31

Bayangkan Engkau Duduk di Sana

“Sayang, lihatlah burung-burung yang sedang bermain di sana… Mereka romantis sekali ya..”
“Matahari sore ini begitu menghangatkan. Aroma sangat senada dengan rumput menguning..”
“………………………………………………….”
Kalo kamu duduk di sana, di gambar ketiga, kira-kira apa yang akan tertulis pada balonnya? Punya ide, ayo tuliskan ide gilamu. Sepuluh pengide terbaik akan mendapat hadiah menarik dari Rime. (pede amat sih, cem yang ngomennya bakal lebih dari sepuluh aja :p)
PS: Foto ini saya ambil 100 meter dari kantor saya. Itu ceritanya TPS (Tempat Pembuangan Sampah Sementara)
24

Sundanisasi…. Barade… Barade…

*saya memposting tulisan ini dengan maksud berbagi, tanpa ada tendensi melecehkan budaya manapun*

Memang tidak bisa dibantah, bahwa saya adalah makhluk yang mudah sekali berubah logat. Saya jadi teringat masa-masa Batakisasi dulu saat masih kuliah di kampus gajah duduk. Betapa saya dengan mudahnya berganti logat dari Indonesia ke Batak, dan merasa bangga menggunakan logat itu.

Beberapa tahun kemudian, saya kembali mengalami fenomena tersebut, hanya saja judulnya bukan lagi Batakisasi, tapi Sundanisasi. Mungkin ini adalah efek yang tak terhindarkan dari pengalaman bergelut dengan orang-orang lokal Bandung selama 1 tahun, dengan label “pekerjaan”.

Oiya, saya adalah seorang Jawa yang sejak lahir hingga sekarang tinggal di Bandung. Sayangnya saya tidak pernah belajar Bahasa Sunda sejak kecil (kecuali di pelajaran SD dan SMP, itu pun dengan nilai melulu 6 di rapot ), jadi ya wajar saja kalau saya ga bisa berbahasa Sunda.

Bagi saya, rekan-rekan kerja di sini adalah orang-orang yang ajaib. Ajaib, karena mereka bisa menghipnotis saya untuk menjadi seorang pelogat Sunda. Bagaimana mereka melakukannya? Sederhana saja, mereka cukup mengatakan istilah-istilah ajaib ini saat berbincang dengan saya:

Ngagayem = ngenyom = ngemil mulu ga berenti-berenti
Ngeyembeng = menggenang
Cingogo = jongkok
Orowodol = berantakan
Tiseureuleu = tisoledad = kepeleset
Mereketengteng = merecet = sifat pakaian yang ketat saat dipakai seseorang
Merekedeweng = keras kepala
Polo = otak
Matakan, mikir teh make polo = makanya, mikir tuh pake otak

Terkadang mereka juga pake gaya bahasa ajaib:
Ember –> emer
Bandung –> Banung
Bensin –> bengsin

Dan yang paling fenomenal adalah P-isasi F dan F-isasi P:
Finalisasi –> pinalisasi
Opera van Java –> Overa pan Japa
Freeport –> Preefort
Fitnah –> pitnah (penomenal banget nih.. sampe ada logonya)

Awalnya saya hanya ngalelewe (ngebecandain) mereka, dengan bilang “Pitnah… pitnah…”. Eh lama-lama malah ketularan. Kualat sih…

Sebenernya masih banyak lagi istilah dan gaya Bahasa Sunda lain yang belum ditulis di sini.. Tapi saya lupa euy. Nanti lah kalo udah inget, saya akan mengapdet postingan ini. Bagi saya, Bahasa Sunda itu unik, dan sangat worth a try untuk dipelajari.. Jadi ga ada salahnya kalo temen-temen juga melakukan hal yang sama dengan saya, hehehe…

Hayu atuh urang nyarios Sunda. Barade… Barade…?

