26

1 menit + jadi 1 fans + gratis = 10 pohon ditanam + Harimau Sumatera bahagia

Hai, teman-teman.

Maaf sekali sudah beberapa minggu ini saya hilang dari peredaran (yaelah, siapa juga yang nyariin lu, Rim). Belakangan ini perhatian saya tersedot untuk mengurusi beberapa hal, salah satunya adalah menjadi Forest Friend. 
Apa itu “Forest Friend”?
“Forest Friends” adalah sebuah kompetisi, dimana peserta yang telah terpilih berkampanye bersama secara online dan mengumpulkan dukungan publik sebanyak-banyaknya demi penyelamatan hutan alam. Dalam kampanye ini, setiap satu dukungan yang diterima oleh peserta Forest Friends akan diwujudkan dalam bentuk aksi nyata penanaman 10 batang pohon, sehingga semakin banyak dukungan yang diterima oleh masing-masing peserta – melalui pesan konservasi yang mereka kampanyekan- semakin besar kontribusi mereka dalam upaya restorasi hutan, khususnya di Indonesia. 
Tahun 2010 merupakan tahun Keanekaragaman Hayati Dunia dan Tahun Harimau, sehingga restorasi hutan akan difokuskan pada daerah-daerah kritis habitat Harimau Sumatera. 
Jadi ke depannya, blog ini akan diisi dengan info-info lingkungan untuk mendukung kampanye yang saya lakukan.
Nah, teman-teman bisa membantu menyelamatkan Harimau Sumatera, dengan mendukung saya. 
Bagaimana caranya? Mudah saja. 
Teman-teman tinggal membuka situs inihttp://www.wwf-jugend.de/community/channel.php?channel_id=1 dan vote Rima dan Lena untuk jadi Forest Friend.
Cara milihnya gampang, tinggal cari kotak merah seperti ini, lokasinya kebetulan di bawah foto Rima. Trus, klik deh “Become a fan” di bawah tulisan Rima und Lena.
Simpel kan? Ga dibutuhkan lebih dari 1 menit, dan voila, kamu sudah mendukung penyelamatan Harimau Sumatera. 
Ayo dukung hidupan Harimau Sumatera yang lebih baik dengan menjadi fans Rima dan Lena!
32

Robin Hood Kini Brewokan

Saya tidak pernah berpikir yang aneh-aneh tentang Robin Hood, kecuali sosoknya yang cungkring, berbaju hijau ngejreng, bertopi bulu, bersepatu boot lancip, berbusur dan anak panah, cengengesan, dan gemar merampok untuk tujuan mulia. Sama sekali bukan sosok berbadan sixpack, berlengan kekar, berkostum perang, brewokan, dan bersifat romangtis

Saat menonton film versi terbaru Robin Hood tadi malam, sejak menit pertama saya terus berharap bahwa sosok hijau cengengesan itu lama kelamaan akan muncul. Sayangnya tidak. Bisa dipastikan bahwa film karya Ridley Scott ini “mengecewakan” para penggila Robin Hood karena tidak menampilkan sosok legendaris yang mereka idolakan.

Robin Hood versi Disney’s

Robin Hood versi Douglas Fairbanks

Robin Hood versi Errol Flynn

Robin Hood versi Cary Elwes

Robin Hood versi Kevin Costner. Kyaa… kyaaa…

Robin Hood versi terbaru: Russell Crowe

Pada awal film, Robin Hood belum menjadi “Robin Hood.” Dia adalah Robin Longstride, seorang anggota pasukan Inggris pasca Perang Salib di Yerusalem, yang mampir di Perancis untuk meruntuhkan benteng Raja Philip. Saat itu Robin belum jadi bangsawan Inggris, dia bahkan tidak punya alas kaki. Dia juga belum menikah dengan Marion, belum punya pengikut yang belakang bernama kelompok “Merry Men,” dan belum tinggal di Nottingham apalagi di Hutan Sherwood. Oh ya, satu lagi: dia belum punya kebiasaan merampok. Pokoknya belum jadi Robin Hood banget deh! Menurut saya, film ini lebih cocok diberi judul “The History of Robin Hood.”

Belum banyak memang kenangan saya dengan Robin Hood. Semasa kecil saya pernah mendengar dongengnya, membaca komik Disney-nya, dan mungkin menonton kartunnya. Saya ingat sosoknya, tapi saya tidak begitu ingat kisahnya. Beranjak dewasa, saya baru mulai mengenal lebih jauh kisah legendaris Inggris ini setelah menonton Robin Hood: Prince of Thieves yang dibintangi oleh Kevin Costner (itu pun telat nontonnya). Dan cerita itulah yang menempel dalam memori saya. Memori yang membuat saya berpresumsi yang—katakanlah—“aneh-aneh” saat saya menonton film tadi malam, sehingga berujung pada kesedikitkecewaan.

