24

Sejenak Lahir Kembali di Babakan Siliwangi

Sebagai warga negara Indonesia, kita berhak berbangga diri, karena dengan luasnya wilayah dan tingginya keanekaragaman hayati yang dimiliki, hutan Indonesia kini menjadi tumpuan dunia. Kita juga sering melantangkan bahwa hutan adalah penyangga kehidupan yang harus dijaga dengan baik. Tapi apakah kita—masyarakat kota—benar-benar paham tentang hutan? Pernahkah Anda melihat bagaimana bentuknya, mencium aromanya, menginjak tanahnya, atau bermain dengan binatang-binatang yang tinggal di dalamnya?

Jika Anda lahir dan dibesarkan di kota besar, mungkin Anda belum pernah berinteraksi dengan hutan karena sulitnya akses hutan dari kota. Lalu dengan kondisi seperti ini, masih layakkah anggapan bahwa “tinggal di kota” adalah sebuah simbol kemajuan?

Kotor dan menyeramkan. Mungkin dua hal inilah yang terpatri kuat di benak masyarakat kota tentang hutan. Begitu kuatnya, sehingga mereka cenderung menjauhi hutan. Terlepas dari kedua stigma tersebut, sejatinya hutan memiliki banyak fungsi dan manfaat bagi manusia, bahkan melebihi apa yang kebanyakan kita pikirkan selama ini. Yang kita tahu, hutan menghasilkan oksigen dan menyimpan air dalam jumlah besar, tapi tahukah Anda bahwa hutan juga bisa mejadi sarana pendidikan dan bersosial?

Memiliki banyak warna dan suara, hutan sangatlah cocok menjadi tempat bermain dan belajar bagi anak-anak yang sedang tumbuh dan berkembang. Semakin beragam warna dan suara yang ditangkap oleh panca indera anak- anak, semakin terpicu pula otak mereka untuk berkembang. Lasekapnya yang luas memungkinkan anak-anak berlari dengan bebas, membuat saraf motoris mereka terlatih. Suasananya yang tentram dan mendamaikan hati membuat hutan juga bisa menjadi sarana yang sangat cocok bagi orang dewasa untuk berkumpul dan bersosial. Sambil ditemani nyanyian serangga dan hembusan angin sepoi-sepoi, kegiatan bersosial akan terasa semakin mengasyikkan.

Bunga berwarna-warni di salah satu sudut Babakan Siliwangi.

Tak ayal, hutan menjadi hal mutlak yang perlu ada untuk menemani manusia di mana pun manusia beraktivitas, di desa maupun di kota. Sayangnya tidak banyak kota besar di Indonesia memiliki hutan yang berdiri kokoh di antara lintasan-lintasan jalan aspal dan gedung-gedung beton. Sepertinya peraturan pemerintah yang mewajibkan seluruh kota memiliki minimal 30% RTH (Ruang Terbuka Hijau) hanya dianggap angin lalu. Belum lagi terdapat mispersepsi tentang definisi RTH. Di kota-kota besar, orang menganggap taman kota yang 80%-nya ditutupi aspal atau semen adalah RTH. Padahal sejatinya RTH lebih dari itu. RTH seharusnya berbentuk hutan, yang 100% tanah dan tumbuhan, bukan yang sebagian besar ditutupi aspal atau semen.

Tapi, apakah mungkin kita memiliki hutan di tengah kota? Jawabannya adalah sangat mungkin! Kenapa tidak? Tapi tentu saja hanya jika kita menghendakinya. Jika tidak percaya, datang saja ke kota Bandung, kota tempat kami tinggal. Di Bandung, Anda bisa menemukan kawasan bernama Babakan Siliwangi, sebuah hutan mini dengan luas 3,8 hektar yang terletak di jantung kota Bandung. Anda mungkin tidak akan percaya bahwa ini adalah hutan buatan, karena pohonnya tinggi-tinggi dan bermacam-macam, juga terdapat banyak hewan liar di sana.

Hutan kota yang unik ini terletak di antara Jl. Dago dan Jl. Cihampelas, dua ruas jalan yang paling ramai dan merupakan landmark kota Bandung. Betul, Babakan Siliwangi bukan hutan alami. Pada masa penjajahan Belanda, kawasan ini merupakan hamparan sawah yang cukup luas, yang kemudian dialifungsikan menjadi hutan melalui penanaman berbagai jenis pohon. Dan kini, voila…..! Jadilah hutan kota dengan 48 jenis pohon, 14 jenis burung, dan beberapa jenis mamalia!

