Nujuh Bulanan (yang Diusahakan) Zero Waste

Alhamdulillah pada Selasa, 17 Juli 2012 lalu, acara nujuhbulanan yang saya beserta keluarga selenggarakan secara kecil-kecilan berjalan dengan lancar.

Kalau mau ngikutin adat Jawa sih, harusnya pada usia tujuh bulanย kehamilan pertama, dilakukan upacara tingkeban yang super-duper rumit. Berhubung bakal riweuh ini-itu (apalagi menjelang bulan Ramadhan), saya memilih untuk tidak melakukan upacara ini, melainkan mengambil inti sarinya saja, yaitu berdoa demi keselamatan si jabang bayi.

Saya dan keluarga memilih mengadakan acara pengajian kecil-kecilan saja. Kami mengundang ibu-ibu di kompleks perumahan dan ibu-ibu yang biasa ngaji di masjid untuk mengaji di rumah, lalu makan-makan, dan setelah itu pulang bawa oleh-oleh. Hehehe, simpel sekali ya? ๐Ÿ™‚

Nah, mumpung acaranya simpel, saya mengusahakan acara ini supaya bersifat zero waste. Mengadakan acara zero waste memang bukanlah hal mudah, apalagi kalau posisi kita di acara ini cuma “anak bawang.” Untungnya rayuan maut saya berhasil membuat si mamah setuju untuk ber-zero waste walaupun belum bisa 100%. :mrgreen:

Hal pertama yang terpikirkan adalah bagaimana menyuguhkan makanan di rumah secara zero waste (maksudnya makanan yang tidak dibawa pulang). Untungnya karena “syarat”-nya gampang, yaitu cuma menyediakan makanan kaya karbohidrat sebanyak 7 macam (atau lebih, yang penting jumlahnya ganjil), bagian ini sangat bisa dibuat zero waste. Kami menggunakan nyiru yang dilapisi daun pisang, lalu rebusan karbohidrat tadi ditata di atasnya. Ibu-ibu yang datang akan mengonsumsi makanan yang tidak biasa dihidangkan di perkotaan ini menggunakan piring kecil. ๐Ÿ™‚

Rebusan karbohidrat (pisang, talas, “sagu,” ubi, singkong, ganyong, kacang tanah, kacang Bogor, jagung manis)

Kedua, untuk makanan yang dibawa pulang (oleh-oleh)–yang biasanya di perkotaan dibungkus menggunakan kotak kertas atau styrofoam–kami menggunakan besek bambu yang dilapisi daun pisang. Nah, untuk yang satu ini perjuangannya lumayan susah. Selain harus melobi si mamah untuk setuju bikin paketan nasi timbel, saya juga harus mencari besek bambu yang sudah semakin sulit didapat di kota ini. Akhirnya berkat rayuan maut saya, si mamah yang biasanya tukang ngatur itu setuju dengan usul saya. Horeee… :mrgreen:

Besek berisi makanan ini nantinya akan dibawa oleh ibu-ibu menggunakan tas jinjing. Awalnya kami ingin menyediakan tas jinjing kain, tapi karena biayanya akan terlalu mahal, kami memilih tas dari bahan yang lebih murah saja tapi tetap anti-kresek, yaitu non-woven (atau apa lah namanya, saya kurang hafal). Sengaja tas-tas jinjing ini tidak kami berikan sablonan kata-kata yang berhubungan dengan acara ini, supaya ibu-ibu ini mau pakai terus tas ini untuk keperluan lain tanpa perlu tersandung rasa malu karena ada label “gratisan” di atasnya.

Besek bambu

Nasinya dibuat “timbel” (dibungkus dengan daun pisang menggunakan teknik khusus), lalu untuk lauknya dibuat “takir” dari daun pisang.

Menunya sederhana saja: nasi timbel, oseng tempe, perkedel kentang, gepuk daging sapi (plus kerupuk, lalab, sambal, dan buah pisang). Di bagian bawahnya ada satu besek lagi berisi rujak dan kue-kue.

Besek nasi dan kue yang sudah dibungkus tas jinjing (anti kresek, booo…).

Rujak yang harus pake delima, yang mana delimanya susah banget dicari. Akrhinya pake delima impor deh.

Lemper, satu-satunya snack gacoan yang ga pake plastik.

Ternyata ada keuntungan lain yang didapat dari usaha ini selain (tentu saja) minimnya jumlah sampah. Daun pisang memberi aroma khas yang membuat cita rasa makanan menjadi lebih mantap. Penggunaan besek juga ternyata membuat ibu-ibu itu senang karena mengingatkan mereka pada masa kecil mereka. Kalau kita bisa bagi-bagi rejeki, sambil melestarikan tradisi, dan memberi perasaan senang yang lebih banyak kepada orang lain, itu kan seru banget…. :mrgreen:

Sayangnya, beberapa jenis makanan dalam paket makanan ini “memaksa” kami untuk tetap menggunakan plastik, antara lain: buah pisang, kerupuk, lalaban, sambal, kue-kue, dan RUJAK. Rujak adalah syarat wajib nujuhbulanan, jadi ga bisa ga ada. (Btw ini wajib versi adat Jawa ya, bukan versi agama :mrgreen:). Sama satu lagi: AMDK (air minum dalam kemasan). Saya ga berhasil merayu si mamah untuk ga menyertakan AMDK dalam kotak kue, euy. Entah kenapa AMDK ini seolah-oleh merupakan kewajiban dalam dunia perkotak-kue-an nasional. Jadi aja ga bisa 100% zero waste.

