Taman Nasional Ujung Kulon: Let’s Get Lost


*gua pengennya postingan ini dibikin dalam bahasa baku dan formal, tapi jadinya tampak bukan-gua-banget… jadinya di tulisan ini gua kasih bumbu-bumbu tulisan yang ala rime banget, hahahaha.. maafkan aku Pak J. S. Badudu….*

Intro:

Taman Nasional Ujung Kulon (TNUK) terletak di provinsi Banten, dengan luas sekitar 120.551 ha, terdiri dari 76.214 ha daratan dan 44.337 ha perairan laut, termasuk beberapa pulau: Pulau Peucang, Pulau Panaitan dan Kepulauan Handeuleum. Kawasan ini telah diproteksi sejak tahun 1921 dan secara resmi ditetapkan sebagai taman nasional sejak tahun 1992. TNUK juga mendapat kehormatan sebagai Kawasan Warisan Alam Dunia (Natural World Heritage Site) pertama di Indonesia.

Ujung Kulon dapat dicapai dari Jakarta dengan melalui jalan tol Jakarta – Merak, keluar di Anyer, kemudian ke arah Selatan menuju Labuan, dan kemudian daerah Sumur. Perjalanan Jakarta – Sumur ditempuh selama sekitar 4 jam, dengan total jarak tempuh 240 km. Dari Sumur perjalanan dilanjutkan menuju Taman Jaya, dengan jarak tempuh 20 km selama kurang lebih 2 jam perjalanan.

Anggota tim: Rime, Alfin, Restu, Bang Dana selaku sponsor perjalanan, juga Toyota Fortuner yang jadi ganteng gara-gara keciprat lumpur.

* * *


Hari 1 (17 Mei 2007)


Untuk bisa mengitari keseluruhan taman nasional, dibutuhkan waktu 6 hari perjalanan. Tapi berhubung waktu liburan kami hanya 4 hari, perjalanan dikompres jadi 3 hari saja. Bagaimanakah caranya mengompres perjalanan? Gua juga ga ngerti, hahahaha… xD

Untuk dapat menuju Pulau Peucang dari kantor Balai Taman Nasional Resort Taman Jaya yang berada tepat di pinggir laut, dibutuhkan alat transportasi berupa perahu motor dengan biaya Rp 1,5 juta sekali jalan.

Itu kalo pengen mahal… Kalo pengen yang murah sih caranya gini: kita pura-pura jadi mahasiswa yang lagi KKN di sana, trus numpang perahu orang yang mau ziarah ke makam, trus tinggal bayar uang kongkalikong ke orang yang punya perahu. Terbukti, biaya bisa dikompres sebesar 67%, huahuahahahaha… xD

Dan kami mengambil cara yang kedua.

Pemandangan di lihat dari kantor Taman Jaya


Pemandangan dilihat dari perahu


Perjalanan dari kantor Taman Jaya yang terletak di ‘leher’ taman nasional sampai dermaga Pulau Peucang dengan menggunakan perahu motor membutuhkan waktu sekitar 3 jam, dengan jarak tempuh sekitar 40 km. Di sepanjang perjalanan, kami disuguhi pemandangan yang indah. Jika beruntung, kita bisa menemukan beberapa spesies burung air di sini. Seperti beberapa individu Cikalang kecil (Fregata ariel) dan Camar kepala-hitam (Larus ridibundus) yang kami temui saat itu.

Di Pulau Peucang terdapat kantor Balai Taman Nasional Resort Peucang dan beberapa bangunan lain yang merupakan bagian dari cottage yang dikelola oleh swasta. Di dalam kantor balai taman nasional terdapat museum satwa yang berisi berbagai informasi, dengan tampilan data berupa foto berketerangan serta spesimen (awetan) kering beberapa spesies Gastropoda seperti lobster. Di sini juga terdapat warung telepon (tentu saja telepon satelit) dengan biaya sebesar Rp 20.000,00 per menit..

Katanya, Pangeran Charles pernah berlibur di sini dan nginep di cottage ini loh… (So what….??? Penting ya?)

