4

MPASI Pertama Tiara: Dilepeh Lalu Endang Markondang

Ya ampun, ini postingan kok judulnya ga banget ya… Biarin ah :p

6 months 3 days

Tiara sudah 6 bulan. Senangnyaaaaaa… Beneran deh, seneng banget. Bukan karena selebrasinya, tapi karena akhirnya saya bisa memenuhi target saya memberikan ASI eksklusif selama 6 bulan. Mungkin bagi ibu-ibu kebanyakan, lulus ASI eksklusif itu hal biasa, tapi bagi saya yang e-ping, lulus ASI eksklusif itu luar biasa banget. Akhirnya perjuangan selama ini tidak sia-sia *ngelap air mata*

Apa itu e-ping? Saya bahasnya lain kali aja ya.. Saya masih agak-agak kurang kuat mental nih kalo harus nulis tentang e-ping :p

Sekarang bahas tentang hal terheboh di bulan ke-6 usia Tiara aja ya… yaitu MPASI.

Apa lagi itu MPASI? MPASI adalah singkatan dari “Makanan Pendamping ASI.” Dari info yang saya baca, ada beberapa mazhab MPASI perdana, tapi yang paling populer ada 2, yaitu mazhab “buah dulu” dengan “karbohidrat dulu juga gapapa.” :mrgreen:

Eh, serius loh, ibu-ibu di milis bisa berantem cuma gara-gara beginian doang :mrgreen: Mazhab “buah dulu” beranggapan bahwa di bulan pertama, bayi sebaiknya hanya mengkonsumsi MPASI berupa gula sederhana karena sistem pencernaannya belum siap mencerna gula kompleks seperti karbohidrat. Sedangkan mazhab “karbohidrat dulu juga gapapa” beranggapan bahwa bayi usia 6 bulan lagi pesat-pesatnya berkembang, sehingga butuh banyak kalori yang tidak didapatkan dari ASI.

Awalnya saya ikut mazhab “buah dulu”, tapi karena WHO mengeluarkan fatwa yang lebih mendukung mazhab “karbohidrat dulu juga gapapa” akhirnya saya berpindah haluan.

Terus untuk eksekusinya juga ternyata banyak alirannya. Ada yang “4 day rule,” dan ada juga yang 2 dan 3. Maksudnya adalah bayi diberi makanan yang sama persis setiap harinya selama X hari. Tujuannya adalah untuk mengetahui apakah bayi alergi terhadap suatu jenis makanan. Saya ikutan yang 4 aja lah, biar rame, hahaha.

Ini jadwal MPASI di 2 minggu pertama Tiara: (ngarang aja sih saya)

4 hari pertama: bubur encer beras merah + ASI, jus jeruk

4 hari kedua: bubur encer kacang hijau + ASI, pure encer pir

4 hari ketiga: pure encer kentang + ASI, pure encer alpukat

Kenapa harus encer, jawabannya adalah karena supaya bayi ga kaget. Karena kan selama 6 bulan ini bayi minum ASI doang yang tinggal glek, glek, glek. Semakin pintar bayi makan, kekentalan dan tekstur makanan semakin dibuat sulit. Kalo di hidup bayi ada narasinya, naratornya akan bilang “dan hidup pun menjadi semakin sulit”.

Nah, kebetulan banget, Tiara MPASI perdananya pas kita lagi di rumah nenek di Tasik, kan ceritanya lagi nikahan Tante Uwi. Rempong jayaaaaa, saya jadi gotong-gotong slow cooker, food maker, dan sebagainya ke kampung. Ya ga rempong-rempong amat sih ya, cuma kan yang namanya “perdana” tuh pasti ada aja errornya dan ini-itu segala macem. Males aja gitu kalo harus melakukannya bukan di rumah sendiri.

