Haruskah Mengikuti Arus Agar Bisa Menang?

Image

Seberapa sering kamu ikut lomba blog? Seberapa sering saya ikut lomba blog? Saya tidak sering, tapi mungkin ke depannya akan jadi sedikit lebih sering.

Dulu saya berpikiran bahwa tujuan lomba adalah mendapatkan hadiahnya. Sehingga jika ada lomba yang mana kira-kira saya tidak berpeluang menjadi pemenang, saya tidak akan ikutan lomba itu :mrgreen:. Tapi pola pikir saya sekarang berubah. Menurut saya, hadiah lomba tidak lagi penting (walaupun kalau dikasih, saya tidak akan menolak, hehehe :D), yang penting adalah kita berusaha berkembang melalui lomba-lomba yang kita ikuti (dan ga pernah kita menangkan tersebut). :mrgreen:

Mungkin ada yang bertanya-tanya, memangnya lomba macam apa sih yang saya maksud dengan “saya punya peluang besar di sana”? Sederhana saja, yaitu lomba-lomba di mana saya sangat paham dengan topik yang sedang dilombakan. Semakin paham kita pada suatu topik, maka akan semakin besar peluang kita menulis sesuatu secara lebih menarik. Bagi yang tidak kenal saya secara langsung (kayanya pembaca blog ini hampir semuanya tidak kenal saya deh :mrgreen:) saya adalah seorang biolog dan environmentalis. Sama seperti setiap orang, saya hanya merasa “ahli” pada bidang-bidang tertentu, dan kedua bidang itulah ranah keahlian saya.

Sekedar pede karena merasa paham saja tidaklah cukup, sodara-sodara. Terkadang (dan hampir pasti), untuk lomba-lomba semacam lomba blog di Indonesia, kita “HARUS” punya visi yang sama dengan sang juri. Tidak peduli sebagus apa kita menulis suatu posting, kalau visi sang juri tidak sesuai dengan visi kita, ya siap-siap saja gigit jari :mrgreen:. Walaupun sebenarnya tidak harus selalu seperti itu, karena sejatinya apa yang dilombakan pada sebuah blog bukanlah apa opini si penulis, tapi bagaimana si penulis menjelaskan gagasannya. Sayangnya, pandangan objektif semacam ini sulit sekali ditemui di negeri ini. (Mungkin karena kita terbiasa hidup pada jaman ORBA. Yang tidak setuju dengan sang penguasa, maka harus rela masuk bui. :mrgreen:)

Malangnya bagi saya (entahlah apakah ini lebih cocok disebut sebagai suatu kemalangan atau malah keberuntungan), dibandingkan dengan kebanyakan orang di negeri ini, cara padang saya terhadap sesuatu biasanya tidak mainstream. Saya tidak berusaha meng-anti-mainstream-kan diri sekedar agar tidak disebut “alay.” Saya biasanya tidak mainstream karena memang cara belajar saya agak berbeda. Di sinilah titik temunya. Orang Indonesia kebanyakan berpandangan mainstream karena itulah yang mudah. Juga karena kalau kita berbeda, maka kita ini salah. Mudah, karena kita tidak perlu belajar dan memahami sesuatu secara mendalam, cukup ikuti jalur yang dirasa “aman,” maka semua akan baik-baik saja, tidak peduli apakah pandangan tersebut benar atau salah.

Saya coba ambil contoh sederhana. Pernah suatu kali ada lomba blog bertema “lingkungan.” Karena ini adalah bidang yang saya banget, begitu mendengar info tentang lomba ini, saya langsung antusias membuat sebuah tulisan. Dari prinsip 3R (reduce-reuse-recycle), saya memilih topik “reduce” untuk dituangkan menjadi sebuah tulisan, karena menurut saya prinsip reduce adalah prinsip yang paling mumpuni untuk mengatasi permasalahan sampah. Tapi lain halnya dengan cara pandang orang Indonesia pada umumnya. Mereka lebih mengenal “recycle” dibanding “reduce,” sehingga acap kali mereka menganggap recycle sebagai prinsip yang terbaik di antara prinsip 3R lainnya. Benar dugaan saya, tulisan bertopik “reduce” saya tidak laku, sementara tulisan-tulisan bertopik “recycle” menyabet predikat juara 1, 2, dan 3 sekaligus. Bahkan (kalau tidak salah) sampai juara harapan 14 pun tema yang mendominasi masih sama. :mrgreen:

