45

Oscar dan Count, Inovasi Sederhana yang Sangat Menarik

Pagi ini saya iseng mendatangi situs-situs yang belum pernah saya kunjungi sebelumnya. Lalu terdamparlah saya di suatu situs komersial yang hanya menjajakan sedikit produk. Tapi ternyata walaupun sedikit, produk-produknya oke punya.

Dari semua produk yang dijajakan di sana, saya paling suka Toothpaste Oscar dan Count Ketchup.

Toothpaste Oscar

Continue reading

Advertisements
62

Kue Keranjang dan Lelaki Mata Keranjang

Hari ini, tiba-tiba rekan kerja saya menyodorkan sebuah kue keranjang ke hadapan saya. Ah.. iya, saya hampir lupa bahwa minggu depan adalah hari perayaan Tahun Baru Imlek.

Kue Keranjang

Teman saya yang sering saya panggil “Cici Jessis” ini adalah seorang keturunan Cina yang menganut agama Katolik, tapi tetap merayakan Imlek. Dia bilang, apa yang dia dan keluarganya anut memang sedikit aneh. Setengah Katolik dan setengah Konghuchu, katanya.

Kue keranjang yang Cici Jessis bawa masih sangat enyoi-enyoi, maksudnya masih sangat empuk karena belum terlalu lama dibuat.

Kata si Cici, kue keranjang ini bisa diolah dengan cara digoreng. Dan karena tadi sore saya lagi pengen melakukan hal-hal aneh, saya ajak aja Cici Jessis untuk “memasak” kue keranjang ini di dapur.

Dan bereksperimenlah kami..

Continue reading

59

Apa Sih yang Tidak Mungkin Selain Makan Kepala Sendiri?

Pastinya sebagian besar dari teman-teman sudah mendengar tentang fenomena crop circle yang terbentuk di 7 petak sawah di Sleman Yogyakarta pada 23 Januari 2011 lalu. Fenomena unik ini telah sukses membuat orang berspekulasi tentang keberadaan UFO dan alien di jagad raya, atau minimal kembali memikirkan tentang hal ini.

Walaupun saya sudah kenal fenomena unik ini sejak lumayan lama, tapi sejujurnya, baru kali ini saya benar-benar mencari tahu apa itu crop circle. Tercatat terdapat 26 negara yang melaporkan memiliki crop circle, dengan jumlah total sekitar 10.000 buah.

Para ilmuwan mengatakan bahwa 80% crop circle yang ada di permukaan Bumi bisa dipastikan merupakan kreasi manusia. Sedangkan 20%-nya lagi masih misteri. Ada yang bilang lingkaran-lingkaran ini bisa saja terjadi akibat angin puting beliung. Oh, kemon…. kalau saja angin puting beliungnya adalah hasil ayunan tongkat sihir  Profesor Snape sih saya mungkin percaya.

Bagi teman-teman yang rajin menonton televisi, pasti belakangan ini sering melihat sosok Thomas Djamaluddin, peneliti LAPAN yang sedang laku dimintai penjelasan tentang crop circle oleh media. Beliau menyatakan bahwa crop circle di Sleman itu adalah murni buatan manusia. “Karena UFO itu tidak ada,” tambahnya.

Saya setuju bahwa mungkin itu adalah pekerjaan orang iseng. Tapi bahwa UFO itu tidak ada: Oh ya? Apakah Anda bisa membuktikannya? Atau Anda sekedar tidak mau mengakuinya?

Mungkin tulisan ini akan terkesan sedikit kontroversial. Tapi it’s okey lah yah… saya pengen berpendapat.

Saya belum pernah melihat UFO, tapi saya tidak menyangkal KEMUNGKINAN keberadaannya. Silakan tertawakan jika memang lucu. Tapi setelah tertawa, coba baca postingan ini sampai habis, lalu pikirkan kembali segala kemungkinan yang mungkin belum pernah terpikirkan.

Continue reading

50

Harimau-harimau

*Sebelumnya, saya minta maaf dulu kepada teman-teman, karena belum sempat blogwalking. Insya Allah besok kalau ada waktu saya akan bayar hutang blogwalking :p*

Hari ini saya iseng memeriksa surat-surat tagihan via pos yang menumpuk di lemari ruang keluarga. Ternyata di antara amplop-amplop yang bertuliskan nama mama dan papa, saya menemukan dua amplop yang bertuliskan nama saya.

