WWF Forest Friends Uckermark Trip – Day 3: Amazing Rivers and Lakes

Lychen, Uckermark, Jerman, 26 Juli 2011

Hari ini adalah hari yang paling ditunggu-tunggu, karena sesuai jadwal yang telah dibuat, hari ini kami akan berkano mengarungi sungai dan danau di Lychen, Uckermark. Ini adalah pengalaman pertama saya berkano, jadi saya benar-benar tidak sabar! 😀

Kami kembali bertemu Cristoph Thum pagi ini. Berbeda dengan kemarin, kami mendatangi beliau di kantor Treibholz yang berlokasi di pinggir (Danau) Oberpfuhl (Inggris: Upper Lake). Kantor mungil ini terbuat dari kayu dan menghadap danau. Di bagian pinggirnya, terparkir beberapa kano yang ditata terbalik di atas balok-balok kayu, dan di bagian belakangnya tergantung berbagai macam peralatan berkano. Dari banyak peralatan tersebut, yang kami gunakan adalah dayung, dry bag (tas khusus untuk melindungi barang-barang kami dari air), dan tentu saja kano.

Di bagian depan Kantor Treibholz (c) Hagen Betzwieser/WWF Germany 2011

Oberpfuhl (c) Hagen Betzwieser/WWF Germany 2011

Sama seperi kemarin, seharian ini kami akan ditemani oleh Cristoph, sang Indiana Jones dari Jerman. Christoph menjelaskan bahwa hari ini kami akan menempuh perjalanan berkano sejauh +16 km, menyusuri beberapa sungai dan danau. Di tengah-tengah perjalanan, kami akan beberapa kali mendarat dan menggotong kano ke lokasi pengarungan berikutnya. Pengarungan akan dimulai dari sungai yang bermuara ke Danau Platkowsee, lalu menuju Danau Zensee, dan berakhir di Oberpfhul.

Dengan mobil van-nya, Marcus mengantar kami hingga ke titik pengarungan pertama. Tiga kano yang akan kami gunakan terkaitkan pada bagian belakang mobil. Selanjutnya, kamilah yang bertugas mengangkut kano-kano ini ke pinggiran sungai. Kano-kano ini memang terlihat ringan, tapi ternyata cukup berat. Walaupun kami menggotongnya berempat, tetap saja otot-otot lengan kami dibuat pegal karenanya. Ajaibnya, Cristoph bisa menggotong satu kano tersebut seorang diri. Itulah kenapa kami menyebutnya Indiana Jones, terlebih dengan topi koboinya yang selalu terpasang menutupi rambut panjangnya.

Danau Platkowsee (c) Hagen Betzwieser/WWF Germany 2011

Mengangkat Kano (c) Hagen Betzwieser/WWF Germany 2011

Air di danau Platkowsee dan sungai-sungai yang bermuara ke sana sangatlah jernih. Menurut penjelasan Christoph, alasannya adalah karena air tersebut telah tersaring oleh pasir silika pada perjalanannya dari badan air sebelumnya. Penyaringan oleh pasir silika ini tidak hanya membuat air di Danau Platkowsee terlihat jernih, tetapi juga membuatnya miskin nutrisi, sehingga tidak banyak mendukung hidupan liar di bawah air.

Beruntunglah saya satu kano dengan Lena yang sudah cukup mahir mendayung dan mengendalikan kano. Pada pengarungan pertama, saya duduk di depan, sedangkan Lena duduk di belakang. Kata Lena, orang yang duduk di belakang berperan sebagai pengemudi kano.

Astrid dan Annisa (c) Hagen Betzwieser/WWF Germany 2011

Saya dan Lena (c) Hagen Betzwieser/WWF Germany 2011

Christoph Thum sang Indiana Jones (c) Hagen Betzwieser/WWF Germany 2011

Satu kata untuk kesan pertama berkano di Lychen, Uckermark ini: menakjubkan! Sungainya begitu jernih, hutannya begitu asri, dan udaranya begitu segar. Sesekali beberapa jenis burung mengejutkan kami dengan kehadiran mereka di semak-semak hutan. Setiap sudut yang kami pandang begitu indah, bahkan saat kami menengadah menatap langit pun, rimbunnya kanopi pepohonan melindungi kami dari sengatan sinar matahari. Kami sangat menikmati pengarungan saat itu, walaupun kami seringkali menabrak pinggiran sungai atau terjerumus ke dalam semak-semak tumbuhan air.

