WWF Forest Friends Uckermark Trip – Day 5: Last Day in Lychen, Uckermark

Lychen, Uckermark, Jerman, 28 Juli 2011

Awan kelabu tebal menghalangi sinar matahari di Lychen hari ini. Rencana kami berkano hari ini terpaksa diubah menjadi jalan-jalan santai keliling Lychen. Kami dengar tidak jauh dari lokasi penginapan kami terdapat museum Uckermärkische Seen Naturpark. Kunjungan kami ke musem ini akan menjadi salah satu agenda utama kami hari ini. Jika cuaca mendukung, kami bisa mengunjungi tempat-tempat menarik lain di Lychen, pada hari terakhir kami di kota ini.

Wawancara dengan jurnalis surat kabar lokal Uckermark Kurier - Templiner Zeitung, sebelum jalan-jalan. (c) Annisa Ruzuar/WWF Indonesia 2011

Hujan di Lychen. (c) Annisa Ruzuar/WWF Indonesia 2011

Saat berada di halaman depannya, saya tidak menyangka bahwa bangunan yang berdiri di hadapan saya adalah sebuah museum. Dan ternyata itu memang bukan museum, tapi merupakan visitor centre. Dalam Bahasa Jerman, tempat ini disebut Besucherzentrum Uckermärkische Seen. Bangunan cukup mungil dan tampilan luarnya terkesan biasa saja. Saya hampir tidak bisa membedakannya dengan bangunan-bangunan lain di sekelilingnya.

Awetan burung elang di gerbang Besucherzentrum Uckermärkische Seen (c) Annisa Ruzuar/WWF Indonesia 2011

Meskipun ukurannya relatif kecil, konten dari visitor centre ini sangat menarik. Pengunjung tidak dibosankan dengan informasi yang melulu disajikan dalam bentuk deretan tulisan, tetapi juga dalam bentuk video, rekaman suara, permainan, miniatur objek, serta awetan kering hewan. Bisa dikatakan secara keseluruhan bobot tempat ini sangat baik: mendidik dan menyenangkan. Sayangnya semua informasi disajikan dalam Bahasa Jerman. Untunglah Lena dan Silke dengan senang hati berkenan menterjemahkannya kepada saya dan Annisa.

Ternyata WWF punya tempat juga di sini 🙂 (c) Annisa Ruzuar/WWF Indonesia 2011

Saya dan Lena bekerja sama mengantarkan telur ke sarang burung. (c) Annisa Ruzuar/WWF Indonesia 2011

Lena menjelaskan tentang bangunan-bangunan unik yang ada di Uckermark. (c) Annisa Ruzuar/WWF Indonesia 2011

Saya bersama berang-berang yang ternyata ukurannya lebih besar dari yang saya bayangkan. (c) Annisa Ruzuar/WWF Indonesia 2011

Saya dan Lena mempelajari fakta-fakta unik tentang berang-berang. (c) Annisa Ruzuar/WWF Indonesia 2011

Menjadi penebang kayu. (c) Annisa Ruzuar/WWF Indonesia 2011

Tengah hari, kami berkesempatan berbincang dengan seorang petugas visitor centre. Beliau banyak bercerita tentang sejarah Uckermarkische Seen Naturpark (Taman Wisata Alam Uckermark). Statusnya sebagai taman wisata alam membuat aturan-aturan yang ditetapkan di dalamnya tidak seketat aturan-aturan pada taman nasional. Satu hal yang cukup mencengangkan saya adalah mereka tidak memiliki cukup banyak pegawai untuk menjaga dan mengawasi taman wisata alam ini. Penyebabnya klasik: karena tidak terdapat cukup banyak dana untuk membiayai keperluan operasional. Sama seperti di Indonesia, sebagian wilayah di taman wisata alam ini bisa diswastanisasi. Bedanya, di sini si pihak swasta perlu mendapat ijin resmi dari lembaga konservasi seperti WWF atau Greenpeace, sedangkan di Indonesia tidak.

Saya dan Lena berfoto bersama Annisa. (c) Annisa Ruzuar/WWF Indonesia 2011

Rintik hujan masih membasahi Lychen saat kami keluar dari visitor centre. Kami menggunakan kembali jas hujan kami, lalu melanjutkan perjalanan ke arah yang belum kami tentukan sebelumnya. Langkah kami mengantar kami pada sebuah kompleks peradaban masa lalu. Awalnya kami hanya menemukan sebuah rumah sakit tua, tapi setelah ditelusuri, ternyata ini adalah kompleks rumah sakit. Di sekelilingnya terdapat pula kompleks perumahan yang sudah tidak digunakan.

Die Heilstätten Hohenlychen (c) Annisa Ruzuar/WWF Indonesia 2011

Konon rumah sakit yang bernama Die Heilstätten Hohenlychen ini merupakan salah satu rumah sakit termaju di Jerman. Salah satu temuan hebat yang terjadi di rumah sakit ini adalah cara penyembuhan penyakit TBC. Rumah sakit ini didirikan pada tahun 1902, dan berhenti beroperasi pada tahun 1945, saat wilayah ini dikuasi oleh Uni Soviet. Kini saksi-saksi bisu masa lalu yang suram itu disegel dan menjadi milik swasta.

Salah satu bagian Die Heilstätten Hohenlychen. (c) Annisa Ruzuar/WWF Indonesia 2011

Helenenkapelle, gereja di kompleks Hohenlychen, masih digunakan hingga saat ini. (c) Annisa Ruzuar/WWF Indonesia 2011

Tak terasa waktu berlalu begitu cepat. Kami harus segera bergegas menuju Berlin, meninggalkan Uckermark yang hijau dan damai.. Uckermark yang sangat menginspirasi dan menorehkan kenangan manis dalam ingatan kami. Selamat tinggal Uckermark… Semoga kami bisa kembali ke sini di kesempatan lain. 🙂

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s