11

My Friends in Different Species


Ini dia, makhluk-makhluk berharga yang kadang dipandang sebelah mata. Mereka mewarnai kehidupan gua selama tahun 2006…

Ini adalah kucing piaraan gua di rumah. Namanya Duff, kadang dipanggil Fifi kadang dipanggil Dodo. Gendut, kerjaannya makan mulu dan ngerusuhin orang yang lagi makan. Ga tau malu. Punya keahlian ngebuka pintu, kulkas, dan tudung saji. Punya kebiasaan buruk pipis deket tong sampah. Ganteng, tapi harus pasrah pada kenyataan bahwa pasangan hidupnya adalah kucing betina kampung, karena di komplek rumah gua ga ada kucing betina yang oke.

Kalo yang ini namanya Djadji. Nama panjangnya Djadji Djudjedjo. Nama ini terinspirasi dari nama ketua LP*M (lembaga yang paling dibenci sama unit-unit di ITB, tapi paling diharapkan bantuan duitnya, haha :D). Tinggal di Sunken Court, dan diklaim sebagai kucing milik sel.

Djadji berhasil membuat gua mengeluarkan 18.000 rupiah dari kocek pribadi buat beli biskuit Whiskas ukuran medium. Sebenernya niatnya mau patungan sama Sigit dan Gugum, tapi mereka janji-janji tinggal janji bulan madu hanya mimpi. Sama seperti kucing-kucing lainnya di muka bumi ini, Djadji adalah kucing yang ga tau malu dan ga tau terima kasih. Dia minggat dari sel gara-gara cemburu sama Geboy.

Entah didapat dari mana, tiba-tiba kucing ini ada di aquarium kosong yang ada di sel. Dikasih nama Geboy, sebagai nama junior dari Gemen (seperti Superboy dan Superman, haha..). Walaupun kami memberinya susu bayi dan bubur tim, dia ga selamat dan bertahan hidup karena terlalu dini meninggalkan ASIK (Air Susu Ibu KUcing). Emaknya kucing ini ke mana sih? Ga bertanggung jawab amat jadi emak-emak.

Empat sekawan ini nongol di depan sekre PERSMA pada suatu hari. Sebelum sempet dikasih nama, mereka udah pada kabur dari Sunken Court. Berhubung berempat, kita kasih nama Deri, Komar, Eman, dan Ginanjar aja yah..

Ini adalah kucingnya Rangga yang suka seliweran di Sunken Court dan jadi rebutan banyak orang. Kucingnya jinak-jinak babi eh jinak-jinak merpati. Matanya yang biru membuat semua manusia yang melihatnya terpesona dan bertekuk lutut (ga ketang, berlebihan..). Awalnya gua ga tau ini kucing punya siapa. Gua baru tau waktu jadi relawan di Jogja bareng si Rangga, waktu gua liat foto Boyd di HP Nokia 6600-nya yang dijadiin wallpaper. Dan hancurlah harapan orang-orang yang berminat menjadi adopter, hahaha… 😀

Lucu kan kuda nil-nyaaaaaa… warna pinky lagih.. Ini adalah pin yang gua beli di Pasar Seni 2006. Semua orang pecinta pin pada ngiri sama gua. Tapi sayang pin ini jatoh di jalan. Sayang banget ya… emang kaga jodoh kali gua sama ini pin.

Nah yang ini binatang fiktif. Setiap kali masuk ke kampus lewat jalan Ganesha, semua orang pasti ngeliat patung gajah. Ya iya lah.. wong kampus ini namanya Kampus Gajah Duduk, ya patungnya pasti gajah lah, masa babi? Walaupun gua udah empet banget sama lambang Ganesha, gua ga bisa membohongi diri bahwa binatang ini mewarnai hidup gua tahun ini. Dan berhubung gua ga sudi masukin lambang Ganesha di blog ini, sebagai gantinya gua masukin lambangnya Pasar Seni ITB 2006 aja ya.. Sama-sama gajah ini…

Burung ini namanya Domi Kecil, karena ditemukan oleh Dominic di sekitar Oktagon. Nama lokalnya Kacamata biasa, dan nama ilmiahnya Zoosterops palpebrosus. Lutuuuuu banget. Believe it or not, nyokapnya ngejemput dia sore hari pada hari ia ditemukan. Model melet: Rangga.

