14

Like Mother Like Daughter

Tadi malam, jam setengah 2 dini hari, saya ngobrol sama si nyokap. Tau sendiri lah kondisi otak orang yang jam segitu belum tidur dari pagi. Kira-kira beginilah isi percakapannya:

Si Nyokap: Eh, kemarin mamah nemu potongan kalung gitu, trus karena penasaran, mamah bawa ke tukang emas, buat nanya itu asli apa imitasi
Si Saya: Trus?
Si Nyokap: Trus kata si tukang emasnya, ini emas asli.. emas putih yang masih muda gitu deh..
Si Saya: Oh..
Si Nyokap: Trus ya udah sekalian aja mamah jual.. lumayan dapet 150 ribu.. abis mau diapain lagi.. orang nemunya di jalan.

FYI, si nyokap bukanlah tipe wanita yang suka bermain-main dengan perhiasan, jikapun ya, paling hanya emas biasa saja.

Si Nyokap: Ternyata emas putih tuh bagus ya..
Si Saya: Ho oh.. lebih keren dibanding emas biasa. Emas kuning tuh terkesan kampring ah menurut gua mah..
Si Nyokap: Kampring gimana?
Si Saya: Ya kampring. Soalnya gua sering liat orang-orang yang mukanya kuleuheu, bajunya rombeng, tapi pake kalung emas..
Si Nyokap: Ho oh… cangcut rombeng beha rombeng tapi make kalung emas..
Si Saya dan Si Nyokap: Hahahahahaha…

Anak dan ibu sama saja.. suka ngobrolin hal-hal ga penting.. 😀

Advertisements
21

Tali Pocong Tiruan

Ach, film ini benar-benar film tiruan. Coba tilik, dari posternya saja sudah bisa dilihat nilai plagiasinya.

Yang di sebelah kanan adalah poster film Heirloom. Sangat mirip kan?

Dalam segi pemilihan adegan pun, film ini sarat akan plagiasi. Dan tidak tanggung-tanggung, film-film yang ditiru adalah film-film horor yang cukup populer di dunia sampai-sampai dibuat versi Hollywood-nya, yaitu The Ring, The Eye, dan Shutter. Apakah saya harus mendekripsikannya satu-satu? Oke.

Film ini menceritakan tentang “arwah” yan menuntut balas karena tali pocongnya dimusnahkan oleh seseorang. Cerita ini berakhir tragis, yaitu tewasnya Nino (pemeran utama yang mengambil tali pocong) yang terjatuh dari lantai gedung yang sangat tinggi akibat dihantui. Adegan ini sangat persis dengan adegan pada film Shutter, di mana para pemerkosa tewas dengan cara yang sama: jatuh dari lantai yang sangat tinggi.

Setelah Nino tewas, sang “arwah” menghantui Aldo (kakak Nino) dengan cara keluar dari layar televisi. Sangat The Ring bukan? 🙂

Lalu, yang mana bagian The Eye? Adalah saat Virni melihat sosok pocong di CCTV lift, padahal tidak terlihat di dunia nyata.

Sebenarnya saya bosan mengeluarkan kata-kata cacian setiap kali menonton film horor Indonesia. Tapi mau bagaimana lagi, saya gemas dengan saratnya plagiasi pada film ini T.T

Silahkan perpanjang daftar caci maki untuk film ini 🙂

14

Antara Pilkada dan Arisan Ibu-ibu

Akhirnya Pilkada Jawa Barat –yang telah banyak menghambur-hamburkan bahan bakar, uang, serta membuat jalanan menjadi kotor karena poster-poster– selesai kemarin. Walaupun saya tidak begitu peduli dengan dunia politik, kemarin saya ikut mencoblos loh.

Ada cerita lucu sebelum saya berangkat mencoblos. Si nyokap yang berniat akan mencoblos di kantor, saat itu tampak sedang mencari-cari kartu pemilih, yang sebenarnya ada di atas meja ruang tamu. Setelah menemukan secarik kertas yang dikira adalah benda yang dicari, beliau berujar Kok di kartu pemilih ditulisnya Bu Joko sih? Kan harusnya nama asli.. (jadi ceritanya si nyokap dipanggil Bu Joko oleh warga komplek :D). Saat itu ada si kakak yang kemudian menjawab penasaran si nyokap dengan berkata Ya iya lah mah.. itu kan undangan arisan…

Saya saat itu hanya bisa tertawa ngakak.

