10

Aljabar

Beberapa hari lalu saya menemukan sebuah note di Facebook:

Hey, try to solve this problem!

Edison: “Give me one dollar, then i’ll have twice as much money as you, Nikola!

Tesla: “No Tom, you give me one dollar! Then we will have both the same amount of money.”

How many dollars has got each?

—-

Apakah teman-teman bisa langsung menebaknya? Karena formulasinya masih sederhana, jawaban dari pertanyaan ini sangat mungkin untuk ditebak dengan mudah tanpa perlu membuat persamaannya.

Tapi karena saya lagi kurang kerjaan, saya coba selesaikan soal ini secara jantan. *eh*

Kesimpulannya, Edison punya 7 dollar, sedangkan Tesla punya 5 dollar.

Saya jadi ingat masa-masa SD dulu, ketika belajar adalah sesuatu yang menyenangkan dan akan saya lakukan tanpa disuruh orang tua. Dulu saya suka sekali matematika, dan aljabar adalah salah satu bab pelajaran favorit saya pada mata pelajaran ini selain trigonometri dan logika. Sayangnya perkuliahan di kampus gajah duduk membuat saya kini benci matematika. Apalagi setelah kenalan sama si integral lipat tiga.. (dafuq did I just study?  T.T)

Terus? Ya udah, gitu aja. Cuma pengen cerita kalau saya dulu suka sekali matematika.

Maaf ga penting. :mrgreen:

17

Menjayakan Kembali Sang Primadona Budaya Indonesia

Alangkah miris rasanya mengetahui bahwa wayang — warisan budaya asli Indonesia — sangat diapresiasi di negeri lain, tapi tidak di negeri asalnya… bahwa sementara di negeri lain seni wayang sudah resmi masuk ke dalam kurikulum pendidikan formal, di negeri asalnya para budayawan perlu beradu otot dengan pemerintah untuk memperoleh pencapaian yang sama.

Dalam sejarah perkembangannya, bangsa Indonesia pernah menciptakan puncak-puncak kreasi dan karya yang sampai sekarang masih dikagumi. Kreasi dan karya budaya tersebut merupakan  hasil akal, budi, dan pikiran manusia yang tak ternilai harganya.

(Ilustrasi dari jakarta.go.id)

Kesenian wayang adalah satu dari sekian banyak kesenian khas Indonesia. Di mata para pengamat budaya, kesenian wayang memiliki nilai lebih dibandingkan seni lainnya, karena kesenian wayang merupakan kesenian yang komprehensif yang dalam pertunjukannya memadukan unsur-unsur kesenian, diantaranya seni karawitan, seni rupa (tatah sungging), seni pentas (pedalangan), dan seni tari  (wayang orang). Di samping fungsinya sebagai hiburan, kesenian wayang juga memiliki fungsi estetika dan sarat dengan nilai-nilai luhur. Setiap alur cerita, falsafah dan perwatakan tokohnya, sampai bentuk pada kesenian wayang mengandung makna yang sangat mendalam.

Kita patut berbangga akan hal ini, karena kemajuan sebuah bangsa salah satunya ditentukan oleh peradaban budayanya. Bahkan UNESCO, lembaga yang membawahi kebudayaan dari PBB pada tahun 2003 menetapkan wayang — yang merupakan kebudayaan asli Indonesia — sebagai sebuah warisan mahakarya dunia yang tak ternilai dalam seni bertutur (Masterpiece of Oral and Intangible Heritage of Humanity). Ironisnya, bukan rasa bangga dan tindakan melestarikan kebudayaan ini yang muncul, tapi anggapan bahwa kebudayaan ini kuno dan ketinggalan jaman sehingga generasi muda mulai meninggalkannya.

Sudah sebegitu lunturnyakah rasa kecintaan kita pada kesenian wayang?  Berkaca pada diri sendiri, mungkin saja jawabannya adalah “ya.” Saya terakhir kali menonton pertunjukan wayang hampir dua tahun lalu. Itupun karena tidak sengaja saya temukan di sebuah festival di kota tempat saya tinggal. Saya lupa siapa dalangnya, saya juga lupa bagaimana ceritanya. Mungkin saya adalah representasi dari generasi muda yang mulai acuh tak acuh dengan kesenian ini.

Saya pernah suka sekali dengan wayang, terutama wayang golek. Semuanya berawal saat orang tua saya membelikan saya “Si Cepot”, tokoh wayang golek yang memang merupakan idola saya pada kala itu. Walaupun sedikit menakutkan dengan mukanya yang merah dan giginya yang menonjol, kelucuan karakternya membuat saya jatuh hati. Kini Si Cepot entah berada di mana, saya sudah lama sekali tidak memikirkannya.