Rupanya keduanya adalah surat dari WWF, tertanggal 17 Agustus 2010. Selama ini saya tidak menerimanya, karena orang-orang di rumah lupa menyerahkannya kepada saya.

Awalnya saya pikir ini adalah surat dari WWF Indonesia. Tapi ternyata dari WWF UK. Isinya adalah ucapan terima kasih karena saya telah mengisi petisi untuk keperluan Tiger Summit 2010 di Rusia. Dan sebagai hadiah, mereka memberi saya satu set stiker harimau bertema “Year of the Tiger.” Mereka harap saya mau menempel stiker ini di tempat-tempat strategis sehingga orang lain bisa mendapatkan pesan yang ada di dalamnya.

Karena saya mendapat dua buah surat, berarti saya dapat 2 set stiker. Mungkin karena dulu saya mengisi petisinya dua kali, hehehe… :mrgreen:

Surat dari WWF UK.

Rencananya saya akan ambil satu atau dua potong stiker yang saya suka. Selebihnya,  stiker-stiker ini akan saya berikan kepada teman-teman, khususnya teman-teman kecil saya yang sisa waktu hidupnya akan lebih panjang dari pada saya 🙂

Surat dan stiker ini sangat mengingatkan saya pada tahun 2010, tahun harimau yang benar-benar harimau. Apa sajakah memori-memori indah itu? Mari kita cekidot….!

Continue reading

56

American English to Sundanese English

Setelah baca tulisan Mas Prim-Prim dan Mbak Han-Han tentang Bahasa Inggris, saya jadi tertarik untuk membahasnya juga.

Pernahkah teman-teman mencoba mengidentifikasi, kira-kira kalau sedang berbicara dalam Bahasa Inggris, teman-teman pake logat apa? Logat Amerika, British, atau mungkin logat lain seperti India?

Saya ga pernah tau tentang logat saya sendiri, karena saya ga pernah menyengajakan diri mau ngomong pake logat apa. Tapi kata beberapa orang, logat Bahasa Inggris saya ini sangat American.

Wendy, seorang peneliti dari AS (rekan kerja saya di Mentawai) seringkali menggunakan kata-kata rumit saat berkomunikasi dengan saya. Sampai-sampai saya seringkali harus menanyakan kembali apa maksud kata-katanya. Saking seringnya, dia sempat mengira saya punya gangguan pendengaran :mrgreen:. Tapi kemudian saya bilang, “Wendy, saya ga budek… saya cuma ga ngerti kamu lagi ngomong apa.”

Helen dan Wendy saat mandi di sungai.

Well, syukurlah kemudian dia sadar bahwa ternyata dia seringkali terbawa suasana kalau lagi ngobrol sama saya. Katanya, dia berasa lagi ngobrol sama orang Amrik. Pret….! Saya bahkan ga tau detilnya logat orang Amrik itu bagaimana. :mrgreen:

Mungkin ini ada hubungannya dengan kebiasaan saya waktu kuliah… saya hobi banget nonton serial Amerika, terutama Heroes dan Gossip Girl, hehehe 🙂 Jadi mungkin logat-logat ini masuk ke alam bawah sadar saya.. *apaan sih?*

Ya ya, saya tau serial ini ga penting. Tapi saya suka tuh :p

Selepas pulang dari Mentawai, saya memilih untuk bekerja di Bandung, bersama manusia-manusia yang saya anggap ajaib. Setelah berkecimpung dengan dunia mereka selama hampir 2 tahun, semua orang bilang logat saya sekarang nyunda abis. Saya ga tau dah, apakah logat ini juga terejawantahkan saat saya ngomong Bahasa Inggris.. :mrgreen:

Saya jadi ingat cerita dari bos saya. Beberapa bulan lalu beliau menghadiri suatu pertemuan tingkat regional Asia di Jakarta. Di sela-sela ceritanya yang cukup heboh, dia bercerita seperti ini:

“Gila, gua satu-satunya orang yang masih pake LAPTOP. Semuanya pake iPad…!”

