WWF Forest Friends Uckermark Trip – Day 4: Rawa dan Floß

Lychen, Uckermark, Jerman, 27 Juli 2011

Bocoran informasi yang kemarin saya dapat dari Christoph tentang hari ini adalah hari ini kami akan melakukan aktivitas fisik yang cukup berat, sehingga kami harus sarapan lebih banyak dan membawa bekal makanan, dan satu lagi: memakai sepatu boots tinggi. Sayang sekali hari ini Astrid tidak bisa ikut berpetualang bersama kami, tapi sebagai gantinya, Silke akan menemani kami sampai besok.

Sepatu-sepatu boots (c) Hagen Betzwieser/WWF Germany 2011

Kami berkano lagi hari ini, hanya saja tidak berdua-berdua seperti kemarin, tetapi bertiga-bertiga. Dari kantor Treibholz, kami meluncur menuju daratan di seberang danau. Di daratan tersebut terdapat rawa yang ditumbuhi rerumputan, yang juga dikelilingi hutan Pohon Birch.

Menurut penjelasan Christoph, pada masa lalu rawa ini berupa danau. Seiring waktu, air pada danau menyusut sedikit demi sedikit, sehingga akhirnya menjadi rawa seperti sekarang. Kedatangan kami saat itu disambut oleh Ular Cincin atau Ular Rumput (Jerman: Ringelnatter) yang merayap di atas akar rumput. Sayang sekali kami hanya melihat ekor hitamnya sebelum dia merayap cepat menuju hutan.

(c) Hagen Betzwieser/WWF Germany 2011

Rawa (c) Hagen Betzwieser/WWF Germany 2011

Seperti rawa-rawa lainnya di belahan dunia manapun, ketersediaan oksigen di rawa sangatlah minim, sehingga proses penguraian terjadi dengan sangat lamban. Satu millimeter lapisan gambut merepresentasikan 1 tahun umur gambut dan kondisi lingkungannya. Jika lingkungan di sekitar rawa mengalami perubahan, maka akan terjadi perubahan pula pada kondisi gambut di permukaan rawa. Itulah mengapa lapisan-lapisan gambut pada rawa dapat menjelaskan sejarah lingkungan di sekitar rawa.

Dengan sejarahnya yang cukup panjang, pastilah rawa yang kami datangi hari ini memiliki banyak lapisan gambut yang berbeda satu sama lain. Untuk membuktikannya, kita harus menggunakan alat khusus yang dibawa oleh Christoph yang berfungsi untuk mengambil sampel gambut yang posisinya cukup jauh dari permukaan.

Christoph Thum (c) Hagen Betzwieser/WWF Germany 2011

Sampel gambut yang terangkat (c) Hagen Betzwieser/WWF Germany 2011

Dan inilah beberapa lapis gambut yang kami temukan di rawa ini:

Beberapa sampel gambut yang kami ambil (c) Hagen Betzwieser/WWF Germany 2011

Lapisan A adalah lapisan saat ini, sedangkan lapisan B diperkirakan merupakan lapisan yang terbentuk sekitar 2.000 tahun yang lalu. Semakin hitam suatu lapisan, berarti semakin banyak kandungan organik yang terkandung dalam lapisan tersebut.

Lapisan C diperkirakan terbentuk pada jaman perunggu (sekitar 3.000 tahun yang lalu). Di dalamnya terdapat potongan-potongan kecil kayu. Kemungkinan besar pada saat itu rawa ini dipenuhi oleh pohon, bukan oleh rumput seperti sekarang.

Lapisan D diperkirakan terbentuk ketika wilayah ini masih berupa danau, karena pada gambutnya terdapat butiran kalsium.

Lapisan E yang memiliki kandungan komponen organik yang sangat rendah, diperkirakan terbentuk pada masa awal terbentuknya danau, yaitu pasca berakhirnya jaman es.

***

Petualangan seru hari ini dimulai pada perjalanan pulang kami menuju tempat parkir kano. Kami harus melewati hutan rawa yang digenangi air dengan kedalaman yang lumayan. Walaupun kami menggunakan sepatu boots tinggi, tapi karena kedalaman air di beberapa titik lebih tinggi dari pada sepatu boots kami, tetap saja kaki kami menjadi basah.

Di hutan rawa (c) Hagen Betzwieser/WWF Germany 2011

(c) Hagen Betzwieser/WWF Germany 2011

Siang itu kami kembali ke kantor Treibholz. Kami turun dari kano, lalu dilanjut naik ke floß. Dalam Bahasa Jerman, floß (baca: flos) berarti rakit besar. Floß digunakan sebagai sarana transportasi tradisional di Lynchen sejak tahun 1720. Hingga saat ini tradisi ini tetap terjaga. Di Lychen, masyarakat merayakan festival floß pada setiap minggu pertama di bulan Agustus pada setiap tahun. Pada festival ini, komunitas pencinta floß akan mempraktekkan cara membuat floß secara tradisional.

