19

Bali-baliho… Mistis, Jalak Bali, Bule Keren, dan Rencana Berubah Setiap Detik


*untuk Imoth yang menanti-nanti postingan ini*

Perjalanan pertama gua ke Bali nih… 😀

Ini adalah cerita dan catatan perjalanan Kuliah Lapangan Proyek Ekologi SITH ITB 2006 ke Taman Nasional Bali Barat. Kulap ini diikuti oleh 89 praktikan, 21 asisten, 2 dosen, 2 staf lab, 1 tenaga medis AMP, 1 asisten dari Geodesi, dan 4 kru Trans TV.

20 Nov 06 – 17 Hours Steamed!

04.30 – Gua tiba di Stasiun Kiara Condong (Kircon). Terlambat… harusnya jam 4 gua harus dah ada di sini. Gara-gara semalem begadang ngerjain tugas, gua ngepacking kerir ngedadak. Alhasil subuh ini gua dateng terlambat dengan packingan berantakan.

05.45 – Logistik diangkut ke dalam gerbong KA Ekonomi Pasundan jurusan Bandung-Surabaya.

06.15 – Jejak kaki berlumpur di dalam gerbong memaksa gua sebagai super jenius BRT untuk segera mengepel dan mengerjakan perkerjaan lainnya.

06.30 – Kereta mulai melaju menuju arah Timur.

11.00 – Merasa jenuh, para asisten mulai mengerahkan dirinya untuk segera beraksi di depan kompor. Dan dipilihlah bordes sebagai arena memasak. Trangia-trangia dan bahan makanan pun dikeluarkan. Menu yang dimasak adalah pisang goreng dan manisan mangga. Sedangkan menu minumannya adalah nutrisari pake es batu. Edan….. mantapz.

12.30 – Ternyata hari ini adalah hari ulang tahun Bu Endah. Pisang goreng yang dimasak kita sulap jadi kue ulang tahun yang di atasnya ada lilinnya. Selamat ulang tahun Bu…

….. – Entah siapa yang memulainya, terbentuklah ‘Bordes Band’, band yang bermodalkan suara seadanya dan aqua galon kosong. Lagu yang dinyanyikan berkisar lagu-lagu Sunda, mulai dari ‘Manuk Dadali’ sampai ‘Nyeri, nyeri, nyeri… moal bisa diubaran….’

16.00 – Tiba di Stasiun Lempuyangan Jogjakarta. Rese mengambil pesanan makan siang dan makan malam. Beberapa asisten lain mengambil air dalam jeriken untuk digunakan di kamar mandi.

17.00 – Tiba di Stasiun Solo-Jebres, Stasiun penuh kenangan, hehehe…. 😉

22.30 – Tiba di Wonokromo. Para asisten mulai ribut pengen ngeliat ‘rumah kardus’ yang diceritain sama Pa Gede. Ternyata benar, stasiun ini adalah tempat praktek prostitusi.

23.00 – Tiba di Surabaya. Barang-barang di-unloading dari kereta, dan kemudian di-loading ke bus jurusan Surabaya-Denpasar.

21 Nov 06 – First Step in Bali

00.00 – Bus berangkat menuju Pelabuhan Ketapang Banyuwangi.

01.00 – Tiba di Jalan Tol Gempol-Porong Sidoarjo. Di sini gua bisa ngeliat semburan lumpur panas dari jarak yang sangat dekat. Gua merinding ngeliatnya.

03.30 – Makan di restoran Taman Ria Utama. Menunya soto yang kurang garem dan ayam goreng tepung. Acara ‘makan pagi’ ini ga asik. Selain karena makannya jam 4 pagi, kita juga disuguhin film ‘Tukang Baso Jadi Milyarder’ yang naujubileh garing pisan…

06.00 –Kita udah hampir sampe di pelabuhan. Laut udah keliatan, Pulau Bali-nya juga 😀

07.30 WITA – Bus nyampe di Pelabuhan Ketapang Banyuwangi. Ketiga bus memasuki kapal feri, dan anak-anak berhamburan keluar untuk menikmati pemandangan laut yang indah. Di laut ada pemuda lokal yang mintain duit ke kita. Menurut gua ini adalah cara nyari duit yang aneh…

07.50 – Kapal ferinya jalan, horeee…

08.35 – Tiba di Pelabuhan Gilimanuk Bali.

09.50 – Tiba di Taman Nasional Bali Barat.

Waaaa… syenangnya… akhirnya gua pijakin kaki juga di Bali, ahahahaha…. 😀

Sebagai super jenius BRT, begitu sampai di area mess, gua dan Ami langsung mengecek keadaan mess dan menentukan mana mess buat cewek, mana buat cowok, dan mana yang buat asisten dan dosen.

Mess ini ada di deket pantai di salah satu teluk di Selat Bali

Total bangunan yang kita sewa ada 4. Satu wisma buat asisten cewek dan dosen, satu wisma buat asisten cowok dan praktikan cowok, dan sisanya buat praktikan cewek.

Sebenernya bangunan yang buat praktikan cewek tuh bukan wisma. Itu adalah rumah gaya Jepang—yang entah berdiri sejak jaman apa—yang ga pernah dipake dan ga dirawat. Waktu kita ke sana, rumput dan semak-semak tinggi yang mengelilingi rumah itu baru aja dibabat.

Wisma asisten cewek + dosen berseberangan dengan wisma asisten cowok + praktikan cowok. Dari depan wisma-wisma ini kita bisa langsung ngeliat laut. Wooooow….. keren pisan….

Jadi ga enak nih sama praktikan cewek. Udah mah dikasih wisma yang sempit (satu wisma untuk 30 orang), kotor, banyak hantunya, ga bisa liat pantai lagi…. Tapi da mau begimana lagi, itu pilihan yang terbaik.

Empat tenda dom besar dan sebuah hamook didirikan. Kalo yang ini paling asik buat tempat ngaso malem-malem…

13.00 – Penjelasan tentang TNBB oleh pak polhut. Momen ini adalah momen curi-curi tidur paling tepat, baik bagi praktikan maupun bagi asisten, hehehe…

14.30 – Dilakukan persiapan pengamatan burung. Ini adalah kali pertama asisten kontak dengan praktikan secara formal. Gua megang kelompok 16, kelompoknya Essa, haha…. asik euy kelompoknya.


Kelompok 16: Rifan, Kiki, Prita, Dina, Essa

15.00 – 17.00 – Waktunya pengamatan burung. Karena jumlah kelompok ada 17, jadi kelompok gua dapet tempat kedua paling ujung. Burung-burung di sini edan gila banyak banget. Sayangnya gua ga pegang binok pribadi.


Bondol jawa (Lonchura leucogastroides) –> meureun


Takur bultok (Megalaima lineata)

17.30 – Praktikan identifikasi burung. Asistennya foto-foto dengan bekgron sunset, hahaha… 😀

19.00 – Kita kedatengan 2 tamu dari WWF, Mbak Naneng dan Mas Tono. Mbak Naneng ini adalah alumni Biologi ITB angkatan 90 yang sekarang menjabat sebagai ketua ‘reef check’ di WWF. Mbak Naneng ngasih penjelasan tentang terumbu karang, mulai dari struktur sampai konservasinya. Edan, keren abis orang ini….