Namanya Cookies, tapi tulis aja Kukis lah.. biar sedikit meng-Indonesia. Anjing lucu ini punyanya Epin. Mirip anjing gua dulu yang dicuri orang, hiks hiks.. Dia punya keranjang rotan pribadi, yang digunakan oleh Epin untuk mengajaknya jalan-jalan keliling kota..

Warnanya seperti sapi, tapi bentuknya seperti kebo, jadi panggil aja dia Sabo. Dia adalah souvenir dari suatu daerah di Indonesia (entah dari Sumatera, Kalimantan, atau Sulawesi). Sudah ada di sel sebelum gua. Karena usianya yang sudah tua dan perlakuan maintenance yang buruk dari para penghuni sel, kedua tanduk Sabo ini copot, dan entah di mana rimbanya sekarang. Yang cukup mengherankan adalah dia punya foto pribadi yang miriiiiip banget sama dia.

Kucing anonim ini gua temukan sedang tertidur di atas spanduk di depan sel suatu pagi.

Kucing anonim 2.0 ini juga cuman beberapa hari nongol di sel. Ga betah kali ya diucek-ucek terus sama manusia :p

Anjing ini gua dan temen-teman temuin di Pintu Angin, pertigaan Situ Lembang-Burangrang. Wajahnya inosen, namanya juga anjing kampung..

Kucing empat sekawan versi 2.0. Punya bulu yang panjang dan haluuuuus banget, padahal emaknya kucing kampung. Jadi kita prediksikan bokapnya ada keturunan bangsawan. Tidak diketahui secara pasti yang mana bokapnya, karena di sekitar labtek biru ga ada kucing berbulu gomplok seperti mereka. Mereka susah banget dipegang, apalagi difoto. Satu di antaranya mati, satu diambil orang gila, dan dua lainnya masih hidup bersama emaknya. Kalo pengen liat, dateng aja ke labtek biru, sampe sekarang masih ada kok..

Yang ini mana hewannya ya? Pokonya ada di suatu titik deh.. Warnanya coklat aga-agak item gosong, dan rasanya enyak-enyak-enyak… Namanya kambing guling. Ini adalah acara Dies Natalisnya KMPA tahun ini.

Yang terakhir ini adalah hewan pemakan tulang yang masih diteliti kebenaran dan keberadaannya. Hahaha.. ga deng.. dia bukan hewan, dia manusia. Namanya Anna, teman terbaik gua sejagat raya. Memiliki kesibukan ekstra karena mengambil mata kuliah berpraktikum dua tingkat di TL, dengan kata lain anak ini sedang TA (Turun Angkatan, haha..). Dia mengisi hari-hari gua di KMPA, termasuk mengorganisir upacara penyiraman pake minyak jelantah yang dicampur dengan seplastik Rinso waktu gua ulang taun. Thanks ya Na.. Love you so much.

11

Global Warming as a Global Warning




You can’t make somebody understand something if their salary depends upon them not understanding it.


Al Gore [quoting Upton Sinclair]

* * *

Gua baru mengetahui betapa masyarakat Amerika dan tentu saja juga masyarakat dunia tidak menyadari dan mempercayai adanya bahaya ‘global warming’. An Inconvenient Truth adalah film yang berhasil mengungkapkannya kepada publik.

Gua pengen kalian semua—manusia-manusia Gen X dan Gen Y yang masih hidup di muka Bumi—untuk nonton film ini. Jadi gua tulis aja resensinya di sini, dengan harapan kalian akan menuliskan In Convenient Truth dalam daftar film wajib tonton kalian.

Al Gore—Wakil Presiden AS pada masa pemerintahan Clinton dan peserta pemilu Presiden AS tahun 2000 yang dikalahkan oleh Bush—telah melakukan studi yang cukup lama untuk mengungkapkan bahwa bumi telah mengalami kerusakan akibat aktivitas manusia, terutama efek rumah kaca. Jika tidak dilakukan perbaikan dan pemecahan atas masalah ini, kerusakan yang ada akan meningkat secara ekponensial dan perlahan-lahan akan menghancurkan Bumi termasuk peradaban di dalamnya.

