17

My Spirited Wedding Souvenir (My Wedding Preparation – Part 7)

*Spesial (pake telor) untuk Asop yang penasaran dengan souvenir pernikahan saya :)*

Apa yang akan Anda ucapkan jika seseorang telah membuat Anda bahagia… atau melakukan apa yang Anda minta? Tentu saja Anda akan mengucapkan terima kasih. Dan sebagai makhluk beradab, sudah sepantasnya kita membalas kebaikan dengan kebaikan. 
Saya rasa hukum kemanusiaan itu juga perlu diterapkan di acara pernikahan seseorang. Kita harus mengucapkan terima kasih kepada seluruh tamu undangan yang hadir ke acara kita, baik yang diundang maupun yang tidak. Sebagian orang menyimbolkan rasa terima kasih itu dengan memberi souvenir cantik. Memang ini tidak mutlak harus dilakukan, tapi menurut saya pribadi, ini penting untuk dilakukan karena bisa berfungsi sebagai pembangun modal sosial yang baik. 
Tentu saja kalau kita tidak mampu melakukannya, kita tidak perlu memaksakan diri.
Banyak orang yang mengukur nilai sebuah souvenir pernikahan dari harganya. Tapi bagi saya harga bukanlah alat ukur yang baik, karena besar nominal uang sangatlah absurd dan relatif. Saya lebih suka menilainya dari segi manfaatnya. Semakin bermanfaat suatu barang, maka akan semakin bagus nilainya. 
Di rumah saya saat ini terdapat sebuah onggokan souvenir yang keluarga saya dapatkan dari acara pernikahan teman dan famili. Hanya sebagian kecil souvenir yang benar-benar terpakai oleh kami. Dan dari onggokan souvenir yang tidak terpakai itu, saya ambil satu contoh yang menurut saya paling aneh: 

Baca selengkapnya »

Advertisements
17

Karena Hidup Penuh dengan Ketidakpastian (My Wedding Preparation – Part 6)

Ya, hidup memang penuh dengan ketidakpastian. Oleh karena itulah kita harus menyiapkan banyak waktu dalam melakukan perencanaan segala sesuatu, agar kita bisa mengantisipasi segala ketidakpastian yang mungkin muncul. *Ceileh kata-katanya, sok bijak kali pun…*

Eh, tapi bener loh… Saya aja dalam 1 bulan ini gonta-ganti konsep rencana pernikahan, mulai dari lokasi, nuansa resepsi, sampe penata rias, hehehe… Untung aja ga sampe ganti calon mempelai pria.

Jadi beginilah ceritanya….
Baca selengkapnya »

15

Go Go Ultra Man….!

Hihi, lucu ya… semua orang ngomongin bola, semua orang ngomongin laser. Di blog, di Fesbuk, di Twitter… semua ngomongin perhelatan besar yang sangat menentukan nasib Timnas Indonesia nanti malam.

Saya dapat gambar lucu nih dari Fesbuk teman saya yang bernama Vensca Virginia Ginsel, yang kayanya juga dia dapat dari temannya.

Foto kemarin: Timnas kalah karena tiba2 diserang makluk luar angkasa di bukit jahil… wkwkwkwk..
Foto hari ini: Ini supporter2 bayaran PSSI utk awasi Timnas bertanding di Final leg ke-2 loh.. sepertinya akan dinaturalisasikan juga tuh..:p

Sumpah, saya langsung ngakak begitu ngeliat dua foto kocak ini. Kreatif banget, hihihi…. 🙂

Semoga ga ada deh yang namanya balas dendam-balas dendaman pake laser. Semoga Indonesia bisa menang karena memang layak untuk menang…

PS: Ternyata onion head punya emoticon edisi sepak bola juga…
    

19

Kopi Sore Mengenang Otto Soemarwoto, Sang Legenda

Senin pagi, saya mendapat event invitation di Facebook dari seorang teman, yang isinya begini:

OBRASS (Obrolan Senin Sore) dalam rangka memperingati 1.000 hari wafatnya Begawan Lingkungan Hidup Indonesia Prof. Otto Soemarwoto. Obrolan akan mengulas tentang gagasan dan pemikiran beliau oleh para penerusnya dari Akademisi, LSM, tokoh masyarakat, dll.

Jujur, walaupun saya sering mendengar nama besarnya, saya tidak pernah benar-benar mengenal sosok dan pemikirannya. Yang saya tahu, kata orang-orang, bapak yang satu ini hebat. Rasa penasaran pun membuat saya menyempatkan diri menghadiri acara OBRASS dengan tajuk “Tribute to Otto Soemarwoto” tersebut.

