Aceh dan Asam Kranji

Mumpung ah……… mumpung saya belum terlalu ngantuk, dan mumpung hari ini masih tanggal 26 Desember 2010.

Ingatkah teman-teman dengan tanggal ini, tanggal 26 Desember? Bukan hari di mana Indonesia dibantai Malaysia 3-0 di final piala AFF, tapi hari di mana saudara-saudara kita di Aceh terkena musibah tsunami 6 tahun lalu. 
Saya ga akan ngebahas lagi tentang Aceh di tahun 2004. Yang lalu biarlah berlalu… jadi saya akan cerita sedikit tentang Aceh di tahun 2010 😀
Jadi ceritanya begini…. *kismis mode on* 
Sekitar 2 bulan lalu saya berkesempatan jadi trainer BLP di Aceh. Dan di hari terakhir di 2 minggu tersebut, saya dan teman-teman berkesempatan jalan-jalan ke daerah perbatasan Banda Aceh – Meulaboh. Konon lokasi ini adalah salah satu lokasi yang hantaman tsunaminya paling dahsyat. Sebenernya ini bukan jalan-jalan, tapi survey dan hunting foto lokasi dengan infrastruktur alam yang rusak. Rencananya foto-foto ini akan dipakai untuk melengkapi buku yang sedang kami buat. 
Alih-alih mendapat pemandangan alam yang rusak, kami malah lebih sering melihat pemandangan indah. Di satu sisi hati saya disejukkan oleh pantai yang sangat indah, dan di sisi lain mata saya disegarkan oleh hutan yang sangat asri. Di beberapa titik terlihat onggokan puing-puing rumah sisa hantaman tsunami yang ditinggal pemiliknya. Mungkin karena manusia enggan untuk bermukin kembali di sini, suksesi lokasi ini berjalan tanpa hambatan yang berarti.
Ini adalah beberapa foto yang membuat saya terkagum-kagum dengan Aceh…. 🙂 (mohon maaf kalau fotonya butut, ga pro soalnya :p)
Danau alami di perempatan jalan raya Banda Aceh – Meulaboh
Para bebek yang berenang dengan kecepatan 20 km/jam :p
It’s okay to be different
Padang rumput yang menyatu dengan hutan 🙂

Sungai yang tenang
Colorful nature
Pabrik semen yang mengganggu pemandangan :p
Jalannya buntu. Jalan yang aneh…
Baru kali ini saya nemu jalan yang buntu. Katanya jalan bagus nan mulus ini didanai oleh USAID. Jalan aslinya udah rusak berat, dan posisinya lebih dekat dengan bibir pantai. Di sepanjang perjalanan, jalan ini sudah membelah beberapa bukit gamping… jadi ini adalah bukit gamping yang kesekian yang dihancurkan. Sayang banget ya bukit-bukit ini dipecah-pecah 😦
Karena buntu, akhirnya kita putar balik deh…. 
Nah, itu dia pantainya… Pantai… pantai….!
Ternyata ada dermaganya. Katanya sih buat ngapalin semen dari pabrik semen yang lokasinya ga jauh dari situ. Yang tadi fotonya saya pasang itu loh…
Waw… waw… keren kan?
Pantai batu 🙂
Passss banget buat pacaran… :p
Nira yang sibuk mencari kerang
Eh ada Mr. Krab 😀
Sayangnya waktu kami ga banyak. Dalam satu jam ke depan kami harus udah makan siang dan check in di bandara untuk bertolak ke Jakarta. Tapi petualangan belum selesai, sodara-sodari…..
Eeeeaaaaaa “yang punya jalan” keluar….
Di Aceh saya banyak sekali menemukan sapi dan kambing yang berkeliaran di pinggir jalan. Mungkin ini yang membuat rasa daging sapi Aceh lebih enak… sapinya ga stress :p
Ke sono-annya lagi (halah bahasanya) ada banyak ibu-ibu yang menjual buah berbentuk bulat kecil-kecil berwarna hitam. Ternyata itu adalah asam kranji (atau Bahasa Inggrisnya velvet tamarind), buah yang sudah langka di Indonesia. Harganya murah, hanya Rp 10.000,00 per ikat. Rasanya hampir sama dengan asam jawa. Hanya saja bentuknya lebih kecil, kulitnya lebih lunak, dan jumlah biji per buahnya cuma satu (kalau asam jawa kan jumlah bijinya sabondoroyot :p).  
Beginilah rupanya:
Asam kranji (Dialium indum)
Gara-gara posting tulisan ini… saya jadi ingat bahwa biji-biji asam kranji yang saya simpan dulu belum saya tanam satu pun. Saya akan tanam biji-biji ini besok pagi, dan pohonnya akan saya rawat dengan baik demi dua tujuan. Pertama, saya ingin anak cucu saya nanti kenal dengan tanaman asam kranji. Dan kedua, saya ingin mengenang bahwa saya pernah datang ke Aceh, tempat di ujung Barat Indonesia yang alamnya begitu indah…. yang membuat saya selalu ingin mengenangnya 🙂
Nanti kalau pohonnya sudah tumbuh, saya akan kabari lagi, hehehe….
Pokonya I love Aceh dan asam kranji… 🙂
Advertisements

15 thoughts on “Aceh dan Asam Kranji

  1. Subhanallah … indah tanah rencong ini … :Dbtw tgl. 26-12-2004 rupanya bencana tsunami di Aceh … tgl. 26-12-2010 tim garuda dibantai tim harimau malaya 3-0 …tgl.26-10-2010 -> merapi meletusserba tgl. 26 … 😦

  2. Nice picture mbak… *mbak apa teh ya?Sudah dua blogger yang cerita ttg aceh, saya jadi pengen ke sana juga…kapan ya? *ngayal…Baru liat yang namanya asam kranji… rasanya gimana? sama kaya asam jawa ya?

  3. @prima: makasih… sebenernya ga usah pake mbak/teh juga gapapa.. tapi kalau keukeuh sih boleh pake "mbak", karena saya orang Jawa, hehehe :piya, rasanya hampir sama dengan asam Jawa, hanya saja agak lebih tawar. Ayo ke Aceh, dijamin ga akan nyesel :)@ais ariani: wah, masa mbak? mungkin harus direfresh :)@choirul: ayo mas, pemandangan cantik ini menunggu untuk dikunjungi kita semua :D@ahmed: iya betul, itu 6 tahun setelah tsunami. Amiiin..@wien: nanti kalau pohonnya sudah besar dan berbuah, mbak Wien akan saya bagi deh, hehehe 🙂 @ade truna: wah… kamu bisa ngedalang juga ga pak? 🙂

  4. teu tiasa, abdi rumaos teu tiasa ngadalang, teu netes sakeudik oge skill eta teh…pami ocon banyolna mah aya lah sakeukedikeun mah :)Rime rerencangan heri atau beina?

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s