Bandung Lautan Sampah dan Haters Gonna Hate

Ini adalah berita yang cukup basi, tapi mungkin ada beberapa di antara temen-temen yang belum tahu….. bahwa Kota Bandung kini kembali menjadi lautan sampah. Setelah TPA Leuwi Gajah ditutup dan pembuangan sampah disentralisasi di TPA Sari Mukti, kini TPA ini pun ditutup. Tidak jelas apa yang melatarbelakangi penutupan ini, tapi beberapa pihak percaya bahwa ini mengandung isu politis, yaitu untuk menggolkan dibangunnya PLTSa (insenerator) di Bandung.

Ini adalah foto tumpukan sampah di Jalan Cibeunying-Bengawan, yang saya dapat dari Walhi Jabar.

Dada Rosada, mana dadamu?

Pada situasi seperti ini, barulah sebagian masyarakat memahami pentingnya 3R, terutama reduce (mengurangi sampah). Himbauan 3R pun berkumandang di mana-mana. Tapi herannya, bisa-bisanya ada yang menulis hal yang sangat bertentangan dengan prinsip reduce di wall YPBB di saat-saat seperti ini. Beginilah ceritanya…… *jadi inget program kismis yang hantu-hantuan, hahahaha…*

Xxx: (nulis di wall) kita tidak bisa lepas dari plastik. tapi kita harus berusaha mendaur ulang plastik tersebut


YPBB: halo Xxx 🙂
kalau sampah plastiknya sudah ada, sedapat mungkin memang perlu kita cegah supaya tidak jadi sampah (Misalnya dengan didaur ulang atau digunakan ulang)
tapi tentunya, yang perlu menjadi prioritas adalah mengurangi sampah plastik dari awal…
tetep smangat untuk mengurangi penggunaan plastik ya 🙂
GO ZERO WASTE, GO!


Xxx: bersahabatlah dengan plahtik


Xxx: janagn khawatir 500 tahun mendatang sampah yang tertanam akan menjadi bahan tambang yang amat dicari bagi generasi selanjutnya.
sama halnya manusi purba dulu yang disebuit budaya dapaur sampah itu pertma kli ditemukan tumpukan kulit kerang yang amat banyak
kalau dipikir zaman dahulu kulit kerang itu limbah yanh tidak bisa didaur ulang tapi sekarang kulit kerang yang ditemukan di jemran itu menjadi objek penelitian ternya awarga jerman sudah sadar akan tata kota dan kebersihan heheheh


Saya: Halo Xxx..


Setahu saya, bahan tambang atau migas akan terbentuk setelah jutaan tahun, itu pun kalau tekanan dan faktor abiotik lainnya mendukung… 


Kalau faktor abiotiknya tidak mendukung, walaupun dia terurai 500 tahun kemudian, dia hanya akan terurai jadi karbondioksida, air, senyawa organik, dan racun logam berat yang tidak bisa terurai. 


Memang ada suatu fenomena prasejarah yang disebut “dapur sampah” atau kjokkenmoddinger, yang maksudnya adalah tumpukan kerang sisa makanan manusia purba. Tapi ini ga bisa dijadikan alasan bagi kita untuk “menanam” plastik. Memang sampah kerang dan plastik sulit terurai, tapi kedua hal ini punya perbedaan. 


– Kerang sulit terurai karena mengandung kitin dan kalsium dalam jumlah besar, sedangkan plastik sulit terurai karena memang tidak ada organisme yang bisa mengurainya.
– Kerang tidak mengandung racun, jadi kalaupun kita buang kerang di tanah, kita tidak meracuni tanah. Lain halnya dengan plastik, dia butuh senyawa kimia sintetis yang aneh-aneh untuk bisa membuatnya lentur, kaku, berwarna, tahan lama, dll. 
– Kerang sangat bisa didaur ulang (oleh alam), walaupun waktunya lama… sedangkan plastik ga bisa, kecuali kalau kita punya bakteri dan jamur alien yang bisa mengkonsumsi plastik. Kalaupun didaur ulang pake teknologi pabrikan, kualitas plastik daur ulang akan jauh lebih rendah dari kualitas plastik sebelumnya, sehingga bisa dikatakan bahwa ini adalah proses down-cycle, bukan recycle. Jadi “daur ulang plastik” itu bukan solusi yang mumpuni
– Untuk dapet kerang, orang tinggal ngambil ke laut. Tapi untuk bisa menghasilkan plastik, orang harus ngebuka hutan, ngebor, ngambil minyak, dan diolah di pabrik plastik. Bayangkan berapa polusi yang dihasilkan? terus kalau udah jadi sampah, dia cuma bisa jadi racun buat tanah… jadi memang sebaiknya ga usah ada aja sekalian….


Kalau kita bisa hidup kaya manusia jaman purba, yang untuk ngebungkus makanan ga perlu pake plastik, cukup pake daun atau kulit kayu, atau kerang, kita boleh kok buang sampah sembarangan kaya mereka… malah lebih bagus kalau kita buang sampah-sampah jenis itu sembarangan, karana mereka akan jadi kompos dan menambah kesuburan di tempat itu 🙂


Xxx: jangan khawatir kita sekarang belum tau teknologi pengurai karena pengetahuan masih terbattas. nanti setelah ratusan tahun ke depan manusia sudah berubah banyak temuan yang sanagt bermanfaat dari limbah plastik ini. orang zaman purba dulu juga tidak mengenal apa itu kitin atau zat pengurai. dan sebagainya dan sekarang pun kita tidak tau apa itu limbah plasik bagimana mengurainya dan sebgainya. pasti ada suatu revolusi bahwa bahan plastik akan laris.


