6

Kafe Ah Lo Lo, Y U No Respect Your Guest?

Ew, saya sudah terlampau lama ga apdet blog, saya jadi bingung harus memulai cerita dari mana. Intinya, pasca menikah, saya tidak lagi bekerja di tempat kerja saya sebelumnya. Kini saya membantu penelitian yang tengah dilakukan oleh LPPM ITB bekerja sama dengan Dinas Pendapatan Kota Bandung.

Tugas saya sangatlah simpel, saya hanya perlu mendatangi para wajib pajak berupa hotel dan restoran, bertanya sedikit tentang kondisi mereka saat ini, lalu melaporkannya ke LPPM ITB. Simpel sekali bukan? Benar, simpel sekali, JIKA perwakilan wajib pajak yang saya temui benar-benar kooperatif dan ga melaporkan saya ke sekuriti karena merasa terganggu dengan keberadaan saya.

Pernah ga sih kamu ngebayangin ditangkep sekuriti di mall? Kalau nggak pernah ngebayangin, berarti kamu sama dengan saya. Tapi apa yang terjadi pada saya 2 hari lalu mengubah pengalaman saya tentang pernah atau nggaknya ditangkep sekuriti di mall -_-

Hari itu saya ditugasi untuk mensurvey 20 restoran di sebuah mall yang cukup terkenal di Bandung, sebut saja PIB (Pandung Indah Blaza). Yang harus saya tanyakan kepada para responden di keduapuluh restoran tersebut sangat-sangat-sangat-sangat-sangatlah simpel (kelewat simpel malah):
1. Apakah di restoran ini tersedia akses internet (untuk klien maupun untuk karyawan)?
2. Apakah di restoran ini ada staf yang khusus menangani IT atau komputer?
3. Apa saja peralatan yang digunakan pada kasir?

Plus saya perlu memfoto kondisi kasir dan meminta contoh bon/struk pembayaraan, yang mana kalau ga ada, saya cukup memfotonya saja pake kamera.

See? Simpel sekali bukan? Seharusnya prosesnya pun berjalan dengan lancar karena Dispenda sudah mengantongi ijin dari masing-masing kantor pusat restoran yang dijadikan responden.

Setelah mengitari 18 restoran dan mengumpulkan data yang dibutuhkan, tibalah saya pada restoran ke-19, sebut saja C.Jo (yang jualan donat-donat eneg itu). Restoran ini tidak bersedia memberikan data saya minta, kecuali jika saya membawa ijin tertulis dari pihak pusat di Jakarta. Ini cukup aneh, karena sebenarnya Dispenda sudah mengantongi ijin dari kantor pusat restoran ini. Tentang apakah pihak pusat sudah memberi tahu manajer di counter-counter cabang tentang ijin ini, ITU BUKAN URUSAN SAYA, bukan? Tapi gapapa lah, daripada jadi ribut, biar nanti Dispenda saja yang mengurusnya, hahaha… >,<

Walaupun begitu, saya sangat mengapresiasi keramahan sang supervisor saat berhadapan dengan saya.

Lalu berjalanlah saya ke restoran ke-20, sebut saja Kafe Ah Lo Lo. Terus terang saya baru satu kali nongkrong di kafe ini, itu pun bukan di PIB sini, tapi di JvP mall (Jaris van Pava), karena menurut saya sih harganya ga masuk akal buat kantong saya.

Di sana saya tidak bertemu manajer atau supervisor di kafe tersebut, karena katanya sedang libur atau sedang cuti, atau lain-lain lah. Tapi karena pertanyaan yang akan saya ajukan levelnya berada pada ranah teknis, seharusnya kasir atau pelayan pun bisa membantu memberi jawaban. Iya lah, masa untuk tau apakah di kafe ini ada akses internet aja perlu tanya manajer dulu? Saya percaya mereka di sini bekerja sebagai karyawan, bukan budak.

