Reduce and Happy…!

Pernahkah teman-teman mendengar atau melihat slogan “Recycle or Die”? Saya pernah, satu kali, pada sebuah stiker yang saya lihat di kampus tempat saya kuliah beberapa tahun lalu. Slogan ini begitu sederhana, tapi sarat makna dan mudah diingat, sampai-sampai saya masih mengingatnya hingga saat ini.

Mungkin ada di antara teman-teman yang bertanya-tanya tentang apa maksud slogan ini. Begitu pula dengan saya. Usut punya usut, ternyata slogan ini diciptakan oleh sebuah perusahaan daur ulang peralatan elektronik di Amerika Serikat bernama Extreme Recycling.

“Recycle or Die” (“Mendaurulang atau Mati”) memang terdengar cukup horor. Slogan ini sengaja dibuat dengan pilihan kata yang agak seram, dengan maksud agar orang yang mendengar atau membacanya paham akan pentingnya mendaurulang.

Kini slogan ini sudah cukup mendunia, mewarnai kaus-kaus dan stiker yang diproduksi oleh kaum environmentalis ekstrim. Saya suka kata-kata pada slogan itu, tapi saya pikir ada dua hal yang cukup mengganjal.

Pertama, walaupun daur ulang berkontribusi cukup besar dalam pengurangan jumlah sampah di dunia, daur ulang bukanlah suatu cara  gaya hidup hijau yang mumpuni. Proses pendaurulangan cenderung memerlukan energi yang tidak sedikit, dan biasanya berasal dari bahan bakar yang tidak ramah lingkungan. Belum lagi efisiensi daur ulangnya belum tentu baik. Bagi bahan-bahan yang efisiensi daur ulangnya sangat rendah (seperti plastik), setelah beberapa kali didaurulang, bahan tersebut pada akhirnya akan menjadi sampah.

Menurut saya, cara yang paling mumpuni dari prinsip 3R adalah R yang pertama, yaitu “Reduce” (Indonesia: “mengurangi”). Daur ulang sebenarnya juga merupakan usaha pengurangan sampah. Hanya saja untuk menjalankannya dibutuhkan modal cukup besar dan dihasilkan pencemaran yang tidak sedikit. Jadi yang sebenarnya lebih perlu dipikirkan adalah bagaimana mengurangi sampah tanpa perlu mendaur ulang.

Kedua, ketimbang menggunakan pilihan kata yang agak menyeramkan, untuk menyebarkan sesuatu yang baik sebaiknya kita juga menggunakan kata-kata yang baik. Saya lebih suka dengan slogan yang saya buat ini: “Reduce and Happy!”, yang bermakna “dengan mengurangi sampah, maka hidup kita di masa depan akan menjadi lebih indah.” Atau bisa juga dimaknakan sebagai “mengurangi sampah juga bisa menyenangkan.”

Bagi saya, mengurangi sampah memang bisa menyenangkan. Tidak percaya? Coba simak sedikit pengalaman saya dalam mengurangi sampah. 🙂

1. Bawa tas belanja ke mana-mana

Perempuan pasti suka belanja. Karena sindrom ini bisa merongrong saya kapan saja, saya membawa tas belanja setiap hari untuk menampung barang belanjaan. Dengan membawa tas belanja, kita bisa menghemat penggunaan kantung kresek yang tidak perlu. 🙂

Tas belanja yang terbuat dari baju flanel sisa ospek.

2. Bawa alat makan sendiri

Saya punya alat-alat makan pribadi yang saya bawa ke mana pun saya pergi. Jadi jika suatu saat saya hendak membeli suatu makanan dan membawanya ke rumah, si penjualnya tidak perlu menggunakan plastik untuk membungkus barang dagangannya. Begitu juga ketika saya makan di kedai yang hanya menyediakan sendok plastik sekali pakai, saya jadi tidak perlu meminta sendok plastik yang ujung-ujungnya akan jadi sampah kan? 🙂

Makan siang saya dan teman-teman di kantor

3. Memilih produk yang berkemasan alami dan sesedikit mungkin menghasilkan sampah

Konsumen adalah raja. Gunakanlah kekuasaan ini untuk kebaikan Bumi. Pilihlah produk dengan kemasan sesedikit mungkin menggunakan plastik. Lebih baik lagi jika kita memilih produk yang berkemasan bahan alami seperti daun-daunan atau bambu.

Coklat berkemasan besek bambu.

Permen berkemasan toples, tidak dibungkus satu-satu. Saat permennya sudah habis, toplesnya masih bisa dimanfaatkan.

