Menjayakan Kembali Sang Primadona Budaya Indonesia

Alangkah miris rasanya mengetahui bahwa wayang — warisan budaya asli Indonesia — sangat diapresiasi di negeri lain, tapi tidak di negeri asalnya… bahwa sementara di negeri lain seni wayang sudah resmi masuk ke dalam kurikulum pendidikan formal, di negeri asalnya para budayawan perlu beradu otot dengan pemerintah untuk memperoleh pencapaian yang sama.

Dalam sejarah perkembangannya, bangsa Indonesia pernah menciptakan puncak-puncak kreasi dan karya yang sampai sekarang masih dikagumi. Kreasi dan karya budaya tersebut merupakan  hasil akal, budi, dan pikiran manusia yang tak ternilai harganya.

(Ilustrasi dari jakarta.go.id)

Kesenian wayang adalah satu dari sekian banyak kesenian khas Indonesia. Di mata para pengamat budaya, kesenian wayang memiliki nilai lebih dibandingkan seni lainnya, karena kesenian wayang merupakan kesenian yang komprehensif yang dalam pertunjukannya memadukan unsur-unsur kesenian, diantaranya seni karawitan, seni rupa (tatah sungging), seni pentas (pedalangan), dan seni tari  (wayang orang). Di samping fungsinya sebagai hiburan, kesenian wayang juga memiliki fungsi estetika dan sarat dengan nilai-nilai luhur. Setiap alur cerita, falsafah dan perwatakan tokohnya, sampai bentuk pada kesenian wayang mengandung makna yang sangat mendalam.

Kita patut berbangga akan hal ini, karena kemajuan sebuah bangsa salah satunya ditentukan oleh peradaban budayanya. Bahkan UNESCO, lembaga yang membawahi kebudayaan dari PBB pada tahun 2003 menetapkan wayang — yang merupakan kebudayaan asli Indonesia — sebagai sebuah warisan mahakarya dunia yang tak ternilai dalam seni bertutur (Masterpiece of Oral and Intangible Heritage of Humanity). Ironisnya, bukan rasa bangga dan tindakan melestarikan kebudayaan ini yang muncul, tapi anggapan bahwa kebudayaan ini kuno dan ketinggalan jaman sehingga generasi muda mulai meninggalkannya.

Sudah sebegitu lunturnyakah rasa kecintaan kita pada kesenian wayang?  Berkaca pada diri sendiri, mungkin saja jawabannya adalah “ya.” Saya terakhir kali menonton pertunjukan wayang hampir dua tahun lalu. Itupun karena tidak sengaja saya temukan di sebuah festival di kota tempat saya tinggal. Saya lupa siapa dalangnya, saya juga lupa bagaimana ceritanya. Mungkin saya adalah representasi dari generasi muda yang mulai acuh tak acuh dengan kesenian ini.

Saya pernah suka sekali dengan wayang, terutama wayang golek. Semuanya berawal saat orang tua saya membelikan saya “Si Cepot”, tokoh wayang golek yang memang merupakan idola saya pada kala itu. Walaupun sedikit menakutkan dengan mukanya yang merah dan giginya yang menonjol, kelucuan karakternya membuat saya jatuh hati. Kini Si Cepot entah berada di mana, saya sudah lama sekali tidak memikirkannya.

Pertunjukan mini wayang golek di Braga Festival 2010

Ketemu Cepot di Braga Festival 2010, langsung minta foto bareng 😀

Tak bisa dipungkiri, arus globalisasi dan modernisasi yang terlampau kencang menerpa negeri ini membuat kita melupakan budaya tradisional. Jika jaman dulu orang menyetel televisi untuk menonton pertunjukan wayang kulit/golek/orang di TVRI, kini ada banyak pilihan lain yang dianggap lebih menarik seperti sinetron atau sitkom. Tak heran jika semakin lama masyarakat semakin tidak mengenal wayang, apalagi tergerak untuk melestarikannya. Seperti kata pepatah, “tak kenal maka tak sayang.”

