19

Obrolan Seenak Perut


*sori nih, rada-rada vulgar… gua sih pengen ngangkat sisi lucunya aja*

Biasa lah… kalo anak-anak jurusan gua udah pada ngumpul di kosan Novi, hal yang dilakukan selain makan, teriak-teriak, dan main kartu adalah ngerumpi. Tentu saja, hahaha..

Rumpian hari ini adalah tentang tragedi p*rkosaan mahasiswi gajah duduk beberapa bulan lalu. Entah gimana caranya rumpian ini bisa terangkat, pokonya tiba-tiba Imoth angkat bicara soal ini..

Iyaaa… jadi si anak yang dip*rkosa itu akhirnya ngundurin diri deh dari kampus.. kasian ya..

Emang dip*rkosanya di mana sih? Sama siapa?

Katanya sih sama tukang angkot gitu.. di depan BATAN..

Haaaah… kok bisa sih?

Tau tuh.. si anaknya abis ospek kali.. apa begimana..

Lagian, hare gene apa sih yang ga bisa? Secara depan BATAN tuh kan emang sepi banget. Gua aja kalo pulang tengah malem suka serem pas lewat sanah..

Duh.. gua jadi ikutan serem nih..

Ah elu mah, yang ada juga lu yang ngegodain tukang angkotnyah..

Heh, serius nih gua.. takut beneran nih..

….

Berarti asik ya jadi tukang angkot.. Ah gua mau jadi tukang angkot ah..

Kesimpulan yang aneh..

Iya nih, kesimpulan yang aneh..

Ah, ribet amat sih lu pengen gituan aja mesti jadi tukang angkot..

Ya udah deh, gua mangkal di depan BATAN aja deh kalo gitu..

Yah, nanti ketemu si XXX dong..

“Loh, kok kamu ada di sini..?”

“Iya, kok kamu juga ada di sini sih?”

Hahahahahahaha….

Hahahahahahaha….

Hahahahahahaha….

Hahahahahahaha….

Hahahahahahaha….

Hahahahahahaha….

149

ITB VS GA MAU SEBUT MEREK


*syarat dan ketentuan: bacalah tulisan ini secara lengkap atau tidak sama sekali*

Walaupun bisa dikatakan bahwa saya adalah penulis spesialis hal-hal ga penting dalam dunia blogging, saya masih bisa membedakan antara tulisan ga penting dengan tulisan ’ga penting’. Lalu kalau saya ditanya tentang status tulisan ini, maka saya akan menjawab “ini adalah tulisan ‘ga penting’ yang merupakan tanggapan atas tulisan ‘ga penting’ lainnya.”

Tujuan saya menulis tulisan ini adalah sekedar memberi tanggapan atas tulisan seseorang di blognya yang berkomentar tentang sifat-sifat mahasiswa ITB yang kemudian berujung pada pembandingan mahasiswa ITB dengan mahasiswa di perguruan tinggi tempat beliau menuntut ilmu.

Sebut saja nama perguruan tinggi tersebut “Ga Mau Sebut Merek” (GMSM). Saya memang ga mau sebut merek orang, karena saya juga ga suka merek saya disebut-sebut pada sebuah tulisan yang hanya bersifat opini dan berstatus ‘tidak penting’.

Tempo hari saya secara tidak sengaja menemukan sebuah tulisan dengan judul Pendapatku Tentang Anak ITB tertanggal 7 September 2007. Saya rasa saat mempublis tulisannya, si penulis baru saja mengunjungi blog seorang mahasiswi ITB yang memang sedang banyak diperbincangkan pada saat itu.