4. Bawa sapu tangan

Sapu tangan saya yang lucu 🙂

Ya, saya tahu, sekarang adalah jamannya tisu dan sapu tangan dianggap so yesterday. Tapi saya lebih memilih sapu tangan, karena sapu tangan bisa dicuci dan dipakai ulang, sementara tisu tidak bisa. Apakah saya malu melakukan hal ini? Oh no, tidak ada kata malu untuk kebaikan. 😉

5. Memafaatkan barang bekas sebelum akhirnya didaurulang

Nah, di sinilah kreativitas kita diuji. Semua barang dan bahan bekas bisa kita manfaatkan menjadi apa saja, asal kita mau.

Tempat lem dari wadah kondisioner rambut, dan tempat alat jahit dari plastik pembungkus souvenir pernikahan

Buku dari kertas bekas dan kardus pizza 😉

Membuat post-it-note dari bon-bon tidak terpakai dan lem tack it

Caranya, tempel lem tack it pada kertas, lalu tempel kertas di tembok atau papan. Lem tack it ini bisa dilepas dan dipakai ulang loh 😀

Membuat undangan pernikahan sendiri dari kertas bekas (termasuk dalam aksi daur ulang).

6. Pakai barang yang kita punya selama mungkin

Kaus kumel :p

Kaus putih ini adalah kaus terkumel yang saya punya, dan saya masih menggunakannya sampai saat ini bahkan untuk keluar rumah. Sedangkan kaus biru di sebelahnya adalah kaus Paskibra yang saya dapat saat masih SMP. Masih enak dipakai loh… 😉

Plastik yang secara tidak sengaja saya dapat, saya simpan untuk keperluan lain.

Jemuran plastik yang selesai dicuci. Bisa dipakai lagi untuk macam-macam keperluan.

7. Bawa peralatan mandi pribadi saat bepergian

Dengan membawa peralatan mandi pribadi saat bepergiani, kita tidak perlu membeli peralatan baru ketika kita membutuhkannya. Walaupun kita menginap di hotel yang menyediakan peralatan mandi gratis, sebaiknya pakai peralatan milik sendiri. Biasanya office boy hotel akan membuang sabun atau botol shampoo yang baru satu hari dipakai.

Peralatan mandi saya.

8. No plastic straw, anytime, anywhere!

Pernah terbayangkah oleh teman-teman, akan ada berapa banyak sampah plastik di dunia ini jika semua orang setiap hari minum menggunakan sedotan plastik? Apa lagi plastik yang dipakai untuk membuat sedotan biasanya merupakan jenis yang sulit didaur ulang. Tinggal dihitung saja, kalau semua penduduk Jakarta menggunakan sebuah sedotan per hari, berarti akan ada sekitar 10 juta sampah sedotan dalam 1 hari, atau 70 juta sampah sedotan dalam 1 minggu.

Ya, sedotan memang kecil dan mungkin dianggap sepele. Tapi kalau jumlahnya banyak, sampah sedotan tidak bisa dianggap sepele. Berangkat dari pemahaman inilah, kini saya dan teman-teman di Bandung selalu bilang “Ga usah pake sedotan ya” kepada pramusaji di kedai makanan.

No straw, please 🙂

Jadi, selama saya belum punya sedotan yang bisa dipakai ulang misalnya sedotan seperti ini,

Sedotan logam yang bisa dipakai ulang.

maka saya akan pikirkan cara lain untuk minum minuman favorit saya, misalnya dengan menggunakan sendok, atau langsung di-kokob seperti ini, hehehe… 😀

***

Itulah delapan hal yang saya lakukan untuk mensukseskan program Reduce and Happy! Memang tidak banyak, dan mungkin dianggap tidak penting bagi sebagian orang, tapi saya sudah berusaha mengejawantahkannya setiap hari. Dan yang terpenting adalah saya sangat senang melakukannya. 😀

Bersusah-susah sedikit atau bermuka badak sedikit, bagi saya bukan masalah, yang penting saya paham akan tujuan dari semua kegiatan yang saya lakukan. Dan percayalah, sebaik-baik orang adalah orang yang bisa bermanfaat bagi orang lain dan lingkungannya. 🙂

Semoga tulisan ini menginspirasi teman-teman untuk melakukan hal serupa, atau lebih baik lagi bisa mengembangkan tips-tips yang lebih seru dalam mengurangi jumlah sampah. Ayo kita sukseskan program Reduce and Happy!

Happy reduce…….! 🙂

 

Advertisements

46 thoughts on “Reduce and Happy…!