Jika generasi saya yang masa kecilnya diwarnai kesenian wayang saja kini bersikap acuh tak acuh terhadap kesenian ini, bagaimana dengan generasi anak-anak jaman sekarang yang mungkin sama sekali tidak pernah bersentuhan dengan dunia wayang? Lalu mau dibawa kemana warisan budaya ini? Pantaskah wayang tergeser oleh Naruto atau tokoh kartun lain? Memikirkannya saja saya sudah merinding. -_-

Saya merasa tergerak untuk kembali mencintai wayang. Saya tidak mau anak cucu saya kelak mengenal wayang hanya karena mengunjungi museum, lalu manggut-manggut saat membaca keterangan “ini adalah warisan budaya Indonesia.” Atau mengenal wayang karena menonton pertunjukan yang justru digelar oleh orang-orang yang bukan berkebangsaan Indonesia.

Mengeluh dan berharap saja tentu tidak akan menyelesaikan masalah. Sebagai bagian dari generasi yang sedikit lebih tua pada masa ini, saya merasa perlu ambil bagian dalam menemukan solusi untuk mengembalikan kejayaan kesenian wayang di mata anak-anak. Berikut adalah beberapa solusi yang sempat terpikirkan di benak saya terkait masalah ini:

Bagi Para Orang Tua

1. Mempelajari Dunia Wayang sebagai Modal untuk Mengajar dan Mendidik Anak

Selain memiliki cerita yang menarik, dunia wayang juga berisikan nilai-nilai luhur dan falsafah hidup yang penting untuk pembentukan karakter anak-anak. Jika kita masih kurang percaya diri membawakan nilai-nilai tersebut, minimal kita bisa membawakan cerita yang menarik dan menghibur untuk anak-anak.

Untuk mempelajari cerita wayang klasik, kita cukup sesekali menonton pertunjukan wayang. Atau kalau tidak, kita bisa membaca bukunya.  Sayangnya di dua cerita yang paling populr dalam dunia perwayangan yaitu Ramayana dan Mahabharata, terdapat beberapa bagian cerita yang kurang cocok untuk dikonsumsi anak-anak. Tapi kita bisa memilahnya dan hanya menceritakan bagian yang pantas untuk diceritakan. Saat kita sudah hafal ceritanya, kita bisa menggunakannya sebagai dongeng pengantar tidur atau media pembelajaran suatu materi.

Buku karya Rizem Aizid, cocok untuk pemula

2. Mengajak Anak-anak Mengunjungi Museum Budaya

Anak-anak memiliki rasa ingin tahu yang sangat besar. Kita bisa memanfaatkan energi ini untuk mengajak mereka menjelajahi museum yang menampilkan koleksi wayang. Memang belum banyak berdiri museum khusus wayang di negeri ini, tapi paling tidak terdapat beberapa museum di beberapa kota besar yang bisa kita dijadikan pilihan:

Koleksi wayang golek Museum Sri Baduga Bandung

Koleksi wayang beber Museum Sri Baduga Bandung

3. Menjadikan Wayang sebagai Objek Kreasi

Banyak kegiatan yang dinilai bisa merangsang kemampuan motoris anak, misalnya menggambar, mewarnai, dan berprakarya. Sambil merangsang kreativitas mereka, kita bisa memperkenalkan wayang pada kegiatan-kegiatan ini, misalnya:

  • Mewarnai gambar wayang. Gambar polos wayang bisa diunduh secara gratis misalnya di laman Facebook e-wayang.
  • Membuat wayang kertas. Cara membuatnya bisa disimak di blog Surfer Girl. Jika bentuk wayang asli (misalnya wayang kulit) dirasa terlalu sulit, bisa dibuat bentuk lain yang disukai. Selanjutnya wayang hasil karya bisa digunakan untuk mengadakan pertunjukan kecil-kecilan. 😀
  • Membuat papertoy  wayang. Cetakannya bisa diunduh secara gratis misalnya di blog Yapato dan Salazad.
  • Membuat wayang dari daun singkong. Cara membuatnya bisa disimak di blog Dey.

Wayang kertas (ilustrasi dari en.surfer-girl.com)

Papertoy Bima dan Sadewa hasil buatan sendiri ^,^

Wayang batang daun singkong (ilustrasi dari blog Dey)

4. Memanfaatkan Kemajuan Teknologi Informasi

Seiring kemajuan teknologi, kini inspirasi dan cerita estetis wayang dapat kita nikmati dalam bentuk digital. Salah satunya adalah komik e-wayang.org dan situs interaktif ramaya.na. Dengan gambar yang lucu dan menarik, diharapkan anak-anak akan bersemangat untuk menyimaknya. 😀

Komik e-wayang (ilustrasi dari e-wayang.org)

Situs ramaya.na (ilustrasi dari ramaya.na)

5. Menuansakan Wayang dalam Kehidupan Sehari-hari

Banyak barang-barang yang kita gunakan sehari-hari yang bisa kita manfaatkan untuk menumbuhkan kecintaan anak-anak terhadap wayang, misalnya: baju, tas, sepatu, mug, dan lain-lain. Diharapkan dengan interaksi setiap hari dengan wayang, apalagi jika sudah menjadi ikon bagi barang kesayangan mereka, anak-anak akan mencintai wayang dengan sendirinya. 😀

Kaos Srikandhi, hasil hunting di Jogja

Mug wayang (ilustrasi dari kaskus.co.id)

.