Terlepas dari apakah beliau (si penulis—mahasiswi GMSM) bereaksi setelah membaca tulisan tersebut atau tidak, saya sangat setuju dengan apa yang beliau tulis: tentang mahasiswa ITB yang narsis, sombong, konsumtif, tidak melihat kemampuan lawan, tidak menghargai jurusan lain dan perguruan tinggi lain, dll dsb…

*Sebenarnya banyak yang kurang tuuuuh… *

Mahasiswa-mahasiswa ITB itu banyak yang autis dan bertindak seperti orang autis. Anak-anak ITB hobi banget protes (contohnya diusir sama satpam kampus aja protes). Anak ITB banyak yang males-malesan dan akhirnya lulus lebih dari 4 atau 5 tahun atau bahkan di-DO. Anak ITB suka mencontek saat ujian, saat praktikum, dan bahkan saat membuat laporan. Anak ITB merasa sakit kakinya jika menginjak duri. Anak ITB juga merasa lapar saat lambungnya tidak terisi makanan pada waktunya.

Do you get what I mean? Anak ITB juga manusia. Bernapas, bergerak, punya emosi, punya sifat narsis. Kalo ga gitu bukan manusia namanya. Saya juga kurang suka orang congkak, tapi khusus bagi orang-orang congkak yang pintar, saya menanggapinya dengan “tidak ada manusia yang jenius di bidang IQ dan EQ sekaligus”. Gitu aja kok repot. Lagipula, menurut saya sih wajar saja bagi seseorang yang pintar untuk bersifat congkak. Yang tidak wajar adalah orang bodoh yang congkak.

Ngomong-ngomong masalah congkak, toh pada tulisan tersebut pada akhirnya juga terdapat unsur narsisisme yang sangat kental. Jadi sebenarnya pada tulisan itu si penulis sedang menceritakan dirinya sendiri.

Dari tulisan tersebut kemudian munculah komentar-komentar baik dari mahasiswa-mahasiswa tersindir mau pun dari para pendukung si empunya blog. Tapi tampak damai-damai saja tuh.. secara anak-anak ITB yang komen di situ hampir semuanya muna… alias tepu… alias bermuka dua, hahahaha… Setidaknya inilah yang diakui oleh dua orang pemberi komentar tulisan tersebut. Yah, minimal dari serentetan sifat jelek yang sudah terpatri pada diri mahasiswa ITB, terselip sebuah sifat mulia, yaitu tidak mau membuat panas blog orang…

Berangkat dari tulisan sebelumnya, si penulis kemudian membuat sebuah tulisan lainnya berjudul Pendapatku Tentang Anak GMSM tertanggal 9 September 2007. Pada tulisan ini si penulis menjabarkan poin per poin tentang kelebihan yang dimiliki para blogger GMSM. Walaupun tulisan ini hanyalah sebuah deskripsi di mana terdapat sangkalan “saya tidak sedang membanding-bandingkan GMSM dengan ITB kok”, tapi tetap saja secara tersirat tulisan itu sarat akan nilai-nilai pembandingan.

Saya asumsikan tulisan tersebut adalah pembandingan. Jika ternyata bukan, ya maap-maap aja dan anggap saja tulisan di bawah ini hanyalah sebuah tanggapan yang merupakan buah dari salah asumsi. Saya juga akan tulis poin per poin:

*Saya pernah belajar statistik, tapi saya tidak suka kuliah itu, jadi saya tidak ingat istilah-istilah yang pernah diajarkan di dalamnya. Pokoknya ada salah satu teori logika yang menerangkan tentang “jika tidak 1 maka 2” seperti dalam kasus “jika dia bukan perempuan maka dia laki-laki” (maaf bencong ga diitung). Logika semacam ini lah yang saya gunakan sekarang.*

1. Banyak, bahkan hampir semuanya (Insya Allah) alim. Karena banyak postingan di blog yang disangkutkan ke agama. Alhamdulillah..