"Tersangkut" (c) Hagen Betzwieser/WWF Germany 2011

Berkano di danau (c) Hagen Betzwieser/WWF Germany 2011

Capung penghuni sungai (c) Hagen Betzwieser/WWF Germany 2011

Christoph menjelaskan tentang batu silika yang dulunya berasal dari dasar laut. Batu ini digunakan manusia prasejarah untuk berburu. (c) Hagen Betzwieser/WWF Germany 2011

Matahari sedang berada pada posisi puncaknya ketika kami berhenti untuk beristirahat sejenak di kedai nelayan setempat. Di sana kami bersantap siang dengan ikan asap dan roti panggang, serta tak lupa meneguk radler untuk melepas dahaga. Kata Astrid, ini adalah kesempatan yang sangat langka, karena di Berlin, ikan segar sangat sulit didapat, kalau pun ada kita harus membelinya dengan harga yang mahal. Di sini kami bisa menyantap ikan asap yang benar-benar segar dengan harga yang tidak mahal. Saya hampir tidak percaya kalau ikan asap yang kami makan ternyata hanya dibumbui dengan garam, karena rasanya benar-benar enak.

Kedai nelayan di pinggir danau (c) Hagen Betzwieser/WWF Germany 2011

Hmmm... lecker! (c) Hagen Betzwieser/WWF Germany 2011

Asupan tenaga baru untuk mendayung sudah kami dapatkan, saatnya melanjutkan pengarungan. Kata Christoph, di sungai berikutnya, kami tidak perlu mendayung secara penuh, karena arus sungai yang akan kami lalui cukup deras. Christoph benar, kami jadi punya lebih banyak kesempatan untuk menikmati pemandangan dan mengobrol. Di sungai yang menuju Oberpfuhl ini, kami menemukan cukup banyak rubuhan batang pohon, sehingga kami harus sering-sering menunduk. Menariknya, sebagian pohon-pohon ini dirubuhkan oleh berang-berang yang menggerogoti bagian bawah batang pohon. Sungai ini memang sungai yang paling seru, selain menemukan bekas gigitan berang-berang, saya dan Lena juga melihat burung raja udang dari jarak yang sangat dekat!

Pohon yang digigiti berang-berang (c) Hagen Betzwieser/WWF Germany 2011

Cahaya matahari mulai meredup saat kami tiba di Oberpfuhl. Dari kejauhan kami bisa melihat kantor Treibolz, tempat yang akan menjadi titik perhentian pengarungan kami. Kami mendayung kano dengan sisa-sisa tenaga terakhir, ditemani beberapa bebek dan diver yang berenang-renang damai di kanan-kiri kano kami. Yeah, 16 km pengarungan telah kami tempuh dengan sukses!

Makan malam hari ini sangat spesial. Astrid meminta saya dan Annisa untuk memasak masakan khas Indonesia. Cukup pusing kami memilih menu makanan apa yang akan kami masak, sampai akhirnya kami memutuskan untuk memasak nasi goreng. Semua bahan dasar bisa kami peroleh di supermarket yang lokasinya tidak jauh dari penginapan kami, kecuali satu hal: kecap manis. Sebagai penggantinya, kami menambahkan madu ke dalam racikan nasi goreng. Agak terlalu dipaksakan memang, tapi ternyata rasanya enak loh…! Dan syukurlah semua orang suka masakan kami. 🙂

Nasi goreng buatan saya dan Annisa 🙂

Bersulaaaang...!

Malam ini kami bersantap di luar ruangan. Suasana ini menambah lengkap sensasi petualangan kami hari ini. Saya tidak sabar menunggu petualangan berikutnya di Uckermark!

Inspirasi yang saya dapatkan dari pengalaman hari ini adalah ternyata manusia tetap bisa memiliki kualitas hidup yang tinggi tanpa perlu merusak alam. Bagi saya, berkano di sungai dan danau yang jernih adalah suatu sumber kebahagiaan, yang dari padanya, saya merasa beruntung mencicipi kualitas hidup yang baik. Saya rasa inilah esensi dari ekoturisme: manusia dan alam mempertahankan hubungan simbiosis mutualismenya. Manusia mendapat kesempatan untuk menikmati indahnya alam, dan alam mendapat kesempatan untuk tetap lestari dan terhindar dari tangan-tangan jahil. Sepertinya Indonesia perlu banyak belajar dari Jerman tentang ekoturisme.  🙂

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s