Yap, yang dia maksud adalah ‘global warming’, isu yang sejak dulu merupakan ancaman besar bagi penduduk Bumi namun diabaikan begitu saja, termasuk olehku dan olehmu.

Global warming merupakan keadaan di mana panas atmosfer Bumi terus meningkat secara drastis dan eksponensial. Hal ini terjadi sebagai akibat dari penebalan lapisan ozon oleh senyawa CO2 sehingga sinar matahari tidak dapat kembali ke angkasa dan terperangkap dalam atmosfer. (Ini adalah penjelasan dari Al Gore yang gua tangkep waktu nonton. Mudah-mudahan aja ga salah tangkep. Untuk informasi lebih lengkap coba tanya mbah Google atau om Wikipedia…).

Semua sistem siklik yang terdapat pada dimensi ruang dan waktu memiliki keseimbangan untuk terus bergerak secara konstan. Untuk itu sistem tersebut memiliki kemampuan regulasi yang mengatur seluruh komponen beserta fungsinya untuk bekerja mencapai efektivitas dan efisiensi yang diinginkan.

Dan seperti kita tahu, Bumi—termasuk kita sebagai penghuninya—juga merupakan sebuah sistem, yang apabila keseimbangannya diganggu maka ia akan mencapai keseimbangan baru.

Apa gangguannya dan bagaimana pencapaian keseimbangan yang baru itu? Mudah, cukup dipikir dengan logika.

Gangguan kita terhadap Bumi adalah: membuang segala sesuatu yang tidak dapat ia cerna dengan baik sekaligus merusak roda penggerak sistem. Misalnya menebang pohon dan mengkonsumsi AC –> memproduksi CO2 berlebihan dan merusak penyerap CO2.

Sedangkan pencapaian keseimbangannya adalah: terganggunya atau berhentinya sistem yang ada di Bumi.

Ah.. teori…. (gaya ngomong jadul, haha..). Emangnya sistem apa sih yang bakal terganggu dengan adanya global warming? Coba kita bertanya pada rumput yang bergoyang…

Ini adalah jawaban dari rumput yang bergoyang…

Efek-efek awal dari global warming adalah terjadinya bencana alam berupa perubahan cuaca secara drastis dan unpredicted. Misalnya badai Rita dan Katrina di AS, atau musim kering berkepanjangan di Indonesia.

Dengan meningkatnya suhu atmosfer, bongkahan es raksasa di Antartika dan Arktika akan mencair. Jika semua es sudah mencair, maka tidak tersedia lagi habitat darat hewan kutub. Beruang kutub, anjing laut, dan pinguin akan berenang selamanya di laut atau mendarat di tempat yang lebih hangat, dengan konsekuensi adaptasi yang tidak mudah atau berujung kepunahan.

Dan juga ketika semua es mencair, permukaan air laut akan naik, menenggelamkan daratan. Diperkirakan negara kepulauan seperti Indonesia dan negara bertanah rendah seperti Belanda akan tenggelam.

Dan yang paling menakutkan sehingga banyak orang ga percaya, adalah pencairan es di kutub akan menyebabkan penurunan suhu sangat drastis dan mengembalikan peradaban manusia kepada zaman es (ice age), dengan benua Eropa sebagai pionir.

Hah.. bagaimana bisa? (halah ekspresi berlebihan :p). Hal ini terjadi didasarkan pada teori bahwa terdapat siklus arus hangat dan dingin di samudera, di mana pergantian hangat menjadi dingin terjadi di Atlantik Utara. Air laut yang datang membawa arus hangat bagi wilayah Eropa akan ‘didinginkan’ di sini, kemudian dialirkan kembali ke Selatan. Pendinginan ini terjadi atas jasa ‘kutub Utara’. Sebenernya bukan kutub utaranya sih, tapi posisinya.

Nah, ketika jasa pendingin ini sudah habis karena mencair, maka siklus arus ini akan terhenti. Dan sebagai akibatnya wilayah Eropa tidak akan mendapatkan arus hangat sepanjang tahun dan lama kelamaan akan terjadi pembekuan. Serem betul… (Lagi-lagi ini adalah penjelasan yang gua dapet dari Al Gore saat menonton, mudah-mudahan aja gua ga salah tangkep, hehehe :p).

