28

I’ve Never Thought to Touch These Monsters Before


*lagi pengen posting sesuatu yang ga penting nih*

Walopun gua suka sama binatang-binatang yang ada di muka bumi ini mulai dari serangga sampai dinosaurus, ada beberapa binatang yang ga gua suka dan sama sekali tidak pernah terpikirkan untuk gua pegang. Sampai akhirnya gua terjerumus dalam praktikum-praktikum di mana gua harus ‘bekerjasama’ dengan moster-moster ini.

1. Bangkong Budug


Bufo melanostictus (sumber)


Apa bedanya kodok sama katak? Tampak seperti pertanyaan bodoh ya, tapi ini sebenarnya ilmiah loh.. Kodok tuh yang kulitnya halus, sedangkan katak tuh yang ada bintil-bintilnya (hyaik). Mungkin dulu waktu para amfibi kuliah, para katak absen di kelas kecantikan, so permukaan tubuhnya jadi korodok gitu.

Sebenernya gua udah pernah megang keduanya waktu praktikum Biosistematika, tapi cuman bangkenya doang yang dikasih formalin. Jadi aja kodoknya asik… ga pake loncat-loncat. Untung aja praktikumnya ga pas malam bulan purnama. Tanya kenapa…

Jadi intinya gua jiji megang kodok apalagi katak yang masih dalam keadaan segar bugar dan daya cengkeramnya masih kuat.

Suatu hari para asisten praktikum Fisiologi Hewan mewajibkan tiap kelompok untuk membawa seekor katak (Bufo sp.). Harus katak ga boleh kodok *heuh.. aya-aya wae sih praktikum teh…*. Dan berhubung di kelompok gua cowonya cuman si Dercun, maka sudah pasti dialah yang ketiban siyal dapet tugas yang jijay-jijay kek gini, hahahaha… (ini adalah contoh emansipasi wanita yang salah kaprah.. jangan ditiru ya :p)

Kayanya si Dercun emang ga berjodoh sama Bufo *dia mah jodohnya sama Dona kali, wakakakak..*. Pada perjalanan dari tempat mencari katak menuju kampus, Dercun mengalami kecelakaan. Sepeda motornya nabrak mobil (kalo ga salah). Akhirnya kelompok gua diomel-omelin asisten deh gara-gara ga bawa katak. Insiden ini kemudian dinamakan “Tragedi Katak Berdarah”.

Tapi kemudian secercah harapan muncul. Tiba-tiba seseorang masuk ke dalam lab dengan membawa sebuah ember berisi beberapa katak yang sedang berloncatan di dalam air berwarna coklat. Wahai manusia yang 3 tahun lalu membawa katak-katak ini ke dalam lab, I LOVE YOU PISAN LAH..! 😀

Aksi tunjuk-menunjuk terus terjadi dengan kalimat standar “Udah lah lu aja… lu aja..”, sementara asisten makin murka karena waktu praktikum terbuang percuma untuk hal-hal tidak penting semacam ini. Akhirnya gua mengalah, sodara-sodara… gua mengalah…!

Jangan tanya gimana rasanya megang bangkong budug, karena rasanya tidak enak.

2. Mus musculus-wati


Mus musculus (sumber)


Walaupun tikus tuh lucu, tapi tetep aja geuleuh da mainnya di tong sampah dan comberan. Untungnya tikus-tikus yang kita co’o di sini tikus lab, jadinya bersih. Nama lengkapnya Mus musculus Swiss Webster. Itu kalo cowo, kalo cewe namanya Mus musculus-wati.

Pertama kali megang tikus model gini tuh pas praktikum Bium waktu TPB. Kerasa di tangan tuh geli-geli gimanaaaa gitu. Lucu sih.. tapi jadi ga lucu kalo dia boker dan pipis di meja lab gara-gara stress.. soalnya kita disuruh ngebersihin T_T

3. Kecoawati


Periplaneta americana (sumber)


Taruhan sok.. cewe-cewe yang baca blog ini pasti hampir semuanya takut sama makhluk ini. Karena selain baunya dan bentuknya geuleuh, binatang ini punya antena yang suka digoyang-goyangin. Arrgghh… mana coraknya kek gitu lagi (ada mata kamuflase-nya).