Untungnya ga ada error yang signifikan. Cuma Tiara-nya aja rewel pas pertama kali disuapin bubur beras merah. Ah, cuma belum terbiasa aja, pikir saya. Sorenya saya coba kasih lagi, eh dia malah ketagihan. Pake acara marah segala kalo saya lama nyendokinnya :mrgreen:

Sayangnya MPASI perdana ga boleh banyak-banyak, kan lagi tahap transisi. Jadilah anakku yang gendut itu ngamuk 😀

Hari pertama rada error di timing sih sih, jadi saya ga sempet kasih Tiara jus jeruk <– hubungan sebab-akibat yang ga nyambung. Tiara minum jus jeruk baru besoknya. Dia ga begitu suka dengan jus jeruk, mungkin karena asem. Padahal itu jeruk termanis yang bisa kita temukan di supermarket loh. Pas dia minum jus jeruknya, mukanya merinding goyang-goyang, lucuuuuu banget xD

Mudah-mudahan besok-besok ga error lagi. Emaknya maksudnya yang ga error, bukan bayinya :p

IMG03330-20130322-1254

Bubur beras merah + ASI

IMG03333-20130322-1257

IMG03334-20130322-1258

P1450904

“Wow, ternyata Endang Markondang… lagi dong, moms”

 

PS: Pas saya ngomong “Endang Markondang,” di ruangan yang sama ada sodara papa yang bernama Endang. Real story, bro.

0

Tiara Lulus S1 ASIX

Sertifikat Tiara copy

Selamat lulus S1 ASIX, Tiara 😀

Mama sangat bangga dan bahagia bisa memberimu hakmu, walaupun hanya lewat e-ping. Semoga kelak ini akan menjadi bekalmu untuk menjadi manusia yang bermanfaat bagi banyak orang. Amin 🙂

2

Berenang: Menangis Awalnya

5 months 17 days 

Akhirnya kolam renang baby spa yang sudah teronggok lama di rumah ini dipakai juga. Sebenarnya bisa aja sih kalo mau dipake sejak kemarin-kemarin, hanya saja saya menunggu si pops pulang dari Balikpapan, maksudnya supaya ada yang bantuin mompa kolam anginnya. Kelihatannya memompa kolam angin seperti ini sepele, cuma tinggal tarik tuas pompa trus turunin lagi. Well, tapi kenyatannya tidaklah semudah kelihatannya.

Sayangnya, karena si pops pagi ini ada deadline ngumpulin laporan proyek, akhirnya ujug-ujungnya sayalah yang harus mompa. *sigh*

Setelah berpeluh dan ngos-ngosan selama 15 menit, akhirnya kolam baby spa Tiara siap digunakan. Hal berikutnya yang perlu dilakukan adalah mengisi air. Karena saya ga tau kalo di rumah ini ada selang (jangan tanya kenapa :mrgreen: ), saya bolak-balik ngisi air pake ember. Masukin ke kolamnya pun ga pake gayung, tapi embernya diangkat ke atas. Udah berasa Lisa Rumbewas aja :mrgreen:

Setelah 2/3 penuh, pengisian air dihentikan. Bukan karena sayang air, tapi karena saya udah kecapean. Biarin lah, trial and error… cobain aja dulu segini, siapa tau cukup, hihihi.

Supaya ga kedinginan, saya masukin air panas ke kolamnya. Lumayan juga tuh, saya bikin 3 panci gede air panas. Tapi air kolamnya angetnya segitu-segitu aja. Gapapa lah, dari pada dingin 😛

Di percobaan pertama, Tiara ga pake baju renang, bugil aja seperti mandi. Setelah dipasang swim trainer warna pink (kyaaaaa warna pink), Tiara diceburin ke kolam. Pertama kakinya dulu, trus lama-lama seluruh badan masuk ke dalam air. Reaksinya? Dia langsung mewek dan langsung “lari” ke pinggir kolam, minta digendong.

Sepertinya dia masih kaget. Akhirnya acara berenang pagi ini batal. Tiara akhirnya mandi air anget.

Sore harinya, saya coba ceburin lagi Tiara ke kolam, kali ini pake baju renang. Sebenernya bukan baju renang beneran sih, tapi jumper Carter’s yang kebetulan bentuknya sama dengan baju renang, hehehe.

Di percobaan kedua ini, awalnya Tiara juga masih takut. Ga nangis sih, cuma tangannya mencengkeram tangan saya kuat sekali, dan mukanya masih takut-takut gitu. Tapi lama-lama Tiara melepaskan cengkramannya, lalu memegangi ban renang. Muka tegangnya berubah menjadi sumringah, kaki dan tangannya pun digoyang-goyangkan, lalu Tiara meluncur ke segala arah.

