6

Dikung Lebih Homo di Dunia Nyata

Hoh, ternyata terbukti, memang pengunjung blog ini kurang suka dicekokin sama tulisan-tulisan serius, atau at least tulisan yang ga terlalu serius tapi ditulis secara serius a.k.a. sesuai EYD. Gua jadi males pake gaya bahasa sok EYD, jadi berasa bukan gua. Maka dengan ini gua putuskan untuk kembali ke tabiat lama: nulis ga sesuai EYD.

Tau ga, tadi gua ke UNPAR loh. Ceritanya mau nonton talkshownya si Dikung. Awalnya rada males sih, soalnya gua ga tau sama sekali di mana posisi si Dikung bakal talkshow di UNPARnya. Saking butuhnya kejelasan tentang posisi tersebut (jangan bayangin posisi yang nggak-nggak ah -_-), gua sampe nge-sms Dikung pagi ini untuk nanyain itu. Gua tau nomer HP-nya Dikung loh, soalnya Dikung pernah ngirimin gua imel dan ngasih tau nomer. *ceritanya gua lagi pamer nih, jadi bagi para penggemar Dikung, silahkan iri sambil nangis-nangis darah, hahahahaha (ketawa setan)*

Tapi Dikung ga bales sms gua. Hiks.

Gua dan si pacar nyampe di UNPAR jam 13.10 WIB, sesuai dengan informasi yang ditulis di sini bahwa acara akan dimulai jam 13.00 WIB. Gila, gua tepat waktu banget ya..? Hohohoho.. *tepat waktu dari Hongkong*

Ya sih kita liat posternya, tapi kita ga liat ada kerumunan orang yang lagi talkshow di sekitar poster itu. Mahasiswa-mahasiswa yang lagi seliweran di sana juga ga tahu menahu tentang talkshow ini. Untungnya ada mas-mas penjaga parkir yang ngasih tau kita, itu pun pake kata “mungkin”, hahaha..

Ternyata talkshow ini merupakan bagian dari rangkaian acara “Pameran Pendidikan 2008” atau apalah namanya, gua ga terlalu hafal. Sebelumnya udah ada beberapa penulis lain yang talkshow di acara ini, termasuk Donny Dirgantara (5 cm), Moammar Emka (Jakarta Undercover), dan lain-lain… *gua jadi inget jaman SD kalo lagi ujian PPKn, di mana kata-kata “dan lain-lain” jadi primadona saat menjawab esai”

Ini dia penampakannya: (klik gambar untuk memperbesar)

Gua setuju dengan lu Dik, di dunia nyata lu lebih keliatan kecil dan homo

Para fans lagi serius dengerin Dikung ngebanyol

Ini posternya. Gua belum baca Radikus Makankakus loh…
*dasar fans murtad*

Yang ini agak gantengan dikit

Dikung bersama seorang fans, yang difoto secara jelas

Gua dan Dikungyang difoto secara blur
*dasar pacar kurang ajar!!! -_-*

Btw Dik, ini talkshow atau promosi sih? Kok keknya banyakan narsisnya, hahahaha.. Belajar sana, biar nilai UTS lu rada lumayan -_-

4

Kick Andy Edisi Rektor

Saya tidak menyangka bahwa kedatangan saya ke kampus Sabtu kemarin berbuntut pada menonton langsung acara talkshow Kick Andy. Talkshow berdurasi total 3 jam tersebut merupakan rangkaian acara ITB Expo yang berlangsung pada tanggal 22-23 Maret 2008 di kampus ITB.

Seorang teman memberitahu saya tentang talkshow ini saat kami makan siang bersama. Namun semangat untuk menonton presenter favorit saya tersebut redup seketika karena ternyata tiket masuk yang diberikan secara cuma-cuma hari ini telah habis terpesan. Beruntung saya dan si pacar sedang melintasi panggung saat seorang presenter menginformasikan adanya 50 buah tiket tambahan. Setelah mengantri selama setengah jam di tempat yang menurut saya tidak pantas digunakan sebagai tempat mengantri karena saat itu kami kehujanan, saya dan si pacar akhirnya mendapatkan the most wanted tickets of this day.

