9

WWF Forest Friends Uckermark Trip – Day 2: Berkenalan dengan Hutan Uckermark

Lychen, Uckermark, Jerman, 25 Juli 2011

Hari ini adalah hari perkenalan dengan Hutan Uckermark. Christoph Thum, salah seorang pengelola motel Treibholz menemani kami dan bercerita panjang lebar tentang Hutan Uckermark, mulai dari berbagai tumbuhan dan hewan yang ada di dalamnya, hingga sejarah geologis dan peradabannya.

Seperti yang saya ceritakan sebelumnya, topografi Uckermark dipengaruhi oleh fenomena pencairan es sekitar 15.000-20.000 tahun yang lalu. Pasca pencairan es, bebatuan yang tersisa membentuk bukit-bukit kecil yang dikelilingi danau, dan aliran glasier membentuk lembah-lembah kecil di permukaan yang lebih datar. Sebagian jenis bebatuan tersebut bisa kami lihat di Findlingsgarten Carwitz (Taman Batu Carwitz), di antaranya batu gamping, batuan beku, dan batuan metamorf. Bebatuan ini diperkirakan berasal dari Skandinavia, dan yang batuan terbesar yang kami lihat hari ini berasal dari Swedia, yang dijuluki Der Huter, yang berarti ‘Batu Penjaga.’

Findlingsgarten Carwitz (c) Hagen Betzwieser/WWF Germany 2011

(c) Hagen Betzwieser/WWF Germany 2011

"Der Huter" (c) Hagen Betzwieser/WWF Germany 2011

(c) Hagen Betzwieser/WWF Germany 2011

Petualangan berikutnya adalah mendaki Hauptmannsberg, yang merupakan salah satu situs peradaban jaman perunggu. Dari bagian atas bukit, kami bisa melihat danau yang sangat luas dan indah. Kami sangat beruntung kali itu, karena selain cuaca sangat bersahabat, kami juga menemukan beberapa jenis burung air di danau. Sebagian bukit tertutupi rerumputan, dan sebagian lagi pepohonan. Pohon oak, beech, pinus, dan beberapa jenis pohon beri menghiasi indahnya hutan yang kami lalui saat itu.

Di salah satu bukit di Hauptmannsberg (c) Hagen Betzwieser/WWF Germany 2011

Birdwatching (c) Annisa Ruzuar/WWF Indonesia 2011

Di bawah pohon Bird Berry (c) Annisa Ruzuar/WWF Indonesia 2011

Kami berhenti sejenak di Sch’a’ferei Hofladen untuk beristirahat. Beberapa produk hasil ternak kambing dan biri-biri banyak dijual di sana, mulai dari daging dan keju hingga benda-benda yang terbuat dari benang wol. Kami semua mencicipi es krim, tapi ini adalah es krim biasa yang terbuat dari susu sapi, bukan dari susu kambing. Saya mencoba es krim rasa nougat dan sandorn. Mmmm… yummy 🙂

Makan es krim (c) Hagen Betzwieser/WWF Germany 2011

Ah ya, saya lupa menceritakan tentang sejarah hutan Uckermark. Menurut cerita Crhristoph, pada tahun 1140-an hutan Uckermark menjadi saksi bisu pertumpahan darah antara masyarakat lokal dengan sekelompok orang yang datang Polandia, Denmark, dan beberapa negara Eropa Barat. Orang-orang ini datang untuk merebut lahan orang lokal. Para pendatang ini membangun gereja sebagai bangunan pertahanan, menggunakan bebatuan sisa jaman es. Pada bagian tembok tertentu terdapat celah berbentuk panjang dan sempit, yang digunakan untuk membidik lawan dari dalam gereja.

Gereja yang dibangun oleh kaum pendatang (c) Hagen Betzwieser/WWF Germany 2011

Bukan hanya itu, pada tahun 1618-1648 juga terjadi perang yang cukup sengit di sini, yaitu antara kaum Katolik dan Protestan. Kaum Katolik kebanyakan berasal dari wilayah Selatan yang dipengaruhi oleh kekaisaran, sedangkan kaum protestan kebanyakan berasal dari Skandinavia. Martin Luther, pemimpin kaum protestan pada perang ini adalah orang pertama yang menterjemahkan injil ke dalam Bahasa Jerman. Walaupun perang ini sangat kental dengan nuansa agama, banyak orang percaya bahwa dominasi agama bukanlah satu-satunya yang diperjuangkan pada perang ini, tetapi juga—seperti perang pada umumnya—sumber daya alam dan wilayah kekuasaan.