Saya: justru karena kita belum tahu, sebaiknya kita tidak gegabah dalam menggunakan plastik 🙂


Xxx: justru ini adalah kehendak alamiah dari insan manusia untuk terus memanfaatkan yang ada zamn dulu kulit kerang sanagt berbahaya karena mereka berfikir tidak dapat didaur ulang. nah terhadap plastik pun kita banayk berfikir yang sama padahal dalam plstik itu tersimpam zat yang kita tahu apa reaksinya setalah tertanam dalam tanah disertai timbunana limbah kompos lainnya nah inilah yang perlu dikaji zat apa yang akan terjadi setlelah ratusan atau ribuan tahuan ke depan. 
plastik akan tetap jadi primadona abad sekarang inoi


Saya: boleh tau ga apa bahayanya kerang? 🙂
terus, kita tahu dari masa kalau manusia purba jaman dulu tahu bahwa kerang ga bisa didaur ulang?


saya baru baca-baca lagi… ternyata kitin pada kulit kerang itu terurai dengan cukup cepat.. jadi kerang yang kita temukan sebagai kjokkenmoddinger kemungkinan besar adalah fosil (tentunya anak jurusan sejarah lebih tau tentang ini :p).. kitin pada kerang akan terurai, dan rongganya akan terisi dengan komponen anorganik yang kebetulan ada di sekitar situ, misalnya kalsium karbonat.


kalau udah jadi fosil, maka sifat dia non-organik, artinya sampai lebaran monyet pun ga akan terurai.. tapi hanya bisa lapuk (dan waktunya tergantung dari waktu paruh senyawa pada fosil). 


okelah plastik akan jadi kompos setelah ratusan atau ribuan tahun, tapi jumlah material organik yang bermanfaat mungkin akan lebih sedikit daripada material non-organik yang terkandung dalam plastik itu.. dan untungnya kita udah tahu bahwa itu berbahaya (udah ada studi ilmiahnya, silahkan googling untuk tahu lebih banyak)


boleh saja kalau mau mengkaji apa yang terjadi setelah ratusan atau ribuan tahun ke depan. tapi apakah untuk alasan ini kita mau mengorbankan kesehatan masyarakat dan lingkungan? kalau mau, penelitian aja dilab.. dan pastikan orang-orangnya full protected karena mungkin di situ ada sangat banyak zat berbahaya. 


betul… plastik adalah primadona…. primadona di abad kebodohan, kalau kata orang-orang, bahasa kerennya adalah “the age of stupid”. kalau kita mau meneruskan gaya peradaban semacam ini, silakan terus pakai plastik 🙂


Saya: satu lagi…. kompos itu bukan limbah 🙂


***

Omaigooooood…. sedihnya…. kok bisa-bisanya ada calon guru yang pola pikirnya seperti ini? Saya tidak habis pikir…… 😦

Kalau dia masih keukeuh ngajak berantem (dan bukan berdiskusi), berarti dia resmi jadi my reactionary. Dan saya ga akan ngeladenin reactionaries.

Because haters gonna hate, and reactionaries gonna reactivate. 
Hidup zero waste….! 

Advertisements

6 thoughts on “Bandung Lautan Sampah dan Haters Gonna Hate

  1. Wah….kalo masalah ini saya angkat tangan… soalnya saya sendiri belum bisa "green" apalagi suruh diskusi ke arah ini, masih dangkal bekal saya…Sekarang saya mungkin hanya bisa melakukan buang sampah pada tempatnya, sudah kebiasaan dari negeri seberang, nyimpen sampah di tas, nunggu ada bak sampah… :DSemangat ya mbak… saya dukung go green-nya!

  2. knp go green selalu diartikan dg mereduce plastik ya??platik merupakan sebuah penemuan besar yg belum ada solusi pemusnahannya.tp kok sy yakin suatu saat nanti akan ada penemuan lebih lanjut untuk 'memanipulasi' hal itukonsekuensi perkembangan teknologi khan salahsatunya kerusakan alam..*halahtp emang klo pakai daun bungkusnya (klo bicara bungkus) sy sih setuju2 saja.

  3. @ahmed: karena plastik itu sangat destruktif mulai dari ekstraksi bahan bakunya sampai setelah dia jadi sampah.oke, katakanlah suatu saat akan ada solusinya, tapi racun yang sudah ada sekarang mau dikemanakan?tentang teknologi = alam rusak: nah, ini yang mungkin perlu diluruskan. teknologi apa yang kita maksud? teknologi pasca revolusi industri sih ya… tapi apa teknologi ini yang mau kita pertahankan? 🙂

  4. tambahan:oiya, go green itu sebenarnya kembali ke penggunaan bahan-bahan alam… dan mulai meninggalkan bahan-bahan sintetis yang sulit diurai oleh alam, misalnya plastik, BBM fosil, bahan tambang, zat-zat kimia sintetis pada makanan, dll..jadi ga hanya plastik. kebetulan aja plastik merupakan suatu bahan yang paling banyak digunakan di kehidupan sehari-hari 🙂

  5. tambahan:oiya, go green itu sebenarnya kembali ke penggunaan bahan-bahan alam… dan mulai meninggalkan bahan-bahan sintetis yang sulit diurai oleh alam, misalnya plastik, BBM fosil, bahan tambang, zat-zat kimia sintetis pada makanan, dll..jadi ga hanya plastik. kebetulan aja plastik merupakan suatu bahan yang paling banyak digunakan di kehidupan sehari-hari 🙂

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s