23.00 – Briefing asisten dan dosen. Andromeda dan kru Trans TV lain dateng.

22 Nov 06 – Burung, Mangrove, Terumbu Karang

Hari ini dimulai sangat awal. Anjrit… jam 4 pagi kita harus udah siap buat naik truk sapi menuju tempat pengamatan burung di savana lontar.

Jam 4.30 subuh kita belum bisa liat apa-apa kecuali kegelapan malam dan agas-agas yang menari-nari bersiap untuk menghisap darah manusia. Tak lama kemudian muncul sorotan lampu yang semakin lama semakin dekat. Ternyata cahaya itu berasal dari lampu sorot kru Jelajah Trans TV.

Praktikan pada kaget gitu begitu tau kalo kita diliput Trans TV. Ahahahaha…. baru tau ya…

Baru sekitar jam 5-an kita bisa ngeliat burung-burung beterbangan. Semakin matahari naik, jumlah agas semakin sedikit, bageusssss….. Dan akhirnya agas-agas sialan itu lenyap sama sekali setelah membuat banyak bentolan di tangan gua.

Agenda hari ini ada tiga, yaitu pengamatan burung, analisis vegetasi mangrove, dan pengamatan terumbu karang. Setelah pengamatan burung selesai, kelompok-kelompok praktikan dibagi dua. Sebagian menuju hutan mangrove, sebagian lagi menuju pantai Utara yang berseberangan dengan Pulau Menjangan. Kalo udah ntar di-switch.

Perjalanan dilakukan dengan menggunakan truk sapi. Kelompok gua dapet giliran ke pantai dulu baru ke mangrove.


Hendrikus the AMP

Di pantai ini nyaris ga ada ombak. Kontur terumbu katangnya relatif datar dan kedalamannya cetek, jadi kita ga harus pake peralatan diving untuk bisa ngamatin terumbu karangnya. Untuk bagian yang bisa ‘diinjek-injek’, kondisi terumbu karangnya jelek. Kalo mau liat terumbu karang yang bagus, kita harus nyelam.

Di sini ada tiga shift kegiatan yang dirolling. Pertama materi pengenalan diving yang dikasih sama Mas Tono dan sedikit materi terumbu karang lagi dari Mbak Naneng. Kedua adalah bikin plot di pasir dan menghitung persentasi penutupan terumbu karang yang mati. Dan yang ketiga adalah mencuplik terumbu karang di bawah air.

Untuk dapat mencuplik terumbu karang di laut, kita harus membuat plot 5 x 5 meter, dengan grid imajiner 1 meter. Jadi total ada 25 plot imajiner. Terumbu karang bisa diamati dengan menggunakan teropong terumbu karang atau dengan menggunakan goggle.


Ada yang tau ga ini anak siapa…?

Tengah hari kita balik lagi ke mess buat makan siang. Rada aneh sih, makan siangnya menunya sapi. Bukannya orang Bali ga boleh masak sapi ya? Kok kita malah disuguhin sapi sih? Oh… ternyata yang punya kateringnya orang Jawa, jadi gapapa masak sapi. Begitu loh jeng….

Siang ini Pak Gede ngedrop semangka yang banyaaaaaak. Wuaaaaa….. kita semua langsung menyikatnya secara brutal. Kalo ini adalah games Mortal Kombat, di udara akan muncul tulisan ‘BRUTALITY’.

Tujuan selanjutnya adalah hutan mangrove. Di sini kita harus bikin belt transect, ngelanjutin transect yang udah dibikin sama kelompok-kelompok sebelumnya. Selagi mereka ngitung-ngitung jumlah pohon dan ngukur faktor fisika-kimia, gua ngegelar ponco dan tidur sambil digigitin nyamuk rawa.


Edan bo… geng motor Bali…

Rada sorean dikit, di mess, Mbak Naneng membahas pekerjaan tentang terumbu karang hari ini dan memperkenalkan Mas Iwan yang katanya mirip Ari Lasso. Mirip ti mana horeng…?

* * *

Kalo kemaren malem ada materi tentang terumbu karang, malem ini materinya tentang budidaya rumput laut yang dikasih sama Mas yang namanya lupa lagih. Karena ngantuk gila, gua kabur aja ke mess buat tidur.

Timing gua tepat, aing tea jagoan…. Pas balik ke ruang makan, materinya udah selesai dan briefing baru akan dimulai. Senang sekali briefing kali ini ga pake lama.

Berhubung logistik makanan belum ada yang dimasak sama sekali selama di mess, para asisten cewek memaksakan diri untuk masak malam ini. Padahal semuanya udah pada tinggal 5 Watt loh…. Katanya sayang udah bawa logistik banyak-banyak masa ga dimasak.

Karena udah ga konsen, selama masak gua numpahin segelas kopi, spirtus, dan nutrijel. Bageus… tumpahin aja semuanya…..

Abis ngemilin sosis, onion ring, dan krim sup buatan sendiri, kita langsung meneparkan diri di tempat tidur masing-masing. Kalo gua sih di tenda, bersama lima asisten cewek lain.

Tengah malem sekitar jam 2-an ada eksiden. Katanya Kang Yaya kemasukan pas lagi tidur di deket api unggun.

Semuanya heboh, apalagi para cewek. Gua bangun juga, tapi tidur lagi gara-gara udah terlalu ngantuk dan ga sempet mikirin beginian. Dan geuleuhnya, gara-gara cewe-cewe itu pada takut, mereka maksa-maksa gua pindah juga ke mess.

Heran deh, kejadian kaya gini aja hebohnya setengah mati.

Karena semua orang yang tidur di dua dom pindah ke mess, mess-nya jadi penuh sesak. Ga ada lagi space buat tidur kecuali di bawah pintu. Ya udah gua tidur aja di situ dan orang-orang lain pada ngikutin gua. Kayanya sepanjang malem gua dilengkahin sama banyak orang deh. Sebodo ah…

23 Nov 06 – Serangan Macaca Menggila

Hari ini lebih manusiawi, kegiatan dimulai jam 5 pagi. Praktikan dan asisten didrop di hutan evergreen yang lebih lebat dari kemarin. Setelah turun dari truk, kita melewati jalur yang sebenernya adalah sungai besar yang sedang mengering karena musim panas berkepanjangan.

Dan seperti biasanya, kelompok gua selalu dapet tempat kedua paling ujung. Setelah pembagian tempat, Joseph ngingetin kita lagi bahwa di sini banyak biawak, jadi selama dua jam ini kita kudu ekstra hati-hati.

Pukul 06.30 WITA, pengamatan burung di mulai.

Sekitar jam setengah delapan, Nuri ngajak gua ke arah Timur, katanya di sana ada pure. Ternyata benar. Di sana ada dua pure dengan warna dominan kuning mencrang. Mungkin ini jawaban kenapa di sepanjang sungai kering yang kita lewatin tadi banyak banget selendang kuning yang ngelilit pohon atau ngelilingin kubangan. Ternyata wilayah ini adalah tempat peribadatan.