Silogisme
: Anak ITB kurang alim ditinjau dari tulisan-tulisan di blognya yang tidak berbau agama.
Tanggapan: Mungkin beliau belum pernah melihat blog ini, ini atau yang ini. Memang sih lebih banyak persentase blogger ITB yang bejat (contohnya saya, haha..) dibanding blogger yang alim. Tetapi walaupun begitu, adalah terlalu dini untuk menilai kealiman seseorang ditinjau dari konten blog. Dunia ini luas, dan isinya sangat beragam untuk dipelajari dan dibahas. Dan saya rasa semua orang punya hak untuk memilih topik apa yang paling disukainya untuk dibahas lebih lanjut dalam otaknya juga dalam blognya. Bukan berarti orang Jawa harus selalu menulis tulisan dalam Boso Jowo kan? Dan bukan berarti pula orang alim harus selalu menulis tentang agama.

2. Banyak yang berstatus aktivis, yang menceritakan kegiatan mengurusi organisasinya. Hehe, kebetulan aja blogrunningnya kepleset ke blog anak-anak aktivis.. Bahasa aktivis kan beda, berkoar-koar.. Hihi, MANTAB lah..!

Silogisme:
a. ITB miskin aktivis, dan kalopun ada ga ada yang nulis blog.
b. Ga cuman ITB doang loh yang aktivisnya ngeblog…
Tanggapan:
a. ITB memang miskin aktivis dibandingan satu dekade lalu. Hal ini disebabkan oleh kebijakan kampus yang ‘merugikan’ aktivis. Juga karena memang terjadi penurunan kualitas mahasiswa ITB dari tahun ke tahun. Tapi masih ada kok sisanya. Coba lihat blognya Ijul (ketua KM ITB), Sawung (mantan ketua PSIK), Oki (si 232 yang cinta perdamaian dan kelestarian lingkungan), dan Gerry (si aktivis muda dengan semangat membara). Atau buka ini dan ini aja sekalian..
b. Ya bagus lah…

3. Topik seputar IT ditulis sederhana, singkat, dan manfaatnya lebih terasa karena menggunakan bahasa yang lebih manusia. Kalau anak ITB (rata-rata) tulisannya ‘niat’ (panjang-panjang) dan menggunakan bahasa yang terlalu bahasa robot dan bahasa mesin, juga tidak ada penjelasan lebih lanjut tentang bahasa mesin tersebut. Ada disuruh ngeklik ke wikipedia, ya ogah..

Silogisme: Anak ITB nulis pake bahasa planet X, dan menjadi semakin buruk karena tulisannya panjang dan suka ngelink-ngelink ke wiki.
Tanggapan:
Saya bukan penulis topik-topik IT, jadi no comment lah masalah IT. Masalah panjang-enggaknya mah masalah selera aja. Mungkin selera anak ITB tuh yang komplit, yang kompre, dll. Ya mungkin ada blogger yang nulisnya pake bahasa planet X. Tapi itu hanya sebagian kecil saja.. cuman yang lagi ngomongin masalah-masalah di planet masing-masing. Mungkin kamu belum pernah buka blog saya ya… atau blognya Imoth, atau Adita Nanda, atau dik Baim, atau Jubel, atau si Benx, atau blognya Adithya Mulya aja tuh sekalian… kan dia alumnus ITB juga.. Tulisan kami emang relatif panjang, tapi kami pake bahasa manusia kok.. 🙂

Masalah suka ngelink-ngelink ke wiki dsb menurut gua sih karena “kalo emang kita mau membahas tentang sesuatu yang lebih advance, ngapain juga susah-susah pake ngajarin dulu materi dasar”. Ya kalo emang ternyata si pembaca belum mengerti materi dasar dari apa yang sedang dibahas, artinya orang itu bukan sasaran publisitas tulisan tersebut. Tulisan kanji diperuntukkan untuk orang yang bisa baca kanji, dan tulisan berbahasa planet X juga ditujukan kepada orang yang mengerti bahasa planet X. Semuanya punya pangsa pasar masing-masing.