Ngomong-ngomong tentang pemilihan umum, tahukah kamu bahwa pemilu harus dilakukan secara LUBER, yaitu langsung, umum, bebas, dan rahasia. Saya pilih nomor 3, hahahahaha…

6

Akhirnya Saya Menyerah


Ya, akhirnya saya menyerah.

Saya masih ingat perbincangan saya dengan Pak Ikram setahun yang lalu (mungkin), tentang “untuk apa pindah ke WP, kalau di Blogger kita masih bisa berkarya”. Namun tampaknya sekarang saya menunjukkan sikap kontra terhadap pernyataan tersebut karena alasan tertentu.

Entah mengapa belakangan ini saya sangat kesulitan mengoperasikan blogger, terutama jika saya online di kampus. Saya kesulitan untuk mengisi kotak komentar, mengupload foto, atau bahkan sekedar log in.

Jadi, maafkan saya Blogger, saya akan pindah ke WP. Saya harap kamu tidak kecewa.

* * *


Bagi konsumen blog ini (komentator atau pencaci maki), silahkan membuka kelanjutan tulisan-tulisan tidak penting saya di sini. Terima kasih.

11

Otong, Radit, dan Jani


Ini adalah anggota keluarga baru yang dibebaskan dari sebuah toko akuarium di Ciwalk Bandung pada hari Selasa, 8 April 2008, pukul 19.00 WIB. Toko Akuarium “Gampang Ingat” tepatnya.


Ini adalah rumah baru mereka, akuarium peninggalan penghuni kos terdahulu


Peralatan dan bahan yang dibeli


Sang pembebas


Sang pembokat


Sang terbebas bernama Otong (Mas koki) serta Radit dan Jani (Moli marbel), dengan uang pembebasan sebesar Rp 6.000 untuk Otong dan Rp 2.400 masing-masing untuk Radit dan Jani


* * *


Welcome to the new life.. Mudah-mudahan kalian betah tinggal di rumah yang baru.. Saya dan Yusni akan merawat kalian dengan baik 😀
12

Drunken Monster, Kapan Sekuelmu Keluar?

Setelah membaca buku ini –buku karangan orang gila ini– saya baru menyadari bahwa saya telah terlalu serius menyikapi hidup. Saya juga sering menjahili orang lain, tapi saking seriusnya, saya hampir selalu memastikan –pada akhirnya– kepada orang yang terjahili dengan kata-kata “Hey, gua becanda doang kok..”. Beda sekali dengan Pidi Baiq, yang sepertinya –bukannya tidak peduli– membiarkan si orang terjahili pada akhirnya menyadari bahwa dia telah dijahili.

Jika ini adalah kisah fiksi, mungkin reaksi saya akan datar-datar saja saat membaca buku ini, dan saya akan berkomentar “Belebai kali pun pengarangnya”. Tapi ini kisah nyata, dan menurut saya, cerita-cerita yang ditulis dengan bahasa yang katanya bukan bahasa dewa ini sangat-sangat lucu untuk ukuran kisah nyata. Salah satu bagian yang paling lucu menurut saya adalah saat Pidi dan 10 karyawannya pergi ke Lembang untuk mandi air panas. Setelah berkata “Kami dari rombongan Rumah Sakit Jiwa” dan berbohong kepada petugas penjaga tiket dan satpam bahwa masih ada 2 bus lagi menuju ke sana, dia pura-pura menelepon:

“Sudah sampai mana, Pak? … Cileuwi … oh … Ciluni … Apanya…? Busnya? … Digulingkan gimana, sih? … Sama mereka digulingkan gitu? … Ah … Sekarang gimana? … -dst”

Saya ga berani ngebayangin apa yang ada di benak si penjaga tiket dan satpam saat itu. Dan saya lebih ga berani lagi ngebayangin apa yang ada di benak si Pidi. Jail pisan, dan kepikiran pisan ngejailin orang-orang dengan cara itu.