Layaknya kawasan pantai lain yang dijadikan tempat wisata seperti Pangandaran, di kawasan ini kami menemukan Rusa Timor (Cervus timorensis) dan Monyet ekor-panjang (Macaca fascicularis) yang terhabituasi dengan aktivitas manusia. Saat berada di sana, kami sempat memergoki seekor Monyet ekor-panjang sedang mencuri sebuah kantung plastik berisi makanan di atas meja. Ketika berada di tempat seperti ini, kita memang harus ekstra hati-hati membawa makanan.

Pantai Pulau Peucang

Itu kalkulator maksudnya buat apa ya?


Dari Pulau Peucang kami menyeberang kembali ke Pulau Jawa. Karena perahu motor yang kami tumpangi ukurannya cukup besar dan tidak bisa berlabuh tepat di pinggir pantai, kami terpaksa mencebur ke laut dan berjalan menuju daratan dengan ketinggian air sebatas pusar.

We are the survivors

Rute nyebur

Kami menyusuri pantai sampai akhirnya menemukan ‘pintu masuk’ menuju padang penggembalaan Cidaun berupa vegetasi hutan pantai dengan lantai lumpur dan pecahan karang. Di padang gembala kami istirahat makan siang, sambil mengamati beberapa Banteng Jawa (Bos javanicus) yang sedang melahap rumput. Uuuhh… lutuna banteng-banteng ini…


Banteng Jawa (Bos javanicus)

Menara pengamatan Cidaun

Perjalanan kami lanjutkan menuju Cibunar, yaitu kawasan di bagian Selatan taman nasional yang berbatasan langsung dengan Samudera Hindia. Hutan yang kami lalui cukup lebat, sehingga kanopinya melindungi kulit kami dari sengatan matahari. Lantai hutannya berupa lumpur hitam—sedimen yang sangat disukai oleh Badak Jawa (Rhinoceros sondaicus).

Di jalan setapak, kami menemukan beberapa macam tapak kaki tetrapoda, salah satunya adalah milik Badak Jawa. Tidak sulit membedakan antara tapak kaki Badak dengan Banteng atau Babi hutan (Sus verrucosus). Badak berjari tapak 3, sedangkan Banteng dan Babi hutan berjari tapak 2.

Tapak kaki Badak Jawa (Rhinoceros sondaicus) *motona teu baleg*


Hari sudah gelap sebelum kami sampai di Cibunar, sehingga kami menghentikan perjalanan dan membangun tenda di tengah hutan, tepat di sebelah sungai besar. Di sini kami mendengar banyak sekali suara satwa liar. Salah satunya yang paling nggak banget adalah suara kodok yang mirip suara orang ketawa kaya di iklan Kisper “hahahahaha”. Bikin kaget aja =p

* * *


Hari 2 (18 Mei 2007)

Ujung Kulon in the morning

Satu jam perjalanan dari tempat camp, kami tiba di Cibunar. Di Cibunar terdapat beberapa padang rumput yang berada tepat di pinggir pantai, tempat Banteng dan Badak mencari makan. Di perbatasan antara padang rumput dan laut, terdapat hamparan karang yang berperan sebagai pelindung daratan dari hantaman ombak besar. Dari ombak-ombak yang berdebur, dihasilkan pelangi yang dapat dilihat secara berulang-ulang.

Cibunar


Perhatiin deh, ada pelanginya loh…


Dari Cibunar, perjalanan dilanjutkan menuju Citadahan. Di sini terdapat sebuah muara yang cukup besar untuk diseberangi, yang juga merupakan habitat buaya muara. Menurut Kang Pipin—polisi hutan yang jadi guide pada perjalanan ini—ombak hari ini sangat besar, tidak seperti biasanya, sehingga kita tidak mungkin menyebrangi muara ini pada saat itu (pukul 11.30 WIB) dan harus menunggu sekitar 3 jam lagi saat air laut surut.