Masalah beda cara pandang aja kayanya ini mah…

4. Tidak memasang atribut GMSM di blognya. Berbeda sekali dengan (beberapa) anak ITB yang blognya berisi banyak banner ini-itu bertuliskan dan bergambarkan kampus gajah duduk.. Gimana nih, apa kita (anak GMSM) perlu bikin banner GMSM? Agar mudah diidentifikasi? Hahaha.. Narsiis..

Silogisme: Anak ITB memiliki ‘banner blog almamater’ sehingga dinilai narsis dan congkak.
Tanggapan: Sebenarnya saya ga tau banner apa yang dimaksud oleh si penulis. Sejak kapan blogger ITB punya banner yang ada logo gajah duduknya dan bertuliskan ‘ITB’? Emangnya ada ya? Saya pernah sih melihat banner HME sama KMPA (itu pun cuman foto) di blog milik dik Gustaf. Itu kali ya maksudnya..

Atau jangan-jangan yang dia maksud dengan banner gambar gajah duduk tuh ini ya? Ga mungkin lah.. dah jelas-jelas itu mah gambar, bukan banner.

Atau mungkin yang beliau maksud adalah tulisan ‘ITB’ seperti yang tertulis di sidebar kanan blog saya ini? FYI ajah, saya nulis ‘ITB’ di situ hanyalah sebagai identitas, yang mungkin akan berguna bagi pembaca blog ini untuk lebih memahami sudut pandang saya sebagai penulis. Lagipula saya ga suka ngaku-ngaku ITB… kata ‘ITB’ di situ tertulis dengan terpaksa karena merupakan bagian dari nama instansi tempat saya bernaung. Mosok saya harus tulis KMPA ‘Ganesha’ Kampus Gajah Duduk? Aneh lah jadinya…

5. Hampir semua anak GMSM terbiasa dengan yang namanya Dorama, Anime dan hal-hal seperti itu.. Hahaha..

Silogisme:
a. Anak ITB cupu banget dan ga gaul tentang anime, dorama, dll
b. Ga cuman anak ITB aja loh yang tahu banyak dan freak tentang anime, dorama, dll
Tanggapan:
a . Mungkin beliau mengetahui tentang keberadaan forum Rileks di ITB, tapi mungkin beliau belum pernah masuk dan berenang-renang di dalamnya. Mungkin beliau juga tidak mengetahui eksistensi unit kegiatan mahasiswa bernama UKJ, yang isinya jurig anime semua, bahkan beberapa di antaranya merupakan cosplayer.
b. Ya bagus lah…

6. (Beberapa) Statistik blog-nya relatif masih dikit dibandingkan dengan punya (beberapa) anak ITB.. Anak ITB rata-rata sudah mencapai ratusan ribu lhoh.. Komunitas Blogger GMSM masih punya satu kekurangan (Apa cacat yah? Nggak lah.. hihi) yaitu masih belum adanya Blog Agregator..! Satu hal yang penting banget, agar nulis blog tidak untuk dikonsumsi pribadi (hingga menyebabkan Blog-Stat hanya dikit). Hehe.. Alias agar semua orang sesama GMSM (mahasiswa, alumni, dan –kalau perlu- dosen) bisa menikmati ‘makanan’ tersebut dengan mudah.

Silogisme: Traffic blog anak-anak ITB rame karena punya blog aggregator.
Tanggapan: Menurut saya blog yang ramai dikunjungi oleh orang lain adalah bukan semata-mata karena dia terdaftar sebagai anggota blog aggregator ini atau itu, tapi dari kualitas blog itu sendiri. Kalau emang blognya ga berkualitas, mau ikutan sepuluh blog aggregator juga ga akan dilirik orang.

Saya berani bilang gitu karena saya merupakan anggota blog aggregator di tukangkomentar dan biophilia. Tapi berdasarkan fakta, pengunjung blog ini sebagian besar adalah teman-teman saya di dunia luar sana, yang sama sekali bukan sasaran dari kedua blog aggregator yang saya ikuti. Blog aggregator hanyalah sebagai pendukung, bukan sebagai faktor utama tingginya traffic blog yang bersangkutan.