Keberadaan hutan di tengah kota Bandung yang semakin sarat penduduk dan bangunan bertingkat bagaikan kehadiran sebuah oase di padang pasir. Bayangkan saja ada hutan lebat di sebelah jalan raya yang sarat kendaraan bermotor. Di mana di sana orang dewasa bisa melepas lelah dan penat seusai bekerja seharian… anak-anak bisa belajar tentang alam dan segala sesuatu tentang kehidupan sambil bermain dan berlari-larian di lantai hutan… dan kawula muda bisa berkumpul dan bersosial dengan memanfaatkan keterbukaan ruangnya. Babakan Siliwangi benar-benar aset yang tak ternilai bagi kota Bandung!

Babakan Siliwangi memiliki sejarah yang cukup panjang. Dan pada tahun 2011, sejarah panjang itu diperkaya dengan sejarah baru yang mendunia. Pada bulan September 2011, kawasan Babakan Siliwangi ditetapkan sebagai hutan kota pertama yang diakui dunia. Status baru ini diresmikan di sela Konferensi Internasional Anak-anak dan Pemuda TUNZA, setelah beberapa hari sebelumnya komunitas “UDUNAN” yang merupakan bentuk kerja sama puluhan komunitas di kota Bandung melakukan aksi “Save Babakan Siliwangi”. Pada aksi yang melibatkan ratusan relawan dan membakar kembali semangat anak muda kota Bandung ini, dilakukan pelepasan sebagian aspal jalan yang melintang di Babakan Siliwangi, dan sebagai gantinya dilakukan penanaman berbagai jenis pohon di kawasan tersebut. Pada waktu yang berdekatan, dibangun pula sebuah jembatan kanopi hasil kerja sama UNEP PBB dengan komunitas Bandung Inisiatip. Pembaruan-pembaruan wajah Babakan Siliwangi ini membuat hutan kota dunia ini berdiri dengan semangat baru.

Belajar menanam pohon di acara "Save Babakan Siliwangi". (dok - HUB! Bandung)

Pohon yang ditanam di area aspal yang dilepas.

Jembatan Kanopi

Percuma saja punya hutan kota yang diakui dunia jika masyarakat yang tinggal di sekitarnya tidak memanfaatkannya dengan baik. Selain aktivitas para seniman di Galeri Sanggar Olah Seni (SOS) yang terletak di dalam hutan, hampir tidak ada aktivitas lain di Babakan Siliwangi. Menyoal ini, komunitas HUB! hadir dengan pendekatan yang menarik: mengajak masyarakat bermain bersama di Babakan Siliwangi. Komunitas bernama panjang “Hayu Ulin di Baksil!” (Indonesia: Mari Kita Main di Baksil!) ini lahir pada tahun 2011, dengan hasrat mengajak masyarakat meramaikan Babakan Siliwangi melalui aktivitas-aktivitas positif sesuai kegemaran masing-masing. Diharapkan dengan semakin banyak orang beraktivitas dan merasa memiliki Babakan Siliwangi, maka akan semakin banyak pula orang yang peduli terhadap hutan kota ini. Secara rutin komunitas ini melakukan kegiatan-kegiatan menarik, di antaranya bersepeda, fotografi, menggambar komik, membuat lomba desain rumah burung, serta kegiatan-kegiatan menarik lainnya di kawasan Babakan Siliwangi. Semoga aksi mereka berbuah manis! 🙂

Contoh rumah burung untuk lomba desain rumah burung. (dok - HUB! Bandung)

Menikmati hutan kota dari jembatan kanopi.

Dengan kemampuannya mengatur dan memelihara diri sendiri, hutan tidak membutuhkan terlau banyak campur tangan manusia. Manusia hanya perlu melakukan inisiasi dan perawatan pada tahap awal. Dengan segala keuntungan yang ditawarkan oleh hutan, masyarakat seharusnya tidak perlu lagi pusing menentukan apakah mereka membutuhkan hutan kota atau tidak. Hutan kota adalah lansekap terbaik yang dibutuhkan oleh sebuah kota untuk menjadi kota yang sehat. Tidak ada lansekap lain yang bisa menggantikan posisinya…  juga keindahannya. Coba, beri lihat kepada kami sudut kota yang lebih indah dari ini:

***

Itu tadi sepotong cerita tentang hutan kota di Bandung. Bagaimana dengan kota tempat Anda tinggal, sudahkah memiliki hutan kota? Jika belum, siapkah Anda menjadi agen perubahan? Jika masyarakat dan komunitas-komunitas di kota Bandung bisa mewujudkan mimpi mereka memiliki hutan kota yang nyaman dan asri, masih ragukah Anda bahwa Anda juga bisa melakukannya?