*belakangan baru kita ketahui bahwa peningkatan intensitas dan tinggi ombak hari itu ada hubungannya dengan gempa yang terjadi di Pandeglang pada tanggal 17 Mei 2007, serta pengaruh posisi bulan-Bumi-matahari, juga beberapa teori termasuk teori swell dan Gelombang Kelvin (lebih tepatnya baca aja Kompas hari ini 23/05/07)*

Kiriman Bang Dana


Diperbuas…

Test drive


Karena tidak ingin membuang waktu dengan menunggu selama 3 jam, kami berpikiran untuk menyebrangi muara sungai di bagian yang agak ke arah hulu. Walaupun di sini banyak buaya, we’ll take the risk. Karena kami memang jagoan, hahahaha… xD

Ternyata bagian sungai yang kami lintasi untuk menyeberang cukup dalam. Sebagai petunjuk ukur, kaki kami saja tidak berhasil menyentuh dasar perairan. Sedimen yang terendap di dasarnya kemungkinan berupa lumpur (dan buaya, haha…), sama seperti sedimen pada bagian pinggir yang kami injak.

Penyeberangan basah

Dari tempat ‘pendaratan’, dengan keadaan baju dan ransel yang basah kuyup, kami melanjutkan perjalanan menuju Cikeusik. Karena bukan jalur umum, tidak ada jalan setapak yang jelas dari tempat pendaratan menuju pantai, sehingga harus dilakukan penebasan untuk membuka jalur.

Saat kami kembali ke pantai—bagian seberang dari tempat kami pertama kali tiba—ternyata air sudah surut. Gua jadi ngerasa bodoh… ngapain coba tadi susah-susah berenang di sungai yang ada buayanya?

Tips bagi Anda yang akan melakukan perjalanan dengan rute ini:
1. Bawalah golok dan peralatan safety lainnya seperti tali (yang biasa saja, tidak perlu kernmantel) serta karabiner untuk membantu penyeberangan basah.
2. Bersabarlah ketika mendapati air pasang pada muara. Karena air tidak selamanya pasang ( heya iya lah…..).

Di pantai yang permukaan pasirnya agak luas, kami istirahat makan siang sambil menjemur barang-barang yang basah, terutama Alfin dan Restu yang barang-barangnya totally basah. Secara mereka kerirnya segede-gede bagong, jadinya trashbag dalam kerir ga bisa ditutup dengan rapat deh. Dan gobloknya gua nitip henfon ke Alfin…


Barang-barang yang basah

Membawa buku ini ke lapangan adalah perjuangan

Beberapa puluh menit kemudian, dua ombak besar datang secara simultan ke arah kami, menyapu hamparan pasir dan juga barang-barang yang sedang dijemur si atasnya. Alamakjang… barang-barang kitaaaa……

Kami pun berlarian menyelamatkan barang-barang yang sedang dijemur, sambil mengeluarkan ekspresi teriakan yang sama secara berjamaah: anji*g gobl*k anji*g gobl*k (harap maklum lah… namanya juga refleks, wakakak…)

Dan parahnya lagi, kejadian ini berlangsung 2 kali. Arrgghhh… bodoh betul…! Bang Dana bilang: hanya kita dan keledai lah yang melakukan kesalahan yang sama dua kali. Hahahaha… xD

Meratapi nasib

Dari Citadahan kami teruskan perjalanan menuju Cikeusik. Di sepanjang pantai, kami disuguhi pemandangan pantai berpasir cokelat dengan ombak besar yang membawa muatan sampah ke daratan. Sampah yang terdampar sangat variatif, mulai dari sendal jepit, celengan plastik, kayu gelondongan, sampai perahu hancur.

Di pantai ini kami menemukan dua spesies burung pantai yaitu Wili-wili besar (Burhinus giganteus) dan Trinil pembalik-batu (Arenaria interpres). Bukan ‘kami’ tapi ‘gua’, secara di tim ini ga ada yang peduli sama burung-burung selain gua… secara yang satu Tambang, yang satu Penerbangan, satunya lagi dulunya Planologi.