Ada yang jumlah pengunjungnya sampai ratusan ribu? Siapa? Emang ada ya anak ITB yang sehebat itu? Salah liat angka kali…

Lagian kalo ngiri ya bikin sendiri lah.. Gitu aja kok repot.

* * *


Sekian tanggapan saya. Ada komentar tambahan? Atau mungkin ada sanggahan?

Saya menulis ini sambil ketawa ngakak… Lucu aja..

25

Kampus ITB Kini Milik Satpam


*ini postingan kedua hari ini, ga biasanya gua posting dua kali dalam sehari*

Langsung aja lah, ga usah banyak cingcau…

Jadi hari ini gua datang ke kampus dengan niat ingin mengerjakan TA di lab. Gua pikir mungkin hari ini kampus sedikit lebih ramai, karena walaupun masih berstatus sebagai hari cuti bersama, tapi hari ini bukan tanggal merah.

Seperti biasa, gua masuk kampus lewat gerbang belakang. Saat hendak masuk kampus, terlihat seorang satpam muda sedang menghadang dua orang paruh baya untuk masuk kampus. “Oh, hari libur gini orang luar dilarang masuk” pikir gua. Maka gua pun dengan pede bilang “Permisi Pak, saya mau masuk” kepada satpam tersebut.

Tapi dong…. ternyata si satpam itu juga menghadang gua dengan tangannya, sambil berkata “Mau ngapain, dek?

Menurut loooo…..? Menurut lo mahasiswa ke kampus mau ngapain sih? Kalopun emang gua dateng ke kampus buat ngerjain kegiatan yang bukan mahasiswa, terus kenapa?

Mau ke lab Pak.. mau ngerjain TA

Mana surat ijinnya?

Ada di lab Pak, disatuin sama surat ijin anak-anak lain yang mau TA

Ya udah, sana ambil dulu surat ijinnya, nanti ke sini lagi ya.. Siapa nama kamu?

#$%*&^*&^%^&$^&%$)(*)(&#!!!”

*sepuluh menit kemudian*

Nih, Pak..!! Surat ijinnya..” “Puasssss….?

Ya sih sekarang udah bukan bulan puasa, tapi emangnya bolak-balik gerbang-lab-gerbang tuh ga capek apa? Oke lah, ga capek.. tapi kan butuh energi juga.. mana panas lagi.. mana pake sewot lagi..

* * *

Sorenya, saat gua melintasi kembali gerbang belakang untuk pulang, gua ketemu sama anak UKIR yang juga mau ke gerbang belakang. Katanya dia mau ngasihin barang ke temennya yang ga bisa masuk ke kampus gara-gara ga punya surat ijin. Jadilah mereka melakukan ‘transaksi’ dari dalam ke luar kampus via jeruji gerbang.

Temen gua yang satu lagi juga cerita, katanya hari ini temennya manjat pager gara-gara ga boleh masuk. Kayanya besok gua manjat juga ah, daripada harus bolak-balik gerbang-lab-gerbang.. xD


Tah papa ini.. satpam kampus ini makin lama makin parah aja..
Sejak kapan mahasiswa di kampus ini dilarang masuk oleh satpam?
3

Bawa Kempis? Why Not?


Orang mengangkut sampah botol kemasan air minum

*Saya hampir lupa bahwa hari ini adalah Blog Action Day. Setelah googling, Saya kemudian menemukan sebuah topik yang cukup unik, penting, dan terabaikan*

Pernahkah kamu bayangkan berapa jumlah botol air minum dalam kemasan yang kamu konsumsi selama hidup? Pernahkah terbayang pula bagaimana nasib botol-botol itu sekarang? Saya berani bertaruh, pasti tidak pernah. Karena ukurannya yang relatif kecil dan harganya yang relatif murah, botol minuman memang jarang diperhatikan ‘kehidupannya’ oleh si empunya.