30

Imajinasi Kopi

Hari ini saya jalan-jalan ke Hotel Grand Serela, hotel yang imut dan lebih terlihat seperti mal dibanding hotel. Teman saya yang baik bernama Demi Yogaswara telah memberi saya kesempatan untuk mengikuti Pelatihan Menulis Artikel Populer secara gratis, hohoho… Padahal kalo bayar, bisa sampe berjuta-juta loh.
Singkat cerita, pelatihan pun berjalan dengan asik, dan tibalah waktu coffee break. Begitu melihat kopi, tanpa babibu saya langsung mengambil cangkir dan menuangkan kopi ke dalamnya dengan semangat. Kopinya lucu, ada andek-andeknya gitu di atasnya. Tapi gapapa lah, toh bisa mengendap nanti.
Ahhh… ternyata ini adalah kopi asli. Maksud saya, kopi ini adalah kopi egois, yang tidak menyertakan teman-teman sejawatnya (seperti jagung) saat diracik. Maka dari itulah saya menilainya sebagai “kopi mangstap!”
Saking mangstapnya, isi cangkir tersebut saya seruput habis dalam sekejap… niatnya sih supaya saya bisa langsung nambah lagi, hehehe.. Tapi sebelum nambah kopi, saya iseng mainin dulu cangkir yang ada sisa kopinya. Saat itu saya tiba-tiba teringat pada sebuah metode meramal di mana sang peramal mengidentifikasi gambar yang terbentuk pada ampas teh, lalu menarik makna yang terkandung di dalamnya.
Saya jadi pengen ikut-ikutan. Dan inilah hasilnya: (tapi ga pake ramal-ramalan ya…)
Menurut saya, gambar di miringan pertama ini seperti anak tuyul bermata juling yang lagi bawa bendera Indonesia. Dia adalah peraih juara 1 pada sebuah lomba, sementara peraih juara 2 adalah ular kobra. Anak tuyul tersebut terlihat sangat senang.
Nah, kalo yang ini seperti dunia bawah laut, ada gurita, siput laut, dan ada hydra (rada maksa sih :p)
Pernah liat video klip PHB yang judulnya The Bird belum? Kalo belum, liat di sini aja. Video klip tersebut bercerita tentang seekor kucing yang jatuh cinta kepada seekor burung, sehingga berangan-angan menjadi burung. Bedanya, di sini si kucing pengen jadi kupu-kupu.
Nah, yang ini maksanya rada berlebihan… Awalnya saya melihat rusa, tapi setelah dilihat-lihat lagi, saya pikir ini lebih mirip dengan mamalia-mamalia yang lagi minum di pinggir danau 🙂
Makin lama makin aneh…. Di gambar terakhir ini saya agak bingung mendeskripsikan imajinasi saya, apakah mirip embrio manusia atau embrio ayam. Tapi kemudian saya teringat pada kucing saya (yang sekarang udah ga ada karena minggat) yang kalo tidur suka pake gaya embrio gitu. Setelah selesai digambar, Anil bilang itu lebih mirip anjing. Baiklah, gapapa, saya juga pernah punya anjing yang suka tidur dengan gaya embrio 🙂
Saya ga sabar menunggu esok hari, di mana saya bisa menyeruput kopi mangstap, dan mungkin menemukan gambar-gambar aneh lagi. Ups, sepertinya yang aneh bukan gambarnya deh, tapi imajinasi saya. 
Lama-kelamaan saya jadi setuju dengan beberapa teman saya yang beranggapan bahwa daya imajinasi saya terlalu aneh.
7

Hamster Baru dan Gosip Baru

Sepuluh hari lalu, tepatnya pada 14 April 2010, adik perempuan saya dikasih hamster sama temennya. Entah deh dikasih apa minta. Hamster tersebut sempat tidak punya nama pada hari-hari pertama, mungkin karena adik saya belum menemukan nama yang tepat. Atau mungkin sebenarnya dia mengulur-ulur waktu saja karena belum punya duit buat sukuran dan bikin bubur merah-bubur putih.

Hingga suatu hari saya secara spontan memanggilnya Nona Tuffsy (baca: Tafsi). Buat para penggila serial Sponsbob, mungkin nama ini langsung menerbangkan kita ke episode “Have You Seen This Snail.” Ceritanya suatu hari si Gary ngambek sama Sponsbob, terus dia kabur, dan menemukan seorang nenek saiko. Nah si nenek saiko inilah yang memberi nama “Nona Tuffsy” kepada Gary. 