Sekali-sekali nampang ah

Sampah-sampah


Perahu ancur

Di Cikeusik terdapat sebuah bendungan air payau yang merupakan muara gabungan dari dua buah sungai. Di sini kami menemukan burung Kangkareng perut-putih (Antracocerus albirostris).

Muara Cikeusik

Feel the sunset


Kami membangun tenda tidak jauh dari tempat itu. Di tempat camp ada satu muara kecil tempat kami mengambil air tawar (payau). Saat kami tiba pada malam hari, air di muara ini masih tawar, namun pagi harinya air ini menjadi asin akibat terkena pasang air laut. Tidak ada yang menyadarinya, sampai akhirnya lidah kami mencoba kopi rasa oralit dan nasi asin. Dudul abis…

Camp 2


* * *


Hari 3 (19 Mei 2007)

Perjalanan dilanjutkan menuju Cibandawoh, masih dengan melewati garis pantai yang sama dengan kemarin. Hanya saja hari ini jumlah sampah yang ditemukan semakin menggila.

Sampah lagi

Shipwrecked

Untungnya tipe vegetasi sudah berubah dari vegetasi rumput berdaun tajam menjadi vegetasi mangrove dan hutan pantai. Sehingga jika merasa kepanasan, kami bisa mengambil jalur di dalam hutan.


Di Cibandawoh, gua ngerasa ada yang aneh sama telapak kaki gua sebelah kanan, berasa ada yang luka gitu… tapi gua paksain jalan aja. Pas diliat waktu istirahat, ternyata di dalem sepatu gua ada lempengan besi 1,5 x 5 cm. Kemungkinan lempengan ini kebawa ombak dan nyangsang di sepatu guah. Sial…!

Siang menuju sore kami tiba di kantor Balai Taman Nasional Resort Karangranjang. Di sini kami boleh menumpang masak menggunakan kayu bakar di dapur kantor.


Dari kantor Karangranjang, kami melanjutkan perjalanan menuju Desa Legon Pakis. Di desa ini kami rehat sebentar di rumah salah seorang polisi hutan—rekan kerja Kang Pipin. Di desa yang belum mendapat asupan listrik ini, rumah-rumahnya kebanyakan masih tradisional (rumah bilik panggung seperti rumah Suku Baduy), namun ada pula beberapa rumah yang sudah menggunakan semen, kusen, dan kaca.

Uuuuhh… keren banget kaka…

Dua elemen Desa Legon Pakis: rumah panggung dan pohon kelapa

Sunset yang romantis, hehehe… ^^

Setelah melewati 2 perkampungan dan satu areal pesawahan dari Desa Legon Pakis, akhirnya kami sampai juga kembali ke Taman Jaya. Itu pun udah dibantu sama tebengan mobil colt penduduk. Kalo ga nebeng, kayanya kita baru bakal nyampe tengah malem deh. Secara jalannya jauuuuuuuhhhhh banget.

Di kantor Taman Jaya, gua langsung mandi dan men-treat tangan gua yang ancur akibat kena sengatan matahari, gigitan serangga, cipratan minyak goreng panas, kena piso, kena rotan, serta gatel-gatel akibat serangan bakteri air laut, huhuhuhu…. T_T

Abis itu, groookkk…. groookkk… grookk…. zzzzzz…..

* * *


And here it is the recap (bisa dijadikan sebagai referensi bagi kalian yang mau hiking ke Ujung Kulon dengan waktu hanya 3 hari)



Hari 1
10.00 – 13.00 Taman Jaya – Pulau Peucang (naik boat)
13.00 – 13.30 Pulau Peucang
13.30 – 13.45 Pulau Peucang – Pantai Cidaun
13.45 – 14.00 Pantai – Padang Penggembalaan Cidaun
14.00 – 15.45 Istirahat makan siang
15.45 – 18.00 Padang Pengembalaan Cidaun – Camp 1

Hari 2
08.30 – 09.30 Camp 1 – Cibunar
09.30 – 10.00 Istirahat
10.00 – 11.00 Cibunar – Citadahan
11.00 – 13.15 Penyeberangan basah
13.15 – 13.30 Tempat penyeberangan – Pantai Citadahan
13.30 – 15.30 Istirahat
15.30 – 17.00 Citadahan – Cikeusik
17.00 – 18.00 Istirahat
18.00 – 18.10 Cikeusik – Camp 2

