Catatan Perjalanan Tegal Panjang – Papandayan


4 November 2006

*Ini adalah perjalanan paling tidak manusiawi yang pernah gua alami—membentuk mental baja*

011106

Kalo menurut jadwal sih, jam 7 teng adalah jadwal keberangkatan tim menuju Pangalengan. Tapi yah…. bukannya gua menjelek-jelekkan bangsa ini, tapi memang begini kultur di Indonesia, keberangkatan ngaret 2 jam. Jam 7 semua tim udah nyampe sel, tapi belum packing. Dan packingnya tuh yah naujubileh ribet pisan. Gua aja sampe tiga kali bongkar packingan baru bisa dapet kerir yang nyaman.

Sebenernya ada kemajuan juga sih dalam sejarah kengaretan di KMPA. Rata-rata waktu ngaret adalah 2 jam, tapi kali ini hanya 1 jam 45 menit. Ini adalah prestasi yang sangat baik :p. Menurut sejarah, kengaretan paling gila terjadi sekitar 3 tahun lalu, pada perjalanan menuju Tegal Panjang juga, di mana pada waktu keberangkatan, Etu dan Doncoy masih terlelap dalam tidurnya. Berhubung saat itu gua masih TPB, gua ga berani ngomel-ngomel, hehehe…

Angkot Kalapa-Dago melaju dengan kecepatan menengah dengan membawa 7 orang yang membawa kerir serta sepasang orangtua dan dua orang cewe yang sedang sial kebetulan seangkot sama kitah.

Setelah membayar 2500 kepeng per kepala, kita turun di Jalan Ibu Inggit Ganarsih alias Ciateul dan masuk ke counter Boogie buat beli golok cinta. Harganya 97.500 perak, itu udah termasuk sarung golok warna item.

Bus jurusan Pangalengan datang, seiring dengan suara kenek yang cempreng. Namun sayang sungguh disayang, kita ga bisa langsung naik bus saat itu dikarenakan oknum ‘N’ alias ‘E’ alias Nirwan alias Emang sedang pergi membeli sesuatu. Bus berjalan mengelilingi lapangan Tegalega dan beberapa menit kemudian kembali berhenti di depan kami. Saat itu oknum N belum juga kembali. Kenek mulai resah, tim mulai menenangkan kenek “Sekedap deui a’…”

Akhirnya muncullah sosok berbaju warna ijo ee tentara membawa kresek. Setelah isi kresek tersebut digeledah, tim mendapatkan 4 buah baterai kucing-hitam-kena-petir alias E*eready, sekotak Jarum S*per, dan beberapa batang coklat S*perman. Yo oloh, beli beginian aja lamanya segambreng. Pembenaran dari oknum N adalah di supermarket ngantrinya lama.

* * *

Perjalanan dari Kalapa menuju terminal Pangalengan ditempuh selama sekitar 2,5 sampai 3 jam dengan ongkos sebesar 8000 kepeng per kepala.

Sesuai tradisi, kalo lagi di terminal Pangalengan, kita biasanya makan di Warung Nasi Sederhana, dengan menu endemik telur gulung. Si Om Ryan memperkenalkan tempat makan ini ke gua waktu gua pertama kali ke Tegal Panjang, dan gua pun menyebarluaskannya.

Empat kali ke Tegal Panjang, empat kali makan di warung nasi ini, dan empat kali pula Bu Salim bilang: Nanti di Sedep ada pabrik teh punya adik saya, namanya Pa Yusep, kalo mau main bilang aja tadi makan di warung Bu Salim. Rupanya si ibu belum apal muka guah….

* * *

Perjalanan dilanjutkan menuju Desa Sedep lalu Desa Cibatarua menggunakan jasa angkot yang bentuknya seperti elf (kalo kata irang Sunda mah ‘elep’). Kami sangat beruntung karena angkotnya ga ngetem nunggu penumpang lain, jadinya bisa ngehemat waktu, horeeeee….