(ini baru bumbunya, belum cerita yangs sebenarnya)

“Ternyata hampir semua pesertanya adalah orang-orang keturunan Asia yang tumbuh di Amerika. Saya kaget waktu dengar ada orang Cina yang ngomongnya pake logat koboy.”

“Hmmm… logat koboy? Kamu banyak ngomong ga pak di situ?”

“Iya, kaya yang di film-film koboy jaman dulu itu loh… Sebenarnya saya pengen banyak ngomong, tapi saya ga pede, takut yang keluar malah logat Sunda.”

“Saya baru sadar kalau selama ini saya salah gaul, hahahahaha….”

O-em-ji. Jangan-jangan ini juga terjadi pada saya, hahaha…

Bagaimana dengan teman-teman? Apa logat teman-teman saat ngomong Bahasa Inggris? American seperti para koboy, British seperti Harry Potter, atau Sundanese seperti bos saya? :mrgreen:

27

Foto Prewedding Sapi dan Pispot

Siapakah Sapi dan Pispot yang saya maksud? Mereka adalah raja dan ratu dari kerajaan kucing liar di sekitar rumah saya.

Si Sapi saya panggil “Sapi” karena warnanya seperti warna rambut sapi perah. Sedangkan si Pispot saya panggil “Pispot” karena saya pengen manggil dia “Pispot.” :mrgreen:

Si Pispot ini pernah jadi menantu adik saya, karena dulu Pispot pernah memadu kasih dengan si Dafi. Tapi sejak si Dafi pindah ke RT lain di mana dia bisa menemukan rumah yang nyaman yang si empunyanya mau mempersilakan dia masuk, Pispot kini berpaling kepada Sapi.

Ya, mereka adalah raja dan ratu kucing liar di sekitar rumah saya, dan istana mereka adalah rumah saya. Ya, rumah saya. Tapi kenapa mesti rumah saya? -_-

Apa mungkin karena dia merasa punya klaim harta gono-gini di sini? Tapi sudahlah, toh rumah ini sangat terbuka bagi kucing liar mana pun yang butuh atap.

Kemarin pagi, seperti biasa, saat mereka dan juga beberapa kucing liar lain sedang merecoki tukang sayur yang harus tahan dengerin ibu-ibu yang lagi pada ngerumpi, saya iseng memanggil mereka. (Manggil kucing, bukan manggil ibu-ibu rumpi). Dan gayus gayung pun bersambut. 🙂

Inilah mereka saat bergaya di sesi foto prewedding.

Dan inilah saat mereka memadu kasih.

Saya masih ga habis pikir. Kok berani-beraninya si Pispot memadu kasih di rumah mantan mertuanya. Sadarlah kau Pispot… sadarlah….!

57

Eni Komengs? (Any Comments?)

“Comment back or I’ll kick your ass.”
Kalau saya komen di blog Anda, berarti Anda HARUS komen balik di blog saya.

Asumsi ini kali ya yang ada di benak para narablog jaman sekarang. Sori, bukannya sok tua atau gimana, tapi fenomena yang akan saya ceritakan ini memang lebih sering saya temukan belakangan ini dibanding beberapa tahun lalu.

Dulu, orang ngomeng di blog orang lain karena memang pengen dan perlu untuk ngomeng. Kalau memang tulisan seseorang tidak perlu dikomeng, atau bingung mau ngasih komeng apa, ya tidak perlu memaksakan diri ngasih komeng. Tapi kayaknya jaman sudah berubah. Sekarang, aktivitas komeng-mengkomeng lebih seperti aktivitas jual beli, bukan aktivitas pertemanan.

Ai komeng yu komeng… yu tidak komeng balik, ai tidak akan komeng-komeng lagi.

*duh, kebanyakan nulis “komeng” nih. Masukin foto si Komeng dulu ah*

*Setelah foto ini, saya ga pake kata “komeng” lagi. Geli bacanya.*

Sah-sah aja sih kalau kita mau nganut paham ai komen yu komen. Tapi jangan sampai saking pengennya banyak orang yang ngunjungin balik blog kita, kita jadi mengurangi esensi aktivitas komen-mengkomen ini.