Ternyataaaaa… nangis di awalnya doang, setelah itu kesenengan :mrgreen:

Rencananya saya akan memberenangkan Tiara minimal seminggu sekali. Katanya, berenang bisa melatih dan merangsang kemampuan motorik anak. Biar ntar gedenya jadi gesit dan terampil bisa melakukan segala sesuatu 😀

Sekian pengalaman renang hari ini. Sampai jumpa di acara renang minggu depan ^,^

Pops dan Tiara

Pops dan Tiara

P1450644

P1450646

P1450649

Pegangan sama uti

IMG03108-20130311-1446

Di percobaan kedua, akhirnya mulai menikmati berenang 🙂

TIPS:

– Jika dana memungkinkan, sebaiknya pilihlah pompa listrik ketimbang pompa tekan atau pompa injak. Atau jika memungkinkan, kolam angin bisa juga diisikan angin di tukang tambal ban 😀

– Agar tidak mubazir bahan bakar, jangan dulu memanaskan air di kompor sebelum air dingin terisi seluruhnya di dalam kolam. Mengisi air ke dalam kolam membutuhan waktu yang cukup lama.

– Masukkan bayi secara perlahan ke dalam air, dimulai dari kakinya. Jika bayi menangis, jangan dipaksakan untuk tetap di dalam air, karena dikhawatirkan bayi menjadi trauma.

– Bisa digunakan juga mainan-mainan (yang tahan air tentunya) untuk menemani bayi berenang.

– Jangan tinggalkan bayi di kolam tanpa pengawasan orang dewasa. Siapkan peralatan pasca renang (seperti handuk dan lain-lain) sebelum memasukkan bayi ke kolam.

– Sebaiknya hindari penggunaan neck ring karena beresiko menyebabkan cedera leher. Katanya sih neck ring sudah tidak direkomendasikan. Sebagai gantinya, bisa menggunakan swim trainer 🙂

 

FEATURES (Siapa tau ada yang butuh):

kolam

Kolam Baby Spa Rp 195.000

pompa tuas

Pompa tangan Rp 90.000

swim-trainer-pink

Swim Trainer Rp 41.000

1

Kondangan Pertama Tiara

5 months 15 days

Hari ini untuk pertama kalinya Tiara datang ke kondangan. Sebenernya saya lebih setuju untuk ga bawa Tiara pergi ke tempat hingar bingar seperti pesta pernikahan, tapi kemarin saya merasa harus melakukannya karena saya ingin mempertemukan Tiara dengan kakek kandungnya. Iya, Tiara belum pernah bertemu dengan kakek kandungnya sejak lahir 5 bulan lalu.

Papa-mama saya berpisah beberapa belas tahun lalu dan mereka membangun keluarga baru masing-masing. Saya ikut mama, dan jarang sekali bertemu papa. Saat Tiara lahir, papa sakit-sakitan akibat stroke, sehingga agak sulit untuk berkunjung ke rumah. Di sisi lain, saya belum bisa bepergian sendiri membawa bayi tanpa bantuan suami yang sekarang sedang bekerja di Kalimantan.

Nah kemarin, papa menikahkan anak perempuan tirinya. Saya memanfaatkan momen ini untuk mempertemukan papa dengan cucu pertamanya yang lucu dan imut 🙂

Dan ternyataaaaa membawa bayi ke sebuah pesta pernikahan adalah ide yang buruk. Begitu masuk ke gedung pesta, Tiara langsung jejeritan sekuat tenaga. Mungkin itu adalah ekspresi akumulasi dari kaget, takut, risih, panas, dan sebagainya.

Hadeeeeeeeeh, pusing banget. Udah digendong berbagai macam pose, tetep aja Tiara ga mau diem. Akhirnya saya cepet-cepet aja melaksanakan tugas utama saya, mempertemukan Tiara dengan kakeknya. Tiara digendong sebentar oleh kakeknya. Sebentar sekali, hanya beberapa detik, karena mungkin badannya terlalu ringkih untuk menggendong anak kecil. Lalu sebentar oleh nenek tirinya.