Efek lain dari global warming adalah terganggunya iklim mikro spesies-spesies terntentu, termasuk manusia. Walaupun disebut sebagai spesies paling adaptif dan edan gila jagoan banget, manusia tetap memiliki kisaran toleransi, di mana manusia tidak akan dapat bertahan jika berada di luar kisaran tersebut.

Tidak hanya manusia, hewan-hewan lain juga terganggu. Sehingga sangat mungkin bagi mereka untuk ‘menyebar di luar peta persebarannya’. Misalnya saja nyamuk pantai. Ketika suhu di pantai menjadi sangat panas, mereka akan ‘menjajah’ daerah dataran rendah dan pegunungan untuk mendapat habitat baru. Tidak hanya nyamuk, banyak hewan parasit dan vektor penyakit lain yang bakal senasib dengan para nyamuk.

Untuk mengatasi hal ini, hewan-hewan aktif bisa memanfaatkan anggota geraknya untuk mencari habitat baru. Namun bagaimana dengan hewan-hewan pasif seperti alga-alga yang menempel pada terumbu karang? –> Mati. Ketika air laut menjadi panas, alga akan mati, kemudian meninggalkan karang tempat dia bernaung, sehingga karang kembali putih dan tidak cantik lagi. Proses ini disebut coral bleaching.

Di akhir film yang menyajikan banyak data empiris dan visualisasi spasial ini, Al Gore menyayangkan sikap sebagian besar penduduk AS yang tidak mempercayai hasil prediksi para ilmuwan tentang efek global warming. Al Gore membuat anekdot: mereka seperti kodok yang disimpan dalam gelas reaksi di atas bunsen dengan api kecil, tidak menyadari dirinya akan mati perlahan-lahan.

It’s important to save the frog.


Gua sendiri sebagai manusia yang ga tau apakah Al Gore berbohong atau tidak, mempercayai atau lebih tepatnya menyetujui pendapatnya dan para ilmuwan lain yang dituangkan dalam film ini. Tidak ada alasan untuk mengelaknya. Manusia boleh tidak percaya, tapi fakta berbicara.

* * *

Sayang sekali ya Al Gore dikalahkan oleh manusia seperti Bush.

Dog named Bush: This guy is so far out in the environmental extreme, we’ll be up to our neck in owls and outta work for every American. He is way out, far out, man.

Rime
: You are the far out one, dog!

16

The Black Parade dan Fans Murtad


Walaupun sudah lama sekali Mr. Cappuccino mengultimatum gua untuk segera mendengarkan album The Black Parade-nya My Chemical Romance, baru kemarin gua menjalankan rikues beliau.


Selain karena memang gua adalah seorang pelupa yang kalo ga diingetin akan selalu lupa, kehidupan gua akhir-akhir ini dipenuhi oleh banyak aktivitas yang bakal bikin otak gua bilang ‘boro-boro inget buat dengerin musik’. Tapi akhirnya kemarin gua inget juga buat ngedonlot 14 lagu di album ini. Dan gua dengerin di rumah.

Buat kalian yang mau ngedonlot alias ngebajak lagu-lagu ini, bisa ambil datanya di sini. Ngambil datanya pake Windows Commander aja, biar ga ribet.. Jumlah filenya 86.3 Megabites. (Thank to Della yang udah ngaplot lagu-lagu ini..)

Selama ini gua cuman tau yang Welcome to the Black Parade. Karena lagu ini diputer di comlabs tiap hari. Sampe gua apal dah tuh kata-katanya… Bagaimana dengan lagu-lagu yang lainnya?

Wua.. ternyata keren abissss… Gua jadi nyesel, kenapa ga dari dulu-dulu aja gua melakukan hal ini. Saking senengnya sama nih album, ke-14 lagu ini gua repeat bolak-balik di winamp ampe tengah malem (haha… berlebihan ya..).

Album ini lebih keren dibanding album MCR yang pertama. Temanya masih sama: kematian, teuteup… Denger-denger sih, tema kematian ini terinspirasi dari kematian neneknya Gerard Way, si vokalis.