Pas balik ke plot, ada enam macaca. Semuanya ngeliatin kita, tepatnya lagi ngeliatin tas kita. Beberapa menit kemudian anak-anak kelompok 15 mengungsi ke tempat kita, katanya mereka diganggu sama macaca yang minta makanan.

Pada saat yang bersamaan si Essa teriak-teriak karena—lagi-lagi—dia nyasar. Dan lagi-lagi Rifan yang jadi penyelamatnya. Adeeeeuhhhh…. Mereka bilang di tempat tadi ada burung gede banget di tanah. Kata Rifan itu elang, tapi kalo kata Essa itu burung merpati. Gua lebih percaya Rifan, soalnya mana ada merpati tingginya satu meter? Sok ngasal si Essa mah….

Back to the macacas. Karena ada pengungsian, plot kelompok gua jadi dirubung banyak banget macaca. Ada kali 20-an mah. Karena risih dan sangat terganggu, gua cepet-cepet mutusin buat caw aja ke plot kelompok 8 saat itu. Plot 8 adalah plot tempat janjian ketemuan semua kelompok.

Plot kelompok 8 jadi tempat makan pagi kita. Kayanya macaca-macaca itu langsung ngoling temen-temennya se-RT buat ngerubungin kita deh, soalnya jumlah mereka jadi banyaaaaaaaak banget. Mereka mengelilingi kita dengan siaga dan dengan tatapan mata mengintai mengincar makanan.

Siyalnya, plot 8 yang dijadiin tempat makan pagi itu adalah plot diagram profil kelompok 16. Jadinya ketika semua orang udah pergi menuju plot masing-masing tapi macacanya masih tetep di situ, kita jadi pusing setengah mati. Bingung, begimana caranya bekerja secara nyaman tanpa terganggu oleh macaca.

Tidak ada jalan keluar selain pasrah kepada Tuhan Yang Maha Esa.

Gua ngegelar ponco (tapi bukan gelar ponco indosiar, hehe), trus tidur di sebelah Kiky yang juga lagi tidur, ga peduli saat itu gua lagi dipelototin dan diteror sama banyak macaca.

Setengah jam kemudian gua bangun gara-gara denger teriakan anak-anak di atas. Beberapa detik kemudian ada biawak nyebrang di depan gua, yang kemudian masuk ke dalam lubang pohon. Ternyata anak-anak itu teriak gara-gara ngeliat biawak. Biawaknya warna item-kuning, ukurannya segede anak buaya yang baru keluar dari cangkang telur.

Abis itu gua coba buat tidur lagi, tapi ternyata ga bisa lama. Paling lama 5 menit. Soalnya intensitas teriakan sekarang lebih sering, dan juga anak-anak sekarang butuh banyak bantuan gua buat ini-itu.

Believe it or not… sepertinya Dina jadi phobia macaca. Waktu ada macaca yang nongkrong satu meter tepat di belakang kita, dia teriak-teriak histeris sambil pegangan gua, dan badannya sampe gemeteran. Ya ampun Din, segitunya….

Beberapa puluh menit kemudian ada laporan tasnya Essa dirampok. Dan terdengarlah suara Essa: “Sok lah urang mah rido tas urang dicokot ku maraneh… da euweuh barang berhargana ieu…” (Indonesian: Silahkan aja, gua rela tas gua dibawa sama kalian, toh ga ada barang berharganya).

Tapi beberapa menit kemudian: “Eh, dompet urang ketang….”

Setelah pertempuran sengit melawan macaca, akhirnya Essa bisa merebut tasnya kembali. List barang yang hilang adalah:
– Biskuit berbungkus-bungkus
– Permen 2 bungkus gede
– Aqua 1,5 liter
– Kenzo Flower
– Kratingdaeng
– Antis
– dll

Sepertinya monyet-monyet itu kehausan. Terbukti aqua 1,5 liter hasil curian langsung dibuka dan diminum di TKP sampe botolnya lurus (elevasinya 90o dari mulut). Curiganya parfum si Essa juga di minum sampe abis…. heuheu… gelo sugan eta macaca…

“Sigana monyet nu nginum parfum urang ayeuna geus paeh…” (Indonesian: Kayanya monyet yang minum parfum gua sekarang udah mati….)

Setelah tiga jam yang melelahkan, akhirnya kami kembali ke hutan deket jalan raya untuk makan siang. Begitu denger cerita dari gua, Bu Endah, Pa Gede, dan semua asisten langsung ketawa-ketawa ngakak…

* * *

Keluar dari hutan evergreen, kita didrop di tempat penangkaran Jalak Bali. Di sini kita harus ekstra tenang dan ga bikin keributan sama sekali. Soalnya Jalak Bali ini jenis burung yang gampang stress, dan parahnya dia suka mecahin telurnya kalo lagi stress. Beberapa tahun lalu ada kejadian kaya gitu, tepatnya waktu ada kunjungan anak-anak Trisakti. Karena mereka ribut banget, lima calon burung Jalak Bali hilang sia-sia.

Jumlah burung yang ada di penangkaran ini adalah 108 (kalo ga salah denger), dan sampe saat ini penangkaran ini udah ngelepas 300-an burung Jalak Bali yang sudah siap hidup di alam liar.

Impian gua jadi nyata: ngeliat Jalak Bali secara langsung dari jarak yang sangat dekat. Duh sampe bercucuran air mata ginih…. (enggak ketang, berlebihan….)

Fiuh, hari ini adrenalin bermain-main….

Sorenya kita foto bareng…


Sesi foto bareng asisten buat kenang-kenangan

24 Nov 06 – Welcome to Denpasar, Pasar Guang, Pantai Kuta, dan McD? Asiiikk..

Beda emang kalo hati lagi seneng, kerja kita jadi semangat. Sama seperti para praktikan hari ini yang jam 4 pagi udah nongkrong di depan mess asisten. Udah packing, udah rapi, udah cantik, dan udah siap jalan-jalan ke Denpasar, yiiiiiihaaa….!

Coba kalo tiga hari kemaren semangatnya kaya gini… kan aseekkk….

Sekitar jam 04.30 WITA, hujan turun di Gilimanuk. Ini adalah hujan pertama di Bali yang kami rasakan. Hujannya gerimis aje… ikan teri diasinin…

Gerimis yang tidak diundang ini memaksa kami untuk bergerak cepat saat mengangkut logistik dan kerir ke bagasi bus. Selain karena ujan, kita bergerak cepat dengan tujuan ngehemat waktu, supaya waktu jalan-jalannya lebih lama, hehe… Tapi tak dapat dinyana, sopir busnya rada mehe-mehe, jadinya bus baru berangkat jam 05.00 WITA.