Menurut situs Union of Concerned Scientist, dibutuhkan sekitar 1,5 juta barel minyak bumi (cukup untuk menjalankan 100.000 mobil selama setahun) untuk menghasilkan botol-botol plastik di Amerika Serikat, dan untuk mendistribusi botol-botol ini dibutuhkan ribuan galon BBM tambahan. Selain itu pembakaran bahan bakar fosil untuk menjalankan mesin produksi memiliki peran dalam percepatan pemanasan global karena menghasilkan emisi gas rumah kaca ke atmosfer.

Berkembangpesatnya produksi air dalam kemasan menyebabkan turunnya kadar air pada tanaman yang hidup di area penyedotan. Hal ini akan berpengaruh kepada petani dan konsumen tanaman tersebut. Untuk menghasilkan 1 galon air dalam kemasan, 2 galon air terbuang untuk proses purifikasi (pemurnian). Betapa mubazirnya sistem ini.

Permasalahan tentang air minum dalam kemasan tidak terbatas pada proses produksi, tetapi juga pada tahap pascakonsumsi. Seperti yang kita tahu, plastik membutuhkan waktu ribuan tahun untuk dapat terdegradasi oleh mikroba dekomposer. Dan dalam kurun waktu tersebut Bumi harus menampung berton-ton sampah botol tersebut dengan segala resiko racun yang akan diserapnya.

Lalu langkah konkrit apa yang bisa kita lakukan?


Hindari sebisa mungkin membeli air minum dalam kemasan. Usahakan membawa air minum sendiri dari rumah
dengan menggunakan tempat air minum khusus atau botol minuman bekas. Jika di kampus kita disediakan air tap, manfaatkanlah fasilitas tersebut sebaik mungkin. Air tap sangat aman untuk dikonsumsi karena telah melewati uji klinis.

Selain berkontribusi terhadap lingkungan, dengan membawa air minum dari rumah, kita juga bisa menghemat uang jajan.. 😀

*Saya jadi ingat kempis (tempat minum) Saya waktu TK.. yang warnanya pink.. :D*

98

Sindangkerta: Antara TA, Surga, dan Narsisisme

Akhirnya… setalah menunggu selama 8 bulan lebih karena pengerjaan konsep, akhirnya hari ini gua kembali ke pantai ini. Horeeee….

* * *

14 September 2007

Perjalanan dimulai pukul 11.30 dengan start keberangkatan dari lab. Sebenernya rencananya sih berangkat jam 9. Gara-gara si Depe ngebatalin diri mau ikut tapi ga bilang2 nih, jadinya waktu kita terbuang percuma.. Secara kita jadi ngaret gara2 nungguin dia.

Pukul 15.00 gua dan Lerry tiba di terminal Tasikmalaya. Gua sempat tercengang, karena ternyata terminal di kota ini sangat bersih dan bagus. Lerry bilang terminal ini seperti bandara. Terminal di Bandung kalah deh pokonya :p

Ternyata bus menuju Cipatujah baru akan berangkat pukul 17.00… alamakjang…

* * *

15 September 2007

Pertempuran dimulai pagi siang ini. Secara pada tanggal ini zona intertidal masih tergenang oleh air pasang pada pagi hari, maka anveg dilakukan pada siang hari. Selama pengerjaan TA di site, kami dibantu oleh seorang petugas suaka margasatwa bernama Hendri, yang kami kira baru lulus SMA tapi ternyata umurnya udah 26, hihihihi…

Peralatan tempur

Jalan yang harus dilewati sejauh 2 km dari homestay menuju site

Ini nih yang namanya padang lamun… objek penelitian gua..