Pangalengan-Cibatarua ditempuh dalam waktu sekitar 1 sampai 1,5 jam, dengan kontur relatif datar dan struktur jalan koral yang rada berantakan dan bolong-bolong. Di kanan-kiri terhampar luas perkebunan teh PTPN dan PLTU.

Di sela-sela kebun teh, menyembul rumah-rumah gaya Belanda dengan ciri khas cerobong asapnya. Wah, jadi inget film Heart, yang walopun sumpah ga rame pisan, tapi lokasi syutingnya bagus banget.

Hadi: ‘Ma, ini kaya tempat syuting Heart ya…’
Rima: ‘Iya’
Dominic: ‘Apaan sih?’
Rima: ‘Heart….’
Dominic: ‘Heart? Heart paan sih?’
Rima: ‘Heart…. Heart…. pelem…. Nirina Zubir…’
Dominic: ‘Oh…’

(dua menit kemudian)

Rima: ‘Itu rumahnya Farel!’ (asal sebut, padahal mah gua udah lupa rumah farel teh yang kaya gimana)
Dominic: ‘Farel siapa sih?’
Rima: ‘Farel yang di film Heart’
Dominic: ‘Heuh, Heart lagi, Heart lagi!’

* * *

Pukul 13.30 kami sampai di Cibatarua. Hal khas yang selalu akan kamu temui jika berada di tempat ini adalah adanya warung-warung, anak-anak lelaki bermain bola, dua buah masjid, keranda, dan WC bersama tanpa tutup. Kerandanya tampak menyeramkan, mesjidnya juga.

Tim mengecek kondisi kerir dan packingan, lalu melanjutkan perjalan menuju Tegal Panjang dengan berjalan kaki, start jam 2 kurang 5 menit. Walopun gua udah pernah 3 kali ke sini (kalo kata orang Sunda mah harusnya udah molotok), tapi gua masih rada kesulitan milih jalan dan nentuin arah. Soalnya rute awal treknya adalah kebun teh. Secara ya navigasi di tengah kebun teh adalah hal paling menyebalkan dalam navigasi darat.

* * *

Tepat tiga jam kemudian, yaitu jam 5 kurang 5, tim sampai di Tegal Panjang. Ini adalah waktu tempuh dengan kecepatan standar anak tukang naik gunung. Sebenernya bisa lebih cepet dari ini sih, tapi berhubung ini bukan diksar, kita rada berleha-leha gitu jalannya. Kalo ngebawa orang yang bukan penggiat, biasanya jatohnya 4 jam sampe 5 jam-an.


Satu hal yang selalu bakal kamu temui sesaat setelah nyampe Tegal Panjang adalah ekspresi kagum orang-orang yang belum pernah menginjakkan kaki di sana. Personel tim yang belum pernah ke sini cuman Anna sama Dominic.

Musim kemarau identik dengan kekeringan. Sama halnya dengan surga dunia ini: kering. Terakhir kali gua ke sini, rumputnya masih ijo-ijo, malah ada bunganya juga. Tegal Panjang kali ini kuning kecoklatan, tapi tetap indah, dan belum ada tempat lain yang pernah gua kunjungin yang bisa menandingi keindahan tempat ini.

Tetap indah, dan tetap horor.

* * *

Rima, Anna, Nirwan, Hadi, Dominic, dan Jupri mendirikan tenda, sementara Sigit mengecek keberadaan air di sungai. Ternyata ada air. Ga ngalir di sungai, hanya membentuk kubangan hasil hujan kemarin-kemarin.

Sungai yang bentuknya seperti gambar sungai di lukisan anak SD ini mengering. Kalopun ada air, debitnya minim banget dan warnanya kecoklatan. ‘Sumur’ tempat Sigit menemukan air adalah bagian dari sungai, tapi bagian atasnya sedikit tertutup oleh tanah dan rumput, jadi penguapannya ga optimal. (Susah banget dideskripsiinnya, jadi wajar aja kalo kamu ga ngerti).