* * *

Welcome to Denpasar. Yeeee… akhirnya sodara-sodara…. kita nyampe juga di kota impian ini, wahahahaha… *ketawa setan mode on*

Rencananya tujuan utama di Denpasar adalah Pasar Sukowati. Itu tuh…. pasar oleh-oleh Bali yang luaaaaas banget, segala ada, dan yang pasti harganya murah dan bisa ditawar. Tapi berhubung tempat parkir di sana terlalu kecil, kita pindah haluan jadi ke Pasar Guang. Tapi kayanya hampir semua orang ga tau deh kalo kita jadinya ke Guang, mereka taunya kita ke Sukowati.

Sebenernya mah Guang dan Sukowati sama aja, yang penting mah barang-barangnya bisa ditawar, hehehehehe… *gaya tukang nawar mode on*

Jam 08.30 nyampeilah kita di Pasar Guang. Bu Endah cuman ngasih kita waktu satu jam buat belanja-belenji. Ya ampun Bu, tega nian dirimu pada kami….

Duh, jadi berasa main game ‘Uang Kaget’ ginih… hehe…


Angga dikecengin sama mba-mba penjual di Pasar Guang. “Loh, mba belum tau ya kalo ini tuh Baim Wong yang suka di tivi-tivi itu loh…”

* * *

Benar-benar tepat pukul 09.30 bus melaju menuju arah Barat Daya. Dalam perjalanan menuju Pantai Kuta, kita bisa ngeliat Pantai Sanur.

Pukul 10.30 kita nyampe di Kuta Gallery. Ini adalah mal yang dirancang seperti Ciwalk, tapi ternyata kurang laku. Ya iya lah… pasti kalah saing sama Legian. Di sini para cowok menghadapi dilema di mana mereka harus memilih antara Sholat Jum’at atau Pantai Kuta lebih lama. Hayo kalo kamu pilih yang mana? Heheheh… Dan ternyata masih banyak orang beriman di negeri ini. Mereka memilih untuk Sholat Jum’at…

Dari Kuta Gallery kita naik mobil-mobilan yang kaya di dufan menuju Pantai Kuta. Ongkosnya 6000 perak bolak-balik. Itu adalah harga yang ditetapkan setelah melalui proses tawar-menawar pake bahasa Bali yang cukup sengit yang dilancarkan oleh Pak Gede.

Sekitar seperempat jam kemudian kita nyampe di Jalan Legian dan Pantai Kuta.


Edan bo… geng kacamata item…

Makan siang kita hari ini dibebasin. Bebassss mau di mana aja, dan terserah mau beli apa aja, pokonya subsidinya 8000 perak per kepala. Dan setelah dipilih-pilih, ternyata tempat makan paling murah adalah McDonald’s. Yo oloh tolong….. jauh-jauh ke Bali makannya di McD juga.

Abis makan, kita foto-foto lagi di pantai.

Karena berisik dan pake pakaian yang agak tidak lazim digunakan di pantai versi orang bule, kita diliatin gitu sama bule-bule itu. Kayanya mereka mikir: Orang-orang ini dateng dari planet mana sih? Apa mungkin dari dari Planet Namex?

Di sini banyakan bule-nya daripada manusia lokal.


Bule keren banget…

Ada berbagai macam bule di sana. Mulai dari yang muka Amrik sampe muka-muka Skandinavia. Dan mulai dari yang heteroseks sampe yang homoseks. He? Tau dari mana mereka homo? :p


Buat yang nitip foto penari Bali yang eksotis, fotonya gua ganti jadi foto ini aja ya. Kalo yang ini erotis, bukan eksotis, haha 😀


Buat yang nitip papan seluncur, nih gua kasih liat aja fotonya, sekalian lah bungkus sama surfernya…


Dua bangunan di Legian yang menarik perhatian

Pukul 13.30 kita harus naik mobil-mobilan aneh itu lagi menuju Kuta Gallery. Sebenernya belum puas sih main di sini, tapi anggep aja udah puas lah…

* * *

Di perjalanan gua nemu tulisan aneh ini di bemper truk depan bus:


Kamana ateuh zablayyy…!!

Pukul 19.00 kami dah nyampe di Pelabuhan Gilimanuk. Ditambah ngantri selama setengah jam, bus kami jadinya baru masuk feri jam 19.30 WITA. Ditambah lagi nutup pintu dan segala macem, ferinya baru jalan jam 19.45 WITA.

Kapal feri berlabuh pukul 19.25 di Pelabuhan Ketapang Banyuwangi. Loh loh kok jamnya mundur…? Ya iya lah, Jawa kan WIB, jadi kita balik lagi ke satu jam sebelumnya. Wow… berasa masuk mesin waktunya doraemon nih…. (naon seh??)

Heuheuheu… kitah sudah ada di Pulau Jawa lagi. Tepatnya di Pulau Jawa yang udah ga ada Bush-nya, hohoho….

Di bus semua anak tepar, kecuali orang-orang yang gua recokin dengan ‘teka-teki sandwich’ yang gua dapet dari anak SR. Praktis mereka jadi penasaran dan ga mau tidur sebelum dapet jawabannya. Tapi berhubung guanya juga ngantuk, sebelum teka-teki ini terpecahkan, permainan ini dihentikan, dan mereka pun kecewa, hahaha…

Sebelum turun dari bus untuk makan malem, Osep bilang “Kita cuman punya 6 jam dari sekarang untuk bisa sampe di Surabaya dan naik kereta. Teorinya sih perjalanan dari sini ke Surabaya 3 jam doang. Tapi berhubung di Sidoarjo lumpur panasnya nyembur lagi, pasti bakal macet banget di sana. Jadi kalo bisa kalian makannya cepet ya.”

Pukul 23.10 bus berhenti lagi di restoran Taman Ria Utama. Menunya masih sama, soto yang kurang asin dan ayam goreng tepung yang dijatah satu-satu sama pelayannya. Aneh ya, prasmanan kok dijatah.. kaya di penjara aja. Yang beda kali ini cuman tontonannya aja. Kalo dulu kan tipinya muterin film ‘Tukang Baso Jadi Milyarder’, nah sekarang mah tontonannya komedi panggung yang ada Jojon-nya.

Dan ternyata memang cepat. Untuk ukuran 120 orang, makan selama 40 menit itu adalah prestasi yang luar biasa (deuh meni berlebihan pisan…)

25 Nov 06 – Rencana Berubah Setiap Detik dan Sisi Gelap SITH

Semuanya terlelap dalam mimpi masing-masing. Ada nggak ya yang mimpiin teka-teki sandwich yang gua kasih? :p

Sekitar pukul 02.30 gua bangun karena udara di dalam bus terasa sangat panas. Anjrot ternyata AC-nya mati gara-gara kabel freonnya putus. Saat itu kita lagi di Sidoarjo dalam keadaan jalan yang macet total gara-gara ada semburan lumpur.

Padahal saat itu dini hari, tapi panasnya udah kaya di Arab aja (sotoy… padahal gua belum pernah ke Arab). Mungkin yang nyebabin panas gila ini adalah lumpur panas yang lagi nyembur.

Daripada bangun tapi menderita, lebih baik gua tidur tapi bahagia.

