Tesso Nilo: Jembatan Perkembangan Ekowisata Indonesia

Mungkin tidaklah berlebihan jika saya menilai perjalanan saya ke Taman Nasional Tesso Nilo Riau tahun lalu merupakan sebuah wujud dari impian yang menjadi kenyataan. Ya, saya sejak lama telah bermimpi untuk bertualang ke tempat seperti ini, tempat di mana keanekaragaman hayati begitu berlimpah dan keindahan terpancar dari segala sisinya. Dengan sejuta pesonanya, Tesso Nilo siap menjadi jembatan bagi perkembangan ekowisata Indonesia.

Pulau Sumatera kehilangan hampir 50% hutan alamnya dalam rentang 25 tahun. Tesso Nilo adalah satu dari yang tersisa. Terletak di Provinsi Riau, Tesso Nilo adalah salah satu habitat terpenting yang tersisa bagi gajah dan harimau sumatera yang terancam punah. Tesso Nilo juga merupakan hutan dengan keanekaragaman tumbuhan berpembuluh terkaya di dunia. Maka alangkah beruntungnya saya, karena kala itu – Maret 2011 – saya dan rekan saya Lena Gottschalk berkesempatan menjelajahi hutan Tesso Nilo bersama rekan-rekan dari WWF Indonesia dan WWF Jerman selama beberapa hari.

**

Rima dan Lena di depan kantor Balai Taman Nasional Tesso Nilo. Photo (C) Annisa Ruzuar / WWF-Indonesia

Petualangan dimulai ketika jalan aspal perlahan berganti menjadi jalan tanah, dan tembok-tembok beton perlahan mulai hilang dari pandangan. Selama kurang lebih 4 jam perjalanan dari kota Pekanbaru menuju Taman Nasional Tesso Nilo, mata kami disuguhi pemandangan beragam. Perkotaan, perkebunan akasia dan sawit, lahan gambut yang baru dibuka, hutan yang terbakar, lahan kosong, hingga akhirnya hutan tropis yang sangat lebat. Tibalah kami di Flying Squad Camp.

Jalan menuju Taman Nasional Tesso Nilo

Flying Squad Camp adalah kamp milik WWF yang juga dikelola oleh Balai Taman Nasional Tesso Nilo. Kamp ini merupakan markas dari Elephant Flying Squad atau Pasukan Gajah Reaksi Cepat, yaitu gajah-gajah yang diselamatkan dari bagian lain di Sumatra kemudian dilatih untuk menjadi gajah patroli di Taman Nasional Tesso Nilo. Patroli ini dilakukan untuk meminimalisir konflik yang terjadi antara manusia dengan gajah liar. Bersama para gajah Flying Squad, polisi hutan secara rutin berkeliling Taman Nasional dna mencegah gajah liar masuk ke permukiman atau perkebunan milik masyarakat.

Sebuah kantor berdinding beton berdiri tegap di dekat pintu masuk wilayah kamp. Di belakangnya berdiri dua bangunan beton lain dan sebuah bale-bale. Di dua bangunan ini lah kami akan menginap. Saya tidak pernah menyangka sebelumnya, bahwa berada di tengah hutan bukanlah alasan untuk tidak bisa tidur nyenyak di kasur yang empuk dan mandi di kamar mandi  yang bersih. Kalau enak begini sih, siapa yang tidak mau? 😀

Penginapan di Flying Squad Camp Tesso Nilo

Suasana di dalam kamar penginapan

Terbangun di pagi hari di suatu tempat baru selalu menimbulkan sensasi berbeda, begitu pula dengan yang saya alami di Tesso Nilo. Suara sautan kodok yang sangat keras membangunkan saya pagi itu. Menurut salah seorang petugas di sana,  pada pagi hari kita bisa mendengar suara ungko, kodok, dan gajah yang bersaut-sautan keras. Mungkin saya tidur terlalu lelap, sehingga saya tidak mendengar suara ungko dan gajah pagi itu. Begitu lelap, karena saya mempersiapkan diri untuk bermain bersama para gajah hari ini.

Sejak pagi hari, para mahout (pawang gajah) sudah bersiap dengan gajah masing-masing. Sebelum menjelajahi hutan Tesso Nilo dengan menumpaki punggung gajah, kami belajar membuat “brownies gajah” terlebih dahulu. Brownies ini akan menjadi kejutan bagi para gajah di sore hari nanti.