Ternyata Nona Tuffsy tidak suka stroberi
Terus entah kenapa adik saya jadi ikut-ikutan manggil dia Nona Tuffsy (semua anggota keluarga saya emang hobi ngobrol sama binatang, entah kenapa), dan kemudian munculah percakapan antara kakak laki-laki saya dengan adik saya… (Sebenarnya saya ga ada di sana saat obrolan ini terjadi. Tapi kalo boleh me-reka kejadian, kemungkinan bentuknya adalah seperti ini:) 
K: Jadi ini hamster namanya siapa?
A: Nona Tuffsy. Pasti ga tau kan siapa Nona Tuffsy?
K: Tau… Yang di Sponsbob kan? Yang guru mengemudi itu kan?
A: Swt… itu mah Mrs. Puff! (tukang main dota sih, jadi kalo ngomong suka pake swt swt gitu)
Pengetahuan umum aja ini mah. Gambar yang di sebelah kiri ini nih yang namanya Mrs. Puff, sang guru pengemudi… yang di sebelah kanan baru Nona Tuffsy
Sayangnya saya ga nemu gambar si nenek saiko euy…
Pas lagi baca-baca profil Gary, saya menemukan fakta aneh, bahwa sebenarnya Gary adalah sepupunya Patrick Star. Lebih lengkapnya, silakan cermati bagan ini dengan seksama:

Dan ternyata mereka berdua adalah keturunan bangsawan. Oh my God!

Untung saja saya mengangkat kisah si Nona Tuffsy di blog ini. Coba kalo nggak, pasti saat ini saya ga tau kalo Gary dan Patrick itu sodaraan.
11

Saat Keti* Tidak Bisa Memilih

*) Keti = Ketiak = Ketek = Kelek = Armpit (siapa tau ada yang ga tau apa itu “keti”)

Kemarin saya jalan-jalan ke blognya sista Nilla. Ada satu postingannya yang membuat saya merasa agak horor dan sempat tidak bisa mengalihkan perhatian selama beberapa saat setelah membacanya, yaitu tentang tumor payudara. Sebagai cewe (walaupun saya ini adalah cewe jadi-jadian), apalagi kemarin adalah Hari Kartini (sok dihubung-hubungin), saya merasa perlu untuk mempelajari hal ini lebih lanjut.

Rasa penasaran tersebut menyeret saya untuk surfing di beberapa situs kesehatan dan mencari tahu tentang cara pencegahan kanker payudara. Di antara situs-situs yang isinya hampir semua seragam, ada 1 situs yang menurut saya menarik (ujung-ujungnya baru ketauan kalo itu situs terjemahan dari Bahasa Inggris, hehehe…), yang menyebutkan bahwa kebiasaan mencukur bulu ups rambut keti dan memakai deodoran anti-perspirant** ternyata bisa memicu terbentuknya sel kanker payudara. What??!!

**) anti-perspirant: zat yang menghalangi keringat keluar dari tubuh (siapa tau ada ga bisa Bahasa Inggris, hehehe…)

Jadi katanya gini, ada 2 bahaya yang ditimbulkan oleh kebiasaan-kebiasaan tadi. Pertama: adalah sudah fitrahnya bahwa keringat harus keluar dari tubuh, sambil membawa racun-racun dan zat yang tidak berguna bagi tubuh kita. Jika dihalangi, maka keringat akan menumpuk pada kelenjar keringat, begitu pula racun-racunnya. Nah, si racun-racun ini kalau udah numpuk bisa jadi kanker dan menjalar ke payudara.

Kedua, udah pada tau belom kalo rambut keti tuh tugasnya menghalangi zat asing yang masuk ke dalam tubuh? Buat yang belum, silakan terkaget-kaget (apaan sih, ga jelas banget!). Berarti kalau kita cukur habis mereka, kita telah kehilangan 2 (atau 2 ribu?) body guard di tubuh kita. Artinya peluang zat-zat asing masuk ke tubuh kita jadi lebih besar. Apalagi kalo dari proses nyukurnya timbul luka di keti, trus abis itu kita pakein anti-perspirant, udah deh, racun-racun kimiawi dari anti-perspirant pasti langsung masuk ke dalam tubuh kita. Saya pernah punya pengalaman, abis dicukur, keti terasa agak perih, trus abis dipakein anti-perspiran, jadi perih banget, sampe loncat-loncat gitu nahan perihnya.

