Tetangga Iwan Fals?

Tiba-tiba saja hari ini saya ingat dengan tempat kerja saya dulu, sebuah tempat yang sangat indah di pedalaman Mentawai. Mungkin ingatan ini terpicu karena tadi malam saya melihat iklan tayangan televisi berjudul “Berburu” yang menampakkan babi hutan yang sedang berlari-lari. Kondisinya mirip sekali dengan di Mentawai.

Tapi sebenarnya bukan babinya yang saya ingat… melainkan cerita tentang Iwan Fals-nya.

Ini adalah cerita yang saya dapat dari Wibi, teman kerja saya yang dulu seorang mahasiswa Kehutanan UGM.

Suatu hari seorang guide (kita sebut saja Justin Bieber) bertanya kepada seorang asisten peneliti bernama Ira, “Ira, kampung Ira di mana?”

Lalu Ira menjawab, “Di Jawa.” Mungkin karena Ira tahu bahwa kalau dia menjawab “Jogja,” Justin tidak akan tahu di mana lokasi tersebut. Minimal kalau Ira menjawabnya dengan nama pulau, Justin akan lebih mengenalnya, karena ini ada di pelajaran SD.

Tanpa dinyana, Justin pun membalasnya dengan antusias, “Wah, di Jawa? Rumah kamu dekat dengan Iwan Fals tidak?”

Saya sampai sekarang ga pernah tau apa jawaban selanjutnya dari Ira. Karena setelah Wibi menceritakan tentang pertanyaan berbau Iwan Fals tersebut, saya langsung tertawa terbahak-bahak. Demikian juga setiap kali cerita itu diceritakan, kami pasti akan kembali tertawa terbahak-bahak, dan cerita itu tidak pernah saya dengar dengan komplit.

Ups, sori… Saya tahu, mentertawakan kekurangan orang lain itu tidak baik, tapi ini benar-benar kocak. Saya tidak bermaksud melecehkan, saya hanya kagum dengan kepolosan si Justin. πŸ™‚

Di sela-sela ceritanya, saya ingat Wibi pernah berkata, “Dia berespon seperti itu karena dia menganggap Jawa itu sebesar Policoman.”

Policoman? Ini memang nama yang agak aneh, tapi ini adalah nama sebuah desa kecil di bagian Utara Siberut, Kepulauan Mentawai. Ada juga yang menyebutnya Polipsoman atau Politcoman. Malah di buku keluaran tahun 80-an, saya menemukan nama Pulipsuman. Ini adalah desa tempat tinggal para guide dan juru masak yang membantu para peneliti primata di Hutan Pungut.

Saya ga punya banyak kenangan dengan Policoman, karena saya hanya pernah menginap di sana beberapa hari, yaitu saat sebelum masuk hutan, saat lebaran, dan saat mau pulang ke Padang. Foto tentang Policoman pun tidak banyak, karena saat itu saya ga punya kamera. Ini adalah foto terakhir saya di Policoman sebelum bertolak ke Padang, yang dijepret menggunakan kamera milik Deden yang lensanya jamuran. πŸ™‚

Bergaya ala preman bersama Deden dan Vera di depan "Betaet," Desa Policoman, Siberut Utara

Dulu, waktu saya kerja di tengan hutan belantara, saya merengek-rengek ingin keluar dari sana. Bukan karena di sana banyak King Cobra, tapi karena saya stres ditekan oleh bos saya yang orang Amerika itu. Walaupun banyak kenangan buruk, tapi di sana juga ada banyak kenangan manis, salah satunya berinteraksi dengan para guide yang polos ini. πŸ™‚ Saya pengen banget bisa ke Policoman lagi untuk bertemu dengan mereka.

Sayangnya saya bukan orang kaya… Kalau saya punya uang banyak, saya akan mengajak Iwan Fals untuk manggung di Policoman, sekalian juga untuk memberi sedikit pengetahuan tentang geografi. πŸ˜‰

Advertisements

62 thoughts on “Tetangga Iwan Fals?

  1. hahahah lugu banget ya dia.. karenna kurang pengetahuan dan juga saking ngefansnya ma Iwan fals kali hehe..
    pasti sangat berkesan ya di sana πŸ˜€
    salam kenal..

    • iya mbak… mereka polos-polos banget… padahal ST12 juga terkenal loh di sana, tapi kok mereka ga nanya ttg Charlie ya? πŸ™‚

      salam kenal juga mbak πŸ™‚

  2. Saya di sini juga tetanggaan sama Sawung Jabo. Bahkan sekarang lagi ngedengerin Kotak. Itu tetanggaan banget, sampai2 dia nyanyinya kedengeran sama saya wkwkwkwk … ^_^

    • Nah, berarti Bang Aswi termasuk orang beruntung, menjadi 1 di antara 240 juta warga Jawa yang tetanggaan sama artis keren.

      Saya juga tetanggaan sama Fatur Java Jive… tapi menurut saya dia ga keren, hahaha…

    • Kalau orang Jawa Barat dan Jawa Tengah mungkin ngeuh… Tapi kalau orang luar Jawa apalagi yang tinggal di pedalaman kayanya bakal nanya lagi deh “Di mana tuh?” πŸ™‚

  3. Iwan fals memang legenda, gak ada duanya kalo menurut saya.
    Eh kalo bisa berkesempatan membawa Iwan fals manggung di Policoman saya diajak ya πŸ˜€

    Salam.. .

  4. Justin Bieber πŸ™‚ harus belajar geografi rupanya …
    hhmmm …

    Yang jelas …
    Foto ini jangan sampai hilang
    Ini pasti foto yang penuh kenangan … walaupun di potret pakai lensa yang jamuran …
    tapi nilainya luar biasa ini …

    Salam saya Rime

  5. Pingback: Apa Sih yang Tidak Mungkin Selain Makan Kepala Sendiri? | kopipakegula

  6. asik bener bisa jalan-jalan ke mentawai. πŸ™‚ wah, kamu seharusnya juga nyoba mblusuk ke sumatra barat daratan. tempat-tempat di sana namanya banyak yang lebih aneh lagi. di Solok pinggiran ada tempat yang namanya Kacang, Tembok, Kajai (artinya karet gelang), dll.

    kalau berhadapan dengan penduduk lokal yang dunianya cuma kotanya sendiri, saya sering bersyukur udah diberi kesempatan keluar dari tempurung sendiri. πŸ™‚ bersyukur karena bagi saya dunia gak cuma Padang saja. πŸ™‚

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s