0

Tiara’s First Days Photos

Ini adalah foto Tiara di hari-hari pertama kemunculannya di dunia.

64679_10151135435362091_604011656_n

Setelah dimandikan suster. Foto ini diambil oleh adik saya. Saya melihat muka Tiara pertama kali dari foto ini, karena saya tidak IMD dan saya mengalami masa kritis pasca melahirkan.

IMG00437-20120922-1014

Tiara umur 6 jam. Saat pertama kali saya menyentuh Tiara. Kebetulan sedang tidak ada keluarga yg bisa menemani saya di RS. Untunglah ibu dari pasien sebelah mau membantu mengangkat Tiara dari box dan menyerahkannya ke tangan saya.

IMG00438-20120922-1018

“Ngabudah” dalam arti yang sebenarnya =))

IMG00441-20120922-1105

Versi botak

IMG00443-20120922-1154

Versi setengah melek

IMG00452-20120923-1045

Tiara umur 1 hari. Papanya baru pulang tadi malam dari Balikpapan. Sama-sama ngantuk nih ye.

IMG00451-20120923-1045

Ga mirip ya sepertinya?

IMG00446-20120923-1023

Bibirmu seksi sekali nak….

IMG00445-20120923-1006

Kita belum kenalan nih… Kenalin, ini mama.


IMG01114-20120923-0904

IMG00466-20120924-0927

Pertama kali tidur di kamar rumah

IMG00464-20120924-0433

IMG00455-20120923-1758

Digendong papa. Masih pake slabber sisa mimi ASIP pake cup feeder 🙂

2

From Womb to the World

Memang ya, yang namanya hutang itu…. Tebar janjinya enak banget,  giliran disuruh bayar gelagapan. Supaya hutang saya ga tambah banyak, saya akan cicil sedikit demi sedikit.

Yang saya maksud adalah hutang cerita, bukan hutang ke rentenir ya :mrgreen:

Ini adalah curhatan sehari setelah melahirkan. Sengaja tidak saya edit 😀

Bandung, 23 September 2012

Selama ini saya selalu bertanya-tanya, ketika seseorang mengatakan bahwa melahirkan itu sakit, sakitnya itu seperti apa? Apakah sakit karena lukanya? Ataukah sakit karena didorong-dorong kepala bayi? Atau bagaimana? Sekarang saya tahu jawabannya, bahwa rasa sakit yang dimaksud adalah rasa mulas luar biasa. Rasa mulas yang bikin badan tegang dari ujung kepala hingga ujung kaki. Rasa yang membuat saya — yang menurut mama saya merupakan orang dengan ambang ketahanan rasa sakit yang rendah — teriak-teriak tengah malam dibuatnya.

Saat itu adalah minggu ke-38 kehamilan saya. Tidak lama setelah saya menulis posting tentang harapan saya melahirkan secara normal. Hari Rabu sore saya mulai jalan sambil pegang-pegang pinggang dan punggung, persis seperti nenek-nenek sakit encok. “Tenang saja, masih minggu ke-38,” pikir saya. Mungkin ini masih kontraksi palsu, masih ada 2 minggu lagi untuk mempersiapkan ini-itu.

Hari Kamis, saya semakin seperti nenek-nenek sakit encok. Hari Jumat, saya tiba-tiba ingin periksa ke dr. Sonny. Harusnya sih kontrolnya hari Sabtu, tapi entah kenapa pada Jumat itu saya begitu keukeuh pengen ke dokter. Mungkin keinginan itu muncul karena ketidaksabaran  saya mengetahui berapa BB janin pasca diet karbohidrat dan gula selama 1 minggu. Saya sangat ingin mendengar dokter berkata “ternyata perhitungan minggu lalu error, bayinya tidak seberat yang diperkirakan.”

