Indonesia Menang, Banggakah Kita?

Nasionalisme memang sangat dahsyat. Saya yang tidak terlalu suka sepak bola saja bisa menjadi suka dibuatnya. Apalagi saat melawan negara-negara yang hobinya menginjak-injak harkat dan martabat Indonesia, wah saya pasti jadi suporter paling nyebelin sejagat raya.

Saya sekarang pengen sedikit berkomentar–atau lebih tepatnya ngabulatuk–tentang persepakbolaan Indonesia. Tentang gosip yang sedang hangat diperbincangkan oleh ibu-ibu dan remaja putri, yaitu tentang Irfan Bachdim. Saya ga akan membahas tentang siapa itu Irfan Bachdim, tapi saya ingin membahas tentang predikatnya sebagai pemain yang di-“naturalisasi.”
Irfan Bachdim–si ganteng maut
Ya, dialah Irfan Bachdim, pemain timnas yang sedang banyak diperbincangkan belakangan ini. Yang muda, dan top scorer. Ah tapi tidak juga… Bambang Pamungkas, Muhammad Ridwan, Arif Suyono, dan Firman Utina juga top scorer. Tapi kenapa harus Irfan Bachdim? Mungkin sebenarnya bukan hanya karena “top scorer”nya, tapi juga tampangnya, dan bule-nya. Saya sampai sekarang masih ga ngerti, kenapa orang Indonesia tuh hebooooh banget kalau ada sesuatu yang berhubungan dengan bule. 
Btw, istilah naturalisasi masih terdengar aneh bagi saya. Untuk menggambarkan penarikan orang-orang bule atau blasteran Indonesia yang skill sepakbolanya berkembang di luar negeri menjadi bagian dari timnas Indonesia, mungkin istilah yang lebih tepat adalah “Indonesianisasi” atau “PSSI-isasi.” Kenapa jadi naturalisasi sih? Natural itu kan artinya alami, bukan Indonesia. 
Kembali ke topik. Irfan Bachdim sukses membuktikan bahwa dirinya patut diperhitungkan sebagai pesepakbola yang berskill internasional. Dengan hasil seperti ini, negara mana sih yang kemudian tidak tergiur untuk melakukan naturalisasi? Adalah sangat mungkin di tahun-tahun depan Indonesia akan menambah jumlah pemain naturalisasi, dengan tujuan meningkatkan prestasi di kancah sepakbola internasional. Dan rasanya, bau-baunya menunjukkan kecenderungan itu. Gosipnya akan ada 7 pemain asing lagi yang akan dinaturalisasi. Udah mau ikut-ikutan Qatar aja nih keknya. 
Katakanlah setelah melakukan naturalisasi tambahan, di tahun-tahun depan timnas Indonesia berpeluang lebar memenangkan berbagai kejuaraan internasional yang lingkupnya lebih luas lagi dari ASEAN. Lalu akan banggakah kita?
Kalau saya? Tergantung. Tergantung seberapa besar andil para pemain naturalisasi tersebut terhadap keberhasilan timnas. Kalau porsinya lebih kecil dibanding andil pemain lokal, saya akan bangga. Tapi kalau sebaliknya, buat apa? Bahkan saya akan merasa malu. 
Bagi saya, menang bukanlah sekedar mendapat pengakuan bahwa kitalah yang terbaik di lapangan. Tapi menang juga berarti kita mampu mengembangkan potensi lokal kita hingga menjadi yang terbaik di kancah internasional. Kalau kita banyak pakai pemain naturalisasi, itu mah bukan mengembangkan potensi lokal, tetapi mengambil hasil pengembangan negara lain lalu melabelinya dengan nama “Indonesia.” Kalau begini, kita sebenarnya belum mampu jadi yang terbaik…. kita hanya mampu bayar orang.
Saya tidak bicara tentang darah atau garis keturunan. Saya bicara tentang bagaimana dan di mana seseorang berkembang dan berproses. Artinya, ga peduli mau bule atau lokal, selama orang itu berkembang di Indonesia, itu masuk dalam kategori pengembangan potensi lokal. Contohnya adalah Miroslav Klose yang berdarah Polandia dan lahir di Polandia, tapi kemudian sejak kecil hijrah ke Jerman dan memulai karir sepakbolanya di Jerman. Kalau dia sekarang membela timnas Jerman, ini adalah sesuatu yang wajar. Dan Jerman layak memilikinya, karena Jermanlah yang mengembangkannya.
Kalau kita analogikan dengan dunia tani, kasus Miroslav Klose bagaikan menanam bibit impor di tanah sendiri. Sedangkan kasus Irfan Bachdim atau pemain naturalisasi blasteran Indonesia lainnya adalah menanam bibit lokal di tanah orang lain, lalu kita membelinya atau mengambilnya kembali. Sekarang coba kita pikir lagi, lebih bangga punya bibit bagus atau punya tanah yang bagus? Kalau kita punya bibit bagus tapi tanah kita ga subur, apakah kita layak mendapatkan hasil panen yang bagus?
Mungkin ada yang akan jawab layak. Layak, karena kita punya uang. Makanya di atas saya katakan bahwa kalau menangnya lewat cara begini, sebenarnya kita belum mampu jadi yang terbaik, tapi hanya mampu bayar orang. 
Balik lagi ke pertanyaan awal. Banggakah kita? Apa yang sebenarnya kita kejar? Supremasi atau pengembangan sumber daya manusia lokal? Jawaban kita akan sangat bergantung pada apa visi kita. 
Advertisements

2 thoughts on “Indonesia Menang, Banggakah Kita?

  1. yah, inilah indonesia… untuk idealis (masuk akal) saja tidak cukup, perlu menjadi setengah setengah saja, begitu kali cukupnya… πŸ™‚ salam kenal, πŸ™‚

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s