Tidak ingin (atau lebih tepatnya tidak tega) mendengar Tiara jejeritan terus, saya kemudian cepat-cepat menyalami kedua mempelai, lalu tancap gas pulang. Sebelumnya sempat makan sate ayam dan es krim juga sih. Itu pun karena ada bude yang menawarkan diri menggendong Tiara 😀

Begitu keluar gedung dan masuk mobil, berenti deh nangisnya 🙂

Baru masuk mobil, masih nangis. Tapi abis itu langsung diem :p

Maaf ya nak…. Moms cuma pengen Tiara bertemu dengan kakek 🙂

0

Menanti Datangnya Engkang-engkang

Ada yang berbeda pada sore itu, sore di mana saya memenuhi ajakan Bunda Maria Hardayanto untuk berkunjung ke komunitas Engkang-engkang yang bermukim di sebuah kampung di bantaran Sungai Cidurian, Bandung. Tak saya sangka, ini adalah kampung yang begitu spesial, kampung yang dipenuhi dengan semangat perbaikan lingkungan dan kehidupan yang lebih baik.  

Selasa itu adalah hari di mana Bunda melakukan pendampingan ibu-ibu di kampung Cidurian. Tepung ganyong, tape singkong, telur, dan beberapa bahan lain sudah ada di tangan. Saya dan Bunda meneruskan langkah melewati gang sempit yang berliku, hingga sampailah kami di sebuah bale desa, sebuah ruangan yang kami gunakan untuk belajar memasak sore itu.

Kue yang akan kami buat hari ini adalah kue muffin. Ini adalah resep coba-coba, tetapi ini adalah resep istimewa, karena kami tidak lagi menggunakan tepung terigu. Sebagai gantinya, kami menggunakan tepung ganyong, tepung yang dibuat secara lokal, sehingga lebih ramah lingkungan dan harganya lebih murah.

“Jika kita tidak impor barang, berarti kita menghemat emisi karbon,” begitulah kira-kira pesan yang Bunda ingin sampaikan pada acara memasak kali itu. Ternyata sebagian dari ibu-ibu tersebut sudah paham tentang pemanasan global dan hubungannya dengan emisi karbon.

Bukan hanya tepung ganyong, mereka juga sering menggunakan bahan-bahan lokal lain seperti singkong, ubi, pisang untuk membuat panganan. Prinsip yang dipakai adalah sebisa mungkin menggunakan bahan lokal.

Selain sebagai ajang mempopulerkan bahan pangan lokal, kegiatan memasak juga dipromosikan sebagai gaya hidup sehat keluarga, karena dengan memasak sendiri, para ibu bisa menjaga kualitas makanan untuk keluarga dan buah hati mereka.

maria2

Aneka panganan non beras dan non terigu yang dibuat ibu-ibu komunitas

maria5

Anak-anak menikmati kue buatan ibu mereka

Muffin Ganyong

Muffin ganyong

Tidak lebih dari satu jam sejak pertama kali kami berkumpul, sepiring kue muffin sudah terpanggang dan siap disantap. Ibu-ibu lain yang sebelumnya tidak ikut memasak pun bermunculan untuk ikut mencicipinya. Hingga munculah Bu Dian, ibu RT kampung tersebut yang belakangan baru saya tahu bahwa beliau memiliki andil yang cukup besar dalam perkembangan kampung tersebut.

Melihat saya sebagai orang asing, Bu Dian kemudian bercerita tentang apa yang telah ibu-ibu di kampung ini lakukan untuk membuat lingkungan mereka lebih baik. Beliau juga menawari saya tour singkat untuk melihat hasil kerja keras mereka selama ini. Tanpa pikir panjang, saya langsung terima ajakan beliau. “Dengan senang hati, Bu…” ucap saya.

“Dulu biasanya sampah dibuang di sini,” ucap Bu Dian sambil menunjuk Sungai Cidurian.

“Tapi sekarang mah udah dipilah, yang basah dikompos, yang kering dimanfaatkan jadi kerajinan dan ga dibuang di sungai lagi. Nanti komposnya dipakai untuk pupuk taneman ini,” tambahnya.

Lahan hijau di tepian sungai lah yang Bu Dian maksud. Lahan yang beberapa tahun lalu merupakan  ‘trotoar’ berpasir itu kini telah berubah menjadi ladang bertanamkan pepohonan dan berbagai tumbuhan pangan.

maria1

maria4

Tumbuhan di ladang tersebut sengaja dibuat beragam agar tidak dibutuhkan pesitida untuk merawatnya. Secara berkala ibu-ibu mengumpulkan kompos yang dibuat di rumah masing-masing untuk ditebarkan di ladang sebagai pupuk alami.

Saat panen tiba, mereka memanennya bersama-sama. Dari ladang tersebut sudah dihasilkan banyak bahan pangan untuk dikonsumsi para warga kampung. Mudah, murah, dan sehat. Ditambah lagi karena ini adalah hasil kerja keras sendiri, rasanya sungguhlah nikmat.