Bagi Para Pelaku Dunia Wayang

1. Mengembangkan Inovasi Pertunjukan Wayang Khusus Anak-anak

Jika biasanya pertunjukan wayang digelar semalam suntuk, menggunakan Bahasa Jawa atau Sunda secara full, dan terkadang berisikan cerita-cerita dewasa, maka perlu dibuat juga pertunjukan wayang khusus untuk anak-anak. Misalnya dibuat pada waktu siang hari dengan durasi hanya 2 jam, menggunakan Bahasa Indonesia, dan berisikan cerita khusus anak-anak.

Khusus untuk anak-anak jaman sekarang yang agak kebarat-baratan, kesenian wayang perlu punya nilai nyentrik, sehingga mungkin para dalang perlu bereksperimen dengan memasukkan unsur pop ke dalamnya. Sebenarnya ini bukan hal baru, karena sejak tahun 1925 sudah ada wayang kancil, dan sejak tahun 2010 ada wayang hiphop.

Wayang kancil (ilustrasi dari dongengwayangkancil.wordpress.com)

Wayang hiphop (ilustrasi dari Facebook.com)

2. “Memformalkan” Wayang

Seni wayang mengandung nilai-nilai luhur dan falsafah hidup yang baik untuk membantu pembentukan karakter anak-anak, oleh karena itu seni wayang sangat cocok untuk dimasukkan ke dalam kurikulum pendidikan nasional. Upaya ini telah dilakukan oleh PEPADI, namun sayangnya gayung belum bersambut.

Kita juga bisa mengusulkan adanya Hari Wayang Nasional. Sama seperti hari-hari perayaan lainnya, biasanya masyarakat akan melakukan hal-hal spesial pada hari-hari tersebut. Saya harap, jika ada Hari Wayang Nasional, stasiun televisi swasta akan tergerak untuk menampilkan pertunjukan wayang, dan masyarakat awam akan tergerak untuk berkontribusi memajukan dunia perwayangan nasional, misalnya para blogger menulis artikel tentang wayang. 🙂

3. Mengadakan Kelas atau Kursus Dalang Bocah

Sayang sekali rasanya jika apresiasi dan minat anak-anak terhadap wayang berhasil ditingkatkan tapi tidak tersedia cukup banyak fasilitas yang memungkinkan anak-anak berkecimpung lebih jauh dalam dunia wayang, misalnya tidak ada tempat kursus dalang dan sinden bocah. Untuk  menjadi seorang dalang dan sinden profesional tentulah tidak cukup dengan mengikuti kursus selama beberapa bulan. Tapi sebagai langkah awal untuk memfasilitasi kecintaan anak-anak terhadap wayang, sepertinya wadah-wadah semacam ini perlu ada dan dikelola dengan baik.

Sekolah Pedalangan “Sobokartti” (ilustrasi dari sobokartti.wordpress.com)

4. Mengadakan dan Mendukung Acara-acara Spesial Pewayangan secara Berkala

Salah satunya adalah Festival Dalang Bocah Nasional yang diselenggarakan setiap tahun di berbagai kota pada sejak 2008. Kegiatan ini diprakarsai oleh PEPADI dan didukung oleh Kementrian Pemuda dan Olahraga RI dan berbagai sponsor. Festival serupa tingkat daerah juga dilaksanakan oleh PEPADI provinsi dan kabupaten/kota setiap tahunnya.

Dalang bocah (ilustrasi dari festivaldalangbocah.com)

Ketua Umum PEPADI Pusat, Ekotjipto, mengatakan Festival Dalang Bocah diadakan untuk mendorong kecintaan anak-anak terhadap profesi dalang. PEPADI berada posisi mengawal tradisi seni wayang agar tetap lestari dan menjaga agar mata rantai generasi pedalangan tidak putus begitu saja. (Sumber)

***

Itulah beberapa hal yang menurut saya bisa kita lakukan mulai dari sekarang untuk menumbuhkan kembali minat anak-anak terhadap dunia wayang.