Menurut gua. gaya vokal Gerard Way di album ini merupakan mixing dari gaya vokal Billie Joe Amstrong (Greenday), Billy Corgan (Smashing Pumpkin), dan Deryck Whibley (SUM41).

Kalo menurut klean gimana?

* * *

Pesan moral: (halah.. penting ya?)

Kalo lu ngaku ngefens sama MCR tapi sampe sekarang belum dengerin album ini sampe abis, mendingan lu perbaikin deh kesalahan luh… Jangan jadi fens murtad kaya gua, haha… 😀 Tapi alhamdulillah sekarang gua sudah bertobat.. 🙂

3

Reunite

*postingan telat.. gapapa lah… awalnya gua nunggu-nunggu foto jepretan Imoth, tapi karena beliow sakit, gua nyolong fotonya Oki aja*

Bandung, 13 Desember 2006

Ada yang ngeh ga kalo tanggal 10 Desember kemarin adalah Hari Hak Asasi Manusia sedunia? Gua rasa banyak yang ngga ngeh sama hal tersebut. Selain dikarenakan minggu ini adalah minggu UAS—di mana dijamin yang menjadi fokus utama mahasiswa gajah duduk adalah belajar atau ngerjain take home test—memang peringatan hari HAM ini kurang populer di telinga manusia Indonesia.

Adalah KMSR (Keluarga Mahasiswa Seni Rupa), sekumpulan orang yang masih peduli akan hari itu. Mereka memperingati hari HAM dengan mengadakan dua acara. Yang pertama adalah malam sejuta lilin yang dilaksanakan pada malam minggu (9/12) di Jalan Dago. Dan yang kedua adalah ngobrol-ngobrol sama bapak pejuang pada hari Senin (11/12) di Plaza Widya.

Everyone’s invited. Tapi sayang banget mereka ga bikin publikasi yang bagus. Mereka cuman ngasih surat pemberitahuan ke himpunan dan unit, tanpa bikin poster atau sebangsanya. Padahal bukannya publikasi visual tuh salah satu keahlian mereka ya?

* * *

Gua ga ikutan acara yang malem Minggu di Jalan Dago—keburu tepar gara-gara praktikum selam dan ngerjain tugas manwir—gua cuman ikutan acara Senin malem. Tapi tenang saja… Oki sudah meliput acara yang malam Minggu, yang kemudian dituangkan dalam tulisan ini.

Rencananya acara Senin malem bakal diisi sama ngobrol-ngobrol bareng bapak pejuang (yang namanya lupa lagi.. kalo ga salah namanya Pak Samsir) dan nonton film tentang hak-hak manusia, dengan setting yang sama dengan acara malam Minggu: seribu lilin. (Yah, walopun jumlahnya ga nyampe seribu, tapi sekilas jumlah lilinnya menunjukkan keseriusan mereka, dan praktis membuat jalur Tugu Soekarno sampe Plaza Widya jadi tempat yang romantis banget malem itu)

Bapak pejuang yang hadir saat itu usianya udah 86 tahun, dan dia merupakan salah seorang golongan pemuda yang tahun 1945 dulu mendesak Soekarno dan Hatta untuk memproklamirkan kemerdekaan Republik Indonesia.

Dia bercerita tentang Soekarno, Hatta, dan Indonesia saat itu—terutama tentang mahasiswa-mahasiswanya. Bahwa mahasiswa adalah kaum terpelajar, artinya manusia yang bisa membedakan mana yang benar dan salah.

Sayangnya—mungkin karena sudah sepuh—suara bapak ini kurang terdengar dengan jelas. Ditambah lagi tiba-tiba Jodi dateng, duduk, dan kemudian curhat. Gua jadi ga konsen nih dengerin ceritanya si bapak pejuang. Tapapa lah… yang penting gua nangkep isinya. Lagi pula, demi teman jantung kan kuberi (halah :p). PS: bukan Jodi mesin yak… ini Jodi SR.

Di akhir alunan suara yang mendayu-dayu, terdengarlah suara yang cukup lantang. Yak… untuk mempersingkat waktu… bla.. bla.. bla…. Ini adalah suaranya Kopral yang kebetulan lagi jadi moderator di acara ini.