  1. Wah,,keren..Keren…
    tulisannya mbak..
    Saya juga sudah mulai mengrangi tisu..
    sekarang kemana2 saya selalu bawa bandana..
    banyak fungsinya..
    dan bisa di cuci n dipakai lagi tentunya
    trus kl masalah perlengkapan mandi, saya selalu bawa sendiri mbak
    tips yang lainnya dari Mbak, akan saya coba..
    Yang sekarang msh saya bingungin adalah masalah pembalut wanita mbak
    Saya belum punya alternatif lain untuk itu
    setidaknya pembalut yg ramah lingkungan gitu..
    Mungkin mbak ada ide atau informasi yang bisa dibagi tentang ini?
    Sukses juga Mbak buat kontesnya..

  2. hai Rime kunjungan balik,salam kenal yah..
    aku pernah liat slogan itu,cuma ga ngeh aja artinya.. heheh..
    komplet banget nih ulasannya,tapi aku paling suka itu tuh,kalo bekal harus bawa peralatan sendiri,tiap pagi aku slalu menyiapkan nya hihi..

    sukses yah ma kontesnya..
    salam

  3. Saya suka “besek”nya… 😀
    Sama seperti salah satu kemasan Jenang Kudus yang terbuat dari anyaman pandan kayak tikar…
    Sayangnya pembeli lebih suka yang kemasannya modern, apalagi kalau untuk oleh2…

  4. Keren-keren!! Patut di tiru nih..
    Saya meskipun gak ada niat gerakan recycle, tapi pasti berusaha gak memakai bahan yang langsung dibuang. Gak suka belanja di luar soalnya.. 😀

  5. rime yang cinta lingkungan
    🙂
    maap yak.. mau nanya dikiiiit aja. berhubung aku suka boros pake post it,
    lem tack it itu dijual nya dimana yak?
    (kek nya jawaban nya : di toko buku lah…)

    anyway.. makasih ide nya soal post it ini yah me..

  6. Ahaha..si tack it ituh,. Dari dulu gua suka pake soalnya enakeun bisa dipake ulang n ga ngerusak tembok,.tapi kalo orang ngeliat pas aku lagi nyopotinnya, ekspresinya langsung shock-jijay ‘kamu pake permen karet?’ hahaha…(gua pake bant*x yg tack it nya warna putih)

      • Baru baca ulang si komeng dan baru nyadar betapa tida konsisten nya si kata ganti orang pertama, mao pake gua ato aku? Hahaha..,kacau ni settingan bandung ato jogjanya 😛

        Btw,.aku(jogja style) naksir si set sendok-sumpitnyaah

      • lu bisa beli di Ciwalk de, ada satu toko pernah-pernik namanya Sasuka (di sebelah Toko Gunung Agung)… harganya sekitar Rp 60.000,00 😀

  7. Sebagai orang yg sering take away makanan, ide membawa kotak makanan belum pernah terpikirkan, thanks ya.
    Kalau yg lain sudah dilakukan meskipun belum 100%

    • Saya juga dapat ide bawa kotak makanan ini dari teman saya.

      *Kayanya abis Mas Ann langsung mengembangkan ide-ide untuk membungkus makanan di restoran deh, hehehe :)*

  8. wah… wah…
    mang gak sekedar tips doank tapi mang mbak rime lakukan
    keren… keren…

    yang no 5 dapat meningkatkan kreativitas, bisa juga mungkin menambah penghasilan…hehe

  9. Aku sekarang sering lho mbak bilang ke warung, gak perlu kantong kresek, kalo cuma beli cemilan atau nasi bungkus, cukup di kantongin atau masukin tas ransel… at least saya gak bikin bumi ini makin parah, biar kecil dan sedikit efeknya… hehehehhee…

    Kayanya budaya “go green” itu gak bisa di moment2in, kalo ada momennya baru go green, tapi harus dibudayakan setiap hari di hati, artinya justru kalo melakukan sebaliknya akan merasakan guilty, sampe2 buang bungkus permen di jalan aja, rasanya gak tega… jadinya masukin kantong…hahahahah

    banyak inspirasi di artikel ini, thanks mbak rime, saya lagi mikir2 apa lagi yang bisa saya daur ulang di rumah 🙂

  10. jalan-jalan ke blog sebelumnya, ternyata dah pindah ya… tapi tetap nice blog koq…
    suka tulisan ini, sangat bermanfaat sekali… mari cintai lingkungan dengan barang hemat pakai, 🙂

    salam.

  11. berguna juga tulisan lo me.. akhirnya ada juga guna lo buat gw me.hehe.. tinggal kebiasaan sedotan tu yg susah ngubahnya..
    dah gw vote jg tu me. sukses yak..

  12. Pingback: 7 Jenis Pengeluaran yang Mesti Kamu Rencanakan, Agar Uang Bulanan Gak Habis di Tengah Jalan - Avatar Nusantara Technologies

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s