Tapi tentu saja setelah tahu bahwa teman-teman lain juga akan datang ke sana, hehehe… 

Setalah tanya sana tanya sini, sampailah saya di Kantor DPKLTS, Jl. Riau 189A, Bandung. Sialnya, teman-teman saya datang terlambat, jadi saya harus bengong-bengong sendiri di tempat yang baru pertama kali saya datangi itu. Dan pada kondisi seperti ini, ga ada hal lain yang bisa saya lakukan selain kenalan sama bapa-bapa yang udah nongkrong di sana sebelumnya… sambil sok kenal sok kenal gimanaaaaa gitu…

Singkat kata, mengobrolah kami semua di sana, di saung bambu sederhana yang ada “bar”-nya itu, yang belakangan baru saya bahwa namanya adalah “Saung Mang Ihin”. Saya pesan kopi pahit, sementara semua teman saya pesan bandrek…

Musisi yang menemani kami minup kopi dan bandrek

Kopi dan wajit di atas meja bambu. Ternyata kalau beli kopi di sini dapat bonus 2 buah wajit 🙂
Buat yang belum tau: ini namanya wajit, terbuat dari ketan hitam

Anil sedang minum bandrek 🙂

Selain kopi, bandrek, dan wajit, ternyata di sana ada juga bolu yang terbuat dari ganyong (Canna discolor). Saya baru dengar tentang bahan makanan ini. Ternyata ganyong adalah sejenis ubi jalar. Katanya, ibu-ibu DPKLTS sekarang lagi getol-getolnya mempromosikan penggunaan ganyong sebagai pengganti terigu, yang 100% masih impor.

Kue coklat yang terbuat dari ganyong. Enak looooh 🙂

Tepung ganyong, cuma Rp6.500,00 per kg. Untuk perbandingan, harga terigu sekarang sekitar Rp10.000,00 per kg.

Beginilah kira-kira suasana diskusinya….

Saung ini emang asoy banget buat nongkrong :p

Kenapa gaya saya kaya alay gini ya? Sumpah, saya ga berniat berpose ala alay -_-
Awalnya saya pengen nulis sesuatu yang agak serius di sini, tentang poin-poin belajar yang saya dapat dari acara ini. Tapi ga jadi, gara-gara saya ga punya catetan, hehehe… Kebetulan saya lagi males bawa buku catetan (apalagi laptop), jadi saya cuma bisa nulis di henfon. Tapi terus henfonnya abis batere. Eeeeeaaaa….
Intinya, dari acara ini saya mendapat pencerahan, bahwa di dunia ini ada seorang manusia hebat bernama Otto Soemarwoto, yang begitu gigih memperjuangkan lingkungan hidup. Saya sangat terinspirasi dan akan mencari tahu tentang beliau lebih banyak.  
Anyway, saya sangat suka acara kumpul-kumpul seperti ini. Minum kopi di sore hari, mengenal orang-orang baru, saling berbagi cerita dan pikiran. Sesuatu yang sangat lokal, tapi berdampak global.

Sampai jumpa di acara OBRASS selanjutnya….

15

Aceh dan Asam Kranji

Mumpung ah……… mumpung saya belum terlalu ngantuk, dan mumpung hari ini masih tanggal 26 Desember 2010.

Ingatkah teman-teman dengan tanggal ini, tanggal 26 Desember? Bukan hari di mana Indonesia dibantai Malaysia 3-0 di final piala AFF, tapi hari di mana saudara-saudara kita di Aceh terkena musibah tsunami 6 tahun lalu. 
Saya ga akan ngebahas lagi tentang Aceh di tahun 2004. Yang lalu biarlah berlalu… jadi saya akan cerita sedikit tentang Aceh di tahun 2010 😀
Jadi ceritanya begini…. *kismis mode on* 
Sekitar 2 bulan lalu saya berkesempatan jadi trainer BLP di Aceh. Dan di hari terakhir di 2 minggu tersebut, saya dan teman-teman berkesempatan jalan-jalan ke daerah perbatasan Banda Aceh – Meulaboh. Konon lokasi ini adalah salah satu lokasi yang hantaman tsunaminya paling dahsyat. Sebenernya ini bukan jalan-jalan, tapi survey dan hunting foto lokasi dengan infrastruktur alam yang rusak. Rencananya foto-foto ini akan dipakai untuk melengkapi buku yang sedang kami buat. 
Alih-alih mendapat pemandangan alam yang rusak, kami malah lebih sering melihat pemandangan indah. Di satu sisi hati saya disejukkan oleh pantai yang sangat indah, dan di sisi lain mata saya disegarkan oleh hutan yang sangat asri. Di beberapa titik terlihat onggokan puing-puing rumah sisa hantaman tsunami yang ditinggal pemiliknya. Mungkin karena manusia enggan untuk bermukin kembali di sini, suksesi lokasi ini berjalan tanpa hambatan yang berarti.
Ini adalah beberapa foto yang membuat saya terkagum-kagum dengan Aceh…. 🙂 (mohon maaf kalau fotonya butut, ga pro soalnya :p)
Danau alami di perempatan jalan raya Banda Aceh – Meulaboh
Para bebek yang berenang dengan kecepatan 20 km/jam :p
It’s okay to be different
Padang rumput yang menyatu dengan hutan 🙂