Jadi, bisa dibayangkan lah yah gimana ramenya keadaan lab saat para praktikan wanita (yang jumlahnya lebih banyak dari pria) harus bekerjasama dengan para kecoa ini. Kira-kira beginilah ceritanya *kaya tayangan KISMIS ya, hahaha…*.

4. Ikan Cupang (ga pake wati)


Betta splendens wild type (sumber)


Dari dulu sebenernya gua udah sering nyo’o ikan cupang di rumah, tapi cuman buat diliat aja, ga sampe diaduin kaya di praktikum. Pas gua baca lagi postingan ini (yang mana gaya nulisnya ancur banget :D), gua baru nyadar kalo ternyata waktu itu kita nitip beli ikan-ikan cupang itu di si Dercun. Kayanya Dercun emang berbakat deh jadi dealer binatang-binatang yang dipake buat praktikum. Dibisnisin aja atuh Der.. Nanti kalo sukses kita makan-makan… 😀

* * *


Sebenernya masih ada binatang-binatang lain yang dijadiin bahan coco’oan seperti yang diceritain di postingan ini. Tapi berhubung burung merpati tuh lucu dan ga layak disebut monster, jadinya ga gua masukin di sini deh.

Beberapa sisanya ga gua masukin soalnya gua ga bernafsu untuk menceritakannya, seperti burung kowak dan Drosophila melanogaster. Kalian juga pasti ga napsu ngebacanya… ^^

Walaupun geuleuh dan menjijikkan, tetep aja manusia ga akan bisa hidup kalo mereka ga ada.. 😀

Advertisements
0

Konfirmasi


Tadi malam Saya berbincang dengan Saudara Jupri via telepon. Dari perbincangan selama 30 menit tersebut didapat kesimpulan bahwa kemungkinan besar Saya salah mendengar perkataan Saudara Jupri yang Saya tuliskan sebagai berikut:

Karena para lulusan jurusan kami akan sangat berguna dalam membangun bangsa, dan yang lain tidak.

yang seharusnya seperti ini:

Karena para lulusan jurusan kami akan sangat berguna dalam membangun bangsa, dan yang lain tidak.


Atas kesalahan dengar Saya saat itu, Saya mengajukan permintaan maaf kepada Sudara Jupri.

* * *


Oke lah Jup, anggep aja gua salah denger. TAPI TETEP AJA PARADIGMA LU KUDU DIUBAH.

DAN BELAJARLAH MERANGKAI KATA-KATA SECARA BAIK.

Akan lebih baik menjadi orang yang berbesar hati menerima kritik daripada orang yang mencari pembenaran untuk menangkis kritik.

Peace.

52

Paradigma Jongkok: Yang Lain Nothing


*ini hanya uneg-uneg, tidak ada tujuan untuk mendiskreditkan jurusan apapun*

Saya sempat terkejut saat selesai membaca tulisan pada blog seorang mahasiswi Gajah Duduk tentang pendiskreditan salah satu jurusan di kampus ini. Tulisan tersebut ditulis pada tanggal 19 Agustus 2007, namun kemudian dihapus dan disubstitusi menjadi ‘Pernyataan Permohonan Maaf’ pada tanggal 22 Agustus 2007. Salinan tulisan asli dapat dilihat di blog milik M. Fahmi Aulia.

Yang ingin saya bahas di sini bukanlah unsur-unsur intrinsik tulisan tersebut, tapi perbincangan yang terjadi setelah saya melemparkan topik ini kepada teman-teman sebagai bahan rumpi diskusi.

Apalagi pilihan keduanya dia milih jurusan kelas menengah ke bawah… P********..


*dalam perbincangan ini, persepsi tentang frase ‘menengah ke bawah’ adalah jurusan dengan passing-grade rendah*

Hmm, jika jurusan yang menurut saya cukup ‘berkelas’ saja dianggap sebagai ‘jurusan kelas menengah ke bawah’, lalu bagaimana dengan jurusan saya? Mungkin akan dianggap sebagai ‘jurusan yang sangat rendah dan terseok-seok’.

Tapi emang bener sih, jurusan itu emang kelas menengah ke bawah.