Tiket yang difoto dengan webcam *maksa banget :D*

Sebenarnya saya punya banyak catatan untuk dijadikan bahan introspeksi panitia acara talkshow ini, mulai dari kerja yang kurang efektif sampai membosankannya presenter pengantar sebelum Andy F. Noya tampil. Tapi yang paling saya sayangkan adalah penghamburan material yang dilakukan oleh panitia.

Malam itu saya mendapat suvenir berupa sebuah kantung berisi stiker, bolpoin, dan pin. Untuk kumpulan suvenir yang jumlahnya hanya 3 dan berukuran kecil, menurut saya adalah berlebihan jika dibungkus menggunakan kantung kertas semi plastik yang disablon secara full colour. Selain tidak efisien dalam penggunaan dan susah diurai oleh lingkungan, panitia pasti mengeluarkan biaya yang tidak sedikit untuk memproduksi barang ini. Lagipula tidak ada yang dapat menjamin bahwa kantung ini akan digunakan kembali di lain waktu oleh penerima suvenir.

Untuk ukuran acara yang akan ditayangkan di stasiun televisi swasta nasional, menurut saya talkshow ini terlalu sarat akan narsisisme ITB, sehingga tema yang lebih pantas digunakan adalah “Energizing Indonesia with ITB’s Various Creation” bukan “Energizing Indonesia with Our Various Creation” . Bagaimana tidak, 3 nara sumber utamanya adalah rektor dan mantan rektor ITB, masing-masing adalah Djoko Santoso, Kusmayanto Kadiman, dan Wiranto Arismunandar. Dan 2 narasumber lain adalah Fadoli (ketua HME ITB, anggota tim Palapa HME ITB) dan Riska, siswi SMP di Semarang yang memenangkan lomba penelitian ilmiah LIPI.

Menurut Pak Wiranto, kunci sukses seseorang terletak pada kedisiplinannya, pada sejauh mana seseorang berpegang teguh pada aturan yang telah ditetapkan. Jika selalu berdisiplin, niscaya manusia-manusia negeri ini akan sukses pada bidangnya masing-masing, dan bangsa ini akan maju dengan sendirinya.

“Setiap orang yang berhasil masuk kuliah di ITB dan menyisihkan saingan-saingannya, memiliki satu dosa”. Pak Kus menyatakan bahwa setiap dosa tersebut akan hilang jika setelah lulus setiap pemilik dosa menciptakan lapangan pekerjaan, namun akan menjadi dua kali kipat jika ikut bersaing mencari pekerjaan. Yang beliau katakan adalah benar adanya, namun saya cukup geli mendengarnya, karena saya pribadi kuliah di perguruan tinggi ini dengan iming-iming akan mudah mencari pekerjaan setela lulus nanti, bukan bercita-cita menciptakan pekerjaan. Bahasan ini semakin menggelikan saat Bung Andy mengeluarkan sebuah anekdot “Berarti neraka isinya anak ITB semua, hahaha….”

Sedangkan Pak Djoko membahas topik ini dengan lebih menghubungkannya dengan dunia akademis. Menurut beliau, kampus harus menjadi tempat yang kondusif untuk melakukan kegiatan-kegiatan penelitian yang inovatif. Jika dibandingkan dengan kenyataan, sepertinya pernyataan ini kurang pas, karena yang saya rasakan selama kuliah 5 tahun di sini adalah kampus ini sangat minim fasilitas dan tidak banyak dana yang dialokasikan untuk menunjang kegiatan tersebut, lebih parah lagi saat ini kegiatan ekstrakulikuler mahasiswa sangat-sangat dipaksa untuk dikurangi.

Fadoli dan Riska datang pada acara ini untuk mempresentasikan kegiatan inovatif yang telah mereka lakukan. Fadoli bersama Tim Palapa HME telah melakukan sebuah pembangunan dan pengelolaan PLTA mikrohidro berbasis masyarakat di salah satu desa di Garut. Sedangkan Riska menceritakan tentang penelitiannya yang menarik, yaitu penggunaan kubis merah sebagai pewarna, yang menghasilkan warna merah bila diberi asan, biru jika diberi basa, dan ungu jika netral. How inovative.