Makan malam hari pertama ini menunya sayur sup dan dendeng ikan tenggiri, oleh-oleh Sigit dari Jepara. Rasanya cuma kita-kita deh PA yang mau bersusah-susah bikin sayur sup di lapangan, dengan peralatan lengkap seperti cobek, talenan, dan bawa lima bungkus kerupuk blek. Mungkin ada juga sih yang seperti kita, tapi kalopun ada mereka adalah orang yang sama freak-nya sama kita.

* * *

Believe it or not, setiap sedang berada di Tegal Panjang, gua selalu bermimpi di mana dalam mimpi itu gua sedang berada di sana, dan menjalani kegiatan yang sama. Jadi berasa kenyataan, bukan mimpi. Dalam mimpi gua malam itu, gua ngeliat ada dua orang berbaju biru. Setelah gua itung jumlah orang di sana, hasilnya sembilan, berarti dua orang itu bukan tim. Tapi cuman keliatan dari belakang.

Gua udah memprediksikan hal ini sejak di Bandung, jadi gua ga syok. Adalah hal yang biasa, bila kita diganggu di tempat ini.

* * *

021106

Alarm berbunyi jam 05.30, dan ga ada yang bangun selain gua Buset dah nih anak-anak pada kebo semuanya. Setelah gua iming-imingin ‘woi pemandangannya bagus’, baru ada yang bangun. Itupun cuman Sigit sama Dominic, dan langsung minta dipotoin pake gaya koboi, halah…..


Hari ini adalah hari bebas, hari pemalasan. Satu yang anomali di hari ini, Dom ngebuka buku filenya dan mulai belajar untuk persiapan seminar TA-nya. Sayang sekali hari pemalasan ini tercoreng oleh kesibukan akademis :p

Waktu berjalan sangat lama. Sangat lama, sampa-sampai gua merasa sedang berada di dunia lain. Karena ga ada kerjaan, cowo-cowo nyari pohon tumbang dan mulai membuat kursi di sekeliling tempat api unggun. Sementara Rima dan Anna masak makan siang.

Menu makan hari ini menambah afdol kehedonan hari ini. Menu sarapannya sandwich pake daging asap, keju, selada, dan tomat. Menu makan siangnya spageti (iya bener, spageti…), dan menu makan malemnya ayam bakar.

Udah masak,udah makan, udah beres-beres, udah boker, jam masih nunjukin pukul 14.00. Ah…. kenapa hari ini lama sekali. Memang asik sih bersantai-santai di siang hari. Tapi kan kalo kelamaan juga ga asik. Sebagian membunuh waktu dengan tidur, 4 orang lainnya bermain kartu dengan hukuman mengapit wadah kartu di antara leher dan dagu. Hukuman yang aneh…..

* * *

Akhirnya senja datang, para cowo mulai mencari pohon tumbang lagi di hutan sebagai bahan api unggun. Jupri mulai bernyanyi-nyanyi lagi, dan Sigit bilang ‘euh… mulai lagi nih..’. Eh iya, belum diceritain ya…. sejak siang hari Jupri nyanyi-nyanyi dengan suara parah sambil dengerin mp3. Parahnya teh anjrit parah banget. Si Jayen di film Doraemon aja masih lebih bagus….

Setelah aku sadar diri
Kau t’lah jauh pergi..
Tenggelam dalam lautan emosi…
(Mimpi – Anggun C. Sasmi—lagu paporit Jupri)

Api unggun sudah menyala. Tapi sekitar lima belas kemudian redup lagi karena badai datang. Sebelum hujan angin terjadi, kami sempet melihat awan turun dengan kecepatan tinggi, berlari dari arah Timur menuju tenda. Jarak pandang di luar tenda menjadi sangat pendek. Salut deh sama yang mengkonstruksi tenda dan flysheet, ga ada bocor dan rembes sama sekali.

* * *

Benar kata Eros Jarot: badai pasti berlalu (halah, halah…). Cuaca kembali cerah sekitar pukul 7 malam, walaupun pada saat itu bulan masih sedikit tertutup awan dan muncul malu-malu. Masak ayam bakarnya ga jadi, secara ujannya gede banget dan kita belom bikin tusukan kayunya. Logistik yang dibawa cuman tusuk sate. Haduh Na, sejak kapan bakar ayam bisa pake tusuk sate….