Pernah ga temen-temen nemu komen yang ga nyambung sama tulisan yang sedang dikomen? Saya cukup sering. Misalnya (salah satu yang paling saya ingat selama ini) di postingan saya tentang syukuran wisuda tahun 2007. Ga usah dilihat siapa-siapanya deh, intinya di situ ada orang yang ngasih ucapan selamat wisuda, padahal jelas-jelas sejak awal tulisan saya ga bilang bahwa itu acara wisudaan saya. Setelahnya, oknum ini acapkali memberi komen ga nyambung di blog saya.

Belakangan, setelah saya mencoba menulis blog lagi, saya semakin sering aja nemu fenomena semacam ini, baik di blog saya maupun di blog orang lain, yang mungkin jadi indikasi bahwa semakin banyak saja blogwalker yang asal komen tanpa membaca tulisan seseorang terlebih dahulu.

Selalu ada kemungkinan dari A-Z. Bisa saja orang tersebut ga baca suatu tulisan karena terlalu panjang. Terkadang saya juga melakukannya kalau saya lagi ga punya banyak waktu. Tapi minimal sebelum ngasih komen, saya akan mencoba menangkap dulu apa pokok pikiran dari tulisan tersebut, sehingga saya bisa ngasih komen yang ga bikin si empunya blog merasa gendok.

Bukannya asik ya kalau komennya jadi banyak?

Saya sih seneng-seneng aja komen yang masuk ke blog saya banyak.
Tapi kalau boleh milih, saya lebih suka komen yang saya dapat sedikit tapi tulisan saya beneran dibaca. Saya ga berharap tulisan-tulisan di blog ini dibaca banyak orang, karena toh ini adalah blog catatan pribadi yang ga penting. Tapi tetep, saya kurang suka kalau ada orang yang memanfaatkan blog ini tanpa mau membacanya terlebih dahulu.

Boleh dong saya bilang ‘memanfaatkan’? Kalau ada orang yang komen tanpa baca tulisannya dulu, kira-kira menurut temen-temen, apa sih tujuannya? Ya, kita sama-sama tau lah.. ga usah dibahas lagi.

Lebih aneh lagi kalau *ini kisah nyata nih* ada orang yang ngasih komen ga nyambung, udah gitu minta kita berkunjung ke blognya, lalu minta kita ngomen di sana, tapi ternyata di blognya ga ada fasilitas komen, lalu dia datang lagi ke blog kita, dan ngomen ga penting lagi, dan meminta KEMBALI kita berkunjung ke blognya sambil seolah-olah bilang “kok belum ngomen di blog saya?”

Jangan jadi bete dong kalau narablog yang blognya sudah kita komen ga balik ngomen di blog kita. Ini kan ga ada aturannya di UUD ’45 dan Al-Qur’an, hahaha….

Jan wessssss… Beneran pusing deh menghadapi narablog semacam ini…. -_-

Bagi saya, peradaban di dunia maya ga banyak beda dengan dunia nyata. Kita akan menilai sesuatu berdasarkan apa yang kita rasa, karena kita masih manusia, bukan robot. Saya akan bersimpati pada orang yang saya suka, dan saya akan (ehm) biasa-biasa saja pada orang yang membuat saya ilfil pada kesan pertama. Bagi saya, komen-yang-mengindikasikan-bahwa-si-pengomen-ga-baca-tulisan-yang-sedang-dia-komen adalah hal yang membuat saya ilfil. Kalau saya nemu hal kayak gini di blog orang lain pun, saya akan malas menjambangi blog si pengomen itu. *halah menjambangi…*

*pake istilah ‘komeng’ lagi ah…*

Kalau nemu pengomeng seperti ini di blog saya, saya akan tetap mengunjungi balik blognya, sesuai dengan apa yang dia harapkan, walaupun dia ga bilang “komen balik ya di blog saya” dan semacamnya. Saya akan membaca blognya dan memberi komeng secara manusiawi. Tapi jangan harap ke depannya saya akan berinisiatif blogwalking ke sana. Saya akan bilang “ai komeng yu komeng,” seperti halnya dua orang yang bertemu di pasar untuk bertransaksi jual beli, bukan bertemu di warung kopi untuk mengobrol dan saling berbagi cerita.

Lalu peradaban blog macam apa yang kita inginkan? Mari kita tentukan itu dulu, baru kita ngomeng-ngomeng secara membabi buta.

Saya sih lebih memilih peradaban blog yang seperti warung kopi, yang sederhana tapi manusiawi 🙂