Sebenarnya di negara ini banyak orang-orang pintar yang inovatif. Hanya saja mereka harus mengubur kembali ide-ide yang telah muncul karena keterbatasan dana dan perhatian dari berbagai pihak termasuk pemerintah. Coba bayangkan, jika sebuah tugas akhir mahasiswa S1 di setiap perguruan tinggi di Indonesia dianggap sebagai sebuah penemuan baru, maka betapa kayanya bangsa ini akan ilmu dan betapa berpotensinya untuk maju. Namun tampaknya bangsa ini belum siap untuk hal itu, tercermin dari tingkat kedisiplinan yang rendah dan kebiasaan merendahkan diri sendiri.

Oya, ada satu hal lagi yang menggelitik saya saat itu, yaitu saat seorang calon presiden KM ITB periode 2008-2009 mengajukan pertanyaan kepada narasumber: “Apa core competence dari ITB sehingga berbeda dengan perguruan tinggi lainnya?” Hey girl, kampus ini diberi nama Institut Teknologi Bandung bukanlah tanpa maksud.

Secara keseluruhan talkshow ini saya nilai bagus dan menarik. Terima kasih kepada panitia ITB Expo yang telah mengusahakan acara ini berlangsung.

11

Goodbye Amanda

Walaupun banyak yang mencibir dan memandang sebelah mata ajang-ajang pencarian bakat menyanyi atau apapun istilahnya, saya tidak menyangkal bahwa saya suka American Idol. Tolong jangan samakan acara ini dengan AFI, Mama Mia, Stardut, apalagi Super Mama Seleb Concert (yang dari penulisan namanya saja sudah salah).

Mari kita ke sampingkan dulu permasalahan politik internasional. Saya suka American Idol karena para pesertanya mampu memberikan suguhan yang menarik bagi mata dan telinga. Dan yang pasti tidak bertele-tele seperti acara jiplakan yang ditayangkan di Indonesia. Sayangnya penilaian ajang ini masih menggunakan sistem SMS pemirsa yang sifatnya sangat subjektif dan berpotensi bermuatan manipulasi.

Setiap orang pasti memiliki orang yang dijagokan dalam ajang-ajang seperti ini. Dan sayangnya pada American Idol tadi malam, Amanda Overmyer, peserta yang saya jagokan sejak tahap 24 besar yang lalu, tereliminasi karena mendapat SMS pemirsa paling sedikit.

Sedih sih, tapi tidak masalah karena saya masih punya 2 jagoan lagi: Jason Castro dan David Cook yang pasti akan masuk 3 besar, hahahahaha…

Jason Castro dan David Cook, kyaaaa… kyaaa…

Jagoan kamu siapa?

PS: Ga usah malu untuk mengakui kalau kamu suka American Idol

12

Si Lumba-lumba VS Ada Apa Denganmu


Setelah membaca tulisan Bung Fahmi di blognya, saya jadi inget jaman kecil dulu. Saya suka sekali nonton tivi untuk mengapdet lagu-lagu anak-anak terbaru. Walaupun jarang ada lagu-lagu baru, tapi setidaknya setiap kali menonton acara tersebut, saya bisa melihat sang idola beraksi kembali di layar kaca.

Salah satu yang masih sangat saya ingat sampai sekarang adalah Bondan Prakoso dengan hits Si Lumba-lumba. Si Lumba-lumba.. nyam-nyam.. bermain bola.. nyam-nyam.. Si Lumba-lumba.. nyam-nyam.. bermain api.. nyam-nyam..

Lirik yang aneh memang. Kenapa mesti nyam-nyam ya? Kenapa ga yo-yo to the left to the right..? Hahahahaha..

Makin lama kualitas penyanyi cilik di negeri ini makin buruk. Saat saya SMP (di mana jiwa kanak-kanak masih sangat kental dan saya sering menonton acara “Dunia Anak” ), lagu-lagu anak-anak yang bermunculan mulai aneh-aneh, salah satu yang paling aneh adalah lagu Kebelet Pipis. Apa-apaan tuh, kebelet pipis kok dijadiin lagu.. kek ga ada kata-kata lain aja. Plis deng dong..

Tapi masih mending lah anak-anak jaman dulu nyanyi lagu-lagu aneh kayak gitu, daripada anak-anak jaman sekarang… nyanyinya Ada apa denganmuuu…
12

Kritik? Sebut Dulu Nama Anda

Suatu hari saya pernah menulis suatu tulisan yang menuai cukup banyak kritik. Dan keesokan harinya saya menulis ini.