Hari 3
09.00 – 10.15 Camp 2 – Muara Cibandawoh
10.15 – 14.00 Muara Cibandawoh – Karangranjang
14.00 – 15.15 Istirahat
15.15 – 17.15 Karangranjang – Desa Legon Pakis
17.15 – 18.00 Istirahat
18.00 – 21.00 Desa Legon Pakis – Taman Jaya

* * *

Burung yang ditemui
Ayam-hutan hijau (Gallus varius)
Burung-gereja Erasia (Passer montanus)
Camar kepala-hitam (Larus ridibundus)
Cekakak sungai (Todirhampus chloris)
Cikalang kecil (Fregata ariel)
Kangkareng perut-putih (Antracocerus albirostris)
Kapinis laut (Apus pasificus)
Kirik-kirik biru (Merops viridis)
Layang-layang rumah (Delichon dasypus)
Merak hijau (Pavo muticus)
Tekukur biasa (Streptopelia chinensis)
Trinil pembalik-batu (Arenaria interpres)
Walet linchi (Collocalia esculenta linchi)
Wili-wili besar (Burhinus giganteus)

Primata yang ditemui
Lutung Jawa (Trachypitecus auratus)
Monyet ekor-panjang (Macaca fascicularis)
Owa Jawa (Hylobates moloch)

Informasi lainnya
– Biaya jasa polhut: Rp 100.000,00 per hari
– Biaya boat: Rp 1.500.000,00
– Tidak ada kendaraan umum untuk mencapai Taman Jaya. Jadi lebih baik bawa mobil pribadi aja, lebih baik lagi kalo mobilnya 4WD, soalnya jalannya jelek banget.
– Di Taman Jaya ada bungalow mulai dari harga Rp 10.000,00 sampe Rp 250.000,00. Kalo mau yang paling murah sih nginep di kantor polhut aja, GRATIS, hehehehe…

Advertisements

23 thoughts on “Taman Nasional Ujung Kulon: Let’s Get Lost

  1. #luthfi: if you don’t want to read it, then you don’t have to read it.. as we know, sebagian besar pembaca blogger juga begitu… (males baca tulisan panjang-panjang yang ga ada hubungannya dengan dirinya) =p#bang dana: huahahaha… nyepet diri sendiri ini teh?#benx: ikutan ke mana?#imoth: iya bener, banyak banget… tapi bukan sengaja dibuang orang ke sana, tapi sampah2 itu terdampar karena di sana ombaknya kenceng banget. kebanyakan sih sampah kapal tenggelam, soalnya banyak banget ditemuin kayu gelondongan (selundupan dari Sumatera atau Kalimantan) sama bagian-bagian bodi kapal. ya sih sayang, tapi jadi eksotis tau… di mana lagi coba bisa nemu pantai yang ada bangke kapalnyah? hehehe..

  2. Lengkap deh, dari ongkos sampe binatang sampai kebasahan hehehe. fotona bagus2 tuh, alam indonesia memang tiada duanya. Sayang kurang perawatan sampai2 dijuluki negara perusak hutan nomor 1

  3. wah.. wah ini anak mapala liburannya selalu menuju alam bebas.. keren!kapan ya bisa ke ujungkulon? kek nya inspiring banget. 😀

  4. kalo gw baru pertama kali ke blog lo, gw bakalan bilang:”Blognya bagus mbak, informatif banged..”tapi secara gw dah lumayan sering2 ke sini, gw cuma bisa bilang:”He..? ini elo Me..? sejak kapan alih propesi jd guide..?”hehe.. tp keren kok Me.. keren..foto2nya itu apalagi..tenang.. tenang..gw masih ngerti kok bahasa2 lo yg ini..hehe xP