Kelestarian seni dan budaya wayang adalah tanggung jawab kita bersama sebagai bangsa pemilik sah kebudayaan ini. Dibutuhkan tekad dan komitmen yang kuat dari berbagai pihak untuk mengembalikan kejayaan wayang sebagai primadona budaya nasional, terutama di mata anak-anak Indonesia yang hidup di generasi instan seperti sekarang. Mengandalkan pemerintah saja tentu bukan hal yang bijak, karena sejatinya peran keluarga dan masyarakat bisa memberikan hasil yang lebih optimal.

Menggubah sedikit kesenian ini agar sesuai dengan perkembangan jaman menurut saya bukanlah sesuatu yang salah. Toh yang penting kita bisa menggiring generasi penerus kita untuk mencintai wayang. Biarkanlah mereka mencintai wayang melalui jalur yang mereka pilih sendiri. Bukankah yang terpenting dari seni wayang bukanlah kemasannya, tetapi nilai-nilai yang terkandung di dalamnya?

Semoga tidak ada lagi kata-kata sumbang yang mengeluhkan “kok wayang lebih diapresiasi di luar negeri ya?”. Semoga seni dan budaya wayang bisa kembali menjadi primadona di tanah kelahirannya sendiri. Tidak lagi dianggap ribet, tetapi agung… tidak lagi dianggap aneh, tetapi unik… dan tidak lagi dianggap kuno, tetapi antik…

Bangsa yang besar adalah bangsa yang bisa menghargai budayanya. Jayalah selalu wayangku, primadona budayaku. 🙂

17 thoughts on “Menjayakan Kembali Sang Primadona Budaya Indonesia

  1. Sayang sekali jika wayang kurang dicintai dinegerinya sendiri, padahal banyak ragam wayang yang bisa dinikmati, banyak pula kisah pembelajaran baik yang bisa dipetik dari cerita cerita wayang tersebut.
    Salut dengan tulisan ini, menambah wawasan dan pengetahuan baru juga kecintaan pada budaya lokal.

    Eh.. Saya juga suka sama Cepot loh 😀

    Salam.. .

  2. Saya mempunyai keprihatinan yang sama …
    oleh sebab itu …
    langkah pertama saya … saya mulai dari diri sendiri …

    Saya menamai anak-anak saya … diambil dari nama Satria Pandawa …
    Saya punya tiga anak laki-laki …
    dan saya namai mereka … Yudhistira (18thn) … Bimo (16) … dan Harjuno (12)…

    Salam saya

    • Wah, keren sekali Pakde Trainer… nanti kalau ada anak laki-laki ke-4 dan ke-5 pasti bakal dinamain Nakula dan Sadewa ya? 😀

      Saya juga rencananya mau kasih nama anak saya yang lahir 2 bulan lagi “Arjuna,” tapi ternyata perempuan.. mungkin jatuhnya jadi “Srikandi” hehehe 🙂

  3. Ulasan yang sangat menarik mbak. Dalam cerita pewayangan memang banyak sekali hikmah yang dapat kita ambil, mulai dari mendidik, sampai kehidupan bernegara dan juga bagaimana menjadi pemimpin yang bijak. Oya di Wonogiri kota saya ada juga museum wayangnya lo 🙂 #bangga

    • Terima kasih Mas Dafhy. Oh ya, di Wonogiri ada museum wayangnya ya? Boleh dapet bocoran ga namanya apa? Biar bisa saya masukin nih ke tulisan ini 😀

  4. Saya kira permasalahan sama yang terjadi di seluruh nusantara. Kita yang menjadi generasi penyambung (saya suka dengan istilah ini) menjadi penitip pesan untuk generasi mendatang. Saya pun agak menyesal kenapa baru sekarang mulai mencari tentang Saweigading atau epos i Laga Ligo yang sangat terkenal di seluruh dunia. Yang biasa juga tidak diimbangi oleh dukungan dari pemerintah dalam melestarikan 😦

    Setuju dengan rima, kalau hanya mengeluh, tidak akan menghasilkan apa-apa. Mari berbuat 🙂