Belum juga selesai bicara, omongan Kopral dipotong sama si bapak pejuang. Gua ga denger jelas apa omongan si bapak ini, tapi intinya dia ga suka omongan Kopral yang berbunyi untuk mempersingkat waktu. Dia menilai kita—generasi muda saat ini—sebagai manusia-manusia rumit, tidak simpel seperti manusia jaman dulu. Sebagai analogi, dia membandingkan komputer dengan mesin tik.

Akhirnya talkshownya diperpanjang. Dan Kopral cemberut sampai akhir acara. Haha, Kopral, Kopral… sabar ya nak… xD

Dan karena acara talkshownya diperpanjang sampe jam sepuluh malem, acara nonton pelemnya batal. Yah… sayang sekali sodara-sodara..

* * *

Malam itu adalah malam reunite—reuni. Malam penyatuan kembali visi dan misi manusia sebagai makhluk sosial. Tempat bertemunya makhluk-makhluk yang mungkin belum saling kenal, tapi punya hak dan kewajiban yang sama sebagai manusia.

Reuni… karena juga gua bertemu kembali dengan teman-teman SR—teman seperjuangan waktu kita jadi relawan di Jogja. Ada Usman, Ijul, Jodi, Rangga, dan Kopral. Sayang nih, yang lainnya kok pada ga nongol ya?

Senang sekali bertemu kembali dengan kalian. Ternyata kalian ga banyak berubah… 😀

8

Nostalgila Boscha hohoho…

Bandung, 15 Desember 2006

Dua dari tiga paper yang semalaman dikerjakan dan harusnya dikumpulkan hari ini, lenyap begitu saja gara-gara virus yang ada di komputer comlabs. Aing spicles… pengen marah, tapi siapa yang mau disalahkan…?

Tapi hari ini tidak terlalu buruk. Tadi pagi gua, Hendra, dan Harry birdwatching di Boscha dalam rangka penyelesaian TA-nya Harry yang sejak jaman jebot ga selesei2. Tapi burung yang kita cari ga ada. Mungkin si Harry harus ganti topik TA nih..

Mengunjungi Boscha, gua jadi inget temen2 SD. Beberapa tahun lalu, gua yang cupu berkarya wisata di sini. Di observatorium Boscha.

Belum banyak yang berubah dari tempat ini. Satu yang mencolok adalah adanya beberapa tong sampah jamaika di kawasan ini. Kamu-kamu yang anak ITB pasti tau tong sampah ini. Warnanya merah-kuning-ijo, bentuknya kotak dan trapesium ga jelas, dan lubangnya ada tiga, persis seperti kotak suara PEMILU jaman orba, hehehe… 😀

Lain kali main lagi ke sini ah.. sambil ngajakin anak astro, hehehe…


Men in black


Observatorium Boscha. Keren banget bangunannya.. 🙂


Waktos nuduhkeun tabuh dalapan lepat tilu puluh tujuh menit waktu Sunda, hahaha.. 😀


Rima-Hendra-Harry


1923


Gunung Tangkuban Perahu yang mulai ga perawan akibat forestasi pinus


Gunung Burangrang.. sampe sekarang belum pernah gua daki, abis ga ganteng sih gunungnya…

11

Catatan Kloset


*lagi pengen cerita tentang toilet*

Gua adalah orang yang paling ngerasa ga nyaman dengan keadaan sakit perut–pengen boker–tapi waktu dan tempat tidak mengijinkan. Argh… dunia serasa kiamat.. Jadi ketika dimensi ruang berkompromi dengan dimensi waktu untuk mempersilahkan gua mengosongkan perut, gua akan dengan senang hati melakukannya.

Inilah alasan gua membawa sabun ke kampus setiap hari, hahaha 😀

Trus kalo lu lagi di hutan gimana dong me bokernyah? Ya gua jawab aja, kalo di hutan bokernya jongkok, soalnya ga ada WC duduk. Jawaban yang aneh.. soalnya pertanyaannya juga aneh. Boker ya boker ajah ga mesti gimana-gimana.