Akhirnya dengan wajah cemberut, si mbaknya mau menjawab ketiga pertanyaan yang saya ajukan. Tibalah pada bagian di mana saya meminta ijin untuk memfoto kondisi kasir dan meminta contoh bon/struk. Si mbak itu tidak mengijinkan saya memfoto kondisi kasir. “Oh, gapapa lah,” pikir saya. Toh memang kebijakan tiap restoran beda-beda, dan memang ada restoran tidak mengijinkan asetnya difoto.

WALAUPUN SEBENARNYA SAYA PUNYA HAK BAHKAN SAMPE NGELIAT PEMBUKUAN KEUANGAN MEREKA, tapi gapapa lah, daripada ribut.

Ga boleh ngambil foto? Oke. “Terus mbak, kalau saya minta struk bekasnya boleh ga?” tanya saya. Terus si mbaknya, yang seolah-olah menyeragamkan dengan jawaban sebelumnya menjawab “Wah, maaf ya itu ga bisa.”

PADAHAL DI DEPAN SAYA JELAS-JELAS ADA STRUK-STRUK GA KEPAKE yang ditinggalkan oleh pelanggan-pelanggan yang terlampau malas untuk mengambilnya dari kasir atau membuangnya ke tempat sampah. “Kalau ini, ini kan bekas ya mbak, ini ga boleh saya ambil juga? Atau saya foto aja deh ya struk ya?”

Jawabannya bisa ditebak lah. “TETEP NGGAK BOLEH MBAK, HARUS DAPAT IJIN DARI PUSAT DULU”. Can you believe it?

“Oh, gitu ya. Ya udah mbak, gapapa. Saya boleh ga minta tandatangan mbak? Sekedar untuk verifikasi bahwa jawaban dari ketiga pertanyaan yang kita bahas di awal itu benar adanya” tanya saya lagi. Lalu si mbaknya menjawab “Maaf ya ga bisa, kecuali kalau saya bawa surat tugas mbak.” Maksudnya adalah SURAT TUGAS SAYA, YANG HANYA SATU-SATUNYA ITU.

Sepertinya si mbak ini cuma cari cara supaya dia ga usah tandatangan. Tapi dia lupa bahwa di dunia ini ada teknologi fotokopi -_-

Maka pergilah saya ke luar area PIB, mencari tukang fotokopi. Beberapa menit kemudian saya kembali ke Kafe Ah Lo Lo untuk memberikan surat YANG SI MBAKNYA MINTA, lalu menagih tanda tangan yang dia “janjikan”. Akhirnya dia mau ngasih, tapi sambil cemberut, yang mana saya ga habis pikir kenapa dia mesti cemberut.

Sampe sini, keadaan masih oke-oke saja. Tidak ada yang aneh, saya hanya bertemu responden yang tidak kooperatif atau rese saja. Dari Kafe Ah Lo Lo saya bergerak ke Es Teler 77 (kalau yang ini namanya ga diutak-atik :p), untuk minta struk bekas pelanggan, karena pada pagi hari saat saya survey ke sana, belum ada struk bekas yang bisa saya minta.

Kalau pernah ke PIB, pasti kamu tau bahwa untuk kembali ke gerbang utama dari Es Teler 77, kamu harus lewat Kafe Ah Lo Lo. Nah, pas saya lewat kafe rese tersebut, keluarlah petugas sekuriti dari dalam kafe, sambil MENERIAKI SAYA untuk sekedar membuat saya aware kalau dia bermaksud berurusan dengan saya. Petugas sekuriti itu bilang “Mbak, di sini kalau mau menyebarkan selebaran, harus ijin dulu sama pihak manajamen.”

WHAT? SAYA NGGAK MENYEBARKAN SELEBARAN, PAK. Tadi itu saya ngasih fotokopian surat tugas saya karena mereka sendiri yang minta. Kenapa ga mereka aja yang ditangkep? Ah tapi percuma juga komplen sama petugas sekuriti, mereka kan cuma MENURUTI PERINTAH TUAN MEREKA, ga peduli apakah tuannya oon dan ga berperikemanusiaan atau tidak.