Menurut rencana, kami akan makan siang di atas floß yang mengapung di Oberpfuhl. Menu makan siang hari ini sangat-sangat istimewa. Kami disuguhi “goulash”, hidangan sup khas Romania yang terbuat dari daging sapi dengan bumbu paprika. Kata Christoph, kami tidak perlu khawatir akan kualitas daging goulash ini, karena daging sapi yang digunakan berasal dari sapi muda yang mereka pelihara selama 2 tahun. “Saya jamin, sapi ini hidup bahagia,” tambahnya sambil tertawa.

Saya tidak pernah makan goulash sebelumnya, dan saya mendapat kesan yang sangat baik pada kesempatan pertama. Saya baru tahu belakangan bahwa ternyata rahasia nikmatnya goulash ini terletak pada paprikanya. Yana, istri Marcus yang memasak goulash ini untuk kami, menceritakan rahasia itu pada kami, dan dia mengaku menggunakan paprika asli Romania.

Di floß (c) Hagen Betzwieser/WWF Germany 2011

"Goulash" (c) Hagen Betzwieser/WWF Germany 2011

Saya tidak terlalu ingat, tapi sepertinya masing-masing dari kami menghabiskan 2 piring goulash dan beberapa potong roti siang itu. Angin yang berhembus di Oberpfuhl membuat kami terkantuk-kantuk pada perjalanan kami menuju “pulau petualangan” kedua yang tidak kalah seru.

Kami turun dari floß dengan membawa satu set peralatan untuk memotong rumput. Di rawa yang tidak jauh dari tempat kami mendarat, Christoph mendemonstrasikan cara memotong rumput menggunakan mesin pemotong. Annisa sangat ingin mencoba menjalankan mesin tersebut, tapi sayangnya mesin ini hanya boleh dijalankan oleh orang yang mengantungi ijin. Dengan cekatan Christoph memotong rumpun demi rumpun rerumputan di rawa tersebut. Selanjutnya adalah tugas kami untuk mengumpulkan potongan-potongan rumput tersebut ke atas ponco, lalu membawanya ke pinggiran rawa.

Christoph menjalankan mesin pemotong rumput (c) Hagen Betzwieser/WWF Germany 2011

Saya, Annisa, Lena, dan Silke mengumpulkan potongan rumput (c) Hagen Betzwieser/WWF Germany 2011

Kira-kira begitulah pekerjaan yang dilakukan oleh Christoph dan para relawan setiap tahunnya. Pemotongan rumput dilakukan setiap bulan Agustus, karena pada bulan inilah rumput berbunga dan menyebarkan bijinya. Pemotongan rumput yang dilakukan setiap tahun ini bukanlah tanpa alasan. Ini adalah salah satu program pemerintah setempat dalam menyukseskan pelestarian bioma Uckermark, yang salah satunya adalah rawa. Tumbuhnya rerumputan yang diikuti pepohonan di rawa akan menyebabkan menurunnya tingkat ketersediaan air di rawa tersebut. Padahal fungsi rawa sangatlah penting bagi kelangsungan hidup ekosistem lain di sekitarnya.

Masih ingat kan dengan sebutan Indiana Jones yang kami berikan kepada Christoph? Hari ini kami mendapat satu alasan tambahan untuk memanggilnya Indiana Jones: yaitu karena Christoph sangat paham tentang flora dan fauna di Uckermark. Dalam setiap perjalanan kami di tengah hutan, beliau seringkali berhenti untuk menjelaskan hal-hal menarik tentang flora atau fauna yang kebetulan kami temui. Begitu juga pada saat perjalanan kembali menuju floß.

Saat itu Christoph menjelaskan tentang hubungan simbiosis mutualisme antara Pohon Birch dengan suatu jenis jamur yang hidup di sebelahnya. Hubungan unik mereka adalah Pohon Birch memberi keteduhan kepada jamur agar jamur bisa hidup dengan nyaman, dan sebagai balasannya jamur menyumbang air dan sebagian nutrisi kepada pohon Birch. Hubungan yang sangat cantik, bukan? 😉

Belajar dari sang Indiana Jones 🙂 (c) Hagen Betzwieser/WWF Germany 2011

Christoph mengarahkan floß menuju bagian Selatan Oberpfuhl, tempat di mana kami menghabiskan sisa hari ini untuk berenang dan berlatih prosedur keselamatan kecelakaan kano. Seharusnya latihan ini dilakukan kemarin. Tapi tidak apalah, siapa tahu latihan ini berguna untuk kesempatan lain.

Angsa-angsa dan bebek-bebek yang mendekati floß kami (c) Hagen Betzwieser/WWF Germany 2011

Saya dan Lena berenang di Oberpfuhl (c) Hagen Betzwieser/WWF Germany 2011

Saya sebenarnya tidak terlalu berani berenang tanpa pelampung, apalagi di danau yang kedalamannya mencapai 30 meter lebih. Tapi kemudian saya menjadi lebih berani setelah Annisa dan Lena mengajari saya tentang cara mengapung yang baik. Saking asyiknya kami berenang, bisa-bisa kami tidak mau naik floß cepat-cepat. Hanya saja saat itu air danau sangat dingin, sehingga tidak ada alasan bagi kami untuk berlama-lama di dalam air.

Hari yang melelahkan sekaligus menyenangkan! 😀

Advertisements

2 thoughts on “WWF Forest Friends Uckermark Trip – Day 4: Rawa dan Floß

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s