Perang yang berlangsung selama 30 tahun ini membuat jumlah penduduk Uckermark menurun drastis hingga hanya seperlimanya. Sisi baiknya, depopulasi penduduk memberi kesempatan kepada hutan Uckermark untuk memulihkan kondisinya. Hutan Uckermark yang gundul karena perang yang cukup panjang kemudian kembali hijau.

Kembali ke es krim… *eh*

Setelah puas makan es krim dan makan siang dengan diiringi musik klasik, kami melanjutkan perjalanan ke Mahlendorf. Mahlendorf adalah salah satu situs kerja WWF Jerman, di mana WWF mencoba membendung sungai menjadi dam. Berbeda dengan beberapa tahun lalu, kini air sungai di sana mengalir sangat cepat, sehingga sungai menjadi lebih dalam, dan banyak wilayah rawa menjadi kering karena tidak mendapat pasokan air sungai. WWF mencoba mengembalikan kondisi ekosistem rawa dengan membuat dam yang tersusun dari gambut. Uniknya, ternyata usaha WWF ini mendapat bantuan dari berang-berang liar yang hidup di sana. Mereka membantu memperkuat dinding dam dengan menyusun kayu-kayu.

Sungai yang arusnya menjadi lebih tenang setelah dam dibangun (c) Hagen Betzwieser/WWF Germany 2011

Perjalanan menuju dam (c) Hagen Betzwieser/WWF Germany 2011

Dam buatan manusia dan berang-berang liar (c) Annisa Ruzuar/WWF Indonesia 2011

Di sepanjang perjalanan hari ini, kami banyak belajar tentang tumbuhan dan binatang khas yang ada di Jerman. Kami mencatat 12 spesies tumbuhan dan 14 spesies burung yang kami temui. Kami cukup beruntung karena dapat melihat burung Goldammer (Embrezia citrinella) yang sangat langka dan memiliki suara yang sangat merdu. Astrid kemudian menirukannya sambil bercanda “ich ich ich ich liebe dich” (ich liebe dich berarti “saya cinta kamu” dalam Bahasa Jerman).

Pengalaman lain yang sangat mengesankan hari ini adalah saya dan Lena memeluk pohon oak, simbol pohon Jerman. Kami juga memetik beberapa buah Mirabelle dan langsung melahapnya. Hmmm… nikmat sekali. Terima kasih Hutan Uckermark, kami sangat senang hari ini. 🙂

Forest Friends and the Oak Tree (c) Annisa Ruzuar/WWF Indonesia 2011

4

WWF Forest Friends Uckermark Trip – Day 1: Ich Liebe Uckermark!

Lychen, Uckermark, Jerman, 24 Juli 2011

Yeah, akhirnya saya bertemu lagi dengan Lena, setelah sekitar 2 bulan lalu kami berpetualang bersama mengarungi lebatnya Taman Nasional Tesso Nilo bersama gajah-gajah Flying Squad dan mencari jejak Harimau Sumatera. Kali ini giliran saya mengunjungi Lena di Jerman, tepatnya di Uckermark. Ya, benar, kunjungan ini masih merupakan bagian dari program WWF Forest Friends, dan ini adalah bagian terakhir dari perjalanan kami.

Saya dan Annisa tiba di Berlin pada 24 Juli 2011 pukul 08:30 pagi waktu setempat, setelah menempuh perjalanan sekitar 18 jam (termasuk transit di Kuala Lumpur dan Amsterdam). Di Bandara Berlin, kami bertemu Astrid Korolczuk, seorang perwakilan WWF Jerman, yang kemudian memboyong kami ke Berlin Hauptbahnhof, stasiun kereta api utama di Berlin. Di Berlin Hauptbahnhof saya kemudian bertemu Lena Gottschalk, partner Forest Friends saya, dan juga Hagen Betzwieser dokumentator kegiatan kami selama seminggu ke depan). Senangnya bertemu kembali dengan Lena! 🙂

Saat ini sedang musim panas di Berlin. Kata Astrid, kami beruntung karena cuaca saat itu cukup hangat dibanding hari-hari sebelumnya, yaitu sekitar 20 derajat Celcius. Tapi tetap saja, bagi saya cuaca hari itu sangat dingin. Walaupun awan cukup tebal menutupi langit, syukurlah kami masih bisa menikmati secuil sinar matahari di sore hari.

Berlin Hauptbahnhof

(c) Hagen Betzwieser/WWF Germany 2011

Berlin sangat sepi hari ini. “Sebagian besar pertokoan di Berlin tutup pada hari Minggu, dan orang banyak menghabiskan waktu akhir pekan mereka untuk bertemu sanak famili,” tutur Astrid. Saya sangat suka Berlin. Saya selalu suka kota yang rapi, bersih, dan yang paling keren: punya jalur sepeda.