Karena harus tes darah ini-itu, saya nongkrong di tempat praktek dokter sejak pukul 17.00 WIB. Itu berarti saya harus menunggu 2 jam sebelum dokternya datang. But the good news is saya dapet nomor antrian pertama ^,^

Maka nongkronglah saya di ruang tunggu itu sendirian. Kebetulan si suami sedang tugas di luar Jawa, dan saat itu belum ada ibu-ibu hamil lain yang datang. Entah sinetron apa yang saya tonton saat itu. Saya ga bisa konsentrasi karena setiap 10 menit sekali saya meringis menahan rasa ngilu.

Setengah jam menuju jam buka praktek dr. Sonny, ruang tunggu masih sepi. Agak aneh. Kemudian munculah mas-mas resepsionis dan memanggil nama saya dan berkata “Maaf bu, dokternya ga praktek hari ini… Beliau masih ada seminar di depan Trans Studio Mall.” Infonya lengkap banget sampe Trans Studio Mall-nya juga disebut :mrgreen:

Duer. Berasa dapet geledek di maghrib hari. Akhirnya saya pulang.

Tidak ada yang spesial pada jam-jam berikutnya, kecuali pada pukul 21:00 WIB intensitas dan kualitas rasa mulas yang saya alami menjadi semakin meningkat. “Tarik napas dalam-dalam….. hembuskan” itulah kata-kata sakti untuk menghilangkan sedikit rasa sakit. Saya terus-menerus mensugesti diri sendiri agar rasa mulas ini cepat hilang. Tapi teori ini buyar sudah…. Yang ada malah makin mulas ga karuan. Frekuensi 10 menit sekali kemudian berubah menjadi 5 menit sekali, dan akhirnya menjadi 1 menit sekali.

Kalau harus digambarkan dengan kata-kata, mungkin rasanya mirip dengan rasa menjelang menstruasi, hanya saja sensasinya 100 x lipat. Plus perut yang lagi segede gaban itu seolah-olang mau pecah.

Rasanya tidak ada rasa lain yang lebih menyakitkan dibanding rasa ingin melahirkan. Maka pecahlah tangis saya pada pukul 2 dini hari. Sejak awal saya menahan agar saya tidak membangunkan siapapun, tapi apa daya… Saya ga kuaaaaaat T.T

Mama kemudian terbangun. Feelingnya mengatakan kalau saya sebentar lagi akan melahirkan. Langsung deh semua anggota keluarga dibangunin, beres-beres baju dan perlengkapan lain, ngeluarin mobil dari garasi, dll. Oiya, saya belum sempat cerita ya… Asalnya saya berencana melahirkan di klinik di rumah sendiri dibantu oleh Bidan Atun, teman mama. Itulah kenapa saya ga siap-siap perlengkapan seperti baju dll. Tapi karena saya mengalami pre-eklampsia, mau tidak mau harus melahirkan di RS dengan pengawasan dokter SpOG.

Berangkatlah kami ke RS Bungsu pukul 02:30 WIB. RS ini dipilih karena biaya persalinan caesar-nya paling murah dibandingkan RS-RS lainnya di Bandung. Walaupun tidak pasti, tapi selalu ada kemungkinan saya harus operasi caesar jika tekanan darah saya masih tinggi sebelum bukaan lahir lengkap.

Rasa mulas di perut saya makin ga karuan. Saya mencengkeram tangan adik saya setiap kali rasa mulas datang. (Maafkan saya deeeek :p).

Di perjalanan, tiba-tiba keluar banyak air. Ternyata ketuban saya pecah.