Pepatah Sunda mengatakan “Leuweung ruksak, cai beak, manusa balangsak.” Jika hutan rusak, air akan habis, dan manusia akan sengsara. Mari selamatkan hutan yang tersisa, dan ciptakan hutan-hutan baru! Salam Lestari! 🙂

————————————————————————————————-

Artikel ini dibuat untuk kepentingan lomba menulis blog 3on3 Competition 2011 tenang “Open Public Space” yang diselenggarakan oleh ON|OFF, hasil karya Rima Putri Agustina, Rizki Ersa Heryana, dan Nicky Irawan.

Advertisements
4

Drawing Day #17 “My Favorite Superhero”

Berpacu dengan waktu sepulang sekolah, berharap masih bisa menonton serial kesayangan di televisi. Kira-kira begitulah nasib anak SD yang tumbuh pada dekade ’90-an yang terpaksa harus pulang sekolah pada sore hari. Bahkan kadang saya bisa sampe marah-marah sendiri kalau ada temen semobil jemputan yang lama banget keluar dari kelasnya, semua itu demi Kotaro Minami.

Ya, tayangan televisi sore hari favorit saya kala itu adalah Kastria Baja Hitam, dengan lakon utama Kotaro Minami.

Ksatria Baja Hitam

Jujur, saya dulu tergila-gila dengan Kotaro Minami. Namun sekarang, belasan tahun kemudian, ketergila-gilaan itu berubah menjadi rasa mual. Mungkin inilah yang membuat masa kanak-kanak menjadi masa yang paling indah, kita bisa menyukai apa saja tanpa memberikan penilaian yang serius. Kalau suka ya suka aja, ga ada penjelasannya. 🙂

Dari segi alur cerita sih bisa dibilang serial ini ga kreatif. Setipe lah sama Power Ranger dan serial superhero lainnya: ada geng yang jahat ngedrop monster di Bumi untuk mengacau, tapi kemudian dibasmi oleh superhero dengan bantuan pedang sakti mandra guna. Terus besoknya monsternya beda lagi, dan begitu seterusnya. Benar-benar monoton dan mudah ditebak. Tapi di mata saya, serial ini berbeda dari serial-serial superhero lainnya, karena di setiap episodenya pasti ada pesan moral atau poin belajarnya untuk anak-anak.

Saya sudah lupa sih apa-apa saja pesan moral dan poin belajarnya, tapi ada satu episode yang masih saya ingat, yaitu episode moster kaktus.

Saat itu Kotaro menyiram kaktus milik Reiko (pacar Kotaro — kalau ga salah) dengan air dalam jumlah banyak. Lalu Reiko berujar, “Jangan siram terlalu banyak air, nanti kaktusnya mati.” Pada akhir episode, kata-kata Reiko inilah yang akhirnya menginspirasi Kotaro untuk mengalahkan monster kaktus dengan menjatuhkannya ke sungai.

Untuk anak-anak, menurut saya ini adalah media belajar yang baik. Walaupun sekedar belajar “kaktus ga bisa hidup kalau kebanyakan air”, tapi yang penting ada poin belajarnya. :mrgreen:

Kastria Baja Hitam kini telah berevolusi menjadi varian-varian yang jumlahnya cukup banyak. Sayang sekali, seiring kedewasaan, saya mulai meninggalkan serial ini. Varian terakhir yang saya tonton adalah Ksatria Baja Hitam RX Bio. Ah, jadi pengen nonton lagi, terus ngelanjutin sampe tamat. 😀

6

Drawing Day #16 “My Turning Point in Life”

Ternyata benar apa kata rumput yang bergoyang, bahwa hidup manusia tidak akan pernah bisa disangka-sangka. Seperti juga hidup saya.

Pada suatu hari di bulan Agustus tahun 2000, di minggu pertama saya sekolah di SMA Negeri 1 Bandung, teman saya Dian Marliana Srikaton mengajak saya untuk bergabung dengan organisasi bernama “Bumi Satu.” Saya yang saat itu masih ababil dan belum tahu mau memilih organisasi apa yang akan saya jalani selama 3 tahun ke depan, akhirnya mengiyakannya.

Sebenernya saya kurang sreg dengan keputusan yang saya buat, karena saya pikir organisasi ini tidak populer (yah, namanya juga ababil, ngerti lah :p). Tapi saat itu saya tidak tega menolak ajakan Dian, apalagi setelah Dian bilang “Pliiiiiis, sodara saya minta saya ngajakin kalian untuk masuk ke situ.”