Sejak mendapatkan buku ini dari Sawung, tidak ada yang bisa menghalangi saya untuk terus membaca buku ini sampai selesai, kecuali rasa kantuk tak tertahankan yang dianugerahi oleh Tuhan. Dan saya tertawa terguling-guling sampai sakit perut dibuatnya. Ini benar-benar kumpulan catatan harian yang layak dibaca oleh jiwa-jiwa yang merasa bosan dengan monotonnya kehidupan.

* * *

Oh, Pidi, saya mencintai kehidupanmu yang konyol, sama seperti mencintai The Panasdalam-mu yang lagu-lagunya dianggap tidak enak didengar dan tidak pasaran oleh narator di sampul buku bagian belakang. Saya telah terinspirasi secara sukses bahwa hidup memang hanya main-main 🙂

14

Dasar Babi Ngepet


Ini adalah contoh poster film yang menipu konsumen, dan gua adalah contoh konsumen yang kurang teliti menilik sebuah film sebelum menontonnya.

Jadi ceritanya hari Senin kemarin gua terjebak dalam gedung bioskop yang sedang memutar film bergenre horor-mirip-sinetron-Indosiar-padahal-awalnya-gua-kira-komedi. Atau dengan kata lain, gua rugi 10.000 hepeng gara-gara ga baca dulu resensi film ini sebelum nonton, atau at least liat dulu siapa SUTRADARANYA.

Tau film Genderuwo yang fenomenal itu kan? Itu tuh film yang oleh penulis dalam situs ini diberi rating 5000 kolor + nanah. Nah, ternyata film Skandal Cinta Babi Ngepet ini disutradarai oleh orang yang sama.

Selain desain posternya yang cenderung “sok-komedi”, satu hal yang bikin gua tertipu adalah kehadiran Olga Syahputra dan Chika sebagai figuran di film ini. Gua pikir nih film lucu ancur gara-gara si Olga jadi babi, atau babinya jadi Olga, atau gimana lah. Eh ga taunya…

Resmi lah gua nobatkan film ini sebagai film terancur tahun ini.

Film ini sarat akan “unsur pemaksaan”. Maksud gua sutradaranya terlalu maksain film ini agar berdurasi lama (90-120 menit) dengan memasukkan adegan-adegan yang tidak penting. Menurut gua, untuk menceritakan seorang gadis kota yang jatuh cinta pada pemuda desa dan akhirnya kawin lari dan terjerat dalam kemiskinan, tidak diperlukan adegan-adegan seperti gadis itu dan teman-temannya distrap di lapangan atau Olga yang mencubit pantat Bu Guru. Ach, buang-buang waktu aja.. mending kalo lucu.

Gua ga puas mencela film ini sampai situ saja. Selain alurnya yang super buruk, bertele-tele, dan mudah ditebak, film ini dilengkapi dengan efek yang super buruk pula alias kampring. Adegan manusia berubah jadi babi atau babi berubah jadi manusia-nya dibantu oleh efek berupa keluarnya asap dari kiri dan kanan. Yo oloh tolong, sinetron Indosiar aja udah pake efek animasi (walaupun sama-sama kampring, hahaha…).

Saking buruknya film ini, setengah dari jumlah penonton meninggalkan bioskop saat film ini masih diputar. Gua ga termasuk orang-orang itu, gua tetap di tempat duduk, karena pengen tau ending dari film kampring ini, hohoho…


* * *

Tapi hari ini ga terlalu buruk. Abis nonton film terkampring sepanjang masa ini, gua dan si pacar makan di Iga Bakar Si Jangkung alias Iga Bakar Cipaganti. Rasanya enak banget.. kalo kata Pak Bondan sih ‘maknyusss…’. Keknya tiap kali dikecewakan oleh film-fim kampring saat nonton di Ciwalk, gua bakal selalu mengobati kekecewaan gua dengan makan di sini (apalagi kalo ditraktir, kyaaa… kyaaa…)

Supaya kalian ngiri, nih gua kasih fotonya..

Ngiler kan? hehehehe…