Kue Keranjang dan Lelaki Mata Keranjang

Hari ini, tiba-tiba rekan kerja saya menyodorkan sebuah kue keranjang ke hadapan saya. Ah.. iya, saya hampir lupa bahwa minggu depan adalah hari perayaan Tahun Baru Imlek.

Kue Keranjang

Teman saya yang sering saya panggil “Cici Jessis” ini adalah seorang keturunan Cina yang menganut agama Katolik, tapi tetap merayakan Imlek. Dia bilang, apa yang dia dan keluarganya anut memang sedikit aneh. Setengah Katolik dan setengah Konghuchu, katanya.

Kue keranjang yang Cici Jessis bawa masih sangat enyoi-enyoi, maksudnya masih sangat empuk karena belum terlalu lama dibuat.

Kata si Cici, kue keranjang ini bisa diolah dengan cara digoreng. Dan karena tadi sore saya lagi pengen melakukan hal-hal aneh, saya ajak aja Cici Jessis untuk “memasak” kue keranjang ini di dapur.

Dan bereksperimenlah kami..

(Sayangnya foto-foto hasil jepretan di HP saya sebagian crash… nama filenya jadi alay-alay gitu, misalnya IMAGz223.jPg. Omigooood, ternyata ada juga virus 4L4y -_-)

Pertama, potong-potong kue keranjang segede ulet bulu. Silakan interpretasikan masing-masing, gede ulet bulu itu segimana.

Setelah itu, ulat bulu dicelup ke dalam telur yang dikocok, lalu digoreng pada minyak panas dengan api sedang. Setelah diangkat, hasilnya ternyata jadi lebih enyoi-enyoi, bentuknya mirip keju yang dilelehin gitu. Sayang sekali fotonya crash 😦

Kemudian saya dan si Cici bereksperimen dengan menggunakan tepung ganyong.

Setelah dicelup di dalam telur, ulat bulu digelindingkan di tepung ganyong, lalu digoreng.

Setelah warna tepung berubah menjadi keemasan, angkat dan sajikan. Ini adalah contoh penyajian makanan yang sangat buruk. Tolong jangan ditiru ya :p

Ternyata kue keranjang yang digoreng dengan balutan tepung rasanya lebih enak daripada yang super enyoi-enyoi. Bagian luarnya garing, tapi bagian dalamnya enyoi-enyoi. Enak deh.. πŸ™‚

Selama kami menggoreng kue keranjang ini, Cici Jessis menceritakan sebuah dongeng kepada saya.

Konon, awal mula kue keranjang ini dijadikan sebagai budaya menjelang Imlek, adalah akibat dari kelakuan seorang lelaki menyebalkan. Alkisah, ada sepasang suami istri yang hidup makmur dan bahagia. Tapi kelamaan sang suami merasa bosan dengan sang istri, kemudian dia memilih untuk berselingkuh dan menceraikan sang istri.

Waktu pun berlalu. Pasca perceraian, lama-kelamaan usaha sang mantan suami mengalami penurunan dan akhirnya bangkrut. Istri mudanya yang matre itu kemudian meninggalkannya. Mungkin dia pergi ke laut, karena biasanya cewe matre ke laut aje. Dan entah bagaimana ceritanya, pokoknya si lelaki menyebalkan ini kemudian menjadi buta.

Tidak ada orang yang mau merawatnya, kecuali si mantan istri yang menyembunyikan identitasnya. Hingga suatu saat, mata lelaki tersebut sembuh dan dia bisa kembali melihat. Begitu mengetahui bahwa orang yang selama ini merawatnya ternyata adalah mantan istrinya, dia merasa sangat malu dan tidak bisa menyembunyikan rasa bersalahnya.

Untuk menebus rasa bersalahnya, sang mantan suami membakar dirinya di dalam tungku. Anehnya, Kaisar Langit mengangkatnya menjadi Dewa Tungku. Dewa aneh ini bertugas untuk mengawasi apa saja yang terjadi di dapur rumah-rumah penduduk. Jika terjadi hal-hal buruk, Dewa Tungku harus melaporkannya kepada Kaisar Langit.

Penduduk pun kebakaran jenggot. Mereka mencoba memutar otak, mencari cara bagaimana agar si dewa aneh ini tidak melaporkan hal-hal buruk kepada Kaisar pada saat perayaan Imlek. Mereka pun menemukan cara jitu, yaitu menyogok si Dewa Tungku dengan kue keranjang yang empuk dan manis, pada 1-2 minggu sebelum perayaan Imlek. Dan selamatlah mereka semua dari kemurkaan Kaisar Langit.

Begitulah dongeng yang Cici Jessis ceritakan kepada saya. Cici Jessis menutup dongeng ini pertanyaan yang menarik: “Saya heran, kenapa orang brengsek seperti dia bisa diangkat jadi dewa?”

“Mungkin karena di jaman dulu belum ada yang namanya fit and proper test, Ci…” :mrgreen:

Bagaimana dengan teman-teman? Adakah cerita menarik seputar kue keranjang atau tentang perayaan Imlek? πŸ™‚

Gong Xi Fa Chai…!Β Gong Xi Fa Chai…!

Sumber gambar kue keranjang: di sini.

Advertisements

62 thoughts on “Kue Keranjang dan Lelaki Mata Keranjang

    • rasanya seperti dodol ketan biasa… hanya saja ada aroma seperti madu πŸ™‚

      kue keranjang ini disebut juga dodol Cina, dibuat dari tepung ketan dan gula aren πŸ˜€

  1. Pingback: Kue Keranjang dan Lelaki Mata Keranjang | kopipakegula - Website Kumpulan Dongeng

  2. kalau saya karena belum dapat kiriman kue keranjang, akhirnya tadi iseng beli kue keranjang di supermarket, udah kecil tinggal caplok doang..

    ternyata bikinan Tegal, Ny Tjan Hok Lian mereknya, ada rasa susunya juga..