Saya dibawa ke bagian manajemen PIB. Saat saya digelandang ke kantor manajemen, saya sempat bertanya sama si petugas tersebut “Saya dilaporkan oleh pelayan Kafe Ah Lo Lo ya?” yang kemudian di-iya-kan oleh si petugas sekuriti. Saya sebenernya kesel berat dan pengen komplen atas kesalahpahaman bahwa saya menyebarkan selebaran gelap, tapi ya sudahlah, saya ga punya waktu buat ribut-ribut. Saya ikutin aja lah mereka maunya gimana.

Sayangnya manajer operasionalnya lagi sibuk, jadi saya cuma bisa titip pesen sama front officenya yang ganteng. “Mas, tolong disampein aja ke manajernya, saya ga menyebarkan selebaran, saya hanya menanyakan beberapa hal, dan ¬†saya sebenarnya sudah mengantongi ijin dari kantor pusat mereka. Saya minta maaf karena menimbulkan kekacauan, ini nomer HP saya kalau-kalau pihak PIB atau Kafe Ah Lo Lo mau menuntut saya lebih lanjut.”

Sebelum saya ngomong gitu, saya sempet nanya sama si masnya “Mas, emangnya kalau saya cuma mau nanya doang ke restoran2 tentang apakah di sana ada internet atau nggak, terus nanya apa merek mesin kasirnya, itu harus ijin dulu sama PIB?” terus kata masnya, “Harusnya sih iya, termasuk juga misalnya kalau restoran mau ngeloading barang dari truk, itu harus lapor dulu sama pihak manajemen.”

OMG, itu mah 2 hal yang beda kali mas T.T

Oh, jadi semuanya harus minta ijin dulu ya sama pihak manajemen? Jadi selama hampir 20 tahun ini saya makan atau beli-beli barang di PIB, saya melakukan kesalahan dong? Karena selama ini saya selalu nanya segala hal langsung ke pelayan di counter yang bersangkutan, ga lewat manajemen dulu tuh -_-

Selama ini PIB adalah salah satu tempat nongkrong favorit saya, tapi sepertinya saya harus cari tempat nongkrong baru nih. Akan jadi terlalu ribet bagi saya, jika untuk menanyakan “Apakah di sini ada koneksi wi fi?” ke pelayan aja saya harus minta ijin ke pihak manajemen PIB dulu. Sori-sori jek, saya ga suka yang ribet-ribet.

Dan untuk Kafe Ah Lo Lo, saya ga nyangka kalau niat baik saya untuk susah-susah nyari tukang fotokopian supaya saya bisa ngasih kopian surat tugas saya ke Kafe Ah Lo Lo ternyata dimanfaatkan untuk memberi alasan kepada sekuriti untuk menangkap saya. WAT DE HEL? Kalau emang ga mau ngasih tandatangan, bilang aja ga mau, ga usah ngasih tapi ujung-ujungnya malah bikin orang jadi susah. Apa sih susahnya bilang “GA MAU”?

Mengutip Dalai Lama, “If you can, help others; if you cannot do that, at least do not harm them.”

Saya jadi berandai-andai, jika saja saya datang ke sana sebagai pembeli, lalu saya bertanya “Apakah di sini ada akses internet?” mungkin ceritanya akan lain. Bagi ke-19 restoran lain, saya bisa bilang bahwa mereka benar-benar menerapkan slogan “Tamu adalah Raja”, siapapun tamu mereka, mereka akan melayaninya dengan baik. Tapi tidak untuk Kafe Ah Lo Lo. Sepertinya bagi mereka, tamu berduit yang mau menghambut-hamburkan duit di Kafe Ah Lo Lo sajalah yang layak diberi pelayanan yang baik. Sisanya cuma bikin susah aja, sehingga lebih baik diurus oleh sekuriti.

Dengan memposting tulisan ini saya TIDAK bermaksud mengajak teman-teman untuk tidak mengunjungi Kafe Ah Lo Lo, saya hanya bermaksud mengajak teman-teman untuk tidak meniru apa yang pelayan Kafe Ah Lo Lo lakukan dalam memperlakukan tamu. Percayalah, itu adalah sikap yang sangat menyebalkan dan hanya akan merugikan diri sendiri.


*sigh*

Advertisements