Sungai yang tenang
Colorful nature
Pabrik semen yang mengganggu pemandangan :p
Jalannya buntu. Jalan yang aneh…
Baru kali ini saya nemu jalan yang buntu. Katanya jalan bagus nan mulus ini didanai oleh USAID. Jalan aslinya udah rusak berat, dan posisinya lebih dekat dengan bibir pantai. Di sepanjang perjalanan, jalan ini sudah membelah beberapa bukit gamping… jadi ini adalah bukit gamping yang kesekian yang dihancurkan. Sayang banget ya bukit-bukit ini dipecah-pecah 😦
Karena buntu, akhirnya kita putar balik deh…. 
Nah, itu dia pantainya… Pantai… pantai….!
Ternyata ada dermaganya. Katanya sih buat ngapalin semen dari pabrik semen yang lokasinya ga jauh dari situ. Yang tadi fotonya saya pasang itu loh…
Waw… waw… keren kan?
Pantai batu 🙂
Passss banget buat pacaran… :p
Nira yang sibuk mencari kerang
Eh ada Mr. Krab 😀
Sayangnya waktu kami ga banyak. Dalam satu jam ke depan kami harus udah makan siang dan check in di bandara untuk bertolak ke Jakarta. Tapi petualangan belum selesai, sodara-sodari…..
Eeeeaaaaaa “yang punya jalan” keluar….
Di Aceh saya banyak sekali menemukan sapi dan kambing yang berkeliaran di pinggir jalan. Mungkin ini yang membuat rasa daging sapi Aceh lebih enak… sapinya ga stress :p
Ke sono-annya lagi (halah bahasanya) ada banyak ibu-ibu yang menjual buah berbentuk bulat kecil-kecil berwarna hitam. Ternyata itu adalah asam kranji (atau Bahasa Inggrisnya velvet tamarind), buah yang sudah langka di Indonesia. Harganya murah, hanya Rp 10.000,00 per ikat. Rasanya hampir sama dengan asam jawa. Hanya saja bentuknya lebih kecil, kulitnya lebih lunak, dan jumlah biji per buahnya cuma satu (kalau asam jawa kan jumlah bijinya sabondoroyot :p).  
Beginilah rupanya:
Asam kranji (Dialium indum)
Gara-gara posting tulisan ini… saya jadi ingat bahwa biji-biji asam kranji yang saya simpan dulu belum saya tanam satu pun. Saya akan tanam biji-biji ini besok pagi, dan pohonnya akan saya rawat dengan baik demi dua tujuan. Pertama, saya ingin anak cucu saya nanti kenal dengan tanaman asam kranji. Dan kedua, saya ingin mengenang bahwa saya pernah datang ke Aceh, tempat di ujung Barat Indonesia yang alamnya begitu indah…. yang membuat saya selalu ingin mengenangnya 🙂
Nanti kalau pohonnya sudah tumbuh, saya akan kabari lagi, hehehe….
Pokonya I love Aceh dan asam kranji… 🙂
15

Braga Braga Braga……!

Kata orang, kota Bandung identik dengan Braga. Tapi kalau kata saya sih, nggak juga. Jaman dulu mungkin ya…. tapi rasanya jaman sekarang kecenderungan sudah berubah. Identitas itu kini milik jalan Dago.

Saya sendiri sebagai orang yang sudah 25 tahun tinggal di Bandung, ga punya banyak memori dengan Jalan Braga. Mungkin karena saya selalu disekolahkan di tempat-tempat yang kebetulan dekat dengan rumah, dan masih berkisaran di Bandung Utara. Bener loh, sejak TK sampe kuliah, saya ga pernah keluar dari Bandung Utara yang sejuk 🙂

Sejak kecil saya ga pernah jalan-jalan ke Braga. Paling cuma ke Pasar Baru atau Alun-alun Bandung yang jaraknya tidak jauh dari Braga. Saya ingat, dulu mama membelikan saya gulali dan es krim. Dua-duanya dengan volume yang cukup besar untuk ukuran anak kecil, dan saat itu saya protes karena papa saya mintain terus es krim saya 🙂

Setelah dewasa pun saya ga punya banyak kenangan dengan Braga. Palingan cuma lewat doang, ngeliatin orang-orang yang lagi foto-foto, atau mengidentifikasi bencong di malam hari. Tapi untuk nongkrong-nongkrong sih jaraaaaang banget. Sejauh ini saya cuma punya 3 memori yang berhubungan dengan pernongkrongan di Braga.