Komentar itulah yang terucap oleh seorang mahasiswa jurusan Teknik S**** angkatan 2004. Mendengar jawabannya yang lugas dan blak-blakan, iseng-iseng saya kemudian bertanya tentang ‘status’ jurusan saya di mata dia, apakah senasib dengan jurusan P, ataukah mungkin lebih buruk.

Lu mau jawaban jujur apa pura-pura?


Jujur.

Jujur sih, iya.


Oke. Sekarang coba beri alasan mengapa jurusanmu berstatus ‘menengah ke atas’.

Karena para lulusan jurusan kami akan sangat berguna dalam membangun bangsa, dan yang lain tidak.


Membangun bangsa? Ya, ya, membangun bangsa. Oke. Terus terang saya geli mendengar jawabannya. Percaya diri sekali calon insinyur yang satu ini. Apa dia tidak pernah mengetahui betapa rumitnya definisi ‘pembangunan Indonesia’? Apa menurut dia pembangunan terbatas pada pembangunan gedung-gedung, jembatan-jembatan, atau infrastruktur lain yang notabene mereka kuasai secara teknis? Apa dia tidak mengetahui eksistensi disiplin-disiplin ilmu lain seperti hukum, ekonomi, dan politik? Apa dia tidak mengetahui bahwa lulusan ITB hanya akan menjadi kuli dalam pembangunan bangsa?

Mental membangun, mental merusak, mental menjatuhkan, mental Orde Baru.

Ya, memang benar setiap orang berhak menyuarakan pendapatnya. Jika boleh membanding-bandingkan antar lulusan jurusan, saya juga punya pendapat. Dalam penilaian saya, profesi yang lebih berguna dan lebih worth to exist adalah profesi yang tidak merusak lingkungan, buka profesi pembangun dan perusak lingkungan. *jangan panas, ingat, ini hanyalah pendapat pribadi*

Bocah bermental Orde Baru ini ternyata tidak berbeda dengan mahasiswi yang secara terang-terangan menulis tentang ketololan jurusan lain di blognya: masih melihat dunia dengan kacamata kuda. Parahnya lagi perilaku ini dibarengi dengan chauvinisme: merasa jurusannya sendirilah yang paling superior. *kalo bahasa iklannya sih “Yang lain nothing”*

Kurang bergaul dan sok tahu. Menurut saya kedua anak bangsa tersebut pantas diberi cap ini. Mereka terlalu cepat mengambil kesimpulan tanpa mengumpulkan data secara lengkap terlebih dahulu. Saya jamin, mereka pasti tidak akan percaya cerita tentang seorang pemulung yang menjadi milyarder, karena otak mereka tidak akan sampai pada pemikiran itu.

Ternyata kampus ini berisi mahasiswa ber-IQ ‘loncat’ tapi ber-paradigma ‘jongkok’ terhadap pluralitas.

————————

Update:

Setelah tadi berbincang-bincang dengan Aan (Fisika ’99), ternyata yang dimaksud dengan ‘jurusan menengah ke bawah’ dalam tulisan tersebut adalah ‘jurusan yang diincar oleh kaum berstatus ekonomi menengah ke bawah’. Dalam pandangan masyarakat kampus, lulusan Teknik P******** memiliki kesempatan besar menduduki jabatan ‘pengambil keputusan’ dalam pemerintahan.

Tapi karena terlanjur sudah ditulis, yo wis lah rapopo.

30

OHU ITB 2007: Berbeda Itu Indah


Bandung, 18 Agustus 2007

Hola… tukang foto amatiran datang lagi… kali ini event yang menjadi objek penderita adalah Open House Unit ITB 2007 dengan tema Satu ITB Bias Kreasi.

Ada yang bisa kasih tau gua arti dari frase “bias kreasi” ga? Soalnya gua ga ngarti yeuh… maklum lah gua kan bukan AGI (Anak Gaul ITB, halah…).



Kalo diliat dari posternya sih, kayanya acara ini bakal diantusiasi (maksa-red) oleh para mahasiswa, baik mahasiswa baru angkatan 2007 yang masih fresh-from-the-oven, maupun mahasiswa bulukan-si-koboi-kampus-yang-jadi-macan-kampus-dan-ga-lulus-lulus. Soalnya, terus terang aja gua sebagai orang awam menilai poster ini sangat menarik, so eye catching.