Jadi ajah ayamnya dibikin semur. Edan wangi banget baunya…. Menu lain malam itu adalah tumis buncis dan sambel mantapzzz buatan Sigit, plus kerupuk. Lagi-lagi kerupuk blek, secara kita bawanya lima bungkus gituh…. harus dihabisin.

Surga banget dah makan malem di depan api unggun sambil liat pemandangan indah. Abis makan bukannya cuci piring, malah ngobrol-ngobrol. Momennya bagus banget. Yang paling bikin asik adalah becandaan dan ejekan-ejekan yang tidak manusiawi, hohoho… Ga ada satu orang pun yang luput untuk diejek, hahaha…..

Tapi ada satu keganjilan. Gua bisa ngerasain aura ketakutan beberapa orang, termasuk gua. Inilah sebabnya kita ketawa ngakak-ngakak, ejek sana ejek sini, gunjing ini gunjing itu, hanya untuk mengalihkan perhatian dari cekaman keadaan sekeliling.

Gua mendengar derap langkah kaki di hutan. Suaranya keras dan berulang-ulang. Tapi gua pikir palingan meong congkok, atau paling serem macan tutul lah. Dan gua pura-pura ga denger, dan terus konsentrasi untuk berpikiran jernih.

Pengalaman mengajarkan yang terbaik. Kursi panjang di depan api didesain menghadap savana, ga menghadap hutan. Berdasarkan pengalaman-pengalaman sebelumnya di mana kursi dibuat melingkar, biasanya orang apes yang kebagian korsi yang menghadap ke hutan suka ngeliat sesuatu. Dan ga hanya seorang yang ngalamin.

Untungnya ga ada siapa-siapa yang ngeliat apa-apa. Hanya mendengar apa-apa. (Belakangan orang-orang baru cerita pas di kota kalo mereka juga ngedenger apa yang gua denger. Malah Sigit denger suara itu semaleman sampe ga bisa tidur. Dan Dominic malah denger sejak malam sebelumnya. And you know what? Ternyata malam itu adalah malam Jum’at)

* * *

031106

Janji-janji tinggal janji bulan madu hanya mimpi (Nia Daniati pisan…). Kebiasaan buruk lama selalu terulang. Sebelum tidur, kita janji orang yang pertama kali bangun jam lima subuh harus nendangin yang lainnya sampai bangun. Soalnya kita mau berangkat jam 7 teng.

Alarm berbunyi. Gua bangun, duduk, tidur lagi. Alarm kedua berbunyi. Tidak ada yang bangun. Alarm ketiga bunyi. Tidak ada yang bangun, tapi gua tau semuanya pasti udah bangun tapi pada pemalasan. Alarm keempat bunyi, akhirnya gua bangun buat solat subuh dan nendangin yang lainnya sesuai rencana. Tapi tetap saja janji-janji tinggal janji bulan madu hanya mimpi. Huh…

Akhirnya semuanya bangun, tapi lenje-lenje. Cuman duduk, buka resleting tenda trus diem. Cuman Anna sama Emang aja yang sigap. Anna langsung bantuin gua masak, Emang langsung pake raincoat dan sepatu buat ngambil air. Jujur aja, itu terlalu berlebihan untuk sekedar ngambil air, hahaha…. Si Emang tea……. raja septi (baca: safety).

Secara kemarin sore timbanya diilangin di dalam sumur sama si Emang, dia bikin timba yang baru dari botol Aqua. Beberapa menit kemudian dia teriak-teriak di tengah savana berkabut “Oi….. tolong bawain teko Trangia ke sini dong….”. Curiganya timbanya ilang lagi, tapi ternyata enggak. Dia cuman kesel karena timba yang sekarang volumenya jauh lebih kecil dari yang kemarin, jadi jauh lebih efisien kalo nimbanya pake teko aja.