Di UGD RS, ketuban saya pecah lagi. Lalu dua kali di kursi roda saat saya didorong oleh satpam yang siap siaga. Total 4 kali pecah. Rasanya makin ga karuan, tapi herannya, saya masih bisa bilang “Pak Satpam, maaf ya ini kursi rodanya saya kotorin.” :mrgreen:

Lalu masuklah saya ke ruangan VK. Saya ga tau apa singkatan dari VK ini. Pokonya ruangan buat melahirkan deh. Saya teriak-teriak, dan rasanya bayi akan segera brojol, tapi bu bidan tidak kunjung meminta saya mengejan. Dia malah ngobrol sama mama saya, ngobrolin Bidan Atun -_-

Ternyata penundaan itu dilakukan karena si bidannya ga berani membimbing saya melahirkan. Tekanan darah saya saat itu naik jadi 150/110, jadi saya harus nunggu dokter dulu baru bisa mengejan. Beberapa menit kemudian dokter yang dimaksud pun datang. Ternyata dokternya tetanggaan sama RS-nya, jadinya cepet, hehehehe…

Dokter meminta saya mengejan, lalu tiba-tiba ada rasa yang cukup perih, dan saya merasakan ada cairan yang mengucur. Saat itulah saya menyadari bahwa saya di-episiotomi — pengguntingan di sekitar vagina untuk memperbesar jalan lahir bayi. Saya kemudian mempraktekkan cara mengejan yang benar, seperti yang diajarkan oleh instruktur senam hamil.

Seperti biasa, saat ada seorang perempuan yang sedang berusaha melahirkan, pasti muncul kata-kata “ayo terus….”, “ayo sedikit lagi…”, dan sebagainya. Saat itu pun saya mendengarnya, tapi tidak lama, karena setelah 2 kali mengejan saja saya sudah melihat dua tangan bayi menari-nari diiringi suara tangisan yang imut.

Waaaa, sudah lahir! Jauh lebih cepat dari yang saya perkirakan 🙂

Bayi saya lahir pada 22 September 2012 pukul 03:55 WIB, kurang dari satu jam sejak ketuban pertama saya pecah. Si bayi kemudian dibawa ke ruang bayi, setelah diketahui bahwa plasenta saya tak kunjung keluar. Ya, kami gagal IMD. Rasanya muncul geledek di ruangan bersalin saat itu itu. Rencana IMD yang sudah saya persiapkan sejak awal kehamilan harus gagal karena saya mengalami retensio plasenta (plasenta mengalami perlengketan sehingga sulit atau tidak keluar melalui jalan lahir bayi). Belakangan saya baru mengerti bahwa gagal IMD masih jauh lebih baik dibanding nyawa saya melayang 😦

Dua puluh menit berlalu saat tangan kiri dokter masih menekan-nekan ringan perut saya yang sudah kempes saat itu. Dari kanan ke kiri, lalu balik lagi, dan begitu seterusnya. “Tenang bu, masih ada 10 menit lagi,” katanya kepada ibu saya. Saat itu saya tidak mengerti tentang apa yang mereka bicarakan. Untungnya, saya juga tidak mengerti seberapa terancamnya jiwa saya pada saat itu. Kalau saya tau, mungkin saya akan panik dan tekanan darah akan semakin meningkat.

Sepuluh menit berlalu, tibalah waktu yang “ditunggu.” Ternyata yang ditunggu adalah keluarnya plasenta. Karena ga keluar-keluar, akhirnya plasenta yang tertinggal di perut saya diambil secara manual. Jeng jeeeeeeeeeeeeeng…..! Rasanya bagaimana? Rasanya amit-amiiiiiit……. Jauh lebih sakit dibanding melahirkan. Prosesnya juga malah lebih lama, dan dokternya juga lebih capek. Bayangkan, pengambilan secara manual tersebut dilakukan sebanyak 4 kali! Anestesi pun seakan tidak berdaya menghilangkan rasa sakitnya T,T

Sinar matahari kemudian muncul di balik jendela. Bidan memandikan saya yang saat itu bersimbah darah. Saya yang menahan rasa sakit, tapi sangat bahagia. Saya terus-menerus bertanya kepada bu bidan “Bu, kapan saya bisa lihat bayinya?” Bu bidan hanya tersenyum dan menjawab “Sabar….”