Adalah kurang baik jika kita membanding-bandingkan yang ada sekarang dengan yang dulu. Tapi berhubung gua bukan orang baik, maka gua akan membanding-bandingkan OHU tahun ini dengan tahu kemarin, hahaha… Dibandingkan dengan event serupa tahun kemaren, over all gua menilai OHU tahun ini lebih baik. Cuman satu aja yang kurang: ga ada bintang tamunya T_T (kecuali kalo OSD dianggap sebagai bintang tamu) *gosipnya sih katanya mau ngundang Mocca tapi ga jadi*

(klik pada gambar untuk melihat gambar yang lebih besar)



Daftar menu dan maskot gurita hejo di deket jam Ganesha


Dekorasi Sunken Court *keren euy…*

Gua suka banget dekorasi OHU tahun ini. Selain karena ada bendera-bendera merah-putih di kampus, tema dekor OHU kali ini adalah dunia laut. Hohohoho… serasa di Bikini Bottom *Hai Patrick, saatnya menangkap ubur-ubur*.. Lucu banget, ada ikan-ikannya, kepiting, penyu, dan gurita. Tapinya lautnya ga lengkap, soalnya ga ada teripang, kuda lalut, dugong, ubur-ubur, terumbu karang, ganggang, dan anemon lautnya.. *nya heueuh atuh da ieu mah lain pelajaran biologi.. ari siah…*


Under the sea



Nangkep ikan paus

Bukan OHU namanya kalo ga ada stand unit-unit mahasiswa. OHU adalah satu-satunya event di ITB yang merupakan ajang pamer dan unjuk gigi kebolehan masing-masing unit. Maka tak heran, setiap unit akan menghias standnya habis-habisan agar terlihat menarik sehingga dilirik oleh para mahasiswa baru (siapa tau juga bakal terpilih sebagai stand terbaik..).

*pembahasan dimulai dari unit gua dulu lah ya: KMPA si unit caur dan ga tau malu*



Stand KMPA: teuteup narsis sama perahu


“Tukarkan 7 seri leaflet ini dengan hadiah menarik”
(padahal mah serinya cuman ada 6, hahahaha…)


(Depan) stand Hoki: “gaya gua keren ga?” kata Fazlur


Stand Radio Kampus: Universitas Negeri Bandung *jadi inget Jomblo*


Stand URPA: Captain Jack Sparrow


(Depan) stand Tae Kwon Do: Sandi menendang papan kayu


Stand Menwa: prajurit-prajurit bahagia


Stand PSIK: cempor dan leptop, merdeka…!!!


Stand PS: Olivia dan She’s the Man


Stand U-Green: gua suka kata-katanya, tapi ga suka caranya
*secara material balonnya susah diurai*


Stand Persma: jurnalis itu cerdas


Stand Loedreok: heuhahahahahahaha….


Stand PSTK: ning nang ning dung….


(Depan) stand Capoeira: jungkir balik dari pagi sampe sore


Stand Republik Ganesha: belanja, belanja, belanja…

Setelah keliling-keliling ngeliatin semua stand, ternyata ada beberapa unit yang sama sekali ga gua ketahui keberadaannya di muka bumi ini, yaitu:

1. UKB (Unit Kebudayaan Betawi)
2. UKMR (Unit Kebudayaan Melayu Riau)
3. SAHANG (naon sih SAHANG teh?)
4. Ganesha Bicycler
5. dan masih banyak lagi…

Ari selama 4 taun ini mereka ke mana ya? Sampe-sampe gua ga tau kalo mereka eksis. *eta mah urang na we nu teu gaul, hahaha…*



Stand KMB: kerak telor dan roti buaya *ngeces mode ON*


Stand Ganesha Bicycler: kring-kring… goes-goes…

And here it is some captured actions:



Foto bareng Mala, dua orang berondong, dan pantat orang, hahaha..