Pengalaman pertama gua boker di lapangan adalah di Semeru. Saat itu gua masih belum menemukan arti nikmat boker di lapangan (geuleuh pisan). Selama masih bisa nahan boker ya mending nahan aja deh… Tapi ternyata menahan boker berhari-hari di luar kebiasaan boker setiap hari bukanlah perkara mudah. Akhirnya dengan baik hati Heidy mau mengajari gua boker di Kalimati (ketinggian 2.700 mdpl), tepatnya di balik semak-semak.

Hehe.. kalian ga tau ya, waktu diksar KMPA gua ga boker selama empat belas hari! Udah ga jelas ini perut rasanya kaya apa. Ga usah penasaran… Yang pasti ga enak ngapa-ngapain…

Kalo di kampus, pengalaman pertama gua boker adalah di perpustakaan pusat. Waktu itu tuh udah tinggal lima belas menit menuju ujian kalkulus siyalan dimulai. Entah karena makanan atau karena nervous, pokonya gua sakit perut. Trus akhirnya gua boker dulu deh demi mendapatkan kenyamanan dalam mengerjakan ujian dan mengabulkan harapan mendapat nilai A. Tapi ternyata walopun gua udah boker, tetep aja nilainya C, huhuhu….

WC di kampus yang paling sering gua jamahi adalah WC IF. Secara hanya itu WC satu-satunya di ITB yang buka 24 jam dan 7 hari seminggu. Eh, ga juga deng, dulu pernah deng hari Minggu gua mendapati WC itu tutup. Akhirnya setelah uring-uringan nyari WC di ITB, didapatlah WC TL yang pintunya warna biru. Eh, pintu WC ini kesyut di film Jomblo loh… (penting ya?)

WC IF adalah WC yang setia gua kunjungi sejak masih TPB, waktu sel masih bertempat di SC Barat. Walopun rada spooky, tapi karena sering dipake, jadi ga spooky lagi. Jadi berasa WC pribadi aja, yang lain ngontrak (halah..).

Duh, ngomong-ngomong tentang WC gua jadi pengen boker nih…

Btw buat kalian yang udah terlanjur baca postingan ini, gua mohon maap yang sebesar-besarnya karena postingan ini sama sekali tidak penting…

Akhir kata, gua hanya mau mengatakan: Di mana pun WC-nya, bokernya harus nyaman.. Slrup… ah…

8

Yes… Menang 30-29..


Barusan aja gua dan temen-temen abis nonton basket Nymphaea vs SBM di lapangan basket CC. Dan ternyata…. pada detik terakhir quarter keempat, papan skor yang dipegang Bona dan sejak awal angkanya ke-flip-flop terus, menunjukkan angka 30-29. Bravoooo….!!! Walaupun tipis, tapi kita menang, yeee….

Suporter hari ini gila abis. Sumpe deh… garila. Mulai dari teriak defense-defense…, ayo-ayo…, huuuu….., sampe Ayo Baim Wong… kamu bisaaaaa…!!! Secara di pertandingan ini player favorit kita adalah Angga, yang sejak kulap Bali kemarin jadi dipanggil Baim Wong.

Ga hanya tim kita sendiri yang diteriak-teriakin, tapi tim lawan juga. Terutama player SBM dengan nomer punggung 7 dan 21. Woi mas ganteng… mas ganteng… Oi… nomer 7 ganteng….!!!

Gantengan nomer 21 lagi…
Enggak… nomer 7 lebih ganteng!!!
21!!
7!!!
Kalian gimana sih… tim kita juga ganteng-ganteng tau!
Iya sih, kan kita ceritanya invasi…

* * *

Tim basket Nymphaea wajib berterimakasih pada suporter hari ini. Secara hari ini suporternya banyaaaaakkkk banget, mulai dari anak 2001 sampe 2005. Dan gilaaaaaaa banget… sampe-sampe keluar kata-kata baleg woy..!, fault tuh..!, woy.. makanya diospek..!

Pokonya heboh deh. Kalo ga percaya, coba tanya anak Terra atau SR yang masih nongkrong di situ pasca pertandingan sebelumnya. Atau tanya aja sama anak SBM… Pis ah…

Haha.. sekian laporan huru-hara hari ini.. Sampai jumpa di pertandingan basket berikutnya…