  5. #ade bayu: Banyuwangi (Baluran) termasuk ujung wetan Pulau Jawa ga? kalo iya, berarti aku dah pernah ^^#balibul: salam kenal juga..#danang: enggak dong… kita kan jagoan… =p#muthe: bungkussss….#joni: ayo ayo… sebelum badaknya punah..#wiku: ayo.. sekalian aja barengan sama mas Joni, hehehe…#nieke: lu baru tau kalo gua adalah manusia dengan sejuta prestasi. kalo lagi bosen jadi guide, gua kadang2 narik becak di simpang dago, hahaha…#imam: secara ini adalah perjalanan 6 hari yg dipress jadi 3 hari.. jadinya ga ada banyak waktu buat santai2 dan pengamatan burung.. ditambah lagi, kita emang ga mengunjungi spot pengamatan burung di sana… oiya, ada satu lagi.. burung-burung tuh kan berisiknya pagi2 kan… secara gua kebo banget bangunnya selalu paling siang, jadinya ga dapet kesempatan ngeliat burung2 deh, hehehehe…

  6. wew…ngiri awak…enak banget bisa jalan2..hehehe..sudah lama awak tidak jalan2 seperti itu..pengennya sih liburan ini jalan2..tapi ntah lah.. seperti nya tidak bisa dilakukan liburan kali ini..

  7. Wah..seru nih kayaknya. Thanks udah bagi infonya 😀 Gw rencananya juga pengen ke sana akhir minggu ini, tapi kayaknya ga jadi. Harus bikin rencana dulu kayaknya, hihi.

  8. #gredinov: ga usah pake ngiri2 lah kau.. langsung aja brangkat… :D#snefera: iya.. lebih baik direncanakan daripada menganut sistem trial and error seperti gua, haha..#oki: tergantung seh bayarannya berapa, heuheuheu…

  9. Weh…loe di sono muterin pulo ditambah jalan kaki tah??Anjrit…gw ga da kesempatan buat itu.Kmaren bareng rombongan yang dah termasuk separuh baya seh. Jadinya rada males kali mo jalan kaki. Kluar masuk hutan pula.Tapi waktu nginep dihabisin di Pulo Peucang. Yah…namanya juga babe-babe pada pengin have funPagi pada ngopi, mandi di pante, siangnya jalan-jalan di hutan klo ga nyambangin ke t4 laen naek boat, pulangnya sore mandi lagi di laut sambil liat sunset (beneran di tengah lautnya neng, pake pelampung seh…), trus malemnya mancing dah.Eh, tuh foto tengkorak banteng, bantengnya, ma towernya…xixixi gak beda jauh ma punya gw…Tp qo foto rusa ‘n monkisnya ga ditampilin??Klo gw ma temen2 kmaren mo liat buaya di sungai, eh ga ketemu satu buntutpun…padahal dah nyusursungai pake kano. Mana sungainya siang hari jadi dangkal lagi, ga bisa dilewati, musti jalan kaki…alamaak…Padahal dah stay alert bawa kameranya…siap2 tembak…cape’ deh. Lokasinya deket pulau Handeleum seh…Eh…yang gw bingung, di pulo handeleum ada sumur yang rasa airnya beneran tawar!! Gila!!! Kan pulonya ga gedhe-gedhe banged tuwhYang blom gw rasain di sono ya itu seh, jalan kaki nyusur pantai ‘n pulo, trus manjat di ujung sebelah pulo Peucang. Kan ada tebing lumayan tinggi tuwh, keren lagi…Arrgghh…pingin bikin laporan selengkap ini, dah keduluan dah…hiks…Nice expedition sist…Eh katanya bisa ke lokasi pake mobil 4WD nyewa. Tau ga nyewanya dimana and brapa ongkosnya?

  10. lam kenal………nama gw ipeh,nak mapala stmik banten jaya serang.kapan ney ke ujung kulon lagi…leh ikut ga???sumpe duech..ujung kulon mang bener-bener mantab..pokonya azix abizzz…gw ma temen-temen juga dah pernah ke sana pe 3x..pokonya kalo ke sana lagi ajak-ajak yei…!!!yuhuuuuuu….!!!!

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s