  3. Kalau Kue Keranjangnya sudah familiar, istilah Mata Keranjang juga begitu…
    Tapi kalau cerita sejarahnya itu baru tau hari ini…
    NB:
    Mau request Mbak…
    Kali2 tau sejarah Kue Donat…
    Tolong dibagi ke kita.
    Kalau nggak ada ceritanya, donatnya juga boleh…

    • jiahahaha… ujung2nya minta dikirim donat :mrgreen:

      kalau ga salah, dulu itu karena orang mencoba menggoreng roti, tapi bagian tengahnya selalu ga matang… sehingga akhirnya mereka melubanginya agar kematangannya sempurna πŸ˜€

  4. hemm.. nggak pernah imlekan sih, hehhehe… biasanya bukan kue keranjang, tapi apem… tau, kan?
    eh, bentar, , yang bener tuh gong xi fat choi atau Gong Xi Fa Chai.. hehhehe.. nggak ngeh bahasa mandarin sih.. πŸ˜€

    • Sama, saya juga ga imlekan πŸ˜€

      Tau dooong, kue yang pribumi banget itu kan? hahaha…

      itu sama aja kayaknya… ditulis “Chai” tapi dibaca “Tchoi”
      *mungkin :p*

  5. Waaah.. jadi tau cerita kue keranjang…
    mbak, aku kayanya eprnah makan kue itu, cuma gak ngeh itu yg namanya kue keranjang… kalo ditanya sudah belum? aku pasti bilang belum, wakakakaka… padahal udah!

    tapi ada untungnya bilang belum, soalnya ntar pasti dikasih! wkakakakak… *ngarep

  6. bentuk nya kek gethuk goreng yah abis di olah itu. btw, aku serius menyimak cerita nya padahal. udah amu aku ceritain ke mamah soal kue keranjang itu. eh ternyataaaa…
    jadi mikir,
    fit and proper test,
    itu kek gemanah yah bentuk nya kalau untuk para dewa?
    hehehehhe

    • iyaaa.. saya juga ngomen seperti itu setelah ulat bulu ini selesai digoreng.. tapi berhubung di sana ga ada yang tau getuk goreng, pada bingung deh sama omongan saya :p

      saya juga masih ga kebayang mbak, tentang fit and proper test para dewa, hihihi πŸ˜€

  7. Gong Xi Fa Chai…! Gong Xi Fa Chai…!

    Untuk cerita Dewa tungku, eh Kue keranjang belum ada…hehheh
    tapikayanya punay fiksi base on story berkaitan dengan Imlek…kebetulan Hani dulu tinggal dilingkungan orang-orang China jadi banyak kenangan….

  8. perna dulu waktu zaman SMA merasakan kue keranjang yang dibawa temen SMA yang tionghoa

    tapi sekarang udah lupa bentuk dan rasanya…
    kayak dodol ya, mbak ?
    dari bentuknya sih kayak dodol
    πŸ˜€ πŸ˜€

  9. Iya nih… Masa cowok hidung belang kayak gitu diangkat jadi dewa hanya karena dia membakar dirinya di dalam tungku. Tapi mungkin itu sebuah kepercayaan yang udah ada dari sononya (dan mungkin sudah jadi bagian dari kebudayaan Konghucu).

    • iya betul… saya juga ga setuju, hehehe…

      kemarin saya sempat browsing-browsing, saya nemu cerita lain ttg asal-usul kue ini, dan itu bukan cerita ttg lelaki mata keranjang… yah, namanya juga dongeng, biasanya emang banyak versi πŸ™‚

  10. Hhhmmm… di Pontianak tempat saya tinggal kalau sudah perayaan Imlek tak dapat dihitung lagi berapa kue keranjang yang mesti harus dihabiskan. Hehehe… Btw, tulisannya menarik. Keep spirit for blogging…

  11. Saya besar di daerah yang hampir 40% nya Keturunan TiongHoa.
    Tapi memang sudah membaur dengan sebagian masyarakat yang mayoritas melayu.
    Orang2 Tionghoa (kalo ditempat saya Ada Khek sama Hokkian) itu ada yang Konghucu (Agama Leluhur), ada yang sudah pindah ke agama lain seperti Islam, Katolik, maupun Kristen.
    Setiap perayaan Imlek (ngetopnya KongNyan) pasti ramai sekali. Sehari sebelumnya bunyi petasan sudah dimana2. dan waktu kecil dulu menunggu KongNyan = Menunggu AngPao πŸ˜€

  12. Well, halo Kak Rime! Salam kenal

    Ulasan tentang imlek dan kue keranjangnya menarik sekali. Dulu teman SMA saya yang Tionghoa dan beragama Islam pun masih merayakan Imlek. Dari artikel yang pernah saya baca beberapa tahun yang lalu, Imlek bukan merupakan perayaan keagaaman, tetapi hanya bersifat seperti perayaan liburan (tahun baru). Jadi, apapun agamanya, bisa merayakan Imlek. Hanya saja, memang ada adat kebiasaan untuk bersembahyang untuk menyambutnya. Karena kebanyakan Tionghoa pendatang memeluk kepercayaan Konghucu, maka sebagian besar dari mereka pergi ke kelenteng untuk melakukannya. CMIIW

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s