Maka bergabunglah saya sebagai anggota Bumi Satu, organisasi SMA pertama di Indonesia yang bergerak dalam bidang lingkungan hidup. Benar dugaan saya, organisasi ini memang tidak populer, pendaftarnya hanya 6 orang pada tahun itu: saya, Dian, Rani, Evi, Gilang, dan Made. Tapi yang tersisa sampai akhir tahun 2003 hanyalah 5 orang, karena Made mati gaya dan akhirnya beralih ke klub skateboard.

Pada jaman saya SMA dulu, isu-isu lingkungan hidup belum sesanter sekarang. Bahkan saking bingungnya mau melakukan aktivitas apa, kami sering kali menyibukkan diri mengurusi tanaman di greenhouse. Lumayan, sambil ngurusin tanaman biasanya kami bisa curi-curi pandang anak-anak Tae Kwon Do yang sedang latihan tendang-tendangan. :mrgreen:

Kami memang tidak punya banyak aktivitas internal selain main tanaman dan main ular, tapi senior kami seringkali mengajak kami main ke LSM sana-sini, ikutan aksi ini-itu, dan diskusi segala macem. Sampai akhirnya saya yang ababil saat itu menemukan bahwa “lingkungan hidup” adalah dunia yang sangat menarik.

Bocah Ababil

Ketertarikan ini kemudian menyeret saya untuk berkarir di bidang lingkungan hidup selepas saya lulus kuliah…. dan saya berniat untuk terus konsisten berkarir di bidang ini sampai tua. Doakan saja ya! *Takeshi Castle mode on* :mrgreen:

Saya merasa sangat beruntung 11 tahun lalu berteman dengan Dian, si gadis Pontianak yang lugu. Dan saya bersyukur saya yang ababil saat SMA dulu mau mencoba sesuatu yang baru, yang menurut saya tidak populer. Jika tidak, mungkin saat ini saya berkarir sebagai akuntan atau artis. *ngarep* :mrgreen:

Hidup memang penuh dengan kejutan, jadi jangan pernah tolak kesempatan yang datang kepada kita saat ini. Kita tidak akan pernah tahu apakah hal itu akan mengantarkan kita pada turning point hidup kita selanjutnya. So, just try it! 🙂

9

Drawing Day #7 “My Inspiration”

Apa itu inspirasi? Jujur, walaupun saya sering pake kata ini dalam kehidupan sehari-hari, saya ga tau apa arti “inspirasi” yang sebenarnya. Menurut KAAR sih (KAAR = Kamus Abal-Abal Rima), inspirasi adalah sesuatu yang membuat seseorang terdorong untuk menentukan dan mengejar visi hidupnya. Sehingga seseorang yang menginspirasi orang lain disebut “inspirator.”

Tapi sepertinya ketimbang “inspirator,” orang-orang lebih suka menyebut orang yang menginspirasi dengan “inspirasi.” Mungkin karena inspirator terlalu terkesan seperti nama alat, hahaha… Atau mungkin juga telinga orang-orang banyak terpengaruh lagu Chicago tahun ’80-an yang judulnya You’re the Inspiration. Sebentar ya, saya nyanyi dulu….

♪ ♫You’re the meaning in my life
You’re the inspiration
You bring feeling to my life
You’re the inspiration ♪ ♫

Beliaulah Dr. Achmad Sjarmidi, yang menginspirasi saya untuk menjadi dosen. Bukan dosen sembarang dosen, tetapi dosen gaul tentunya, ahaha… Satu hal yang paling saya tidak suka dari dosen adalah sikap judgmental mereka terhadap mahasiswa. Hebatnya, Pa Mamid (sapaan akrabnya) tidak begitu. Beliau melihat kualitas seseorang bukan dari nilai akademisnya, tapi dari cara mereka memperoleh nilai tersebut. Sehingga tak heran pada semua mata kuliah yang beliau ajarkan, pendekatan yang dilakukan adalah mengajak mahasiswa berpikir (secara harfiah), bukan “berpikir” yang hanya mendengarkan tetapi konsentrasi belanja ke mana-mana. Sementara mahasiswa lain merasa bete karena “kenyamanan” mereka terganggu, saya justru bersemangat! It’s so fun….! 😀

Lebih kerennya lagi adalah, saya bisa tidak sengaja bertemu beliau pada event-event pergerakan sosial di Bandung. Di saat orang-orang seumuran beliau merasa hal-hal seperti itu sudah bukan urusan mereka lagi karena sudah bukan jamannya, Pa Mamid hadir untuk menginspirasi anak-anak muda.