Sekitar jam 04.30-an gua bangun dan mendengar percakapan beberapa orang.

Ntar kita turunnya di sepanjang.
Sepanjang apa?
Ya Sepanjang….
Sepanjang apa?
Ya Sepanjang… Kota Sepanjang..
Ya oloh tolong….

Ternyata selama gua tidur, telah terjadi perubahan rencana besar-besaran. Akibat semburan lumpur Lapindo siyalan itu, perjalanan kita jadi ngaret gila-gilaan. Kita ga mungkin bisa sampe Stasiun Gubeng jam 04.30 pagi, jadi kita berubah haluan ke Stasiun Sepanjang, soalnya di sini kereta baru nyampe jam 6 pagi dari Surabaya. Gua baru denger ada kota namanya ‘Sepanjang’. Aneh betul…

Di belahan dunia lain, bus 3 mengalami kerusakan mesin. Akibatnya semua muatan bus 3 harus dipindahin ke bus 2. Edan mamen…. satu bis 80 orang… kebayang unyek-unyekannya kaya apa. Untungnya AC di bus 2 baik-baik aja. Dan untungnya di bus 3 ga ada logistik lab. Bageussss…

Ternyata bus 2 yang overloaded itu juga ga mampu ngejar bus 1 yang sedang menuju Stasiun Sepanjang. Akhirnya via henfon, para dosen merencanakan rencana baru, yaitu bus 2 mengarah ke Stasiun Krian. Krian adalah kota kecil di daerah Mojokerto, sedikit lebih Barat dari Sepanjang.

Back to Sepanjang. Di kota kecil ini, yang mana saking kecilnya sampai-sampai tidak terlihat di peta, semua mata tertuju pada kami. “Mbak, mbak… ini rombongan dari Jogja ya?”

Saat itu waktu menunjukkan pukul 05.30 WIB. Kereta akan datang setengah jam lagi. Mudah-mudahan saja kereta datang terlambat seperti kata Bang Iwan…

Dan lagi-lagi tugas sebagai super jenius BRT memanggil. Berhubung partner BRT gua lagi ada di Krian sono, jadi di sini gua harus kerja sendiri ngisi 45 liter air. Untungnya gua dibantuin sama Windra dan Mas Andri. Sepertinya Tuhan sengaja mensetting saat itu menjadi saat-saat sulit. Antrian WC-nya panjaaaaang banget dan ga ada keran di sekitar situ. Dan di depan WC ada masjid, tapi WC-nya dikonci.

Untungnya ada mas-mas naik motor yang ngasih tau kalo kita bisa ngambil air di sumur. Sumurnya ternyata lagi dipake. Ada pemuda yang lagi nimba di sana. “Mas, mau numpang minta air..”. Tanpa menatap, pemuda tadi berkata “Bawa timba ndak?”. Dan seolah-olah ia menanyakan pertanyaan retoris, dia ngasih timbanya ke Mas Andri dan menunggu sambil bertopang tangan di pagar stasiun.

Setelah penantian yang cukup lama dan diiringi dengan doa mudah-mudahan saja kereta datang terlambat, akhirnya 2 jeriken 20 liter dan 1 jeriken 5 liter terisi penuh. Abis itu kita ngembaliin timba kepada si empunya yang dari tadi udah bete nungguin kita ga selesei-selesei ngisi airnya. Makasih ya mas, mudah-mudahan mas enteng jodoh dan banyak rejeki, amin.

Ternyata kereta tidak datang terlambat. Pukul 06.00 tepat kereta oranye-biru datang dari arah Timur dengan asap hitamnya yang mengepul di udara.

Gua menghela napas panjang. Bukan hanya karena lega tugas-tugas gua sebagai super jenius BRT sudah selesai, tapi karena harus kembali tegang gara-gara ada motor di bordes gerbong paling belakang, yang so pasti bakal ngeganggu mobilitas anak-anak. Anjrot… apa-apaan nih… motor again?

motor

Harap dicatat ya… di kulap taun kemaren, kalo aja kita telat beberapa menit naikin logistik ke kereta di Stasiun Gubeng, beberapa anak dan barang mungkin bakal ketinggalan kereta. Dan itu semua terjadi gara-gara ADA YANG PARKIR MOTOR DI BORDES BELAKANG. Dan freak-nya, kejadian itu keulang tagi taun ini. Siyal.

Pukul 06.10 kereta melaju dengan kecepatan rendah. Maklum lah kereta ekonomi…

Ketegangan belum selesai, karena di Stasiun Krian kita harus masukin logistik dan orang-orang yang jumlahnya dua kali lipat dari jumlah orang-orang sebelumnya di Sepanjang.

Pukul 06.30 ketegangan itu terjadi. Hebohnya naujubilah pokonya.

Fyuh… akhirnya ga jadi deh kita ketinggalan kereta, hehehe…. Whew, rush hour yang menegangkan… Di kereta, kita bersorak sorai merayakan keberhasilan melawan keterjepitan oleh waktu.

* * *

Kalo pas berangkat kemarin mainannya pisang goreng, manisan mangga, nutri sari, dan kartu UNO, perjalanan balik kali ini diisi sama Marlboro, Jarum Coklat, bir Bintang, kartu remi, dan gapleh, haha… 😀

Maklum lah, di jurusan ini kan orang-orangnya plural banget. Kebetulan aja pas berangkat gua banyak main sama orang-orang alim, sedangkan pas pulang banyak main sama orang-orang bajret. Tapi tenang aja kok, rokok ama bir mah gua ga ikutan… gua cuman numpang main gapleh doang.

Dua partai keras (trup dan gapleh) digelar di dua kursi paling ujung, yang bersebelahan dengan kursi penumpang umum. Atau dengan kata lain ‘di perbatasan’.

Player trup adalah Pa Tatang, Hendra, Alwin, dan Joseph. Empat-empatnya dari suku yang beda: Sunda, Papua, Cina, Batak; dan agamanya juga beda-beda: Islam, Advent, Katholik, Protestan. Konsekuensi bagi yang kalah terus adalah sukunya dicaci-maki dan dia harus pindah agama, hehehehe… becanda ketang…

Kalo player gapleh ada Nuri, Kang Ilman, Pupi, dan gua. Kalo yang ini mah Islam semua, walopun beberapa hanya Islam KTP :p

Pas lagi main gapleh kita diliatin gitu sama para penjual yang kebetulan lewat tapi mentok gara-gara gerbognya ditutupin spanduk. Trus kita dikomentar-komentarin gitu sama mereka. Peduli bagong ah. Emangnya cewe ga boleh main gapleh?

Trus ada tiga pengamen dateng, yang kemudian kecewa karena kepentok spanduk. Akhirnya mereka nongkrong aja di perbatasan itu. Merasa butuh hiburan, Pa Tatang ngerikues lagu ‘Sedang Ingin Bercinta’ ke mereka. Lirik-lirik awalnya dinyanyiin sama mereka, tapi reffrainnya dinyanyiin sama kita secara serempak.