Lalu pada hari Jum’at 14 Maret 2008 pukul 15.54 WIB muncul sebuah komentar:

anak manja ITB, ga kuat di kritik, jangan masuk seni rupa, kenapa ga
ngambil tata boga aja, apa akuntansi aja bosss, baru digituin aja ud curhat sana
curhat sini, bersyukurlah kalo masuk ITB lewat jalur KHUSUS, berarti BONYOKlu
Tajir bosss

gw perupa muda yg ada di BDG yang anti kemapanan

Berikut adalah tanggapan saya:

1. Saya memang tidak kuat dikritik, tapi bukan anak manja.

2. Saya memang manusia yang tidak terlalu tahan dikritik. Lalu kenapa? Saya menulis ini memang untuk menunjukkan kelemahan saya. Apa anda merasa keberatan? Jika ya, tolong tulis apa yang ada beratkan.

3. Saya memang tidak masuk Seni Rupa karena saya tidak mampu. Kenapa? Jangan-jangan anda marah pada saya karena saya telah mengkritik kerabat anda yang secara blak-blakan menghina jurusan lain itu ya? Marah karena teman anda saya bilang berparadigma jongkok?

4. Saya tidak mengambil Tata Boga dan Akuntansi karena saya tidak suka. Lagipula tidak ada jaminan bahwa dengan tidak mengambil Tata Boga dan Akuntansi, seseorang menjadi kuat menerima kritik.

5. Curhat adalah hobi saya. Mungkin berbeda dengan anda yang tidak punya tempat curhat atau orang untuk dicurhati. Saya tidak tahu harus bersimpati atau berempati pada anda.

6. Saya masuk ITB karena SPMB, dan ayah-ibu saya bukan orang kaya.

7. Saya memang manja dan lembek, tapi setidaknya saya punya identitas yang selalu saya gunakan dalam berpendapat, termasuk saat mengkritik. Anda siapa? Mencaci-maki orang tanpa identitas. Tulislah identitas anda, minimal nama, tidak perlu alamat email atau blog jika anda malu. Saya nilai anda sebagai orang cupu. Anda tahu artinya cupu? Culun punya.

8. Saya menerima kritik dari anda. Apakah anda menerima juga kritikan dari saya? Jika anda malu, anda bisa memberi jawaban dengan mengirim email kepada saya. Alamat email dapat anda lihat di bagian kanan monitor anda.

9. Terima kasih telah memberi komentar yang sangat membangun.

4

Indonesia: Solidaritas Berlebih dan Hobi Pake Kekerasan


Duh, gua pengen ganti skin blog nih.. tapi setelah sercing-sercing ke sana ke mari, gua ga dapet juga skin yang gua suka.. *sengaja ditulis sebagai pembuka, siapa tau ada desainer web yang baca trus ngebikinin skin gratis, hohoho… NGAREP*

Tau film Get Married? Kebangetan lah kalo ga tau… Sama kebangetannya sama gua yang baru nonton film ini dua hari yang lalu, hehehehe…

Tau ga, apa yang paling gua suka di film ini? ADEGAN BERANTEMNYA.. rame banget… ga cincai kayak film-film Indonesia yang ngakunya bergenre action tapi berantemnya cem mak-mak..

Baru kali ini gua nemu gaya berantem yang lucu dalam film: lempar-lempar jemuran, manjat pohon, nyungsep ke lemari, sampe nyungsepin kepala ke baskom cingcau, hihihi….

Trus lucu aja, berantem antar kampungnya tuh gara-gara salah satu anggota geng disakiti. “Indonesia banget” kata mereka dengan bangga. Heran, sifat jelek gini kok malah bangga…

Tapi sifat solidaritas berlebih dan hobi pake kekerasan emang Indonesia banget sih. Gua jadi inget jaman TPB dulu, waktu masih lucu dan imut jamannya ditindas sama senior… gua disuruh ngedanus dengan berjualan kue di kelas TPB sambil teriak-teriak “Woi.. woi… beli kue gua dong..

Banyak yang ngambil tapi ga mau bayar… tapi untungnya gua punya jurus andalan: “Mau digebukin sama anak-anak KMPA hah?” hihihihihihi….