Ini plotnya…

* * *

16 September 2007

Agenda hari ini adalah ngelanjutin anveg kemarin dan latihan pengamatan penyu buat besok. Sebelum ke site, gua poto2 dulu si tukik-tukik lucu ini..

Ah ah ah… gua mau dipoto..

Tukik-tukik dan sandal jepit

Belajar ngamatin penyu

Sambil nunggu air surut, Hendri mengajak kami untuk berkeliling melihat jenis-jenis ikan hias yang ditangkap oleh nelayan dan dipejualbelikan secara lokal. Sayangnya ikan-ikan hias yang ada di tempat penampungan mati sejak kemarin gara2 mati listrik. Katanya ikan hias karang tuh ga tahan kalo ga pake aerator.

Ini dia ikan yang tersisa..

Ikan Gogot, salah satu jenis ikan di game Feeding Frenzy, hehehe.. 🙂

Terumbu karang dalam ember, siap dijual.. kasihan kali kau nak..

Abis jalan-jalan, kita kembali ke site. Sebelum memulai anveg lanjutan kemarin, kami main-main dulu di pantai.. Saat air surut kita bisa liat terumbu karang dengan jelas loh..

Seperti sawah

Waaaa… keren ya…

Siput laut sedang menyantap Ulva sp.

Waaa… Scorpion fish..!!!

* * *

17 September 2007

Hari ini agendanya pengamatan perilaku dan intensitas kemunculan penyu saat air pasang, abis itu pulang ke Bandung.. asik.. asik.. asik..

Paginya sebelum pengamatan, Hendri mengajak kami untuk ikut melepas tukik ke laut. Harusnya sih jadwal pelepasannya minggu depan, tapi berhubung minggu depan gua dan Lerry ga ke sini lagi, jadinya dilepasnya hari ini deh.. hehehehe…

Sang penyelamat penyu

Karapas Penyu hijau (Chelonia mydas)

Ini plastronnya..

Ayo.. ayo.. berbaris yang rapi ya anak-anak..

Ayo kejar ombaknya…!!! Selamat jalan Jack and Sally… 😦

Plang Suaka Margasatwa Sindangkerta

Siangnya, saat gua dan Lerry hendak menuju site, ternyata tempat penangkaran sedang dibersihkan. Gua dan Lerry kemudian mengendap-endap masuk ke dalam, dan menemukan mahkluk-makhluk ini…

Yang coklat adalah Penyu hijau normal dan yang putih albino.. katanya si penyu albino ini ga bisa hidup normal di laut, makanya setelah setahun lalu dilepas, dia kembali lagi ke darat dan ‘memilih’ untuk dipelihara manusia saja..

Tukik-tukik Penyu hijau yang imut-imut… Yo oloh lutuna..

Penyu sisik yang sedang murung

Abis dari curi-curi masuk tempat penangkaran, kami menuju site untuk mencatat perilaku dan intensitas kemunculan si penyu. Waktu yang paling tepat untuk melihat penyu adalah saat air sedang pasang secara maksimal. Dari satu tarikan ombak, kemunculan penyu bisa mencapai 25 kali.. wew.. fantastis…

Ini nih keadaan saat air pasang..

Setelah mencatat apa yang perlu dicatat, kami pulang ke Bandung. Dan berhubung ini adalah blog narsis, maka gua tutup postingan ini dengan foto ini, hahahahaha….

Karena narsis adalah nama tengah kami, ahahahahaha…. xD

*harap maklum lah…*


SAMPAI JUMPA…!!!!

* * *

Catatan perjalanan Bandung – Sindangkerta (siapa tau ada yang butuh)

11.12 – 11.30 Kampus – Terminal Cicaheum (Rp 3000,00)

12.45 – 15.00 Terminal Cicaheum – Terminal Tasikmalaya (Rp 15.000,00)

17.00 – 20.30 Terminal Tasikmalaya – Cipatujah / Sindangkerta (Rp 20.000,00) [hanya beroperasi pukul 07.30 dan 17.00]