Menu pagi ini adalah nasi goreng pake ayam dan sosis dan teri. Kita ga memperhitungkan kalo teri itu asin, jadi garem yang ditaburin harusnya dikit aja. Jadi we…. nasi gorengnya asin pisan. Untungnya masih banyak kerupuk blek dan timun segar.

* * *

Sat set sat set… akhirnya packing selesei jam 8 lebih dikit. Dan kita baru berangkat jam 08.30, berarti ada kemajuan lagi ngaretnya, cuman 1,5 jam. Interval dari jam 8 sampe setengah 9 dipake buat foto-foto.

Berhubung kemaren sore ujan gede banget, kita mengerahkan Emang untuk jalan paling depan disusul oleh Anna dan Dominic. Emang pake raincoat dan Anna serta Dom pake celana kain, sisanya pake jins. Makanya tiga orang itu disuruh jalan di depan, supaya embun-embunnya kesapu sama celana mereka, haha.. oportunis pisan…

Jalur yang diambil adalah trek menuju Gunung Papandayan. Di tengah jalan hutan kita ketemu sama anak-anak Wapalam Universitas Garut.

Tiga jam sejak mulai berjalan kami sampai di Pondok Selada. Di sini kita ketemu dua geng Galatuping. Entah singkatan aneh ini datangnya dari mana, pokonya kami menyebut orang-orang yang pergi ke lapangan untuk bersenang-senang tanpa memperhatikan safety prosedur dengan Galatuping (Gerombolan Pencinta Alam Tukang Kemping). Biasanya ciri khasnya adalah ada panci atau katel yang menjuntai dipinggir kerir, atau bentuk kerirnya mencang-mencong ga jelas, atau bawa gitar lengkap dengan ketipungnyah. Mau kemping apa mau konser dangdut sih mas….

* * *

Sekitar jam 1-an kami turun menuju kaki Gunung Papandayan, melewati semburan-semburan awan panas dan suara golakan air belerang yang panas. Dan tentu saja dengan baunya yang menyengat seperti bau kentut orang yang udah setaun ga boker. Sayang sekali batere digicam Anna abis, jadi di sini foto-fotonya pake henfon.


Benar kata Sigit, hanya sejam, dan kita sudah sampai di kaki gunung. Terdapat lapangan parkir luas, dengan 1 pos Jagawana dan sekitar sepuluh buah kios komersil. Kami memilih kios yang paling kiri. Kata Hadi di sana penjualnya baik dan harganya rada miring.

Untuk sampai di Garut, dari sini kami harus nyewa pickup. Sambil nunggu pickup dateng, kita main kartu dulu, masih dengan hukuman yang memalukan untuk ditonton oleh tukang ojek yang ngeliatin kita. Dan itu benar-benar terjadi. Untungnya gua saat itu ga pernah kalah, jadi image gua tetap terjaga, hohoho…

Tapi berhubung pickup-nya ga dateng-dateng padahal udah ditunggu selama satu jam, kita putusin buat naik ojek ajah. Seorang sepuluh rebu. Edan, mahal tenan iki…. Setelah dilobi-lobi, okelah dua orang lima belas rebu. Kebayang ga seh, semotor bertiga dengan dua kerir, dengan kontur jalan turunan begituh….

Di ojek gua tandeman sama Hadi. Secara dia yang paling kurus. Kalo gua tandeman sama yang lain, bisa runyam dunia persilatan…..

* * *

Di Garut kita langsung dapet tumangan pickup ke Nagreg, tepatnya Jalan Cagak perbatasan Bandung-Garut-Tasik. Ongkosnya cuman 5000 kepeng per kepala, padahal jarak yang ditempuh edan jauh bener. Dan terpangganglah kita semua di bawah terik matahari yang menyengat selama setengah jam.

Sekitar jam 4 di Jalan Cagak kami berpisah dengan Emang, karena beliow mau ke Tasik ke rumah neneknya. Pas banget ketika bus yang kami cegat berhenti, sekitar 20 meter di depan bus ada kecelakaan mobil kijang ditabrak bus Karunia Bakti dari belakang. Dan serta merta Emang langsung berlari ke arah kejadian untuk memberikan pertolongan pertama. Edan, si Emang sigap pisan euy…. mungkin ini implementasi dari cita-citanya menjadi tentara tapi ga kesampean.