Ternyata membuat brownies gajah tidaklah terlalu rumit. Yang paling kami butuhkan adalah tenaga yang sangat kuat untuk mengaduk dan memindahkan bahan-bahan yang dibutuhkan ke kuali raksasa. Bahan yang dibutuhkan adalah gula merah, biji jagung, bekatul, mineral pakan ternak, dan air. Kami memasaknya dengan bantuan lalapan api pada kayu bakar yang cukup besar. Setelah matang, brownies dicetak dan dikeringkan di bawah tempat teduh. Brownies ini hanya diberikan seminggu sekali, tidak sering-sering, mungkin supaya gajah tidak bosan makan daun melulu. 🙂

Membuat “brownies gajah.” Photo (C) Annisa Ruzuar / WWF Indonesia

Tibalah agenda yang paling ditunggu: kami menaiki punggung gajah dan menjelajahi hutan selama 2 jam menuju Sungai Nilo. Saya dan Ulrike menumpaki punggung Indro, gajah jantan alfa berusia 27 tahun. Awalnya saya agak gugup, karena saya takut ketinggian. Namun lama-kelamaan saya terbiasa dan mulai menikmatinya. Kombinasi tubuh gajah yang besar dan rapatnya hutan hujan tropis Tesso Nilo membuat kaki saya beberapa kali tersangkut dan terjepit di antara badan Indro dan pepohonan. Bagian paling menghebohkan dari pengalaman menaiki punggu gajah adalah saat kami menyeberangi sungai dan mendaki tanjakan yang sangat curam. Rasanya seperti mau jatuh dan dunia akan segera berakhir. Untunglah mahout Edi yang mendampingi kami dapat meyakinkan kami bahwa semua akan baik-baik saja.

Menjelajahi hutan bersama para gajah. Photo (C) WWF Germany

Sementara kami beristirahat dan menikmati indahnya pemandangan di pinggir Sungai Nilo, para mahout memandikan gajah-gajah yang kepanasan di tengah sungai. Setelah mandi, para gajah mencari makan di pinggir hutan, sementara kami dan para mahout memakan bekal makan siang kami. Makan siang bersama para gajah Flying Squad adalah pengalaman yang sungguh luar biasa bagi saya. 🙂

Kami benar-benar sangat beruntung siang itu, karena kami juga menemukan jejak harimau Sumatera di dasar sungai yang sedang mengering.

Para mahout sedang memandikan gajah di Sungai Nilo

Pasir Sungai Nilo berwarna putih seperti di pantai 😀

Tapak kaki harimau di pinggir Sungai Nilo

Sore hari, sekembali kami bertualang bersama para gajah, ternyata kue yang kami buat pada pagi hari tidak benar-benar mengeras. Mungkin karena adonannya terlalu encer. Pak Syam yang juga merupakan koordinator para mahout di Flying Squad Camp mengajarkan kami cara memberi makan kue kepada gajah. Caranya adalah dengan membentuk kue menjadi bola seukuran setengah bola boling, lalu memampatkannya, dan memasukkannya ke dalam mulut gajah. Kami harus memberi instruksi kepada gajah agar mereka mau membuka mulutnya. Gumpalan kue harus diperlihatkan di depan mata gajah yang mana tingginya lebih tinggi dari pada kepala kami. Lalu kami harus berkata “tinggi, tinggi, tinggi….”, dan gajah akan menaikkan belalainya dan membuka mulutnya. Lalu hap..! Itulah saat yang tepat untuk memasukkan kue. Nyam, nyam, nyam…

Menyuapi brownies ke mulut gajah

“Rima dan Lena, siap-siap ya, habis ini kalian belajar menjadi mahout,” kata Pak Syam. Awalnya saya dan Lena menolak karena takut. Tapi akhirnya kami menjalaninya karena tidak mau melewatkan pengalaman yang sangat berharga ini. Kami belajar menunggangi Rahman, seekor gajah jantan berumur 27 tahun. Ternyata mengendalikan gajah tidak sesulit yang saya bayangkan. Saya cukup “menendang” kecil bagian belakang kuping mereka, atau menepuk bagian kepala tertentu untuk membuat mereka berjalan. Hanya saja dibutuhkan keberanian yang tinggi akan ketinggian, serta ketahanan yang luar biasa terhadap serangga-serangga yang hidup di atas kulit gajah.

**

Kini saya paham mengapa wisatawan mancanegara begitu menggemari ekowisata. Ekowisata memberikan sensasi yang berbeda, lebih dari sekedar pemandangan untuk dinikmati dan dijelajahi. Ekowisata mengandung unsur-unsur edukasi lingkungan hidup dan dilakukan dengan cara yang juga ramah lingkungan. Dengan berekowisata, seorang wisatawan tidak sekedar memanjakan diri dan menghabiskan materi, tetapi juga mempelajari sesuatu dan berkontribusi terhadap pelestarian lingkungan di wilayah yang disinggahi.

