Drawing Day #16 “My Turning Point in Life”

Ternyata benar apa kata rumput yang bergoyang, bahwa hidup manusia tidak akan pernah bisa disangka-sangka. Seperti juga hidup saya.

Pada suatu hari di bulan Agustus tahun 2000, di minggu pertama saya sekolah di SMA Negeri 1 Bandung, teman saya Dian Marliana Srikaton mengajak saya untuk bergabung dengan organisasi bernama “Bumi Satu.” Saya yang saat itu masih ababil dan belum tahu mau memilih organisasi apa yang akan saya jalani selama 3 tahun ke depan, akhirnya mengiyakannya.

Sebenernya saya kurang sreg dengan keputusan yang saya buat, karena saya pikir organisasi ini tidak populer (yah, namanya juga ababil, ngerti lah :p). Tapi saat itu saya tidak tega menolak ajakan Dian, apalagi setelah Dian bilang “Pliiiiiis, sodara saya minta saya ngajakin kalian untuk masuk ke situ.”

Maka bergabunglah saya sebagai anggota Bumi Satu, organisasi SMA pertama di Indonesia yang bergerak dalam bidang lingkungan hidup. Benar dugaan saya, organisasi ini memang tidak populer, pendaftarnya hanya 6 orang pada tahun itu: saya, Dian, Rani, Evi, Gilang, dan Made. Tapi yang tersisa sampai akhir tahun 2003 hanyalah 5 orang, karena Made mati gaya dan akhirnya beralih ke klub skateboard.

Pada jaman saya SMA dulu, isu-isu lingkungan hidup belum sesanter sekarang. Bahkan saking bingungnya mau melakukan aktivitas apa, kami sering kali menyibukkan diri mengurusi tanaman di greenhouse. Lumayan, sambil ngurusin tanaman biasanya kami bisa curi-curi pandang anak-anak Tae Kwon Do yang sedang latihan tendang-tendangan. :mrgreen:

Kami memang tidak punya banyak aktivitas internal selain main tanaman dan main ular, tapi senior kami seringkali mengajak kami main ke LSM sana-sini, ikutan aksi ini-itu, dan diskusi segala macem. Sampai akhirnya saya yang ababil saat itu menemukan bahwa “lingkungan hidup” adalah dunia yang sangat menarik.

Bocah Ababil

Ketertarikan ini kemudian menyeret saya untuk berkarir di bidang lingkungan hidup selepas saya lulus kuliah…. dan saya berniat untuk terus konsisten berkarir di bidang ini sampai tua. Doakan saja ya! *Takeshi Castle mode on* :mrgreen:

Saya merasa sangat beruntung 11 tahun lalu berteman dengan Dian, si gadis Pontianak yang lugu. Dan saya bersyukur saya yang ababil saat SMA dulu mau mencoba sesuatu yang baru, yang menurut saya tidak populer. Jika tidak, mungkin saat ini saya berkarir sebagai akuntan atau artis. *ngarep* :mrgreen:

Hidup memang penuh dengan kejutan, jadi jangan pernah tolak kesempatan yang datang kepada kita saat ini. Kita tidak akan pernah tahu apakah hal itu akan mengantarkan kita pada turning point hidup kita selanjutnya. So, just try it! 🙂

Advertisements

6 thoughts on “Drawing Day #16 “My Turning Point in Life”

  1. cie cie. itu lagi lirik anak taekwondo yaaa? :p semangat kk Rima *ala Takeshi castle juga* 😀 ternyata hal “sederhana” semacam itu bisa membuat perubahan besar yak ^^

  2. hidup memang seperti itu mbak…. terkadang sesuatu yang kita pikir cocok untuk kita malah ternyata gak cocok, begitu juga sebaliknya….

    ya pada akhirnya kembali ke diri kita masing bagaimana cara kita menyingkapinya. 😀

    yang penting enjoy aja…. 😀

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s