Aku sedang ingin berzinah…
Karena…
Mungkin ada kamu di sini aku ingin….

Mendengar kata ‘zinah’, para penumpang umum yang ada di gerbong itu langsung berdiri-berdiri, penasaran pengen liat orang-orang yang nyanyiin lirik setan itu, hahaha… 😀

Anj*sszz gua bisa gila kalo gaul sama mereka mah…

* * *

Menjelang malam, konser dimulai lagi. Bukan Bordes Band, tapi TOA Band. Walkman phone distel pada volume maximum, dan spikernya dipasang di TOA. Dan lagunya dong: SMS versi Trio Macan… ABCD (Aduh Bo Cape Deh…)

Yang tepar tetap tepar, yang main kartu tetap main kartu, tidak merasa terganggu oleh suara TOA yang super stereo.

Pukul 22.30 kereta nyampe di Bandung. Beberapa praktikan cowo berhamburan keluar, membanting kerir, dan langsung berlari gila menuju WC. Ternyata mereka udah nahan boker sejak dari tadi, tapi ga bisa boker di kereta gara-gara airnya abis. Meni kasian pisan barudak ieu…

Dan kita pun pulang ke rumah masing-masing, membawa pakaian kotor dan oleh-oleh untuk keluarga masing-masing 🙂

* * *

Here it is the gallery of mangap style….

* * *

Ini bukan kulap. Ini jalan-jalan. Apa yang membuat kulap menjadi menyebalkan sudah dihilangkan di kulap ini. Arghh… 2004 beruntung sekali. Tapi asistennya lebih beruntung lagi, hahaha… See you on kulap next year… Babay…. 😀

Advertisements
90

Java Goodbye…


Gara-gara kebanyakan mikir tentang biofuel nih, jadi lupa sharing informasi ga penting tentang gua sama klean…

Jadi begini, berhubung Tuan Semak-semak mau datang ke Jakarta dan memporak-porandakan bangsa ini dengan cara menimbulkan ketegangan masyarakat, gua memutuskan untuk pergi saja dari pulau ini.

Hhhhh… gua ga sudi satu pulau sama Bush…!!!!! (hiperbola pisan)

Tepat tanggal 20 November ntar, gua dan teman-teman mau hengkang dulu dari Pulau Jawa. Selain untuk menghindari Bush, kepergian kami ini bertujuan untuk bertemu dengan my lovely, namanya Leucopsar rothschildi. Atau bahasa Indonesianya Jalak Bali.

Tepatnya kami akan kopi darat dengan si Leu di Taman Nasional Bali Barat, dalam acara kuliah lapangan Proyek Ekologi.

Berhubung perjalanannya sangat jauh, tapi biaya yang disediakan oleh ‘sekolah’ sangat minim, sarana transportasi yang digunakan adalah kereta ekonomi jurusan Surabaya. Hah… ekonomi? Again…? Bisa gilaaaaa…

Ke Bandung… Surabaya…
Bolehkah naik dengan percuma…

Ya enggak lah. Hare geneeee….

Trus dari Jawa ke Balinya naik bus.

Kebetulan nih gua dapet tugas jadi BRT alias Babu Rumah Tangga. Engga ketang, Biro Rumah Tangga…. Kriteria pemegang posisi ini adalah cerewet, tapi kok gua kepilih ya? :p Untuk menyelesaikan tugas ini, gua kerjanya tandeman sama Ami.

Kerjaannya ya seperti ibu-ibu rumah tangga, harus bisa memperkirakan kebutuhan rumah tangga selama di sana, dan menguras otak memikirkan bagaimana caranya semua kebutuhan tersebut terpenuhi dengan bajet hanya 800 rebu rupiah.

Dan juga masalah yang harus segera diselesaikan pada minggu ini adalah bagaimana caranya mengemas barang-barang yang jumlahnya seabrek ini menjadi seminimal mungkin di kereta. Tentunya dengan cara packing gila…

Ini keadaan lab ekologi pada H-2 keberangkatan…


Barang-barang BRT yang udah dipacking rame-rame kemaren dari jam 4 sampe jam 6.


Suasana lab preparasi, tempat meeting dan urusan-urusan penting lainnya.


Suasana lab ekologi hewan. Ini lab apa kandang babi sih?


Life trap yang udah dicuci sama tim logistik…


Sebagian barang-barang logistik, yang sudah di-list oleh Neng Susi dan Mas Hendra.


Ini si Otong, binatang kesayangan kita di lab. Sabar ya Tong, kami akan kembali seminggu lagi…

* * *

Yeah, mudah-mudahan perjalanan besok menyenangkan. Amin.

10

*ikut-ikutan Bapak Priyadi mode on*


*ikut-ikutan Bapak Priyadi mode on* hahaha….

Berhubung balesannya panjang, jadi gua bales komennya Jomes di postingan aja ya…

gini ni rim, kebetulan TA gw jg tentang biodiesel.. jd sedikit byk gw agak ngerti lah..
1. masalah kerugian ekologis.. dari jarak misalnya, yang dimanfaatin kan cuma bijinya, masa sih cuma ngabil buahnya bisa ngerusak sistem ekologis, apa bedanya dong sama padi
2.Apa yakin bisa make E-100 ato B-100? kenapa tidak? penilitian2 yang ada skg ini sedang mengarah ke arah sana, kalo dengan sistem motor bakar yg ada skg ini mungkin belum bs, tapi suatu saat gw yakin bisa
3.penggunaan E-10 hanya mengurangi 10 persen emisi.. kenyataannya tidak seperti itu, dari hasil penelitian saya pengurangan kadar bensin tidak berbanding lurus dengan kadar emisi, bahkan bisa jauh dari perkiraan..

nah begitchuw.. jd jgn berpandangan buruk dulu terhadap langkah2 pemerintah.. =)

1. Justru itu Jod… justru karena hanya diambil bijinya, makanya relung ekologi yang dibutuhkan untuk mendapatkan biodiesel itu tidak sebanding dengan hasilnya. Yang berpotensi ngerusak sistem ekologis (ekosistem) bukanlah proses pengambilan biji/buahnya, tapi proses pembukaan lahannya.

Penanaman dengan jarak tanam 2.0 m x 3.0 m (populasi 1600 pohon/ha), 2.0 m x 2.0 m (populasi 2500 pohon/ha) atau 1.5 m x 2.0 m (populasi 3300 pohon/ha). Pada areal yang miring sebaiknya digunakan sistem kontur dengan jarak dalam barisan 1.5 m. Lubang tanam dibuat dengan ukuran 40 cm x 40 cm x 40 cm.

Produktivitas tanaman jarak berkisar antara 3.5 – 4.5 kg biji / pohon / tahun. Produksi akan stabil setelah tanaman berumur lebih dari 1 tahun.
sumber


Untuk kerapatan paling besar berdasarkan literatur di atas, satu individu pohon Jarak pagar dewasa dibutukan areal seluas 3 m2. Sedangkan produksinya hanya sekitar 4 kg per tahunnya. Jika rendemen minyak sebesar 35 %, artinya satu pohon hanya menghasilkan sekitar 1,4 kg per tahun. Dengan tingkat populasi tanaman antara 2500 – 3300 pohon / ha, maka diperoleh 2.5 – 5 ton minyak / ha / tahun.