Kalian biasanya nyukur ketinya gimana? Pake wax atau pake pisau silet yang model iklannya si Choky Sitohang? Kalau pake pisau silet (mau yang merek si Choky atau bukan), maka sebaiknya kita kurangi intensitas penyukuran rambut keti, karena dari penggunaan pisau silet, pasti akan dihasilkan luka (walaupun keciiiil banget). Misalnya keti dicukur kalo pas mau renang aja, atau pas mau pake baju u can see gitu. Jangan tiap hari….

Saya jadi mikir-mikir lagi, kenapa sih di kehidupan ini ada perilaku mencukur rambut keti dan memakai deodoran anti-perspirant? Pasti gara-gara ada tanggapan bahwa cewe yang ketinya berambut lebat tuh kampungan, atau cewe yang bajunya basket (basah ketek) tuh jorok, dll dsb. Padahal kan sebenernya ga juga. Emangnya ada undang-undang yang mengatur tentang perketian?

Saya sendiri baru menyadari hal itu sekarang. Saya baru sadar bahwa saya melakukan kebiasaan-kebiasaan tersebut semata-mata hanya untuk memperhatikan penampilan, tanpa memperhatikan kesehatan. Saya baru sadar bahwa selama ini saya telah bertindak semena-mena pada si keti. Padahal kan si keti sudah beritikad baik dengan memberikan fasilitas pemanjangan rambut. Coba bayangkan kalo panjang rambut keti cuma segitu-gitu aja, nanti kalo ada rambut yang bercabang gimana?

Nah, balik lagi ke cerita kemaren. Balik dari kantor (yang sebenernya kantor-kantoran), saya langsung bergegas ke supermarket untuk beli bedak. Saya pengen buang deodoran anti-perspirant saya, dan saya ganti perannya dengan bedak.


Lah, itu ATM Mandiri hubungannya apa? Ga ada, cuman pengen pamer aja kemarin baru pindah rekening ke Mandiri, hehehe.

Supaya blog ini tidak terkesan nyampah, saya akan sertakan beberapa tips bagi para cewe yang mau beralih fokus pada keti, dari kecantikan menuju kesehatan (sebenernya hanya rangkuman dari tulisan di atas):

  • Supaya ga basket, bukan berarti kita harus menahan keringat supaya ga keluar. Basket bisa dihindari dengan menggunakan bedak, karena bedak bisa menyerap keringat. Artinya, pake deodoran dan pake bedak sama-sama aja hasilnya: sama-sama wangi, sama-sama ga basket, cuma ya kalo bedak jadi agak burket (bubur ketek) aja, hohoho… Efek ke baju juga masih lebih bagus bedak dibanding anti-perspirant.
  • Supaya tetap bersih, sabuni keti saat mandi. Bagi cewe jadi-jadian seperti saya, yang mandinya paling lama 10 menit, mungkin keti jadi bagian yang kurang diperhatikan dan tidak jadi prioritas saat mandi. Kalau ketinya bersih, maka jumlah keringat jadi ga penting.
  • Jangan cukur keti terlalu sering, kecuali kalo udah mengganggu. Biarkanlah mereka bebas menari-nari menikmati indahnya hidup. Kalopun harus dicukur, cukurlah secara hati-hati, jangan sampai ada luka pada keti, dan usahakan tidak menggunakan produk kimiawi apapun pada keti setelah dicukur.
  • Tidak usah merasa kecil hati ketika diejek dan dihina sebagai cewe kampungan dan ga gaol getoh karena basket atau burket. Kalo kamu tipe pendiam, cukup bersabar dan hibur dirimu sendiri. Tapi kalo kamu tipe misionaris, ungkapkan saja argumentasi-argumentasi yang kamu kuasai, supaya mereka jadi mengerti. Dan jika kamu tipe penyerang, katakan saja bahwa orang yang kerket (kering ketek) tapi ga peduli sama kesehatan tubuhnya lah yang sebenarnya kampungan dan ga gaol getoh (sambil sendawa, hahaha…).
  • Yah gitu deh. Be your selp aja lah.