Tapi kan yang penting kita sudah berusaha. Saya percaya, hal-hal baik yang dilakukan dengan cara yang “baik” akan menghasilkan sesuatu yang lebih baik lagi. Mudah-mudahan usaha zero wasteย ini memberi pengaruh positif kepada si dede di dalam perut saya ini untuk menjadi penerus pejuang lingkungan, membantu ibunya, tante-tante dan om-omnya menciptakan masa depan yang lebih baik. Sehat-sehat terus ya dede… tinggal 2 bulan lagi nih, jangan nakal ya. ๐Ÿ˜€

Advertisements

18 thoughts on “Nujuh Bulanan (yang Diusahakan) Zero Waste

  1. 2 bulan lagi, saya doakan sehat selamat ibu dan anak,,,,
    Ganyong itu gimana rasanya mbak? saya sering nonton di tv doang, tp di palembang kagak ada yang jual ganyong

    • Ganyong itu rasanya gimana ya, susah dijelasin. Tapi kalau dimirip-miripin sih, rasanya mirip kacang tanah gitu deh, cuma banyak seratnya, hehehe..

      Makasih ya atas doanya, Risa ๐Ÿ™‚

  2. Amien…. waduh baru ngerti kalo mbak udah hamil 7 bulan. ๐Ÿ˜€
    semoga cabang bayinya sehat yach mbak….. semoga nanti anaknya jadi anak sholeh dan berbakti sama orang tua dan keluarga. ๐Ÿ˜€

      • anak2 narablog bandung mau gathering lagi (sambil bukber) di tree house cafe jl. hasanudin tgl 3 agustus 2012… (sekilas inpoh) :mrgreen:

        lebih baik loe jangan datang deh.. udah hamil besar nih. semoga bayi sehat, ibunya selamat, bapaknya happy :mrgreen:

      • Thanks, Bang Edo atas infonya. Iya, kayaknya sebaiknya ga datang, karena yang namanya bukan puasa bersama kan bisa sampe tengah malem, hihihi :mrgreen:

  3. rimeee… ya ampun udah lama aku gak maen ke sini, sering banget liat kamu bersliweran di news feed FB ku. hihihihihi…
    tapi masih rime yang lama: masih care banget sama efisiensi sampah (judule iki bener gak toh?)
    hihihihi.. aku ikut mendoakan semoga segalanya lancar di dua bulan ini yah ๐Ÿ™‚

    kebayang mamahku kalok aku minta macem-macem kek gitu, satu yang mamamh protesi di awal adalah: darimana dapet daun pisang bagus-bagus? secara daun pisang makin jarang. Padahal aku juga seneng banget sama aroma daun pisang yang membungkus nasi
    (ini kenapa jadi komenin makanan sih?)
    sehat selalu mommy dan Dede yah ๐Ÿ™‚

    • Saya kan blogger angin-anginan, is…. kadang semangat nulis, kadang males banget cuma mau fesbukan, hihihihi :mrgreen:

      mungkin lebih tepatnya ‘efisiensi sumber daya’ ๐Ÿ˜€

      pada dasarnya di mana-mana emak-emak pasti pengennya yang simpel dan cepat. makanya kalau kitanya mau aneh-aneh, harus kitanya yang nyediain bahan-bahannya, hehehe…

      makasih ya is…… semoga kamu cepat menyusul ๐Ÿ˜€

  4. Woogh, sang koboi kampus udah nujuh bulanan aja? Time flies yah mbak! Apa kabar? Saya masih ingatlah, dengan semua bloglink yang ada dari jaman majapahit. Hihihi.

    Kalo untuk zero plastik sepertinya emang susah. Mengingat kata praktis selalu menjadi kunci utama. Disini malahan kalau mau bikin hantaran seperti itu justru jatuhnya lebih mahal. Selembar daun pisang sudah seharga 2000 rupiah. Belum lagi yg lainlain. Jadi, praktis dan murah sering jadi alasan, walaupun ujung-ujungnya sampahnya jadi banyak ๐Ÿ˜ฆ

    selamat sekali lagi untuk nujuh bulanannya, semoga sehat wal afiat sampai lahiran. Saya bloglink yah mbak ๐Ÿ™‚

    • Iya dong, masa mau seumur-umur jadi koboi kampus… koboi kampus juga perlu punya keturunan, heheheh :mrgreen:

      Ya ampun, mahal banget ya daun pisang di Makassar? Saya kira di luar pulau Jawa harga daun pisang lebih murah. Saya sih motong sendiri daunnya di kebun, hihihi.

      Makasih doanya ya Bang Iqko. Sangat boleh di-link, tapi saya blm bisa bales nge-link. Blog saya error nih ga bisa bikin blogroll, makanya sejak pindah ke wordpress ga punya blogroll. Tapi tenang aja, saya bakal berkunjung terus kok ๐Ÿ˜€

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s