43

Haris, Kenapa Tak Kau Katakan Saja Bahwa Kau Suka Roti Isi Selai Arbei?

Kata orang, cinta itu artinya memahami, mulai dari hal-hal besar hingga hal-hal yang sangat kecil yang berhubungan dengan orang yang kita cintai. Tapi mencintai itu bukan sulap, jadi jika ingin dicintai, cobalah pahami terlebih dahulu bahwa seseorang butuh waktu untuk paham akan apa yang kita mau.

Itulah pesan moral yang pertama kali terlintas dalam pikiran saya selepas menonton film “Cinta dalam Sepotong Roti” karya Garin Nugroho. Karya ketiga dari sutradara kondang ini bercerita tentang sepasang suami istri bernama Haris dan Mayang yang kehidupan rumah tangganya kurang harmonis. Sang suami selalu merasa rendah diri di bawah bayang-bayang sahabatnya dan juga sahabat istrinya semasa kecil, Topan, yang selalu lebih hebat dan lebih pintar darinya. Rasa rendah diri yang terpendam sejak kecil terus menyeretnya ke jurang kecemburuan yang tidak pernah habis kepada Topan.

Salah satu kalimat yang terlontar dari mulut Haris saat cekcok dengan Mayang adalah “Bahkan kamu tidak tahu apa isi roti kesukaanku, padahal kita sudah satu tahun menikah.” Mayang yang tahu bahwa Topan sangat suka roti isi srikaya kemudian menjawab “Bagaimana aku bisa tahu, kalau setiap kali kutanyakan kau mau roti isi apa, kau selalu menjawab ‘apa saja lah’.”

Seringkali dalam menjalani hidup yang singkat ini, kita menghendaki sesuatu tanpa sebelumnya memahami apakah  kita sudah menyediakan relung yang dibutuhkan agar sesuatu itu bisa terjadi. Tanpa sadar kita menghendaki suatu keajaiban di tengah kemustahilan yang kita buat sendiri. Seperti Haris yang berharap Mayang tahu bahwa dia sangat suka roti isi selai arbei, sementara dia tidak pernah mengutarakannya.