Pertunjukan mini wayang golek di Braga Festival 2010

Ketemu Cepot di Braga Festival 2010, langsung minta foto bareng 😀

Tak bisa dipungkiri, arus globalisasi dan modernisasi yang terlampau kencang menerpa negeri ini membuat kita melupakan budaya tradisional. Jika jaman dulu orang menyetel televisi untuk menonton pertunjukan wayang kulit/golek/orang di TVRI, kini ada banyak pilihan lain yang dianggap lebih menarik seperti sinetron atau sitkom. Tak heran jika semakin lama masyarakat semakin tidak mengenal wayang, apalagi tergerak untuk melestarikannya. Seperti kata pepatah, “tak kenal maka tak sayang.”

Jika generasi saya yang masa kecilnya diwarnai kesenian wayang saja kini bersikap acuh tak acuh terhadap kesenian ini, bagaimana dengan generasi anak-anak jaman sekarang yang mungkin sama sekali tidak pernah bersentuhan dengan dunia wayang? Lalu mau dibawa kemana warisan budaya ini? Pantaskah wayang tergeser oleh Naruto atau tokoh kartun lain? Memikirkannya saja saya sudah merinding. -_-

Saya merasa tergerak untuk kembali mencintai wayang. Saya tidak mau anak cucu saya kelak mengenal wayang hanya karena mengunjungi museum, lalu manggut-manggut saat membaca keterangan “ini adalah warisan budaya Indonesia.” Atau mengenal wayang karena menonton pertunjukan yang justru digelar oleh orang-orang yang bukan berkebangsaan Indonesia.

Mengeluh dan berharap saja tentu tidak akan menyelesaikan masalah. Sebagai bagian dari generasi yang sedikit lebih tua pada masa ini, saya merasa perlu ambil bagian dalam menemukan solusi untuk mengembalikan kejayaan kesenian wayang di mata anak-anak. Berikut adalah beberapa solusi yang sempat terpikirkan di benak saya terkait masalah ini:

Bagi Para Orang Tua

1. Mempelajari Dunia Wayang sebagai Modal untuk Mengajar dan Mendidik Anak

Selain memiliki cerita yang menarik, dunia wayang juga berisikan nilai-nilai luhur dan falsafah hidup yang penting untuk pembentukan karakter anak-anak. Jika kita masih kurang percaya diri membawakan nilai-nilai tersebut, minimal kita bisa membawakan cerita yang menarik dan menghibur untuk anak-anak.

Untuk mempelajari cerita wayang klasik, kita cukup sesekali menonton pertunjukan wayang. Atau kalau tidak, kita bisa membaca bukunya.  Sayangnya di dua cerita yang paling populr dalam dunia perwayangan yaitu Ramayana dan Mahabharata, terdapat beberapa bagian cerita yang kurang cocok untuk dikonsumsi anak-anak. Tapi kita bisa memilahnya dan hanya menceritakan bagian yang pantas untuk diceritakan. Saat kita sudah hafal ceritanya, kita bisa menggunakannya sebagai dongeng pengantar tidur atau media pembelajaran suatu materi.

Buku karya Rizem Aizid, cocok untuk pemula

2. Mengajak Anak-anak Mengunjungi Museum Budaya

Anak-anak memiliki rasa ingin tahu yang sangat besar. Kita bisa memanfaatkan energi ini untuk mengajak mereka menjelajahi museum yang menampilkan koleksi wayang. Memang belum banyak berdiri museum khusus wayang di negeri ini, tapi paling tidak terdapat beberapa museum di beberapa kota besar yang bisa kita dijadikan pilihan:

Koleksi wayang golek Museum Sri Baduga Bandung

Koleksi wayang beber Museum Sri Baduga Bandung

3. Menjadikan Wayang sebagai Objek Kreasi

Banyak kegiatan yang dinilai bisa merangsang kemampuan motoris anak, misalnya menggambar, mewarnai, dan berprakarya. Sambil merangsang kreativitas mereka, kita bisa memperkenalkan wayang pada kegiatan-kegiatan ini, misalnya:

  • Mewarnai gambar wayang. Gambar polos wayang bisa diunduh secara gratis misalnya di laman Facebook e-wayang.
  • Membuat wayang kertas. Cara membuatnya bisa disimak di blog Surfer Girl. Jika bentuk wayang asli (misalnya wayang kulit) dirasa terlalu sulit, bisa dibuat bentuk lain yang disukai. Selanjutnya wayang hasil karya bisa digunakan untuk mengadakan pertunjukan kecil-kecilan. 😀
  • Membuat papertoy  wayang. Cetakannya bisa diunduh secara gratis misalnya di blog Yapato dan Salazad.
  • Membuat wayang dari daun singkong. Cara membuatnya bisa disimak di blog Dey.