Kalo kata gua mah yang kaya gini ga efisien.

Bedanya sama padi… ga ada. Sama aja. Gua setuju kok padi tuh ngerusak ekosistem. Apa yang lebih bisa ditunjuk tanggungjawab atas rusaknya ekosistem Pulau Jawa selain industri dan pertanian?

Tapi gua butuh makan, jadi gua ga komplen sama padi. Lagi pula solusi menghemat makan kan ga ada. Palingan yang ada mengganti padi menjadi jenis makanan berkarbohidrat tinggi yang lain.

Tapi ya Jod, ada satu kelebihan dari si Jarak pagar ini. Dia punya daya sintas dan kelulushidupan yang tinggi, jadi ga teralu rese untuk bisa hidup. Mungkin aja kan dia punya kemampuan buat hidup di tanah yang ga subur, di mana taneman-taneman lain ogah tinggal di situ. Kalo gini mah gua setuju pisan….

2. Menurut dosen lu di seminar bioekspo kemaren, E-100 atau B-100 emang udah bisa dipake. Yang gua pertanyakan di sini adalah apakah kita yakin kita bisa memenuhi kebutuhan bioethanol sebanyak itu? Bukannya tidak optimis sebagai generasi muda, tapi mungkin itu baru terlaksana entar pas kita udah jadi lansia. Penggunaan B-10 atau B-20 sudah sangat baik untuk permulaan.

Yang pengen rada gua tekankan di sini adalah mo pake E-10 atau E-0 tetep aja ada pencemaran timbalnya. Baru ketika kita pake E-100, mungkin emisinya bebas timbal.

3. Jauh dari perkiraannya itu maksudnya menuju hal positif apa negatif? Kalo yang gua baca sih gitu. Tapi mungkin guanya salah nangkep, wajar da bukan anak mesin, hehe. Eh, kalo punya penjelasan tentang ini tulis lagi di komen ya…

* * *

Namanya juga manusia, hidup. Apa yang menguntungkan bagi manusia pasti ada efek sampingnya buat lingkungan. Gua protes, kenapa manusia mesti hidup dengan cara seperti ini, secara moderen. Kenapa ga kaya Tarzan aja…. Hidup Tarzan!!!! (komen yang mungkin muncul adalah: manusia kan pemikirannya berkembang, budayanya juga berkembang, kebutuhannya juga berkembang, jadi jangan salahkan teknologi yang muncul dong, kamu kan juga butuh teknologi itu… — iya deh…)

Btw Jod, entar Sabtu kan kita ketemuan nih bikin tugas bussiness plan kuliah Manwir keparat itu. Ntar kita diskusi lagi deh.. sekalian lu tutorial bikin blog, kayanya lu udah ngebet banget pengen bikin blog, hehe… 🙂

7

Tentang Tulisan yang Rada Serius

Ternyata banyak juga ya orang yang lewat di blog ini. Tapi mungkin karena biasanya tulisannya ga penting, orang2 jadi males ngomen, hehehehe….

Untuk tulisan yang di bawah ini nih.. sebenernya gua nulis bukan dengan tujuan aneh2 seperti memprovokasi atau lain-lain. Sumpah, cuman pengen cerita doang, dan ngasih tau sama kalian tentang apa yang ada dalam pikiran gua.

Terus terang, gua rada syok dibanjiri oleh komentar-komentar serius, malah sampai ada komentar yang berbentuk posting segala, hehehehe….. Tapi bageus lah, masih banyak yang peduli sama lingkungan kita tercintah ini.

Trus bageus juga lah, akhirnya gua jadi tau ternyata selama ini wacana-wacana yang gua baca banyak yang salah. Ini sebenernya siapa sih yang sotoy? Mari kita bertanya pada rumput yang bergoyang…

Ah, gua kapok nulis-nulis hal serius kaya gitu lagi. Mental gua kan masih mental anak-anak, hehehehe… :p

111

Biofuel, ternyata dirimuh…..


*setelah sekian lama diisi tulisan-tulisan ga penting, boleh dong sekali-sekali blog ini ditulis sesuatu yang seriusan dikit…. :p*

Minggu, 12 November 2006 kemarin, gua, Sawung, dan Dicky liat-liat acara ’5% Biofuel Road Show’-nya Toyota yang numpang tempat di ITB.

Ini ada sedikit ilmu buat kalian yang buta banget tentang biofuel….

Biofuel adalah hasil pemanfaatan energi biomassa yang dikonversi menjadi bahan bakar. Biofuel ada banyak macemnya: bioethanol, biodiesel, dan biogas.

Bioethanol dihasilkan dari tumbuhan yang berkadar hidrokarbon tinggi atau tumbuhan berbahan gula dan pati, misalnya tebu, ubi jalar, singkong, jagung, dan masih banyak lagi, yang pasti bukan dari lolipop… apalagi dari gulali yang bentuknya orang naik sepedah…

Untuk menghasilkan bioethanol, biomassa tumbuhan harus difermentasi dulu dengan dibantu oleh mikroorganisme tertentu sehingga dihasilkan ethanol.

Bioethanol dapat dimanfaatkan sebagai pengganti bahan bakar motor bensin. Bahan bakar ini bisa digunakan dengan kadar 100%, atau bisa dicampur dengan bensin, yang biasa disebut gasohol (kodenya E-XX atau BE-XX, misalnya E-10 untuk campuran bensin dengan kadar ethanol 10%).

Pada campuran dengan bensin, bioethanol mampu meningkatkan nilai oktan bensin. Jadi kalo mobil kamu minum gasohol E-10, maka efisiensi kerjanya akan lebih baik dibanding kalo minum bensin biasa. Pleus…. emisi gas buangnya otomatis lebih kecil 10%…

Sedangkan biodiesel dihasilkan dari minyak nabati seperti minyak kelapa, minyak sawit, minyak jarak-pagar, dan lain-lain. Biodiesel juga dapat dihasilkan dari lemak hewan dan minyak jelantah. Yang pasti minyak nyongnyong mah ga bisa… Minyak di muka kamu yang baru bangun tidur juga kayanya ga bisa.

Kalo bioethanol dipake buat ngeganti bensin, biodiesel dipake buat ngeganti solar, alias bahan bakar motor diesel.

Salah satu biodiesel yang sudah disosialisasikan di Indonesia adalah biosolar keluaran Pertamina. Katanya nih, untuk mendapatkan biosolar, diperlukan campuran minyak solar dengan minyak nabati yang sudah diproses transesterifikasi menjadi Fatty Acid Methyl Ester (FAME) [nyontek dari brosur Pertamina Biosolar sisa Bioekspo kemaren].

