Makan Siang Bareng Tim PD Ceria

Masih inget cerita waktu gua jadi relawan ke Jugja? Yeah… tim dengan nama ‘PD Ceria’ –yang sebenarnya nama itu belum pernah dirembugkan apalagi mencapai kata mufakat– bertemu lagi pada tanggal 13 Agustus 2006. Dengan wajah yang tentu saja lebih segar, dengan rasa kangen yang mulai tumbuh walaupun hanya sedikit, dan dengan humor-humor segar yang baru diproduksi —fresh from the oven— dan akan selalu diproduksi ketika kita bersama-sama.

* * *

Hari ini Pak Dani dan beberapa stafnya yang dulu kerja bareng kita di Desa Cepoko dateng ke Bandung, khusus untuk makan siang bareng kita. Jadi berasa orang penting ginih… Selain itu istri Pak Dani dan kedua anaknya juga dateng. Kita makan di Sindang Reret Resto.

Tim relawan yang hadir hari ini lengkap kecuali Usman, Luki, Uci, sama Adit. Usman ama Luki lagi ada urusan keluarga, Uci lagi di Jakarta, sedangkan Adit lagi di Jogja — lagi dag-dig-dug nunggu hasil pengumuman ujian ISI. Kalo kata gua mah Adit pasti keterima, wong yang daftar di jurusannya cuman 5 orang… Betewe Adit ngambil jurusan Ethno Music loh, keren euy….

Ternyata penampilan mereka yang ala kota membuat gua rada pangling. Edannn beda banget sama waktu di desa dulu…. (gua juga sih.. hehe..). Waktu di desa dulu, busana kita emang didominasi sama celana pendek, celana jins belel, dan kaos belel. Hahaha… mentang-mentang di desa… Ditambah lagi cowo-cowo pada males nyisir, dan beberapa ada yang males mandi. Alas bumi yang penuh debu dan pasir juga ikut ambil bagian dalam kuleuheunisasi kita di sana.

* * *

Anaknya Pak Dani yang besar namanya Saska. Sekarang lagi jadi kahim HME, dan aktif di Apres. “Wow…. pria yang menjanjikan masa depan” kalo kata si Ani mah. Kalo anak yang cewe, namanya lupa lagih… abis susah sih namanya. Dua-duanya mirip sama nyokapnyah.

Ternyata ya, gua pernah seangkot gitu sama si Saska di angkot pink, entah satu tahun atau dua tahun lalu. Jangan tanya kenapa gua bisa nginget muka orang yang belum gua kenal dalam waktu yang sangat lama –apalagi ketemunya di angkot–, gua juga bingung, kenapa gua bisa inget gituh.

Dulu rambutnya masih gondrong tanggung, dan ‘disanggul’ ala cowok Jepang. Saat itu pagi-pagi, dia naik di Jalan Surapati, duduk di korsi kiri yang deket banget sama pintu, sambil baca Mushashi –yang edan setebel bagong– padahal saat itu angkot sedang melaju sangat cepat. Sorenya, gua nemu orang ini lagi nongkrong di Apres, sambil baca buku yang sama dengan yang tadi pagi.

Dan ternyata dia adalah anaknya Pak Dani. Whew…. kebetulan yang aneh.

* * *

Di sini kita bisa ngeliat lagi muka-muka anak Desa Cepoko. Screen digelar, dan sinema Aku Masuk Tivi diputer lagi. Di screen ada juga kita-kita yang juga masuk tipi waktu lagi kuleuheu di sana, hehehehe…. Jadi remind semua kejadian di sana. Bau tanahnya, bau sungainya, bau sawahnya, bau minyak goreng jelantahnya, bau badannya, hehehe…

Jadi kangen…. pengen ke sana lagi. Kapan ya?

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s