1. Wisata Kulinday ke Toko Roti dan Kue “Sumber Hidangan”

Ini adalah acara jalan-jalannya Inday Fans Club. Di kampus saya yang aneh ini, karena jumlah makhluk bernama wanitanya terlalu sedikit, bermunculanlah fans club-fans club cewe-cewe cantik. Inday Fans Club adalah salah satunya ^o^

Kebetulan beberapa di antara kami ada yang keturunan Chinese. Tanpa bermaksud SARA, kami iseng bikin foto kaya gini. Biar suasana jadoelnya tambah terasa 😀

Para juragan beserta para jongos dan babu :p
Kalau saya ga tergabung dalam Inday Fans Club, mungkin saya ga pernah tau bahwa di Braga ada toko roti yang terkenal banget di jaman Belanda dan masih eksis sampe saat ini, yang bernama “Sumber Hidangan” 🙂
2. Kiosk Braga City Walk

Nah, sama nih… Kalau aja saya ga ikutan buka puasa bareng para volunteer YPBB, saya ga akan pernah tau kalau di Braga ada Kiosk. Emang katrok banget deh saya ini 0.o
Kiosk ini setengahnya ada di dalam Braga City Walk, dan setengahnya lagi pake bangunan sendiri. Keduanya adalah salah satu dua bangunan moderen yang menggeser posisi bangunan-bangunan tua di Braga. 
Bersama para volunteer YPBB; lagi kepedesan makan Bebek van Java. Background: Jalan Braga di malam hari.

3. Braga Festival 2009

Saya dulu ga bawa kamera, jadi dulu saya ga foto-foto waktu main ke Braga Festival 2009. Sampe sekarang saya ga inget, kok bisa-bisanya dulu ga bawa kamera :p

Setelah googling, saya nemu foto ini… Ini adalah Deklarasi Braga yang disahkan oleh Pak Yusuf M. Effendi alias Dede Yusuf alias Dede Ucup.

Deklarasi Braga (sumber

***

Ya sih, memori saya tentang Braga memang cuma sedikit. Tapi, tapi, tapi….. besok saya akan menambah pundi-pundi memori saya tentang Braga… karena besok akan ada Braga Festival yang diselenggarakan untuk ke-6 kalinya. Katanya, festival tahun ini lebih difokuskan pada pelestarian citra kawasan Braga yang sudah dikenal dengan bangunan tempo dulu, kawasan belanja bergengsi, serta bangunan art deco-nya.
Oh, ternyata Braga Festival itu udah 5 kali digelar…. tapi kok saya cuma tahu 1 kali ya? Apalagi jawabannya selain karena saya ini emang katrok :p
Buat temen-temen yang tinggal di Bandung atau biasa berlibur ke Bandung di akhir pekan, jangan lewatkan acara ini ya. Apalagi kalau kita penggiat seni dan arsitektur… Dijamin betah deh…. 😀 😀 😀

Pasang lagu ini dulu ah, biar terasa Bandungnya….
http://www.youtube.com/v/q2zR7K95k7Q?fs=1&hl=en_US&color1=0x3a3a3a&color2=0x999999

14

Peraturan yang Aneh

Ada yang aneh ga dengan gambar di atas? 
Ini adalah mie goreng yang saya pesan waktu saya makan siang di Bandara Sultan Syarif Kasim II Pekanbaru. Waktu saya tanya sama mbak-mbak pramusaji di restoran tersebut, beginilah jawabannya: “Soalnya mbak udah melewati pemeriksaan X-ray, jadi ga boleh lagi ada benda tajam setelah pos pemeriksaan itu.”
Oh gitu ya… saya baru tau kalau garpu itu masuk dalam kategori benda tajam sehingga dilarang masuk ke pesawat. Saya pun kemudian terlibat dalam obrolan ga penting bersama Mas Oi dan Kak Ryan dengan pertanyaan pancingan “kenapa kita ga boleh bawa benda tajam?” Salah satu dari mereka lalu menjelaskan bahwa bisa saja benda tajam itu dipakai untuk memecahkan kaca jendela pesawat… atau nodong pramugari misalnya.
Oooooh…. Tapi, tapi…. bukannya kalau kita naik Garuda Indonesia kita dapet makan berat, dan kita “dipinjemin” peralatan makan lengkap mulai dari sendok, garpu, pisau, sampe tusuk gigi (yang biasanya kita colongin)? 
Hmmm…. Nah lo…. berarti ini adalah peraturan yang aneh 😉