    • ah, Laga Ligo… saya juga pernah dengar, itu pun karena ada teman saya yg kuliah jurusan Seni Rupa yang menjadikannya objek penelitian. iya tuh, katanya terkenal banget di luar negeri, tapi di Sulawesi sendiri kurang dikenal ya Bang?

      kapan-kapan nulis tentang Laga Ligo dong Bang Iqko 😀

  5. Waktu diskusi di kelas bahasa Indonesia SMA sekitar 10 tahun yang lalu, gue pernah ngeluarin pendapat bahwa orang yang bilang budaya wayang udah gak laku itu orang yang cuma make perspektif orang kota. karena di kota emang gak laku. tapi apa bener wayang bener-bener udah ditinggalin di desa-desa? dalang-dalang aja masih banyak sing sugih. =D artinya kan ada kelompok-kelompok orang yang masih sangat mengapresiasi wayang. cuma karena kelompok ini bukan orang kota, bukan berarti mereka gak ada.

    kalo terus ada orang yg mau mempromosikan wayang ini ke orang-orang kota ya tentu aja ini bagus (untuk para penggemar wayang. hehe). tapi kenyataan bahwa wayang kurang laku di kota sebenernya gak miris-miris amat. budaya wayang emang udah bukan budaya orang kota sih.

    mungkin budaya wayang emang budaya kakek ato buyutnya orang-orang kota, tapi gak salah juga kalo generasi orang kota sekarang gak terlalu kenal wayang. kalo make logika bahwa kebudayaan leluhur harus terus dilestarikan mestinya kita juga mempertahankan budaya gujarat yang banyak masuk ke Indonesia di puluhan abad yang lalu.

    *kabur tunggang-langgang sebelum dipentung rime*

    • Itu kan 10 tahun lalu, Mas Rae… kalo sekarang piye? Nenek saya tinggal di kampung di Jogja, dan generasi mudanya ga beda jauh dengan anak-anak kota. Pertunjukan wayang kulit juga udah ga sesering dulu.

      ada kelompok-kelompok orang yang masih sangat mengapresiasi wayang. cuma karena kelompok ini bukan orang kota, bukan berarti mereka gak ada.

      Masalahnya, Indonesia ini juga bukan hanya diisi oleh orang-orang desa. Dan sayangnya orang desa cenderung ngikutin gaya hidup orang kota :p. Dan kalau saya sih ga puas dengan kata “masih,” seperti misalnya pada kalimat ini: masih ada orang-orang yang ingin Indonesia maju. Puaskah? Saya sih ga puas.

      Saya rasa, kalau ngomongin masalah budaya Indonesia, harusnya ga ada lagi tuh embel-embel orang desa atau orang kota, orang Jawa atau orang non-Jawa, dan seterusnya. Kalau ada sekelompok orang (yang mungkin dominan secara jumlah atau dominan secara posisi karena dianggap sebagai trend setter) yang mulai meninggalkan warisan budaya ini, menurut saya itu sudah merupakan alert yang cukup serius. Dan lagi sebenarnya fokus utama keprihatinan saya itu anak-anak muda (mau di kota maupun di desa), karena orang-orang tua di kota yang dulunya tinggal di desa biasanya masih suka wayang.

      kalo terus ada orang yg mau mempromosikan wayang ini ke orang-orang kota ya tentu aja ini bagus (untuk para penggemar wayang. hehe)

      Kenapa wayang ga perlu dipromosikan kepada orang-orang yang bukan penggemar wayang? Kalau begitu mah, namanya bukan “promosi” dong. Promosi itu bukannya sifatnya umum dan ditujukan ke orang2 yang belum terdedah dengan apa yang dipromosikan? *halah bahasanya*

      Menyamakan wayang dengan budaya orang-orang Gujarat yang dulu datang ke Indonesia saya rasa bukanlah analogi yang tepat, karena sejatinya wayang adalah budaya khas Indonesia, bukan budaya bawaan dari Gujarat/India/Arab/China/dll. Jika analogi ini diteruskan, berarti kita ga usah mempertahankan NKRI, kita pertahankan saja Indonesia dalam bentuk Hindia Belanda yang dijajah oleh menir-menir serakah itu. Begitu? Saya rasa di sinilah pentingnya penggunaan istilah “khas.” Khas bukan berarti ada sejak dulu, tapi berarti spesifik diciptakan oleh nenek moyang kita (yang kebetulan keturunan India/Arab/China).