Atau contoh yang paling segar, tentang evolusi. Saya adalah seorang evolusionis, dan saya punya passion yang besar akan topik ini (bahkan bisa dibilang berlebihan, karena saya rela mengeluarkan banyak uang untuk membeli buku-buku impor yang mahal :P). Saya juga berniat ingin kuliah S2 khusus jurusan evolusi di Eropa. Sayangnya karena saya terlanjur hamil, kesempatan yang hampir saya dapatkan itu harus saya lepas (tapi gapapa, besok-besok dicoba lagi :D). Hampir semua orang di negeri ini tidak setuju teori evolusi dengan alasan yang klise: agama, padahal kedua hal ini tidaklah saling berhubungan (untuk paham lebih lanjut, sila buka ini). Pada lomba blog bertema “evolusi” yang saya ikuti bulan lalu, saya yakin saya tidak akan menang, karena saya yakin sang juri pasti punya cara pandang yang berbeda dengan saya. Dan dugaan saya terbukti benar. :mrgreen:

Maka sejak lama, saya tidak lagi mengharapkan hadiah. Bagi saya, (untuk kasus-kasus tertentu) mengincar posisi juara akan sama nilainya dengan menanggalkan cara pandang pribadi. Atau dengan kata lain, agar berpeluang lebih besar menjadi pemenang, saya harus sama dengan orang kebanyakan: berpandangan mainstream, yang mana untuk hal-hal tertentu saya tidak bisa berada pada posisi itu.

Jika harus begini, saya memilih kalah saja, deh… karena bagi saya, cara pandang adalah hal yang sangat prinsipil, dan hampir tidak bisa diganggu. Pernah seorang teman berkata “Kamu cuma bakal bisa menang lomba blog kalau jurinya seorang profesor.” Entahlah apa maksudnya. Terlepas dari apa maksudnya, saya tidak sedang menyombongkan diri atau mendiskredritkan siapapun di sini.

Jadi bagi saya sekarang, tujuan mengikuti sebuah lomba hanyalah untuk have fun. Juga seperti yang pernah saya bahas sebelumnya, saya biasanya tidak punya ide untuk saya tuangkan menjadi postingan di blog ini. Dengan mengikuti lomba blog, itung-itung saya bisa belajar dan jadi punya sedikit semangat untuk meramaikan blog yang sudah hiatus beberapa tahun ini :mrgreen:. Tapi bukan berarti saya tidak mau hadiah, loh. Kalau bisa menjadi diri sendiri dan bisa dapat hadiah, itu kan asik banget! :mrgreen:

Kalau kamu, apa tujuan kamu ikutan lomba blog? Ayo share di sini! πŸ˜€

Advertisements

25 thoughts on “Haruskah Mengikuti Arus Agar Bisa Menang?

  1. Mbk boleh juga nih, jgn2 gara2 mampir ke blog saya jadi ehm ehm ya,, kemarin2 sebelum pengumuman saya berencana hengkang dari dunia blog, trus masukin semua yg udah di publis ke dlm draft, ya krena ada “samting prablem” saya hrus menghindarkan jari dari teknologi supaya segala kekesalan krn masalah intern saya tidk terekspose. ehh taunya pas balik lagi (setelah pengumumn)blog saya jd amburadul, begitu lah hasilnya jadi ancur blog saya plus beberapa postingan kedelete (gak sengaja).
    Lomba yang itu ya, saya udah prediksi sejak awal liat aja komentar saya dulu (no 16 patut diperhitungkan), dan oke oke saya ngaku yg jadi NN itu saya loh yg komennya isinya (smoga kamu menjadi pemenangnya EH). Saya sebenernya suka sama cara publikasi film seperti ini (lebih kreatif)
    cuma untk kategori pmenang 2 saya melihat ada kesalahan manusia yg like, kebanyakan ada yg dari luar negri dan tidak diketahui keasliannya. sepertinya film ini tidak tayang sampe ke negara2 yg bahkan menyebut namanya saja lidah saya kepeletot (bahasa apa ni), dan kemungkinan kecil mereka bakal nyewa helikopter pribadi pas tayang di bulan sepetember cuma untuk ke indonesia.

    jadi yang membuat keadaan ini lucu adalah yang lain deg deg ser memperebutkan 1 tempat, sementara dia udah berdiri di podium no 2 sambil melambai-lambaikan tangan terus ngomong “Assalamu’alaikum warrahmatullahi wabarakattuh”

    dan pemenang sejati adalah kita “YANG MENCOBA MERUBAH MIND SET BANYAK ORANG TTG DARWIN, EVOLUSI DAN UMAT BERAGAMA TIDAK BOLEH HANYA MENUNGGU HIDAYAH DAN MENGANGGAP ITU RAHASIA ILLAHI SEMATA)

