46

Reduce and Happy…!

Pernahkah teman-teman mendengar atau melihat slogan “Recycle or Die”? Saya pernah, satu kali, pada sebuah stiker yang saya lihat di kampus tempat saya kuliah beberapa tahun lalu. Slogan ini begitu sederhana, tapi sarat makna dan mudah diingat, sampai-sampai saya masih mengingatnya hingga saat ini.

Mungkin ada di antara teman-teman yang bertanya-tanya tentang apa maksud slogan ini. Begitu pula dengan saya. Usut punya usut, ternyata slogan ini diciptakan oleh sebuah perusahaan daur ulang peralatan elektronik di Amerika Serikat bernama Extreme Recycling.

“Recycle or Die” (“Mendaurulang atau Mati”) memang terdengar cukup horor. Slogan ini sengaja dibuat dengan pilihan kata yang agak seram, dengan maksud agar orang yang mendengar atau membacanya paham akan pentingnya mendaurulang.

Kini slogan ini sudah cukup mendunia, mewarnai kaus-kaus dan stiker yang diproduksi oleh kaum environmentalis ekstrim. Saya suka kata-kata pada slogan itu, tapi saya pikir ada dua hal yang cukup mengganjal.

Pertama, walaupun daur ulang berkontribusi cukup besar dalam pengurangan jumlah sampah di dunia, daur ulang bukanlah suatu cara  gaya hidup hijau yang mumpuni. Proses pendaurulangan cenderung memerlukan energi yang tidak sedikit, dan biasanya berasal dari bahan bakar yang tidak ramah lingkungan. Belum lagi efisiensi daur ulangnya belum tentu baik. Bagi bahan-bahan yang efisiensi daur ulangnya sangat rendah (seperti plastik), setelah beberapa kali didaurulang, bahan tersebut pada akhirnya akan menjadi sampah.

Menurut saya, cara yang paling mumpuni dari prinsip 3R adalah R yang pertama, yaitu “Reduce” (Indonesia: “mengurangi”). Daur ulang sebenarnya juga merupakan usaha pengurangan sampah. Hanya saja untuk menjalankannya dibutuhkan modal cukup besar dan dihasilkan pencemaran yang tidak sedikit. Jadi yang sebenarnya lebih perlu dipikirkan adalah bagaimana mengurangi sampah tanpa perlu mendaur ulang.

Kedua, ketimbang menggunakan pilihan kata yang agak menyeramkan, untuk menyebarkan sesuatu yang baik sebaiknya kita juga menggunakan kata-kata yang baik. Saya lebih suka dengan slogan yang saya buat ini: “Reduce and Happy!”, yang bermakna “dengan mengurangi sampah, maka hidup kita di masa depan akan menjadi lebih indah.” Atau bisa juga dimaknakan sebagai “mengurangi sampah juga bisa menyenangkan.”

Bagi saya, mengurangi sampah memang bisa menyenangkan. Tidak percaya? Coba simak sedikit pengalaman saya dalam mengurangi sampah. 🙂

Continue reading

42

Di Mana Ada Magnum, di Sanalah Rima dan Kandi Menjadi Lebay

Adakah di antara teman-teman yang tau tentang CIFOR selain Mas Prim-Prim?

Saya sudah satu setengah tahun belakangan ini hampir rutin sebulan sekali menetap di CIFOR selama satu minggu untuk mengerjakan suatu proyek rahasia :D. Sayangnya, baru pada kali terakhirlah, yaitu di minggu kemarin, saya menemukan harta karun di CIFOR. Harta karun tersebut adalah Magnuuuuuuum…..!

Ga usah heran karena kelebayan saya. Saya adalah penggemar berat Magnum, tapi harus menerima kenyataan bahwa Magnum sangat-sangat-sangat sulit ditemukan di Bandung. Saya belum pernah menemukan Magnum di Bandung. Sueeeeer….! Saya pertama kali nemu Magnum itu di Pekanbaru, bulan November 2010.