Andai saja tren mode kembali ke era 80-an, saat keberadaan rambut keti dianggap sebagai sesuatu yang indah… saat Eva Arnas dan teman-teman sejawatnya dengan bangga memamerkan ketinya yang berambut lebat… Dan andai saja keti bisa memilih, pasti dia memilih untuk hidup bebas tanpa racun dan luka. Keti memang tidak bisa memilih, tapi si empunya keti bisa memilih.

Jadi bagaimana, pilih dianggap cantik sekarang tapi berbaring di rumah sakit saat tua nanti, atau dianggap aneh sekarang tapi sehat saat tua nanti? Tapi ah, cantik dan aneh itu kan relatif… lagi pula ga ada undang-undangnya.

2

Prasangka Oh Prasangka


Beberapa hari lalu, Om Piki menceritakan sebuah cerita yang menurut saya inspiratif. Cerita itu dia dapat dari Om Riichiro Oda.

Konon, ada sebuah penelitian yang dilakukan pada 2 kelompok calon pendeta. Seperti lazimnya calon pemuka agama, mereka diasumsikan memiliki hati mulia dan berwelas asih. Kelompok pertama diminta untuk datang ke gereja dalam waktu singkat, sehingga mereka berangkat secara terburu-buru. Sedangkan kelompok lain diminta untuk datang ke gereja dalam waktu yang tidak ditentukan, atau dengan kata lain diberi kelonggaran waktu.

Di jalan yang akan dilalui oleh para calon pendeta tersebut, ada seseorang yang berpura-pura menjadi peminta-minta. Tak dinyana, kelompok pendeta pertama tidak memberi uang kepada si peminta-minta, sedangkan kelompok kedua memberinya uang.

Bayangkan jika kita adalah seorang peminta-minta asli, kemungkinan besar kita akan menganggap buruk kelompok pendeta pertama.

Adilkah ketika kita berpikiran seperti itu? Jahatkah mereka?

Bagaimana jika kita mengetahui bahwa mereka sedang terburu-buru karena berjuang memenuhi suatu tugas mulia, apakah kita masih mengganggap mereka jahat? Mungkin pemikiran kita akan berbeda.

Kalau kita pikir-pikir lagi, berapa sih peluang seorang peminta-minta mengetahui bahwa seseorang berada pada kondisi terburu-buru saat melintas di hadapannya? Pastinya sangat kecil, karena sama sekali tidak ada proses komunikasi di antara keduanya. Kecuali jika si peminta-minta adalah seorang cenayang 😀

Lalu jika kita ejawantahkan dalam kehidupan sehari-hari kita, seberapa sering dan sejauh apa sih kita bisa memahami kondisi orang-orang yang ada di sekitar kita? Coba bandingkan dengan seberapa sering kita menggerutu ketika seseorang berbuat “kesalahan,”? Jika poin ke dua lebih dominan, sangat mungkin bahwa kita adalah manusia penuh prasangka.

Coba hitung berapa kali kita berprasangka terhadap orang lain. Katakanlah kita berprasangka setiap 1 minggu, maka dalam 10 tahun, kita punya 520 prasangka. Berarti sejak 10 tahun lalu, saya telah berkontribusi 520 ketidakadilan dalam dunia ini.

Ternyata dunia ini dipenuhi oleh prasangka. Lebih buruk lagi, prasangka biasanya berbuntut pada sesuatu yang tidak baik bagi hubungan antar manusia. Jadi, ada baiknya bagi kita jika kita membiasakan diri untuk tidak berprasangka, kecuali jika kita benar-benar paham kondisi orang tersebut. Kenyataannya, memahami kondisi seseorang tidaklah semudah membalik telapak tangan. Pepatah mengatakan “kita tidak akan pernah bisa memahami seseorang, kecuali jika kita melihat segala sesuatu dari sudut pandangnya… hingga kita menyusup ke balik kulitnya dan menjalani hidup dengan caranya,” (diambil dari sebuah novel karya Harper Lee berjudul To Kill a Mockingbird).

Jadi, berhati-hatilah dengan hatimu. Usahakan untuk tidak mengotorinya dengan prasangka.