Wayang kertas (ilustrasi dari en.surfer-girl.com)

Papertoy Bima dan Sadewa hasil buatan sendiri ^,^

Wayang batang daun singkong (ilustrasi dari blog Dey)

4. Memanfaatkan Kemajuan Teknologi Informasi

Seiring kemajuan teknologi, kini inspirasi dan cerita estetis wayang dapat kita nikmati dalam bentuk digital. Salah satunya adalah komik e-wayang.org dan situs interaktif ramaya.na. Dengan gambar yang lucu dan menarik, diharapkan anak-anak akan bersemangat untuk menyimaknya. 😀

Komik e-wayang (ilustrasi dari e-wayang.org)

Situs ramaya.na (ilustrasi dari ramaya.na)

5. Menuansakan Wayang dalam Kehidupan Sehari-hari

Banyak barang-barang yang kita gunakan sehari-hari yang bisa kita manfaatkan untuk menumbuhkan kecintaan anak-anak terhadap wayang, misalnya: baju, tas, sepatu, mug, dan lain-lain. Diharapkan dengan interaksi setiap hari dengan wayang, apalagi jika sudah menjadi ikon bagi barang kesayangan mereka, anak-anak akan mencintai wayang dengan sendirinya. 😀

Kaos Srikandhi, hasil hunting di Jogja

Mug wayang (ilustrasi dari kaskus.co.id)

.

Bagi Para Pelaku Dunia Wayang

1. Mengembangkan Inovasi Pertunjukan Wayang Khusus Anak-anak

Jika biasanya pertunjukan wayang digelar semalam suntuk, menggunakan Bahasa Jawa atau Sunda secara full, dan terkadang berisikan cerita-cerita dewasa, maka perlu dibuat juga pertunjukan wayang khusus untuk anak-anak. Misalnya dibuat pada waktu siang hari dengan durasi hanya 2 jam, menggunakan Bahasa Indonesia, dan berisikan cerita khusus anak-anak.

Khusus untuk anak-anak jaman sekarang yang agak kebarat-baratan, kesenian wayang perlu punya nilai nyentrik, sehingga mungkin para dalang perlu bereksperimen dengan memasukkan unsur pop ke dalamnya. Sebenarnya ini bukan hal baru, karena sejak tahun 1925 sudah ada wayang kancil, dan sejak tahun 2010 ada wayang hiphop.

Wayang kancil (ilustrasi dari dongengwayangkancil.wordpress.com)

Wayang hiphop (ilustrasi dari Facebook.com)

2. “Memformalkan” Wayang

Seni wayang mengandung nilai-nilai luhur dan falsafah hidup yang baik untuk membantu pembentukan karakter anak-anak, oleh karena itu seni wayang sangat cocok untuk dimasukkan ke dalam kurikulum pendidikan nasional. Upaya ini telah dilakukan oleh PEPADI, namun sayangnya gayung belum bersambut.

Kita juga bisa mengusulkan adanya Hari Wayang Nasional. Sama seperti hari-hari perayaan lainnya, biasanya masyarakat akan melakukan hal-hal spesial pada hari-hari tersebut. Saya harap, jika ada Hari Wayang Nasional, stasiun televisi swasta akan tergerak untuk menampilkan pertunjukan wayang, dan masyarakat awam akan tergerak untuk berkontribusi memajukan dunia perwayangan nasional, misalnya para blogger menulis artikel tentang wayang. 🙂

3. Mengadakan Kelas atau Kursus Dalang Bocah

Sayang sekali rasanya jika apresiasi dan minat anak-anak terhadap wayang berhasil ditingkatkan tapi tidak tersedia cukup banyak fasilitas yang memungkinkan anak-anak berkecimpung lebih jauh dalam dunia wayang, misalnya tidak ada tempat kursus dalang dan sinden bocah. Untuk  menjadi seorang dalang dan sinden profesional tentulah tidak cukup dengan mengikuti kursus selama beberapa bulan. Tapi sebagai langkah awal untuk memfasilitasi kecintaan anak-anak terhadap wayang, sepertinya wadah-wadah semacam ini perlu ada dan dikelola dengan baik.