Geng PSIK: Hanna, Sawung, Imoth, Oki, Diva, Dati (nyempil)


Geng UKJ: cosplay mode ON


MC-nya gelo


Rampak kendang LSS: lucu banget ^^


Pergelaran tari UKSU: coba cari perbedaan antara kiri dan kanan


Pergelaran tari UBALA: bareureum


APRES: pertunjukan swatonton


MBWG: saking semangatnya simbalnya sampe jatoh, hahaha…


Angel: guk guk guk… slrup slrup….

Satu hal yang paling gua suka dari OHU adalah pergelaran keseniannya. Dari semua pergelaran yang ditampilkan, yang paling gua suka adalah tari piring UKM: baguuuusss banget, dan lucu, soalnya piringnya pada pecah gitu, sampe-sampe gua nontonnya tegang gara-gara takut kelempar piring, hahaha… Sayang banget gua ga punya gambarnya, soalnya kamera Tisyong abis batere *kebanyakan dipake buat foto-foto ga penting sih…*

Selain beberapa tarian daerah, momen yang ga gua jepret adalah penampilan KPA (Kelompok Pencinta Angklung) dan kolaborasi PSIK-LS-Arkarna-ISO-anak2 asuhan Harry Roesli. Pada kolaborasi ini dibacakan puisi-puisi karya WS Rendra oleh Lingkar Sastra, dan kemudian ditutup oleh penampilan band anak jalanan asuhan Almarhum Kang Harry Roesli. Saking hebatnya kemampuan bermain musik mereka, sampe-sampe orang-orang pada terkesima gitu ngeliatnya. Ditambah lagi gitarisnya ganteng… *gimana pada ga terkesima tuh cewe-cewe? hehehe…*

OSD tampil selanjutnya. Karena gua bosen sama OSD, jadi gua tinggalkan saja.

Acara OHU tahun ini ditutup dengan pemasangan puzzle oleh perwakilan unit-unit, salah satunya KMPA. FYI, orang berbaju merah yang maju ke depan saat itu sebenernya bukan anak KMPA. Secara mana ada anak KMPA yang mau susah-susah ikutan puzzle-puzzle-an kaya gini… Udah gua bilang, anak KMPA tuh caur-caur dan ga tau malu… jadi maklumi saja.. :p

Setelah sebelumnya dibacakan doa oleh seorang ikhwan GAMAIS, acara ditutup dengan pergelaran kolaborasi LSS-MGG-KPA. Dan karena batere kameranya Tisyong dah abis, jadinya ga ada fotonya deh… *buat yang punya fotonya, gua minta dong :D*

Tos, tos ah… tos heula… mamangna bade uih.. Jug atuh barudak aruih…

* * *


Apalah artinya event persatuan jika pada diri kita tidak tumbuh semangat bersatu. Sampai jumpa tahun depan, kawan. Tetap jabat erat dan junjung terus persaudaraan…

22

Rima Sok-Jago Ga-Tau-Malu Agustina

Hidup di Jakarta itu susah, lu harus punya duit banyak untuk bisa hidup nyaman.

Hati-hati jalan di Jakarta sendirian. Jakarta itu luas dan padat, salah-salah lu bisa nyasar.


Kalo kedua quote di atas digabungin, kira-kira jadi seperti ini:

Hati-hati jalan di Jakarta sendirian, kalo mau jalan sendirian lu harus bawa duit banyak.


Sayangnya pemikiran ini ga ada dalam otak gua saat memutuskan untuk kembali ke Bogor tanpa-dianterin-sampe-UKI dalam rangka menghadiri nikahan
Pak Obot Surobot. Sebagai penggantinya, otak gua mendikte mulut gua untuk berucap:

“Halah, ke UKI doang mah cincai lah…. Bude ga usah repot-repot nganterin deh… Kemarin juga gua sukses naik angkot dari UKI sampe sini, kagak pake nyasar-nyasar…”

Memang lidah tak bertulang, dan memang sinetron Hidayah tidak akan ada habisnya, dengan episode yang akan segera ditayangkan berjudul “Azab Bocah Sok Jago” hahahahaha…

Kalian pasti setuju dengan gua, bahwa lamanya nyasar berbanding lurus dengan kecepatan habisnya duit dalam kantong. Karena jika kita melewatkan titik berhenti dan baru menyadarinya di tempat yang cukup jauh, mau ga mau kita harus naik angkot lagi ke titik tersebut. Iya gapapa kalo ternyata jalur angkotnya sama, kalo beda kan BERABE.