      Saya juga ga maksain semua orang harus punya perasaan yang sama dengan saya kok, karena toh setiap orang punya cara pikir yang berbeda-beda. Orang boleh tidak prihatin atas apa yang saya prihatinkan. 😀

      Melalui tulisan ini, saya cuma pengen berekspresi bahwa *SBY mode on* saya prihatin dengan kepedulian anak-anak muda jaman sekarang terhadap budaya nasional terutama kesenian wayang.. dan saya ingin kesenian ini kembali berjaya di mata anak-anak muda sekarang, seperti berjaya di mata kakek-neneknya dulu *SBY mode off*. 🙂

      • Hm… mulai dari mana yah ngomentarinnya. jadi bingung. *padahal yang mulai gue sendiri =P*

        kayaknya ada beberapa hal yang gak cukup baik gue deliver di komen sebelumnya.

        (1) gue setuju dengan promosi wayang ke orang-orang di luar wayang. tentu aja ini hal yang bagus kan untuk para penggemar wayang. jadi tambah banyak temen ngobrol. =D

        (2) kenapa gak relevan untuk membanding-bandingkan budaya wayang dengan budaya lainnya? cerita-cerita wayang sendiri gak lahir begitu saja dari indonesia. kentel banget kok pengaruh India (bener kan india?) dalam cerita-cerita ramayana atau mahabharata. there’s nothing new under the same sky. lagian sejauh mana sih “kepemilikan” budaya itu? misal, wayang kulit itu budaya mana? budaya jawa tengah kah? atau budaya jawa? atau budaya indonesia? kalau mau dilebarin lagi, kenapa gak sekalian diklaim sebagai budaya melayu? atau budaya asia? kayaknya emang cara pandang kita beda soal “khas” jadi gak usah didebatin kalo gitu. kalo gue sih, gak terlalu musingin orang mana yang mengapresiasi wayang. mau orang desa, orang kota, orang jawa, atau orang bule sekalipun, selama ada yang mengapresiasi ya sudah, bakhuuus. =D

        “Alangkah miris rasanya mengetahui bahwa wayang — warisan budaya asli Indonesia — sangat diapresiasi di negeri lain, tapi tidak di negeri asalnya…”

        sebenernya kalimat ini yang ngebuat gue jadi agak merenung. sejauh mana tanggung jawab kita, bangsa indonesia, untuk melestarikan budaya indonesia. ada tulisan bagus dari joko anwar (jarang-jarang gue setuju sama mas joko) soal national pride di http://blog.jokoanwar.com/?p=292.

        menurut gue, hukum bangsa indonesia untuk terus melestarikan wayang itu fardhu kifayah. asal masih ada yang peduli dan mengapresiasi, maka batallah sudah kewajiban bangsa ini untuk mengapresiasinya. kalo boleh tau, kira-kira mbak rime bakal merasa puas ketika kondisinya seperti apa? apakah ketika 250juta rakyat indonesia antusias mengapresiasi wayang?

        kalo begitu, repot sekali jadi bangsa indonesia. masing-masing daerah punya kebudayaan sendiri-sendiri. semuanya minta supaya budayanya diapresiasi lebih.

        ah sudahlah. it’s better if i stop and rest my case. =D

      • Sekalian ngedongeng aja ini mah… Yang dimaksud dengan seni wayang itu (minimal dalam perspektif saya) adalah seni bertutur menggunakan alat bantu seperti boneka, yang mana (biasanya) di dalamnya ditanamkan nilai-nilai luhur untuk proses pembelajaran orang-orang yang menontonnya. Kesenian ini sudah ada sejak 1500 tahun SM, bahkan sebelum orang-orang India masuk ke Indonesia bawa kebudayaan Hindu.

        Seiring perkembangannya, cerita-cerita Hindu pun (seperti Mahabaratha dan Ramayana) akhirnya masuk dalam “kurikulum” wayang, dan mungkin karena ceritanya menarik, cerita-cerita ini jadi lebih berkembang dan akhirnya identik dengan si wayang itu sendiri. Tapi wayangnya sendiri disimpulkan oleh UNESCO sebagai produk asli Indonesia (walaupun ada kalangan budayawan yang masih memperdebatkannya karena ada kemiripan dengan budaya lain di Asia).

        Nomor 2 bagian bawah saya rasa ga bisa saya jawab dengan baik, karena pengertian tentang “wayang” antara saya dan kamu berbeda. Kamu melihatnya dari segi ceritanya, sedangkan saya melihatnya sebagai sebuah seni bertutur dengan menggunakan media yang sangat spesifik.