Kemudian di pagi itu sebuah box beroda muncul di ujung pintu, diikuti seorang bidan yang mengantarkannya. Di dalamnya tertidur sesosok bayi mungil berselimutkan kain putih bermotif bunga-bunga ungu. Cantik sekali. Mukanya merah dan matanya tertutup rapat. Baunya wangiiiii sekali. Kissing her for the first time is the nicest feeling I’ve ever had in my life. Saya kemudian memanggilnya “Tiara Kayla Jasmin.”

tiara newborn

PS: Foto yang sama emaknya menyusul, soale ada di HP ayahnya. Ayahnya terbang langsung dari Kalimantan, boro-boro inget bawa kamera, hahaha.

PSS: Berat badan Tiara 3,1 kg, dan panjangnya 50 cm. 

13

Demi Melahirkan Normal – My 38 Weeks Pregnancy Story

Di usia kandungan minggu ke-38 ini, saya sedikit was-was. Bukan was-was karena takut akan rasa sakit saat melahirkan, tapi was-was apakah saya bisa melahirkan secara normal atau tidak. Saya juga ga takut dengan rasa sakit pasca cesar yang katanya akan sembuh dalam waktu yang jauh lebih lama. Saya cuma takut ga bisa nutupin biayanyaaaaaa, hadoh. Memang uang bisa dicari dan harusnya ga jadi masalah utama, tapi saya mencoba untuk ga muna, masalah perduitan memang merupakan salah satu yang  saya perhatikan dalam urusan melahirkan. 😦

38 weeks old fetus

Jadi begini ceritanya… *kismis mode on*

Saya adalah orang dengan potensi hipertensi bawaan genetis dari ayah. Selama ini saya tidak pernah punya tekanan darah lebih dari 120/80 mmHg, tapi pas hamil di trimester ketiga ini, duweeeeeew… tekanan darah saya naik jadi 130/90 mmHg. Ditambah dengan simptom kaki bengkak dan kenaikan berat badan secara drastis (berat badan palsu, karena beratnya berasal dari air yang ga keluar lewat pipis), saya pun divonis mengalami gejala pre-eklampsia.

Ini terjadi pada minggu 34 menuju ke minggu 36. Saat itu memang saya lagi heboh-hebohnya beraktivitas ke sana ke mari, kan ceritanya saya sedang merintis bisnis (ntar aja ya cerita bisnisnya — siapa tau ada yang penasaran *ngesok artis dikit gapapa lah :mrgreen: *). Ternyata ibu dengan gejala pre-eklampsia itu tidak boleh kecapean, karena aktivitas berlebihan akan memicu kerja jantung dan bikin tekanan darah tambah tinggi.

Gegara itu, bumil berperut besar ini (kembali) diomelin oleh sang mama yang sebenarnya sudah pensiun dari dunia omel-omelan sejak saya menikah setahun lalu. Jangan kecapean bla bla bla… Kalau pre-eklampsia nanti ga bisa lahiran normal bla bla bla… Tuh kan kakinya bengkak lagi bla bla bla… Dan sejuta bla bla bla lainnya yang kayanya ga banget kalau ditulis semua di sini. -_-

Di sisi Bumi lain bernama Kiara Condong, hiduplah seorang sepupu yang juga sedang hamil dan juga punya gejala pre-eklampsia, namanya Nita. Kayaknya gen dari keluarga ayah saya ini dominan sekali, sampe-sampe semua sodara perempuan saya dari keluarga ayah punya kecenderungan yang sama. Usia kehamilannya hanya lebih muda 2-3 minggu dari saya.

Di minggu ke-36 kehamilan saya, saat berat kandungan mencapai 2800 gram, Nita menelepon saya dan mewek karena bayinya cuma 1600 gram. Kalau menurut tabel ini sih, bayi saya kegedean 100 gram dan bayi Nita kurang 400 gram. Setelah baca-baca sana-sini, kemungkinan besar kurangnya berat badan bayi Nita adalah karena pre-eklampsia, di mana pembuluh darah (termasuk tali plasenta) menjadi mengecil akibat tekanan darah di atas normal sehingga transfer nutrisi menjadi terhambat.