Satu hal lain yang membuat saya heran adalah, dengan segala kesibukannya ke sana ke mari, beliau masih tetap update dengan dunia musik mancanegara. Pernah di satu kesempatan saat kami survey tempat kuliah lapangan bersama, beliau memperdengarkan musik dengan lagu berbahasa Perancis kepada saya, dia bilang “Ini lagu seksi.” Dan pada perjalanan kembali ke Bandung, saat kami mendengar lagu Britney Spears di radio, beliau berkomentar, “Hebat ya si Britney, bisa bangkit lagi dari keterpurukan.”

Eh…. Sampe tau berita tentang Britney, pak? Wah, bener-bener gaul 😀

*Padahal saya yang anak muda aja saat itu ga tau kalau itu lagu Britney, dan saya juga ga tau kalau Britney sudah bangkit dari keterpurukannya -_-*

Itulah Pa Mamid, dosen yang gaul dan asik. Someday, I want to be just like him: cerdas, gaul, hangat, inspiratif 🙂

P.S.: Gambar ini adalah hasil percobaan kali ke-tiga saya belajar menggunakan cat air, dan saya menemui kesulitan dalam mewarna kulit manusia, hahaha… Liat aja tuh hasilnya berantakan. Harusnya sih ga selegam itu kulitnya si bapak, tapi karena warnanya ga rata terus, saya poles-poles lagi.. akhirnya jadi legam banget plus tetep ga rata juga -_- *yah, namanya juga belajar :p*

P.S.S.: Beliau adalah orang yang sama dengan yang saya ceritakan di sini.

2

Drawing Day #6 “My Best Friend”

Best friend yah? Sebenernya best friend saya lebih dari satu, tapi untuk tantangan kali ini,  saya mencoba menggambar Lerry Martina sebagai best friend saya,  soalnya dia baru aja lulus S2 hari Jum’at lalu. Selamaaaaaaat >,<

Maksud saya, selamat masuk ke kandang harimau selepas dari kandang buaya (untuk kedua kalinya, heuheu :p).

Untuk Lerry, sori ya kalau gambarnya ga mirip. Kalau lebih cantik dari aslinya, anggap aja rejeki… kalau lebih jelek, anggap aja ibadah, hehehe… 😀

Thanks for being my best friend 🙂

2

Drawing Day #5 “My Favorite Food”

…..dan makanan favorit saya adalah es krim. Varian yang paling saya suka adalah rasa vanilla, baik yang polos maupun yang bertabur choco chip atau potongan kue coklat.

Kebiasaan saya saat makan es krim adalah saya menggigit bagian atas cone-nya duluan sebelum makan es krimnya. Ga tau kenapa, hahaha…. xD

Kalau kamu, suka es krim rasa apa? Dan bagaimana cara memakannya yang asik menurut kamu? 🙂

6

Drawing Day #4 “My Favorite Place”

Bicara tentang tempat favorit, maka jawaban saya pasti “hutan,” tempat terindah di Bumi, yang dari padanya manusia memperoleh makanan sehat dan udara segar.

ANAK TARZAN

(by Abah Iwan)


Aku dilahirkan jauh di dalam hutan
Di tepi telaga yang jernih airnya
dan banyak ikannya
Aku tinggal dalam rumah
Di atas pohon bercabang-cabang
Bunga-bunga bermekaran
bermacam-macam warna

Kalau aku lapar kupanggil temanku
Paman monyet yang sangat baik hati
Aku diajaknya pergi mengembara
Mencari buah-buahan yang segar

Ayahku seperti Tarzan
Dia penuh kasih sayang
Hidupku berkecukupan riang dan bahagia

Ibuku putri rimba
Titisan dewi cahaya
Kesayangan rembulan
Ia cantik sekali

Ayahku sangat gagah perkasa
Baik hati dan jujur sekali
Aku ingin seperti ayahku
yang jiwanya bebas dan hidup merdeka

Walau ayahku seperti Tarzan
Dia penuh kasih sayang
Hidupku berkecukupan riang dan bahagia

Ibuku putri rimba
Titisan dewi cahaya
Kesayangan rembulan
Ia cantik sekali

Ayahku sangat gagah perkasa
Baik hati dan jujur sekali
Aku ingin seperti ayahku
yang jiwanya bebas dan hidup merdeka