Bertualang bersama gajah hanyalah satu dari paket ekowisata yang ditawarkan di Tesso Nilo. Dari satu petak hutan, dengan satu jenis hewan, di satu kabupaten di Riau saja saya sudah bisa melakukan banyak hal, apalagi jika kekayaan alam lain juga dimanfaatkan untuk menjadi ikon ekowisata. Pantai, laut, pulau-pulau kecil, hutan gambut, sungai-sungai besar, dan suku-suku pedalaman yang hidup di antaranya, masing-masing memiliki ciri khas yang menanti untuk digali dan dikembangkan sebagai ekowisata.

Ekowisata yang tengah menjadi tren saat ini adalah peluang emas bagi Indonesia  untuk mendongkrak sektor pariwisata, mengingat Indonesia dikaruniai kekayaan alam yang begitu melimpah. Dengan mengembangkan ekowisata, bukan tidak mungkin Indonesia bisa kembali menjadi raja di sektor pariwisata di Asia. Namun ini memang bukan hal yang mudah. Perlu kerja keras dan kreativitas ekstra untuk bisa memanfaatkan peluang tersebut.

Tesso Nilo dengan gajah-gajahnya bisa menjadi inspirasi bagi pengembangan ekowisata Riau, dan lebih luas lagi ekowisata Indonesia. Pada akhirnya, yang terkuatlah yang menang… yang adaptiflah yang bertahan. Ekowisata akan menjadi ikon pariwisata masa depan. Karena tidak seperti wisata konvensional, alih-alih merusak, ekowisata justru melestarikan lingkungan. 🙂

**

Jantung saya masih berdegup sangat kencang saat turun dari punggung Rahman. Namun degup tersebut perlahan mereda saat saya belajar memandikan Indro di Sungai Perbekalan. Ekspresi takut berubah menjadi bahagia saat saya bersama mahout Edi dan Indro tercebur bersama Indro di sungai. Ini adalah bagian terindah dari petualangan saya di Tesso Nilo. Saya ingin memandikan gajah lagi dan suatu saat datang kembali ke tempat ini untuk bermain dengan para gajah Flying Squad! 😀 

Saya memandikan gajah… Yeeeey! 😀

Kami akan kembali ke Tesso Nilo suatu saat nanti.

————————————————————————————

Bagi Anda yang ingin berekowisata di Taman Nasional Tesso Nilo, Anda bisa menghubungi:

Balai Taman Nasional Tesso Nilo
Jl. Raya Langgan KM 4
Pangkalan Kerinci, Pelalawan – Riau
Telp/fax: +62 761 494728

WWF-Indonesia Program Riau
Perkantoran Grand Sudirman Blok No. B-1
Jl. Datuk Setia Maharaja, Pekanbaru – Riau
Telp : +62 761 855006, Fax : + 62 761 32323
Email : reservasi@tessoniloecotour.com

Situs: http://tessoniloecotour.com/

Download brosur Ekowisata Tesso Nilo di sini.

Rima dan Lena adalah pemenang Forest Friends, sebuah program kerja sama WWF Indonesia dan WWF Jerman yang bertujuan untuk meningkatkan kesadartahuan generasi muda terhadap pentingnya kelestarian hutan. 

Tulisan ini dibuat untuk kepentingan Lomba Blog dalam Rangka Riau Travel dan Tour Fair 2012 dengan tema “Strategi Pengembangan & Promosi Wisata Riau” yang diselenggarakan oleh ASITA RIAU.

Advertisements

11 thoughts on “Tesso Nilo: Jembatan Perkembangan Ekowisata Indonesia

    • ayo ayo berkunjung ke Tesso Nilo… jangan lupa jangan bawa banyak barang yg menghasilkan sampah ya, karena sayangnya di sana sampah masih dibakar.

    • tidak menang, bu’e, karena lombanya dipersempit dari yg asalnya lomba nasional jadi lomba propinsi. otomatis saya ga qualified lagi… uang pendaftaran lomba pun dikembalikan, hehehehe :p

    • ga menang, pak.. soalnya lombanya diubah dari lomba nasional jadi lomba propinsi, jadi saya ga masuk itungan, hehehe……. padahal udah cape-cape nulis *loh, kok jadi curcol?*

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s