Mencoba Mandiri (My Wedding Preparation – Part 5)

Lucu ya gambar ini. Ini adalah poster yang menggambarkan kondisi di Eropa pada tahun 1940-an. Saat itu kaum pria sibuk berperang, sehingga kaum wanita harus mengerjakan pekerjaan pria dan wanita sekaligus. 

***

Banyak teman yang bertanya, kenapa saya begitu keukeuh membuat undangan dan souvenir pernikahan sendiri. Saya ga bisa jawab panjang lebar kecuali satu kata: pengen. Ya pengen aja. Tapi terus mereka nanya lagi “Kenapa pengen?” Well, kalau kalau untuk yang ini, penjelasannya agak panjang.

Boleh setuju boleh nggak… tapi bagi saya, dunia ini hancur karena uang. Dan makin lama dunia akan makin hancur, karena makin lama manusia makin suka sama yang namanya uang. Manusia cenderung jadi ga kreatif dan mengabaikan pentingnya modal sosial gara-gara uang. Padahal menurut saya ini adalah dua hal terindah yang bisa manusia lakukan di sepanjang hidupnya.

Memang, uang tidak bisa dipisahkan dengan kehidupan kita sehari-hari. Tapi saya ga mau jadi ga kreatif 😀 Kalau saya bisa kerjain sendiri, kenapa ga dikerjain sendiri? Bukankah ini membuat hidup kita jadi lebih hidup? 😀

Ya tapi bukan berarti juga semua-muanya saya kerjain sendiri kaleeee. Ada beberapa hal yang memang saya ga bisa lakukan, misalnya ngedekor ruangan (ajigile, masa saya ngedekor ruangan sendiri?) atau jadi pager ayu (lah, apanan saya duduk di pelaminan :p).

Nah, untuk hal-hal seperti ini, prioritas pertama yang akan saya lakukan adalah minta bantuan dari orang-orang yang saya kenal, dan yang namanya bantuan mah artinya ga dibayar. Kalau ga ada yang bisa bantu, baru deh bayar orang… Tapi liat-liat dulu, ada ga kerabat atau famili yang bisa menyediakan jasa ini. Kalau ada, kenapa ga pake mereka aja? Itung-itung menjaga tali silaturahmi dan membuat harga jadi miring, hehehe :p

Sejauh ini, perintilan yang akan saya buat sendiri hanya kartu undangan dan souvenir. Lay out kartu undangan juga insya Allah akan saya desain sendiri. Tapi karena saya kurang jago desain grafis, untuk bagian desain yang agak rumit saya minta bantuan Toru, atau lebih tepatnya ngerepotin Toru, hehehe…. Toru baik deh… 🙂

Intinya, saya pengen punya semangat seperti ibu-ibu yang gambarnya saya tempel di atas. Kalau suatu pekerjaan bisa kita kerjain sendiri, kenapa ga kita kerjain sendiri? Kalau kita bisa minta bantuan temen, kenapa kita mesti bayar orang?

Emang kartu undangan saya nanti ga akan sebagus kartu undangan lain yang diproduksi di percetakan. Tapi bagi saya memaknai hidup jauh lebih penting daripada kartu undangan yang bagus, hehehehe….. 😀 😀

Tulisan ini saya persembahkan untuk teman-teman ITB saya yang begitu mencintai uang. Sadarlah kaliaaaaaan… uang itu bukan segala-galanya :p

Advertisements

4 thoughts on “Mencoba Mandiri (My Wedding Preparation – Part 5)

  1. Salut buat Mbak Rime & mas-nya.Sementara calon mempelai lain sibuk memikirkan diri sendiri, tp Mbak pemikirannya jauh kedepan (lingkungan dan anak cucu didepan)Saya doakan semoga diberi kemudahan, seandainya saya bisa membantu..

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s