Bicara tentang Pernikahan (My Wedding Preparation – Part 1)

Entah bagaimana mulanya, pokonya tiba-tiba saya harus nyiapin acara pernikahan sejak bulan kemarin. Oh ya… sejak saya dan orang tua saya berkunjung ke rumah sang pacar, hehehe… Sebenarnya rencana pernikahan ini bukanlah sesuatu yang menghebohkan, karena toh sejak mulai pacaran 3 tahun lalu, kami memang berencana cepat-cepat menikah. Pengennya sih cepet-cepet, tapi ternyata seluruh jagat raya baru mendukung kami melaksanakannya tahun depan.

Lalu pertanyaan yang muncul pertama kali adalah “pesta pernikahan macam apa yang akan digelar?” Hmmm… kalau ngikutin apa yang kita mau, hampir semua orang akan bilang ingin menggelar pesta yang mewah, di mana para tamunya dijamu dengan makanan yang lezat, dan sang pengantin pada hari itu bak raja dan ratu sejagad. Just confess it! Saya yakin semua wanita pasti menginginkan hal itu. Tapi pertanyaan berikutnya adalah “perlukah semua itu?”

Sebenarnya sih pengen…. Tapi setelah dipikir-pikir lagi, kayanya saya ga perlu pesta mewah itu. Bagi saya, yang terpenting dari sebuah pernikahan adalah janji suci kedua mempelai. Lalu buat kenapa sampai ada yang namanya “pesta”? Apa sih tujuan pesta? Sebenarnya hanya untuk ajang woro-woro aja kan bahwa si A dan si B menikah. Saya ga keberatan kok kalau saya dan pasangan saya menikah tanpa pesta. Tapi sayangnya kami tidak hidup sendiri… dan kebetulan aja orang tua saya, orang tua pacar saya, dan juga mungkin orang tua kamu ga suka akan keputusan tersebut..

Beberapa hari lalu saya ngobrol dengan seorang teman saya yang baru saja menikah bulan lalu. Dia bercerita bahwa dia juga tidak menginginkan pesta pernikahan yang mewah, tapi keluarga mempelai wanitanya-lah yang menginginkannya. Mereka bilang ini adalah sebuah keharusan. Loh, kata siapa? Pesta pernikahan itu hanya budaya, yang tentu saja lahir dari pemikiran manusia. Berarti kita tidak punya kewajiban untuk menjalankannya. Memang kita perlu melestarikan nilai-nilai budaya bangsa ini, tapi bagian budaya yang mana? Yang boros dan menghambur-hamburkan uang?

Lalu kenapa masih kita lakukan juga? Kenapa, ada yang tau?

Saya sendiri ga tau kenapa. Saya rasa kita saat ini terjebak pada suatu usaha pelestarian budaya yang absurd. Absurd karena kita mencoba menjiplak gaya hidup yang diwarisi para pemegang tahta kerajaan jaman dulu, tanpa benar-benar menelaah apa manfaat yang sebenarnya bagi kita. Terlebih lagi apabila kita bukan termasuk kaum “mereka.”

Kembali ke rencana pernikahan. Untungnya keluarga saya dan keluarga pacar saya ga keberatan dengan rencana gelaran pesta yang sederhana dan biasa-biasa saja. Kami setuju untuk melangsungkan akad dan resepsi pernikahan pada bulan Juni atau Juli tahun depan. Saya sih milih bulan Juni atau Juli itu ngasal aja… sekenanya, hahaha…

Tinggal milih tanggal deh. Awalnya saya pikir milih tanggal itu mudah. Tapi kemudian pemilihan jadi agak rumit, karena bude saya memerintah menyarankan untuk tidak memilih hari Minggu Pon dan Kamis apaaaaa gitu, karena itu adalah hari-hari meninggalnya eyang putri dan eyang kakung dari keluarga mama di Jogja. Ga mudah, karena saya ga punya tanggalan Jawa. Ada yang punya tanggalan Jawa? Tolong liatin dong… ada hari Minggu Pon ga di bulan Juni dan Juli 2011? >,<