    *ih kepedean nggak sih ngomng “kita”

    untung dah belom jadi ke eropa, puasa nya lama, hedeuuh tahun depan pasti puasa jatuh di puncaknya summer.

    udah dulu ah udah malem Assallamu’alaikum

    • Ehem-ehem gimana ris maksud kamu? Saya punya pemikiran ini sebelum kenal kamu looooh πŸ˜€

      Eh yang tentang evolusi mah itu cuma contoh loh. Saya sangat menghargai keputusan juri lomba mana pun, cuma dari situ saya dapat pengalaman baru bahwa “konten” mungkin tidak terlalu penting…. benar/salah itu tidak terlalu penting, yang penting adalah bisa menspoil juri πŸ™‚

      Yang kategori kedua itu emang rada error. Sebenernya di Facebook pun si “pemenang” menunjukkan kok kalau dia pake bot “JEMPOLERS.” Enak banget ya, cuma klak-klik beberapa detik, eh dapat Galaxy Tab. Sebenernya saya juga bisa kayak gitu, tapi apalah arti menang dengan cara kayak gitu, ris? πŸ˜›

      Hahaha, kepedean gapapa, ris.. mumpung di blog sendiri, wkwkwkwk….

      Selamat menunaikan ibadah puasa ya, risa πŸ˜€

      • oohh saya kira mbak nyangkain saya desperado bgt gara2 nggak menang, πŸ™‚ .
        tapi pas td malem saya ngeliat blog pemenang 2, sepertinya postingan itu udah di hack deh (bukan saya loh).
        iya mba sama2 selamat menunaikan ibadah puasa

  2. Saya termasuk kategori orang yang amat jarang ikut lomba.
    Alasannya sederhana, saya tidak suka diminta menulis hal-hal yang tidak saya pahami, atau ikut lomba karena memang orang lain semuanya ikut…oh, no!

    Jadi buat saya, saat saya akan mengikuti sebuah lomba, syarat utamanya adalah saya harus paham betul materinya bahkan kalau bisa sudah mengalami sendiri topik yang akan dilombakan itu.

    Tentang pemenang, tidak bisa dipungkiri bahwa ‘selera’ juri adalah penentu seseorang itu bisa atau tidak jadi salah satu pemenang. Selain syarat-syarat formal yang sudah ditentukan, tentu saja. Mungkin itu sebabna, banyak sekali pemenang lomba yang sudah bisa kita prediksi sebelumnya πŸ™‚

    • Saya juga jarang, mbak… Saya skr semangat ikut lomba buat ngisi kegiatan selama hamil dan jadi pengangguran aja, hihihi. Sekalian supaya ada topik buat ditulis di blog ini. Hiatus beberapa tahun membuat saya terkadang bingung harus nulis apa di blog πŸ™‚

      Tepatnya selera dan visi yang sama persis ya, mbak, hehehe πŸ˜›

  3. Aku sudah baca tulisan Mbak yang soal evolusi itu. Dan aku suka banget! Mungkin karena juga belakangan ini aku lagi rajin baca buku2 tentang evolusi dan teman2nya, jadi tulisan Mbak yang kemarin itu rasanya “ngena” banget deh.

    Aku juga salut banget sama Mbak Rime. Tulisannya itu kan panjang banget ya.. Yang aku pikirkan adalah saat proses penulisannya. Berapa lama waktu yang dibutuhkan untuk nulisnya? Berapa lama dan berapa banyak buku yang dibaca untuk jadi referensi tulisan itu? Jadi, sambil aku baca tulisan Mbak Rime itu aku juga kepikiran begitu. Hihihihi…

    By the way, kalau aku yang jadi jurinya, sudah pasti aku bikin Mbak Rime jadi juara 1! Dengan tulisan begitu, sayang banget kalau sampe gak jadi juara. Menurutku sih, lomba2 blog yang banyak bertebaran itu kriteria penilaiannya adalah banyak2an komen. *nuduh* :mrgreen:

    • Wah senangnya, akhirnya tulisan saya berguna, hehehe… Terima kasih ya mbak atas apresiasinya πŸ™‚ Eh mbak Kimi beneran banyak baca buku tentang evolusi? Berarti kita bisa diskusi nih tentang evolusi, secara saya agak sulit nemu partner diskusi tentang topik ini. Kalau yang pake bahasa Enggris sih banyak, tapi kan diskusinya kurang seru kalau ga pake bahasa ibu, hehehe πŸ˜€

      Materi tulisan ini adalah hasil nabung dari jauh hari, mbak. Proses koleksi datanya sih ga terlalu ribet, karena tinggal putar otak untuk mengingat-ingat buku-buku yang pernah saya baca. Yang sulit adalah mencoba menuliskan itu dalam bahasa yang mudah dipahami orang awam, sehingga mereka ga terlalu pusing dengan bahasa ilmiah/akademis. Terlebih lagi, karena saya udah jarang nulis, gaya menulis saya sangatlah kaku.