        Btw, terkait tulisan Joko Anwar (sori saya bacanya skimming), tulisan saya tidak saya maksudkan untuk memprovokasi orang Indonesia untuk merasa percaya diri. Saya sebenernya cuma pengen bilang bahwa: “Kita punya ini looooh… ini bagus looooh… ini bisa dimanfaatkan looooh… banyak gunanya loooh… dll dst.”

        Sejauh mana kita harus melestarikan budaya kita? Itu balik lagi ke pribadi masing-masing. Tentu saja hasutan dan provokasi bahwa “budaya Indonesia HARUS dijaga oleh orang Indonesia” yang tercermin di postingan ini hanyalah berdasarkan paradigma si penulis yang memang menginginkannya saja.

        Saya juga setuju, melestarikan budaya itu hukumnya fardhu kifayah, saya juga orangnya realistis, Mas. Tapi begini loh maksud saya: memang menjaga budaya itu adalah sebuah fardhu kifayah, tapi fardhu kifayah ini harus (in my opinion) ada di setiap generasi. Menurut para budayawan, saat ini ada kecenderungan bahwa “fardu kifayah” ini ga terjadi di generasi muda. Sehingga perlu ada aksi untuk bikin ke-fardu-kifayah-an ini terus berlangsung dan ga terputus. Itu juga kalau setuju dengan pendapat saya, kalau ga ya lain lagi ceritanya.

        Kapan saya akan merasa puas? Ya simpel saja, jika generasi muda bisa menjalankan fardhu kifayah tersebut.

        “kalo begitu, repot sekali jadi bangsa indonesia. masing-masing daerah punya kebudayaan sendiri-sendiri. semuanya minta supaya budayanya diapresiasi lebih.”

        Menurut saya sih repot/tidaknya itu tergantung mindset dan definisi “apresiasi” itu sendiri. Menurut saya sih seharusnya tidak perlu repot.

        Apakah untuk mengapresiasi wayang, semua orang Indonesia harus bisa bahasa Kromo Inggil dan jadi dalang? Kalau begini sih ya saya juga setuju kalo apresiasi ini mengundang kerepotan. Apresiasi bisa ditunjukkan dengan sekedar tahu dan paham. Minimal tahu definisinya dan paham sejarahnya. Sedangkan tentang siapa yang perlu menjadi dalang, itu (lagi-lagi) fardhu kifayah. Ga mesti semua orang jadi dalang.

        Oiya, wayang yang sedang saya ceritakan dalam posting ini predikatnya adalah “budaya Indonesia” bukan budaya daerah. Kalau dibaca dengan seksama, di tulisan ini saya menuliskan UNESCO mengakui bahwa ini adalah kebudayaan Indonesia, artinya udah ga pake embel-embel daerah lagi. Sama halnya dengan kebaya yang bukan lagi dianggap sebagai pakaian adat Jawa, tapi merupakan pakaian adat nasional. Lain ceritanya kalau saya bilang “anak-anak muda Indonesia perlu melestarikan seni ketoprak dan ludruk.” –> Walaupun sebenernya sah-sah aja, ini memang terdengar agak chauvinistis. Mudah-mudahan kelihatan ya bedanya.

        Mudah-mudahan Mas Rae tidak salah paham memahami isi tulisan ini. Kalau ternyata salah paham, ya mohon maaf aja, berarti skill menulis saya masih sangat kurang. Kalau ternyata tidak salah paham, ya mohon dipahami aja kalau pemikiran setiap orang pastilah berbeda-beda.

        PS: Mas Rae, ketika kita menyanggah tulisan seseorang yang berbentuk opini, ya bakal begini jadinya. Makanya saya selama ini selalu berusaha sekuat tenaga untuk ga “menyerang” opini seseorang, karena opini bersifat tak terbatas dan merdeka (selama tidak menyinggung SARA dan mengganggu hak orang lain). Beda halnya dengan fakta yang bersifat eksak dan terikat. Anyway, ada beberapa fakta juga yang dibahas di komentar-komentar ini. Mudah-mudahan semua yang berhubungan dengan fakta terjawab ya. Selebihnya, masalah opini mah ya masing-masing aja. 🙂

  6. Pingback: Pemenang Dalang Bocah Blog Competition | Festival Dalang Bocah

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s