Sebuah saung kecil berdiri di tengah-tengah ladang. Tiga anak sedang bermain di dalamnya. Di bagian belakangnya terdapat baligo berukuran cukup besar bertuliskan “Engkang-Engkang, Komunitas Cidurian Bersih” dengan logo seekor laba-laba air.

engkang-engkang1-e1343672209573

Saung di tengah ladang

Rasa penasaran saya tentang arti nama komunitas ini akhirnya hilang setelah saya melihat baligo tersebut. Ternyata ‘engkang-engkang’ diambil dari nama lokal laba-laba air yang hanya hidup di perairan bersih. Warga menggunakan nama tersebut sebagai penyemangat, dengan harapan suatu saat nanti engkang-engkang akan hidup kembali di Sungai Cidurian.

Selesailah tour saya di hari yang menyenangkan itu. Tak disangka modal iseng-iseng saya berbuah begitu banyak inspirasi…. bahwa ternyata kampung sekecil ini mampu melakukan perubahan yang begitu berarti… bahwa keterbatasan ekonomi dan pendidikan bukanlah halangan dalam berinovasi dan beradaptasi di tengah krisis lingkungan yang terjadi saat ini.

Saya senang sekali pernah menjadi bagian dari komunitas ini, komunitas di mana para ibunya aktif secara langsung memperbaiki kulitas hidup keluarga dan kampung mereka tanpa membebani Bumi lebih jauh… para ibu yang suatu saat akan berkata kepada anak-anak mereka “tenanglah nak, kita tidak perlu memaksakan beli beras, tidak perlu beli terigu, tidak perlu lagi boros karbon untuk bisa menikmati makanan enak dan sehat.”

Semoga saat engkang-engkang yang mereka tunggu telah hadir di Sungai Cidurian, kampung ini sudah benar-benar mandiri dan tahan pangan. Juga menjadi kampung yang menjadi inspirasi bagi kampung-kampung lain untuk maju dan mensukseskan pembangunan berkelanjutan.

Hari beranjak malam. Saya bersiap pulang dengan membawa oleh-oleh kue muffin hasil belajar memasak sore itu. Sebagian ibu bersikeras menawarkan kantung plastik kepada saya untuk membungkus kue-kue tersebut, tapi saya memilih menggunakan daun pisang. Sementara mereka terheran-heran, saya berkata, “simpan dulu rasa penasarannya, Bu, di pertemuan selanjutnya kita bahas tentang plastik.” 😉

***

Tulisan ini diikutsertakan pada lomba blog dengan tema “Masyarakat dan Perubahan Iklim” yang diselenggarakan oleh Oxfam Indonesia.

Oxfam adalah konfederasi Internasional dari tujuh belas organisasi yang bekerja bersama di 92 negara sebagai bagian dari sebuah gerakan global untuk perubahan, membangun masa depan yang bebas dari ketidakadilan akibat kemiskinan.

Kampung Cidurian terpilih sebagai kampung iklim mewakili provinsi Jawa Barat pada Program Kampung Iklim yang diselenggarakan oleh Kementrian Lingkungan Hidup RI. Gelar tersebut diberikan sebagai penghargaan atas upaya-upaya adaptasi dan mitigasi perubahan iklim yang telah dilaksanakan di tingkat lokal sesuai dengan kondisi wilayah.

Semua foto merupakan dokumentasi pribadi Maria Hardayanto.

0

Profesor Tiara

5 months 8 days old

Tiara sekarang sudah bisa memegang barang-barang lebih kecil dan menjaganya agar tidak jatuh. Jadi sekarang setiap kali saya mendekatkan muka saya padanya, seringkali dia berusaha mengambil kacamata saya. Memegang, menarik, lalu mengunyek-unyeknya dengan telapak tangannya yang berkeringat.

Lalu terpikirlah ide untuk memakaikan kacamata itu di kepalanya.

prof tiara

Lucu ya? Kayak Simon Chipmunks. Sayangnya fotonya blur, soalnya dia gerak-gerak terus, dan motonya juga cuma pake BB. Mau coba ambil foto lagi ga tega, soalnya kayaknya dia pusing gitu, hehehe.

I hope someday she will be (or as smart as) a professor. What is better than smart and beautiful? 😉