      Seperti yang saya tulis di postingan ini, mbak Kimi. Saya yakin kok saya ga bakalan menang di lomba itu karena alasan visi yang berbeda dengan juri. Tapi saya tetap berusaha menulis sesuatu yang mudah2an inspiratif bagi yang membacanya, karena dengan ikutan lomba ini, pastinya bakal banyak orang yang baca. Dengan begitu, “kampanye” saya tentang evolusi bisa lebih berdampak, hehehe… (itu juga kalau yang bacanya mau ikutan mikir dan baca tulisan sepanjang choki-choki gitu).

      Wah, kalau kriterianya banyak-banyakan komen sih, udah pasti saya kalah, secara blog ini jablay banget, hehehe… πŸ˜›

  4. Personally, saya pikir tulisan Rima yang bakal menang. Tapi ya itu… ternyata juri berpikiran berbeda. Akhirnya itu memang keputusan juri sih. Sayang bukan saya jurinya.

    • Eh ada Mbak Ira… Mungkin bakal beda ya ceritanya kalau tim penilainya adalah sama-sama blogger, hehehe. Gapapa kok mbak, sejak awal saya udah yakin ga bakal menang (karena perbedaan visi yang mungkin terlampau jauh dengan tim juri), jadi emang ga ngarep menang. :mrgreen:

      Makasih loh atas apresiasinya, Mbak Ira πŸ™‚

  5. Diskon.com itu lomba saya yang kedua. dulu pernah ikut lomba menulis cerbung berkelompok di blogcampnya pakdhe. tujuan saya ikut lomba2 spt ini ya untuk mengasah skill menulis dan have some fun juga :mrgreen:

      • sama sekali tidak menang, anggota kelompok yang meneruskan cerita saya jadi bingung karena endingnya saya buat agak2 aneh gitu hehehe

        hxxp://annunaki.me/2011/03/13/simfoni-2-hati/

      • hahaha, kayaknya seru nih… ke TKP dulu deh…..

        mungkin lain kali kalau mau ikutan cerbung harus cari partner yg frekuensi otaknya sama ya… maksudnya sama-sama gila, gitu :mrgreen:

  6. gak menang? loh bukannya simbak rime ini menang kaos? simbak risa juga menang kaos toh? =D

    dulu saya juga pernah ikut lomba dengan tema konservasi mata air. lucunya sponsornya produk AMDK merk a*ua. dodolnya, yang tak tulis justru tentang pemasaran-pemasaran AMDK yang cenderung membodohi konsumen sehingga membahayakan kelangsungan mata air itu sendiri. yo wis gak mungkin menang lah. hahaha

    tulisan mbak rime keren-keren loh. apalagi yang babakan siliwangi. tetep jadi favorit saya. =D

    • Saya sih kalau ada lomba yang jelas-jelas bertentangan dengan visi, udah pasti ga akan ikutan, kecuali kalau lagi iseng ga ada kerjaan. Kalau yang lomba nulis evolusi ini kan masih disuruh milih “menurut kamu mana yang bener?” :mrgreen:

      Keren-keren apaan, orang jarang banget nulis, ini oi…

      Kalau yang lomba 3on3 sih bukan karena beda visi sama juri, tapi emang saingannya lebih jago. πŸ˜› *ehem*

      Temen saya bilang gini: “Kayanya kamu perlu lebih sering baca chicklit deh, jangan baca buku nonfiksi terus, tulisan kamu jadi kurang ngepop.” T.T

    • yang menang kaos mah banyak…. bukannya kita betiga juga dpet kaos???? berarti ada 12 pemenang ^_^. Semuanya selamat santap sahur yak

  7. Tujuan ngikutin lomba, kalo aku sih untuk mengasah pikiran aja, sejauh mana kita dapat menulis ..dan rasanya seneng banget kalo menang..*meskipun cuma dapet buku*..

    Trus kalo yang ngadain lomba, adalah sahabat , rasanya ga enak kalo ga ikutan..
    So..Hadiah bukan utama..Tapi Juara Kudu hihihii..ckckkck..

    • Iya… tapi terkadang menulis ttg topik-topik yang di luar kebiasaan itu menantang kita berpikir lebih kreatif lagi loh. Eh tergantung orangnya deng ya…. bisa jadi kreatif, bisa juga jadi mengarang bebas, hehehe :mrgreen:

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s