Anak gaul Bandung vs anak ilmiah
X: Eh, lu tau ‘fame’ ga?
Y: Tau lah… Fame Station yang di Jalan Sersan Bajuri itu kan?
X: Bukan… Fatty Acid Methyl Ester.
(garing ah… :p)

Dari banyak manfaat yang digembar-gemborkan oleh orang-orang, sebenernya cuman ada dua manfaat utama biofuel, yaitu sifatnya yang biodegradale dan kemampuannya memperpanjang umur mesin dengan cara peningkatan efisiensi kerja motor.

*ini hasil diskusi dengan Sawung*


“Dia tidak ramah lingkungan…” — Sawung

Setuju, Wung….!

Bullshit kalo biofuel dibilang ramah lingkungan. Pada kenyataannya, untuk mendapatkan berkilo-kilo liter biofuel setiap hari, dibutuhkan ratusan ribu hektar lahan pertanian. Artinya mau tidak mau hutan yang tersisa di Indonesia harus dibabat demi tercukupinya jumlah kebutuhan tersebut.

Atau hutan bisa tetap dibiarkan lestari, tetapi kebutuhan pangan masyarakat terancam. Silahkan pilih yang mana…

Jika pilihan pertama yang dipilih, coba pikirkan berapa lama waktu yang dibutuhkan untuk menunggu sampai tumbuhan siap dipanen untuk kemudian diolah. Sedangkan kebutuhan bahan bakar motor jumlahnya sangat tinggi setiap harinya.

Maka, mau tidak mau lahan pertanian hasil pembabatan hutan harus dibuat dengan ukuran ekstra luas, dengan siklus panen yang berbeda-beda agar biomassa bisa dipanen setiap hari.

Coba bayangkennnn…. berapa kerugian ekologis yang harus ditanggung oleh bangsa ini. Bukannya pelit dan perhitungan, tapi hal ini benar-benar harus diperhitungkan. Berapa jumlah oksigen yang suplainya berkurang…. lahan resapan air yang hilang…. habitat satwa serta satwa yang punah…. kesuburan tanah yang terganggu….. debit air sungai yang berkurang…. Apakah hal-hal ini tidak pernah terpikirkan?

Tapi kan biofuel bisa terbakar secara bersih alias biodegradable, tanpa emisi bo…..!

Eh jeng…. emangnya situ yakin kita mampu pake bioethanol 100%? Kalo ekeu sih tidak yakin akan hal itu…. Ketika iyey menggunakan gasohol E-10, artinya yey hanya mengurangi dampak emisi sebesar 10% saja. Selama bensin di Indonesia tetep ada timbalnya, mobil yey tetep aja berkontribusi atas udara kotor di Indonesia (walopun hanya 90%)…

Sekarang kita itung-itungan….
Jika bioethanol benar-benar mensubstitusi 10% konsumsi bensin (sebagai gasohol E-10)
– Impor MBTE sebagai octane enhancer berkurang sebesar US $23,14 juta/tahun
– Impor premium berkurang sebesar US $1,350 milyar/tahun (2,25 juta kL, dengan asumsi harga bensin US $0,6/liter)
– Total pengurangan impor = US $1,373 milyar/tahun
(BPPT, 2006)

Harga bioethanol derajat bahan bakar sekarang di pasaran Rp 5000,-/liter, dan harga gasohol E-10 Rp 4.550,-/liter (Rp 50,- perak lebih mahal dari premium biasa yang disubsidi). Lalu siapa yang akan menanggung Rp 50,-nya? Produsen atau pemerintah?

* * *

Jadi kamu jangan percaya 100% kalo ada opini “biofuel ramah lingkungan”. Biofuel hanya membantu kita dalam hal pengadaan bahan bakar alternatif, tapi tetap tidak bisa memberikan solusi perbaikan kualitas lingkungan secara signifikan.

Orang-orang heboh membicarakannya bukan karena kritis terhadap lingkungan, tapi karena kritis memikirkan bagaimana nasib kendaraannya di masa yang akan datang.

Semuanya antroposentris, namun berkedok ekosentris.

Sebenarnya solusi terpenting dalam mempertahankan bahan bakar minyak bukanlah dengan memproduksi biofuel, tetapi dengan merubah gaya hidup kita yang suka menghambur-hamburkan menjadi sedikit hemat akan bahan bakar.

Selama kegiatan jalan kaki, naik sepeda, atau naik angkot dianggap sebagai tradisi kampungan dan miskin, bangsa ini akan terus dihantui oleh harga BBM yang makin lama makin mahal saja.

Ada sanggahan?

9

Wisuda Ceria


As we go on, we remember
All the times we had together
And as our lives change, come whatever
We will still be friends forever
(Graduation – Vitamin C)

Yang merah, yang kuning, yang ijo, yang biru, yang item.

Yang garisnya tiga, yang garisnya dua, yang ga ada garisnya.

Yang anorak, yang parka, yang jas hujan, yang biasa-biasa saja.

Yang teratai, yang palu, yang bumi, yang huruf M.

Semuanya ngumpul jadi satu. Tumplek tubleugh di satu hari. Ya hari ini. Hari wisuda.

Hari wisuda tahun ini sedikit aneh. Bukan wisudanya, tapi guanya. Soalnya pagi ini ada praktikum selam. Yang ngajar bukan Pa Jimmy seperti praktikum biasanya, tapi Pa Dodi. Secara Pa Jimmy harus dandendon buat dateng ke acara wisudaannya Nanda.

Sedikit asik, Pa Dodi ga galak kaya Pa Jim, hehehe… jadi kita masih bisa ketawa-ketawa dalam kolam renang.. 😀

Praktikum sih seleseinya jam 9, tapi gua latihan renang sendiri sampe jam setengah sebelas. Whew… ga kerasa bo… tau-tau kulit udah belang aja…

Kalo udah tingkat akhir begini, biasanya wisudaan gini gua gabung sama himpunan, make jahim, arak2an ga jelas, dimampiri oleh pasukan jaket biru (mesin, PN, GM), [kadang-kadang sama jaket merah juga sih.. tapi biasanya jaket merah tuh cari masalah doang].

Tapi hari ini gua memilih ritual jaman tingkat 2 dan 3, yaitu bantuin foto wisudanya KMPA.

Gua lebih nyaman di sini, walopun cape-cape, dari pada hura-hura di himpunan tapi rasanya aneh.

Bantuin studio foto, artinya ketemu sama fotografer ganteng dari MediArt, ahahahaha…. Gua kebagian bantuin studionya dia lagih… Walopun si Mala lebih mujur karena mendapat klien wisudawan yang ganteng-ganteng, tapi gua ga ngiri, soalnya fotografer gua ganteng, hehehehe… :p

Anyway endeswey… ga ada satu pun wisudawan yang foto di sana yang gua kenal. Kebanyakan kliennya anak TI ato Material ato Mesin ato Elektro. Kabur dari jemputan adek kelas ya mas/mbak?

Hari ini cerah sekali.. secerah orang-orang yang pake toga hari ini. Selamet ya buat temen-temen yang udah dapet gelar S1 gajah duduk, mudah-mudahan cepet dapet kerja dan enteng jodoh, amin…