Sekolah Pedalangan “Sobokartti” (ilustrasi dari sobokartti.wordpress.com)

4. Mengadakan dan Mendukung Acara-acara Spesial Pewayangan secara Berkala

Salah satunya adalah Festival Dalang Bocah Nasional yang diselenggarakan setiap tahun di berbagai kota pada sejak 2008. Kegiatan ini diprakarsai oleh PEPADI dan didukung oleh Kementrian Pemuda dan Olahraga RI dan berbagai sponsor. Festival serupa tingkat daerah juga dilaksanakan oleh PEPADI provinsi dan kabupaten/kota setiap tahunnya.

Dalang bocah (ilustrasi dari festivaldalangbocah.com)

Ketua Umum PEPADI Pusat, Ekotjipto, mengatakan Festival Dalang Bocah diadakan untuk mendorong kecintaan anak-anak terhadap profesi dalang. PEPADI berada posisi mengawal tradisi seni wayang agar tetap lestari dan menjaga agar mata rantai generasi pedalangan tidak putus begitu saja. (Sumber)

***

Itulah beberapa hal yang menurut saya bisa kita lakukan mulai dari sekarang untuk menumbuhkan kembali minat anak-anak terhadap dunia wayang.

Kelestarian seni dan budaya wayang adalah tanggung jawab kita bersama sebagai bangsa pemilik sah kebudayaan ini. Dibutuhkan tekad dan komitmen yang kuat dari berbagai pihak untuk mengembalikan kejayaan wayang sebagai primadona budaya nasional, terutama di mata anak-anak Indonesia yang hidup di generasi instan seperti sekarang. Mengandalkan pemerintah saja tentu bukan hal yang bijak, karena sejatinya peran keluarga dan masyarakat bisa memberikan hasil yang lebih optimal.

Menggubah sedikit kesenian ini agar sesuai dengan perkembangan jaman menurut saya bukanlah sesuatu yang salah. Toh yang penting kita bisa menggiring generasi penerus kita untuk mencintai wayang. Biarkanlah mereka mencintai wayang melalui jalur yang mereka pilih sendiri. Bukankah yang terpenting dari seni wayang bukanlah kemasannya, tetapi nilai-nilai yang terkandung di dalamnya?

Semoga tidak ada lagi kata-kata sumbang yang mengeluhkan “kok wayang lebih diapresiasi di luar negeri ya?”. Semoga seni dan budaya wayang bisa kembali menjadi primadona di tanah kelahirannya sendiri. Tidak lagi dianggap ribet, tetapi agung… tidak lagi dianggap aneh, tetapi unik… dan tidak lagi dianggap kuno, tetapi antik…

Bangsa yang besar adalah bangsa yang bisa menghargai budayanya. Jayalah selalu wayangku, primadona budayaku. 🙂

7

Senam Hamil Pertama ^,^

Akhirnya kemarin saya ikutan senam hamil juga. Sebenarnya sejak kemarin-kemarin juga bisa, hanya saja bumil ini terlalu malas. Saya memilih kelas senam hamil di RS Santo Borromeus (Jl. Dago, Bandung), karena berdasarkan hasil googling di sini bayarnya murah dan dapet banyak bonus produk-produk sampel dari sponsor. Yah beginilah kisah hidup pencinta gretongan… walopun nilainya ga seberapa, yang gretongan yang lebih dipilih. :mrgreen:

Saya tiba pukul 08:30 WIB tepat di RS Borromeus, sesuai dengan info yang saya dapat bahwa kelas senam hamil ini akan dimulai pada waktu tersebut. Setelah celingak-celinguk di RS besar ini, akhirnya saya bertanya kepada seorang bapak di meja front office, dan bapak berkumis baplang itu menjelaskan bahwa kelas senam hamil tidak dilakukan di RS, tapi di Klinik Kesehatan Keluarga bertempat Asrama Keperawatan St. Borromeus, Jl. Suryakencana Bandung (tepat di belakang RS).

Klinik Kesehatan Keluarga RS St. Borromeus Bandung

Registrasinya gratis. Saya hanya perlu membayar iuran senam hamil yang akan saya ikuti saat itu, yaitu Rp 15.000,00. Ibu front office juga menginformasikan bahwa setiap Rabu ada kelas Manajemen Laktasi, kalau mau ikutan, nambah lagi Rp 15.000,00. Dan saya ikutan, karena penasaran. 😀

Saya mengintip kelas hamilnya. Wah, rupanya sudah banyak ibu-ibu berperut besar sedang asyik ngerumpi. Saya kemudian mengantri untuk mendapat giliran pemeriksaan tekanan darah oleh mbak bidan.