Dan ternyata di kafeteria CIFOR ada Magnum doooooong. (Oiya, CIFOR itu letaknya di Bogor).

Harta karunnya.

Saya dan Kandi langsung keluar kampringnya.

Sialnya kami ga bawa dompet, untung aja di saku celana ada duit walaupun udah lecek-lecek :p

Oh, Magnum...! ^,^

Foto pake HP Kandi 🙂

Beneran deh itu coklat Belgianya nagih abis….! Indanya dunia saat ada Magnum 😀

Tapi saya jadi sedih… Kenapa di Bandung susah banget nyari Magnum? Masa setiap kali pengen Magnum, saya harus keluar kota? Hiks… hiks… 😥

42

Selamat 3 Tahunan

Kemarin, saya dan si pacar merayakan sesuatu. Kami tidak merayakan “palentin,” tapi kami merayakan 3 tahun usia hubungan kami. Sebenarnya tanggal ulang tahunnya adalah 12 Februari, tapi karena kami berdua sama-sama sibuk, kami baru bisa merayakannya (baca: ketemu) kemarin.

Sebenarnya tidak pernah ada perayaan khusus untuk memperingati ulang tahun ini, tapi entah kenapa, mungkin karena orang-orang pada heboh merayakan “palentin,” kami jadi ikut-ikutan pengen tukeran kado, hehehe… :mrgreen:

Nah, yang namanya tukeran kado itu kan harusnya kita nebak-nebak kira-kira orang yang mau kita kasih kado itu pengennya apa… sambil kita sendiri harap-harap cemas nebak apa isi di dalam kado yang kita dapat. Tapi kalau saya dan si pacar tukeran kadonya ga gitu. Kami ke toko, terus milih masing-masing mau dibeliin apa. :mrgreen:

Emang agak aneh, tapi kami punya tujuan. Saya ga mau dapet barang yang ujung-ujungnya ga akan kepake sama saya, begitu juga dengan si pacar. Kalau kadonya ga kepake, maka esensi kado itu sendiri akan jadi absurd. Jadi, kami rasa, ga ada salahnya tuh milih sendiri “kado” yang kita pengen. 😀

Inilah “kado” yang saya pilih..

Sendok dan sumpit logam beserta tempatnya.

Continue reading

39

I Think I’ve Found a New Hobby!

Hyahahahaha… akhirnya saya ngeblog lagi setelah seminggu kemarin hiatus karena mengerjakan suatu proyek rahasia. Lucunya, proyek ini dibuka dengan dan diakhiri oleh suatu pesta pernikahan.

Pesta pertama adalah pesta pernikahan Rima dan Iwan. Tenang, ini bukan Rima si Rime. Ini adalah Rima temennya pacar saya, hehehe.

Prikitiew..........!

Continue reading

46

UUJ (Ujung-ujungnya Jablay)

Pernah ga teman-teman suatu saat mendapat telepon atau SMS salah sambung? Pasti pernah dong….

Kalau salah sambung yang berujung pada minta kenalan? Mungkin pernah juga.

Tapi bagaimana dengan salah sambung ngirim foto, terus orangnya nongol di Facebook? Aneh bin ajaib kalo kata saya mah.

Saya ga ngerti juga kenapa, dalam kehidupan berhenfon saya selama 8 tahun ini, saya sering banget dapet telepon atau SMS salah sambung yang ujung-ujungnya ngajak kenalan. Seolah-olah nomor henfon saya ini terpampang jelas di billboard yang memang diperuntukkan bagi orang yang lagi nyari temen pacar. Kenapa saya tulis “pacar” dan bukan “teman”? Karena memang biasanya itulah tujuan sejati mereka.

Saya pernah sesekali iseng menanggapi orang-orang semacam ini, sekedar ingin tahu apa mau mereka. Dan ternyata memang benar, mereka ini adalah kaum UUJ “Ujung-ujungnya Jablay”. :mrgreen:

Continue reading