Walaupun di Bandung (kota asal saya) juga ada jalur sepeda, tapi kualitasnya sangatlah berbeda dengan di sini. Di Berlin, para pesepeda bisa menggoes sepedanya dengan nyaman tanpa harus was-was berbaku hantam dengan para pengguna mobil atau pejalan kaki. Saya bilang sangat berbeda, karena di Bandung jalur sepeda beririsan dengan jalan raya dan trotoar.

Jalur sepeda di Berlin.

Hari ini kami berangkat dari Berlin Hauptbahnhof menuju Uckermark Lake Park (Uckermark akan menjadi lokasi kegiatan kami selama seminggu ke depan) menggunakan kereta api dengan waktu tempuh selama 1 jam. Uckermark adalah sebuah wilayah administratif yang memiliki kawasan lindung paling luas di Jerman, yaitu sekitar 40.604 ha dari luas total 3.058 km². Di luar dugaan, kami tiba 2 jam lebih cepat di Uckermark. Sekitar pukul 14:00 waktu setempat, kami berjalan-jalan berkeliling kompleks motel Treibholz, tempat kami menginap, dengan ditemani Markus sang pemilik motel.

Motel tempat kami menginap (c) Hagen Betzwieser/WWF Germany 2011

Berjalan-jalan di sekitar motel (c) Hagen Betzwieser/WWF Germany 2011

Jalan kecil di sebelah kanan motel.

Muara sungai yang menuju salah satu danau di Uckermark.

Menurut penuturan Markus, Uckermark memiliki bentuk yang menarik karena mendapat pengaruh besar dari fenomena pencairan es pada jaman es terakhir. Saat es encair, air dan angin menggeser bebatuan dan pasir ke tempat-tempat tertentu yang kemudian membentuk bukit, lembah, dan sungai. Markus menambahkan, bebatuan sisa jaman es terebut kemudian banyak digunakan oleh masyarakat setempat untuk membuat bangunan seperti rumah atau gereja.

(c) Hagen Betzwieser/WWF Germany 2011

Gereja yang tersusun atas bebatuan sisa jaman es.

Selama berabad-abad, Uckermark ditanami berbagai macam tumbuhan, sehingga kini menghasilkan keragaman tumbuhan yang cukup tinggi. Di Uckermark, kita bisa menemukan beberapa spesies tumbuhan endemik Eropa seperti Marsh Orchid (Dactylorhiza majalis), Feather Grass (Stipa pennata), Siberian Bellflower (Campanula sibirica), serta burung Lesser Spotted Eagle (Aquila pomarina), dan Great Bittern (Botaurus stellaris).
Di hari pertama ini, kami belum menemukan banyak tumbuhan dan binatang endemik. Tapi kami sangat beruntung karena kami bisa melihat Bumblebee (Bombus sp.) yang terancam punah karena habitatnya semakin lama semakin berkurang. Kami juga menemukan beberapa spesies bebek dan ikan di danau yang jernih.

Bumblebee (c) Hagen Betzwieser/WWF Germany 2011

Pengalaman kuliner hari ini sangat menarik. Saat makan siang, sekitar pukul 16:30 (atau 21:30 WIB), saya memesan salad sayuran dengan tujuan agar tidak terlalu kenyang. Tapi tak dinyana, ternyata salad yang disajikan berukuran jumbo. Bahkan ekstra jumbo, karena ukurannya 3-4 kali lebih besar dari porsi yang biasa saya santap di Indonesia. Sayang sekali saya tidak menghabiskannya. Untuk pelepas dahaga, saya mencoba Apfelsaftschorle (sari apel yang dicampur dengan air soda). Oh, saya suka sekali Apfelsaftschorle! 🙂

Untuk makan malam, saya memesan omelet dan kentang (ah, sayang sekali saya lupa namanya). Sebenarnya pada menu ini disajikan juga sepiring kecil salad, tapi saya memesan menu tanpa salad, karena khawatir tidak bisa menghabiskannya lagi. Sedangkan untuk minumannya, saya mencoba yang Radler (air limun yang dicampur dengan bir). Omelet dan kentangnya terlalu asin bagi saya, tapi Saya suka sekali Radler! Saya mau Radler lagi…! 🙂

Radler

Saya tidak sabar menunggu esok hari untuk menikmati indahnya alam Uckermark, mengangumi bangunan-bangunan menariknya, mendengarkan sejarah-sejarahnya, sambil mencicipi kuliner khasnya, dan yang terpenting: berbagi keceriaan bersama Lena Gottschalk, my lovely Forest Friend. 🙂

Lenna Gottschalk

Sampai jumpa di reportase selanjutnya. 🙂