Walau kecewa karena tidak menemukan banyak aksi perampokan dalam film ini, saya cukup senang, karena bisa dikatakan Robin Hood tidak menanggalkan sifat “pahlawan nyentrik”-nya. Hanya saja pada film ini sifat tersebut diejawantahkan dalam perilaku yang berbeda dengan cerita-cerita sebelumnya. Tidak terang-terangan merampok, tapi berperan sebagai agent of change yang menyuarakan hak kerajaan-kerajaan kecil di Utara Inggris. Dia juga berhasil menyatukan mereka dalam melawan pasukan Perancis di pesisir Selatan Inggris. I think it’s far more worth than being a thieve, Rob!

Jangan khawatir.. Kelompok Merry Men, Hutan Sherwood, dan aksi panah-memanah tetap muncul di film ini, walau hanya secuil di akhir film. Wibawa Robin Hood yang keren pun lama-kelamaan akan muncul, walau tanpa baju hijau ngejreng, sepatu boot lancip, dan topi bulu. Saya boleh kecewa karena si hijau ngejreng tidak muncul, tapi saya patut bersyukur, karena dari film ini saya bisa mengambil cukup banyak pelajaran tentang nilai-nilai kepahlawanan dan kepemimpinan. Overall, I think it’s a worth to watch movie. Saya kasih rating 7/10 deh

PS: Kalau dipikir-pikir lagi, ternyata Robin Hood telah mengalami evolusi. Dulu rubah, sekarang Russell Crowe :p

PPS: Buat yang dulu sempat tergila-gila dengan film Robin Hood versi Kevin Costner, pasti ga lupa dengan lagu ini: Bryan Adams – Everything I Do, I Do It For You

12

Ngacoblakness

Banyak hal menarik yang membedakan antara orang Indonesia dengan “bule,” misalnya yang sudah kita ketahui: warna kulit, rambut, iris mata, sampai jumlah bulu dada. Tapi bagi saya ada satu parameter lain yang agak tidak kasat mata, yaitu kemauan dan kepercayaan diri dalam mengemukakan pendapat.

Saya punya cukup banyak pengalaman berinteraksi dengan bule (yang saya maksud dengan bule di sini adalah orang ras Kaukasia). Ga banyak-banyak amat sih, tapi dari pengalaman tersebut saya menyimpulkan bahwa mereka punya satu benang merah: gemar sekali bicara panjang lebar saat mengobrol, terutama saat menjawab sebuah pertanyaan. Yap, kalau saja orang Indonesia menjawab suatu pertanyaan cukup dengan 1 kata atau 1 kalimat, maka orang bule biasanya menjawab dengan 1-2 paragraf untuk pertanyaan yang sama.

Waktu kerja di Mentawai dulu. saya berasumsi bahwa bos saya memang hobi manjang-manjangin jawaban. Tapi setelah saya berinteraksi dengan bule-bule lainnya, saya jadi punya pandangan lain. Ternyata kebanyakan bule memang seperti itu. Orang Swedia, Ceko, Kanada, dan Inggris juga begitu: sama-sama suka ngacoblak. Nah berarti kalau gitu, mana sebenarnya yang lebih tepat: orang bule yang terlalu cerewet, atau orang Indonesia yang kelewat pendiam?

Kegemaran mereka dalam mengemukakan pendapat secara panjang lebar ternyata tidak hanya terjadi di dunia verbal, tapi juga di dunia tulis-menulis. Kemarin saya baru mendapat sebuah surat balasan dari sahabat pena saya di Costa Rica. Dia menulis banyak hal dalam 2 halaman A4, sebagai balasan dari postcard saya yang isinya hanya beberapa kalimat. Sifat yang sama juga saya temui pada sahabat pena saya di Belanda, sampe-sampe saya bingung gimana ngebalesnya supaya tulisan saya juga panjang 😀

Tapi lain halnya dengan teman Australia saya. Dulu, saat bekerja di stasiun penelitian yang sama di Mentawai, kami pernah berbincang mengenai sifat orang Ustrali (Australia). Dia bilang, dibanding orang Kaukasia lainnya, orang Australia tuh jauh lebih nyantai. Mungkin malah lebih mirip orang Indonesia dibanding orang Amerika. Awalnya saya merasa agak aneh dengan pernyataannya, tapi belakangan saya jadi setuju setelah saya mendapati bahwa postcard yang saya kirim kepadanya dibalas dengan postcard juga (buka n surat yang panjang lebar, hehehe…)

 Postcard dari Helen (Ustrali), surat dari Denise (Belanda) yang perangkonya sudah saya preteli, dan surat dari Alberto (Costa Rica) yang baru saya terima kemarin.
Nah, kalo menurut teman-teman gimana? Benarkah apa yang saya asumsikan? Benarkah? Benarkah? Benarkah?
Lebih setuju mana: mereka yang kelewat cerewet atau kita yang kelewat pendiam? Atau punya pengalaman menarik? Ayo bagi-bagi 🙂
PS: “Ngacoblakness” adalah istilah yang saya buat sendiri. Berasal dari kata dalam Bahasa Sunda, “ngacoblak” yang artinya berbicara dalam durasi yang panjang. Imbuhan Bahasa Inggris “-ness” ditambahkan untuk mengubah kata kerja menjadi kata benda, hehehe…. Maafkan aku pak J.S. Badudu…