Trus saya pikir, wah berarti makanan kudu dijaga bener-bener nih, saya harus makan banyak, atau minimal ga lebih sedikit dibanding sebelum-sebelumnya. Saya cuma jaga-jaga aja takut bayinya jadi kurang gizi karena saya mengalami pre-eklampsia ringan.

Tibalah minggu ke-37. Saya periksa ke dokter kandungan, dan berat badan janin saya jadi 3300 gram aja gitu. Tet tooooot, kelebihan 400 gram. Dede, how come dalam 1 minggu nambahnya 500 gram? 😦

Setelah dipikir-pikir, mungkin karena saya kebanyakan minum teh manis. Sebelum periksa ke dokter terakhir kali itu, saya mengalami insomnia hebat, dan biasanya pas tengah malem jadi laper, dan akhirnya ngemil dan minum teh nasgitel deh (kebetulan di rumah lagi ada teh favorit saya, dan saya udah ga mengkonsumsi asam folat, jadi saya merasa bebas minum teh sebanyak-banyaknya, hahaha…).

Bisa ditebak lah apa cerita selanjutnya, si mama langsung ngomel. Katanya untuk anak pertama, melahirkan secara normal itu susah kalau bayinya kegedean. Dia sih nyaranin (dengan nada maksa khas emak-emak galak) untuk diet. Stop dulu yang manis-manis, kurangi dulu hidrat arang! She literally mentioned it as “hidrat arang” not “karbohidrat” :p

Dan diet pun dimulai kemarin. OMG, it tastes like hell. Saya udah lama sekali ga diet-dietan, jadi sekalinya ga makan nasi dalam jumlah banyak itu rasanya gimanaaaaa gitu 😦 Saya cuma makan bayem rebus, tempe, telur rebus, sate ayam (yang tanpa gajih tentunya), sama nasi sedikit buat sarapan. Dokter juga meminta saya untuk stop minum vitamin dan kalsium.

Saya baru baca-baca lagi forum ibu hamil, ternyata berat badan janin 3300 gram di usia kehamilan 37 minggu ini memang sesuatu banget. Ga heran deh si mama segitu sewot ngomelnya T.T

Rasanya pengen banget olah raga kaya jaman muda dulu. Pengen banget menjaga berat badan tanpa ngurangin asupan makanan. Lari 20 keliling di Sabuga, trus sit-up, push-up, dan nyobain pull-up (yang sampe sekarang ga bisa-bisa :mrgreen: ). Tapi itu semua ga mungkin saya lakukan karena masalah genetis tadi. Kalau kecapean, ntar malah jadi fatal pas melahirkannya (katanya bisa sampe menimbulkan kematian buat si ibu 😦 — aduh jangan sampe deh).

Jadi satu-satunya cara untuk menjaga berat badan si dede bayi adalah berdiet. Saya harus rela berdiet supaya ga bangkrut. Alasan yang naif memang, tapi alamiah.

Jumat atau Sabtu ini saya akan periksa lagi ke dokter. Mudah-mudahan si dede bayi nambah gedenya ga gede-gede amat. Saya juga berharap minggu lalu dokternya lagi error jadi salah ngitung berat badan si dede bayi — doa yang lagi-lagi naif, tapi lagi-lagi alamiah. :mrgreen:

Bumil ini hanya bisa berusaha dan berdoa. Kalau ternyata bayinya kegedean dan harus cesar, apa boleh buat. Seperti kalimat terkenal, “uang bisa dicari.”

— Ibu hamil yang 27 tahun lalu lahir dengan berat badan 4 kg, setelah 41 minggu bersenang-senang di rahim sang mama