatuh karena tertiup angin.

Jam 04.00 tepat kita nyampe di Sindang Drajat (Pos 5). Tempat yang ajaib. Di ketinggian 3000 mdpl, di mana langit sudah tidak tertutup oleh secuil pun awan, kita bisa menemukan mata air dan warung. Ya, warung, satu-satunya warung yang buka setiap hari di luar bulan Suro.

Gua tahu mereka bukan orang biasa. Tidak mungkin orang biasa, karena mereka menjual segelas teh manis hangat seharga Rp 1.500,00 dan kerupuk seharga Rp 250,00 per bungkus di ketinggian 3000 mdpl. Mereka pastilah orang-orang hebat.

Puncak tinggal sedikit lagi, bisa didaki kurang dari satu jam. Tapi karena kedinginan, kita memilih untuk tidur di warung aja dari pada mengejar sunsrise di puncak. Tak apa-apalah kita tidak mendapat sunrise di puncak, dari sini pun sunrise sudah terlihat sangat indah. Sunrise selalu terlihat indah, di manapun, kapanpun, jika kita tahu esensi dari munculnya dia.

Tapi bagi gua, objek sunrise yang paling indah adalah sunrise dengan siluet Edelweiss atau Cantigi

***

Perjalanan dilanjutkan sekitar pukul 09.00, saat kita mulai kembali bergeliat karena udara mulai hangat. Kita mampir di Argo Dalem, semacam padepokan dengan lambang-lambang ritual, yang di sebelahnya berjejer warung-warung yang tutup karena sekarang bukan bulan Suro. Di sini kita ga berani poto-poto…

Ke atas dikit ada Rumah Sampah. Benda monumental yang dibangun dari sampah yang biasanya “dibuang” di gunung seperti botol air mineral, botol minuman energi, kaleng sarden, kaleng kornet, dan macem-macem lainnya. Jo bilang, ini kerjaannya orang-orang yang ga ada kerjaan. Keren juga… Kalo kalian ke Lawu, jangan lupa mampir ke sini ya…

Beberapa menit kemudian dari Rumah Sampah, kita akhirnya nyampe juga di puncak Argo Dumilah. Tugu di puncak yang tahun lalu tinggal setengahnya tapi masih bisa berdiri, kini sudah miring dan hampir ambruk. Sayang sekali. Ini kerjaannya siapa ya? Tega bener… Bendera Indonesianya juga udah ga ada, diambil sama penjajah kali.

Foto yang keambil di puncak Argo Dumilah cuman ini. Baterenya keburu abis, entah karena ngedrop akibat cuaca dingin atau karena abis dipake foto-foto ga penting. Untungnya masih ada hengpon Anna yang resolusinya gede, jadi kita tetep banci tampil deh….

***

Saat paling mengasyikkan dari pendakian gunung adalah saat turun gunung. Asyik, bisa lari-lari, asal lagi pas ga pake sepatu treking aja. Kita kembali ke 1800 mdpl melewati jalur Cemoro Kandang, yang juga ternyata lebih banyak dipilih orang sebagai jalur pendakian. Mungkin karena hutannya lebih basah dan dasarnya tanah dan pasir, bukan batu. Kita ketemu dua tim yang mendaki lewat jalur itu.

Alhamdulillah kita semua sampai dengan selamat di kaki gunung mengerikan ini. Kita telah melewati tujuan utama mendaki gunung: kembali dengan selamat. Ini kata Mbak May.

Di pos Cemoro Kandang ada billboard yang nunjukkin bahwa sekarang Gunung Lawu udah jadi Taman Budaya. Hebat euy hebat…

Mulai dari sekarang,
Hape aku yang pegang….

Heuah dezigh…. Gua nyerah deh sama lagu ini. Pas kita masuk ke warung di depan pos Cemoro Kandang, lagu ini (lagi-lagi) kebetulan sedang diputer di radio yang distel di sana. Arghhh…. bisa gila.

Advertisements

One thought on “Dolan neng Solo 310706-010806: Lawu Meneh

  1. mas aku indra sragen (timurnya kota solo)dah pernah nyoba jalur utara g.lawu blm jalur candi ceto kren lo mas and jauh lebih wingit dari cemoro sewu ato cemoro kandang

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s