* * *
Kata Teh Wita, kondangannya cuman dari jam 11 sampe jam 1. Dan berhubung gua adalah tipe orang deadliner, maka sangatlah wajar jika gua berangkat dari Jakarta jam 10 dengan harapan nyampe Bogor jam 11. A.K.A. gua bego banget ga nyiapin waktu cadangan kalo-kalo aja gua nyasar atau mendapat kesulitan lain di perjalanan.

Tapi ternyata Tuhan masih sayang sama gua, karena pada jam 12.45 (15 menit sebelum kondangan bubar) gua berhasil nyampe di BIOTROP. Yess… perjuangan gua ga sia-sia…

Secara gua ga mungkin ke kosan dulu buat ganti sepatu dan nyimpen ransel, akhirnya masuklah gua ke gedung resepsi nikahan pake sneakers dan bawa ransel segede gaban. Dan tentu saja sambil menerima puluhan pasang mata yang menatap gua dengan persepsi rata-rata “Nih orang niat kondangan ga sih?”

Peduli bagong ah.

Tring… tiba-tiba gua dapet ide cemerlang (ga cemerlang sih, biasa aja), yaitu menitipkan ransel di meja mbak-mbak penerima tamu. Sekilas si mbaknya tampak kaget dan kemudian menunjukkan mimik muka keberatan, tapi setelah gua paksa rayu, akhirnya dia mau juga, hehehe…

Kedua mempelai pun akhirnya mendapat ucapan selamat dari gua (penting ya?).

Gua baru kali ini loh ke kondangan sendirian, dan itu rasanya ga enak. Jadi saat itu mata gua langsung belanja dan mencari-cari muka yang gua kenal. Dan didapatlah Mas Syamsu beserta Mbak Tika dan Diva.

Berjarak satu meter dari gerombolan Mas Syamsu yang lagi ngobrol sama Bu Tati, berdiri ibu-ibu alumni Nymphaea angkatan 90-an (gua menyebutnya Geng Nimpea Jebot :p), yang kemudian gua ajak kenalan satu-satu.. hahaha… *ga tau malu mode ON*

Balik dari kondangan gua belanja di Boker (Botany Square), beli Chupa Chup yang terbaru, yang rasa stroberi (halah ga penting). Pas keluar dari Boker dan ngeliat tulisan KFC, kok kayanya gua jadi laper yah? Akhirnya gua makan deh di sana.


Setelah duduk dan makan, gua baru sadar kalo ternyata ada ibu-ibu yang duduk di posisi 270 derajat dari arah gua, dengan arah duduk menghadap gua *yah begitu deh.. ribet emang ngegambarinnya*. So, apapun yang gua lakukan mau ga mau pasti keliatan sama dia.

Dan inilah yang dia lihat: Gua yang sedang memakan lolipop menyimpan baki makanan, kemudian mencuci tangan, kemudian duduk, kemudian menyimpan lolipop di baki, kemudian makan, kemudian minum, kemudian mengambil lolipop dari atas baki, kemudian memakan lolipop kembali, dan kemudian beranjak pergi.

Pasti yang ada dipikiran dia “Ini bocah ga tau malu banget sih”.

Belum tau ya? Sok-jago dan ga-tau-malu adalah nama tengah gua, hahahaha….

8

Obot Surobot vs Adin Suradin

*Sori banget nih Bot, foto lu kagak gua edit dulu sebelum dipamerkan. Secara di kompi gua kagak ada Microsoft Picture Manager apalagi Adobe Photoshop… Nge-resize foto aja gua pake Microsoft Paint (halah halah….)*

12 Agustus 2007

Setelah sempet nyasar-nyasar di kota Jakarta (si kota megapolitan tea), dan berlari-lari dari gerbang Biotrop sampe ruang resepsi pernikahan (karena takut acara nikahannya keburu selesai), akhirnya pada pukul 12.50 WIB gua dapet juga kesempatan buat memotret dua orang yang paling bahagia hari ini.

Inilah mereka…..