Speaking-speaking tentang resepsi pernikahan… kami akan mengejawantahkan adat nenek moyang saya, yaitu adat Jogja. Saya sangat suka adat pernikahan Jogja, karena selain memang menarik, mungkin saya juga suka karena adat ini sejak jaman dulu digunakan di upacara pernikahan para putri Keraton. Waw waaaaw… (Wah benar nih…. susah ya untuk ga ngiri sama putri Keraton…. ga heran deh orang susah lepas dari budaya pesta :p)

Nah, abis itu tinggal milih bajunya deh…. Setahu saya, ada 3 jenis busana pengantin di adat pernikahan Jogja. Masing-masing dipakai pada kesempatan yang berbeda. Tapi seiring berjalannya waktu, aturan penggunaan busana ini tidak terlalu diperhatikan.

Ini dia ragamnya:

Busana Paes Ageng, di mana kedua mempelai menggunakan kemben/dodot. Busana ini dipakai oleh Mbak Dian Sastro di acara resepsi pernikahannya. Masya Alloh cantiknyaaaaa.. πŸ™‚ 
Busana Jogja Putri, di mana mempelai wanita menggunakan kebaya sederhana dengan sanggul rambut yang agak “mekar” ke samping. Ini juga dipake sama saudari kembar saya yang cantik itu.

 Busana Paes Ageng Jangan Menir, kalau menurut saya sih ini seperti perpaduan Paes Ageng dan Jogja Putri. Entah siapa model di foto ini… tapi ini saudari kembar saya juga :p
Tinggal depeleh-depeleh nih… Sebenernya saya sukaaaa banget sama busana Paes Ageng. Kayanya keren aja gitu pake batik dari atas sampe bawah. Tapi kayanya opsi ini agak tidak memungkinkan, karena pacar saya agak terlalu kerempeng…. jadi pasti nanti saya keliatan gemuk banget. Males deeeeh -_-
Yang Jogja Putri juga bagus (pokonya semua yang dipake Dian Sastro saya suka deh :p), tapi sayangnya kalau muka saya yang bulat ini dipadukan dengan model sanggul seperti itu, bakal tambah buntet deh. Ntar undangannya pada bingung, ini yang nikahan manusia apa donat?
Jadi ya pilihan saya akhirnya jatuh ke busana Paes Ageng Jangan Menir. Walaupun ada niatan juga untuk memaksa menyemangati si pacar supaya mau nambah bobot berat badan, supaya kita bisa pake busana Paes Ageng, hehehehe…. Wah, jangan-jangan biaya nikahan paling gede malahan buat beli Appeton Weightgain, hahaha…. xD
Lalu bagaimana nuansa pestanya? Lalu bagaimana souvenirnya? Undangannya? Makanannya?
Sabar…. Tunggu saja tanggal mainnya, hihihihi. *Sok laku mode on* 
Advertisements

4 thoughts on “Bicara tentang Pernikahan (My Wedding Preparation – Part 1)

  1. wah semoga lancar persiapan akad dan resepsinya ya.. milih tanggal itu lebih sering ribet kayaknya :Ddan soal resepsi, tujuan sebenarnya kan untuk menyiarkan ke khalayak; ini lho rime dan pacar sekarang sudah resmi jadi suami istri. Jadi ga siri alias diem-diem hehe πŸ˜€ tapi kalo ya berlebihan/mewah mungkin menyangkut prestise atau standar sosial lingkungannya mungkin ya?kepanjangan. Pokoknya, semoga sukses lancar langgeng. Amin πŸ™‚

  2. Aiiiih, Mpok Rime mau kawiiiin! *tersipu*Selamat dah! :DAye doain moga persiapannye lancar, dan acaranya pun lancar nantinya. Amin! ^__^Ehem, ngomong2, pacar sekampus juga? πŸ™‚

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s