Suasana kelas senam hamil

Sambil nunggu kelasnya dimulai, seperti biasa saya sok kenal sok deket sama orang-orang. Lumayan dapet 3 kenalan baru, hihi… (Mbak Dewi, Luciana, sama Rosi). Masing-masing usia kehamilannya sudah memasuki minggu ke 33, 37, dan 40. Sepertinya di kelas ini usia kehamilan saya yang paling bontot deh. Tapi kok saya paling endut ya? 😛

Senam pun dimulai. Ternyata senamnya asiiiiik, kaya yoga gitu. Apalagi instrukturnya suka melucu, saya jadi semakin semangat ngikutin senam hamilnya. :mrgreen:

Materi yang diajarkan adalah gerakan-gerakan untuk melenturkan otot-otot saat melahirkan. Ternyata otot yang berperan bukan hanya selangkangan, tapi hampir semua otot di seluruh tubuh (T.T). Selain itu juga diajarkan pernapasan dan mengejan yang baik. Pokonya seru deh, berasa banget jadi ibu-ibunya… ^,^

Nah, tibalah bagian yang paling asik. Setelah senam selesai, mbak-mbak SPG Prenagen membagikan susu coklat gratis. Karena saya di rumah juga minum Prenagen, jadinya ga terlalu heboh sih senengnya. Tapi terus abis itu dibagiin juga burjo (bubur kacang ijo) hangat dan 4 potong roti tawar. Daaaaan, saya dapet paket sampel produk perawatan bayi dan ibu hamil dari Mother & Baby Indonesia. Bener kata orang-orang, di sini bayarnya murah tapi bonusnya banyak, nyahahahaha….

Kudapan pasca senam hamil ^,^

Paket dari Mother & Baby Indonesia

Insya Allah hari Sabtu nanti saya akan ikutan senam hamil di sini lagi. Katanya khusus untuk senam hamil Sabtu pagi, ada bonus penyuluhan promosi kesehatan. Untuk edisi Sabtu ini, yang akan dibahas adalah “Teknik mengurangi nyeri persalinan.” 😀

Kira-kira Sabtu nanti gretongannya apa ya? *ngarep* :mrgreen:

***

PS: Cerita tentang Manajemen Laktasi akan saya tulis di kesempatan lain. Saya lagi males nulis yang serius-serius.

PS lagi: Berikut adalah jadwal kelas senam hamil dan penyuluhan Sabtu di Klinik Kesehatan Keluarga Santo Borromeus (siapa tau ada yang butuh).

Jadwal senam hamil Klinik Kesehatan Keluarga RS Santo Borromeus

Selasa | 16:00 – 18:00 WIB
Rabu | 08:30 – 09:30 WIB (kelas persiapan menyusui 09:30 – 10:30 WIB)
Jumat | 16:00 – 18:00 WIB
Sabtu Gel I | 08:30 – 09:30 WIB (kelas penyuluhan 09:30 – 10:30 WIB)
Sabtu Gel II | 10:30 – 11:30 WIB
Minggu | 10:00 – 12:00 WIB

Jadwal Penyuluhan Promosi Kesehatan Sabtu (Pre-Natal Class) Klinik Kesehatan Keluarga RS Santo Borromeus

4/8/12 | Teknik mengurangi nyeri persalinan
11/8/12 | Rawat gabung
18/8/12 | Imunisasi bayi
25/8/12 | P3K pada bayi
1/9/12 | Makanan bayi
8/9/12 | Pijat bayi sehat
15/9/12 | Tanda bahaya kehamilan
22/9/12 | Deteksi dini pada telinga bayi
29/9/12 | Tumbuh kembang bayi
6/10/12 | Memandikan bayi
13/10/12 | Keluarga berencana
20/10/12 | Senam nifas (fit & shape)
27/10/12 | Perawatan kebidanan
3/11/12 | Persiapan persalinan
10/11/12 | Gizi ibu hamil dan menyusui
17/11/12 | Slide persalinan
24/11/12 | Miracle of ASI
1/12/12 | Inisiasi Menyusu Dini (IMD)
8/12/12 | Pijat ibu hamil
15/12/12 | Hypnobirthing
22/12/12 | Massage perineum
29/12/12 | Teknik mengurangi nyeri persalinan