OBOT SUROBOT VS ADIN SURADIN

Di dalam ruangan resepsi, gua ketemu sama para ibu-ibu Nimpea angkatan 90-an, hihihihi… Ini dia mereka…

Reuni dan rumpi mode ON

Ini souvenir nikahannya… Setiap makan mie, gua pasti akan mengingat kalian :p

Yah, selamat berbahagia aja lah dari gua. Semoga menjadi keluarga yang bahagia dunia akhirat… Semoga dikaruniai anak-anak yang manis dan pintar…. dan berbakti kepada kedua orang tua (doa standar)… serta dapat lulus kuliah dengan IPK memuaskan supaya gampang ngurus beasiswa S2 ke luar negeri, hahaha… xD (doa yang aneh.. ambisi pribadi ieu mah..)

22

Hepi Bersdey Tu As

*dedicated to people with whom my birthday is had a same day* (sok english mode on)

Yang pertama, masih ingatkah kamu dengan muka ini? Kalo masa kecilnya bahagia, pasti inget deh. Ini adalah Trini, anggota geng Power Ranger yang berkostum kuning, bersenjatakan pisau belati, dan punya piaraan Harimau Sabretooth (halah piaraan…). Kata sahabat gua waktu SD, ulang taun dia sama ma gua. Dia dapet informasinya dari tabloid Fantasi apa Bobo gitu… Tau dah bener apa enggak.

Yang kedua, adalah Tsabat. Sebenernya sih nama aslinya Tsabit, tapi anak-anak kelas manggil dia Tsabat, secara nama Tsabit terlalu bagus buat dia, terlalu mulia. Kalo diliat dari tampangnya, emang sih ada tampang DKM (Dewan K……. Mesjid –> K-nya singkatan apa sih?), tapi ternyata kalakuanna siga ucing garong… Argh, tidak.. bisa-bisanya gua punya temen kaya gini. Nih anak pinter banget.. budak IPA tapi bisa lolos SPMB Akuntansi, sekarang kuliahnya di UNPAD, sigana mah geus lulus. Oiya, dia juga jago gambar loh…

Yang ketiga, adalah beruang lucu yang bernama Dimas. Anak PSIK (baca: anak belakang) yang baru gua kenal setelah kita saling kunjung blog, hahaha… xD (tuh kan, punya blog itu menguntungkan…). Dimas a.k.a Dimsum adalah koboi kampus senior gua. Sekarang sedang menjalani masa kritis di mana dalam semester ini dia DIPAKSA mengambil kuliah beberapa SKS sajah… *dosen sipil kejam-kejam ya Dim?* Sing sabar nya bro… ntar kita lulus bareng ya, hihihi… *biar gua dibilang keren bisa lulus bareng anak 2002, hahahah… xD*

Yang keempat, Bayu Aji. Aji adalah senior KMPA angkatan ’97. Semasa kuliah pernah jadi Kahim HIMAFI *wa… keren euy* Pertama kali gua ketemu Aji pas pendakian Gunung Gede (pengalaman pertama naik gunung nih) bareng Dede, Merin, Mbak May, dan Mas Fufu.

Jadi inget, waktu itu gua bawa semangka sampe puncak, sumpah kerir gua berat banget T_T. Secara ga mungkin tuh semangka dibawa sama orang-orang tua. Mau nyuruh si Dede juga ga tega, masa anak kecil gitu disuruh bawa semangka, ntar kalo tepar gimana? Akhirnya gua deh yang jadi korban T_T

Dan pada pendakian pertama itu kita berhasil membuat para pendaki lain mupeng karena kita makan semangka di atas puncak, hahahahah.. xD

Yang kelima, Amran Jreng-jreng, anggota MAPALA UI angkatan 19** (gua ga tega nyebutinnya, hahahaa…). Kalo sama Aji gua kenalnya pas naik Gede, gua kenal sama Amran pas pendakian Pangrango. Manusia narsis, tapi suka malu-malu babi, padahal semua orang di dunia ini tau kalo dia tuh ga tau malu, hehehe….

Hmmm… apa lagi yang bisa ditulis ttg Amran? Oiya, kapan kirim undangan? Dan kapan main ke Bandung lagih? Dirimu sudah janji loh…… xP

SELAMAT ULANG TAHUN SEMUANYA… 😀