Di bus kita ditipu keneknya. Harusnya ongkosnya 4000 kepeng sajah, tapi kita ditarikin 8000 kepeng, mana ga dapet tempat duduk lagih… Siyal…. harusnya tawar menawar dilakukan tadi sebelum naik.

Kami nyampe terminal Cicaheum sekitar jam 5-an. Dari sana kami naik encot Caheum-Ledeng, dan lagi-lagi kami membuat orang-orang tidak bersalah menderita karena kita bawa kerir segede gaban ditambah bau lapangan yang ‘nikmat’, hahaha….

* * *

Kita sampe kampus menjelang Maghrib. Ternyata tim yang mau berangkat ke TNGP belum pada muncul. Sejam kemudian baru mereka muncul dengan bawa logistik makanan yang jumlahnya segambreng. Pokonya lebih hedon dari kita, bawaannya cornflakes, milo, dan sebangsanya lah…. Padahal mereka tuh cuman mau ke Cibeureum doang gitu loh…. ampun dah….

Lalu beraksilah si Torah dengan membongkar kerir kita. Talenan, trangia, piso-pisoan, golok, dan barang-barang lain dijarah. Baju flanel gua dipake, sepatu Dominic—yang baru dibeli dan dipake sekali—langsung diembat, coverbag di kerir gua juga langsung dilepas tanpa ba-bi-bu lagi. Dasar ble’e :p

Perpindahan dari daerah ekstrim dingin ke kota secara cepat ditambah lagi pemanggangan selama di pickup membuat kami merasa gerah. Di teras, para cowo bertelanjang dada sambil merapikan logistik dan main kartu. Mengundang tatapan heran masyarakat Sunken Court yang kebetulan lewat depan sel. Hahahaha… 😀

Lalu Sigit berkata pada Alwin “Untung lu ga ikut Win. Perjalanan kemaren tuh ga manusiawi banget ejek-ejekannya, tidak mengenal perikemanusiaan. Lu bisa abis diejekin kalo lu ikut…”. Hehehe… bener…. gua baru sekali ini di lapangan diejekin habis-habisan plus ngejekin orang habis-habisan, haha…. Ah, kata gua mah gapapa ejek-ejekan, asal ga ada yang sakit hati 😀

Advertisements

12 thoughts on “Catatan Perjalanan Tegal Panjang – Papandayan

  1. wah..seriusan tu photo bagus bagus semua Rim..maksud gw yang phot pemandangan alamnya yak..bukan para pria yang bertelanjang dada..hehehegw dari dulu pengen banget tuh..tapi ga suka jalannya…mo nya langsung nyampe aja..hehheebisa ga ya? =)

  2. bukan…lebih jagoan dari Riyani..kalo Riyani kan idup nya cuma di satu alam..kalo Rime malah bisa idup dua alam.. blog sama gunung =)+plok plok lagi buat Rima+=)

  3. aah… sirik de gue. kenapa kerjaan gue cuman sampe cisupabeureum doang.. pengen ka tegalpanjanggg :/iya potona keren neng rime! stamina nulisnya juga huhuy juga lahhh. ngaku kalah aki mah 😛

  4. waaaah seru eueueueueyyyy…ngiri deh…perjalanan yang asyik, pemandangan yang bagus plus makanan yang jauh lebih keren dari jaman baheula awal 70, kita suka kemping kempingan, nasi liwet doang……….kearah pangalengan ciwidey juga sih…tape blum pernah tuh ke tegal panjang…..sekarang mau kemping model begituan lagi paur osteoporosis…heuheuheukeep writing dan kirim foto fotonya juga ya…..

  5. mba numpang copy paste fotonya, buat pancingan sama temen biar mau pd ikut. insya Allah tgl 28 mei saya ke papandayan sekalian mau nyobain ke tegal panjangnyamakasih mbak, salam kenal

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s