4

Drawing Day #17 “My Favorite Superhero”

Berpacu dengan waktu sepulang sekolah, berharap masih bisa menonton serial kesayangan di televisi. Kira-kira begitulah nasib anak SD yang tumbuh pada dekade ’90-an yang terpaksa harus pulang sekolah pada sore hari. Bahkan kadang saya bisa sampe marah-marah sendiri kalau ada temen semobil jemputan yang lama banget keluar dari kelasnya, semua itu demi Kotaro Minami.

Ya, tayangan televisi sore hari favorit saya kala itu adalah Kastria Baja Hitam, dengan lakon utama Kotaro Minami.

Ksatria Baja Hitam

Jujur, saya dulu tergila-gila dengan Kotaro Minami. Namun sekarang, belasan tahun kemudian, ketergila-gilaan itu berubah menjadi rasa mual. Mungkin inilah yang membuat masa kanak-kanak menjadi masa yang paling indah, kita bisa menyukai apa saja tanpa memberikan penilaian yang serius. Kalau suka ya suka aja, ga ada penjelasannya. 🙂

Dari segi alur cerita sih bisa dibilang serial ini ga kreatif. Setipe lah sama Power Ranger dan serial superhero lainnya: ada geng yang jahat ngedrop monster di Bumi untuk mengacau, tapi kemudian dibasmi oleh superhero dengan bantuan pedang sakti mandra guna. Terus besoknya monsternya beda lagi, dan begitu seterusnya. Benar-benar monoton dan mudah ditebak. Tapi di mata saya, serial ini berbeda dari serial-serial superhero lainnya, karena di setiap episodenya pasti ada pesan moral atau poin belajarnya untuk anak-anak.

Saya sudah lupa sih apa-apa saja pesan moral dan poin belajarnya, tapi ada satu episode yang masih saya ingat, yaitu episode moster kaktus.

Saat itu Kotaro menyiram kaktus milik Reiko (pacar Kotaro — kalau ga salah) dengan air dalam jumlah banyak. Lalu Reiko berujar, “Jangan siram terlalu banyak air, nanti kaktusnya mati.” Pada akhir episode, kata-kata Reiko inilah yang akhirnya menginspirasi Kotaro untuk mengalahkan monster kaktus dengan menjatuhkannya ke sungai.

Untuk anak-anak, menurut saya ini adalah media belajar yang baik. Walaupun sekedar belajar “kaktus ga bisa hidup kalau kebanyakan air”, tapi yang penting ada poin belajarnya. :mrgreen:

Kastria Baja Hitam kini telah berevolusi menjadi varian-varian yang jumlahnya cukup banyak. Sayang sekali, seiring kedewasaan, saya mulai meninggalkan serial ini. Varian terakhir yang saya tonton adalah Ksatria Baja Hitam RX Bio. Ah, jadi pengen nonton lagi, terus ngelanjutin sampe tamat. 😀

Advertisements
6

Drawing Day #16 “My Turning Point in Life”

Ternyata benar apa kata rumput yang bergoyang, bahwa hidup manusia tidak akan pernah bisa disangka-sangka. Seperti juga hidup saya.

Pada suatu hari di bulan Agustus tahun 2000, di minggu pertama saya sekolah di SMA Negeri 1 Bandung, teman saya Dian Marliana Srikaton mengajak saya untuk bergabung dengan organisasi bernama “Bumi Satu.” Saya yang saat itu masih ababil dan belum tahu mau memilih organisasi apa yang akan saya jalani selama 3 tahun ke depan, akhirnya mengiyakannya.

Sebenernya saya kurang sreg dengan keputusan yang saya buat, karena saya pikir organisasi ini tidak populer (yah, namanya juga ababil, ngerti lah :p). Tapi saat itu saya tidak tega menolak ajakan Dian, apalagi setelah Dian bilang “Pliiiiiis, sodara saya minta saya ngajakin kalian untuk masuk ke situ.”

Maka bergabunglah saya sebagai anggota Bumi Satu, organisasi SMA pertama di Indonesia yang bergerak dalam bidang lingkungan hidup. Benar dugaan saya, organisasi ini memang tidak populer, pendaftarnya hanya 6 orang pada tahun itu: saya, Dian, Rani, Evi, Gilang, dan Made. Tapi yang tersisa sampai akhir tahun 2003 hanyalah 5 orang, karena Made mati gaya dan akhirnya beralih ke klub skateboard.

Pada jaman saya SMA dulu, isu-isu lingkungan hidup belum sesanter sekarang. Bahkan saking bingungnya mau melakukan aktivitas apa, kami sering kali menyibukkan diri mengurusi tanaman di greenhouse. Lumayan, sambil ngurusin tanaman biasanya kami bisa curi-curi pandang anak-anak Tae Kwon Do yang sedang latihan tendang-tendangan. :mrgreen:

Kami memang tidak punya banyak aktivitas internal selain main tanaman dan main ular, tapi senior kami seringkali mengajak kami main ke LSM sana-sini, ikutan aksi ini-itu, dan diskusi segala macem. Sampai akhirnya saya yang ababil saat itu menemukan bahwa “lingkungan hidup” adalah dunia yang sangat menarik.

Bocah Ababil

Ketertarikan ini kemudian menyeret saya untuk berkarir di bidang lingkungan hidup selepas saya lulus kuliah…. dan saya berniat untuk terus konsisten berkarir di bidang ini sampai tua. Doakan saja ya! *Takeshi Castle mode on* :mrgreen:

Saya merasa sangat beruntung 11 tahun lalu berteman dengan Dian, si gadis Pontianak yang lugu. Dan saya bersyukur saya yang ababil saat SMA dulu mau mencoba sesuatu yang baru, yang menurut saya tidak populer. Jika tidak, mungkin saat ini saya berkarir sebagai akuntan atau artis. *ngarep* :mrgreen:

Hidup memang penuh dengan kejutan, jadi jangan pernah tolak kesempatan yang datang kepada kita saat ini. Kita tidak akan pernah tahu apakah hal itu akan mengantarkan kita pada turning point hidup kita selanjutnya. So, just try it! 🙂

9

Drawing Day #7 “My Inspiration”

Apa itu inspirasi? Jujur, walaupun saya sering pake kata ini dalam kehidupan sehari-hari, saya ga tau apa arti “inspirasi” yang sebenarnya. Menurut KAAR sih (KAAR = Kamus Abal-Abal Rima), inspirasi adalah sesuatu yang membuat seseorang terdorong untuk menentukan dan mengejar visi hidupnya. Sehingga seseorang yang menginspirasi orang lain disebut “inspirator.”

Tapi sepertinya ketimbang “inspirator,” orang-orang lebih suka menyebut orang yang menginspirasi dengan “inspirasi.” Mungkin karena inspirator terlalu terkesan seperti nama alat, hahaha… Atau mungkin juga telinga orang-orang banyak terpengaruh lagu Chicago tahun ’80-an yang judulnya You’re the Inspiration. Sebentar ya, saya nyanyi dulu….

♪ ♫You’re the meaning in my life
You’re the inspiration
You bring feeling to my life
You’re the inspiration ♪ ♫

Beliaulah Dr. Achmad Sjarmidi, yang menginspirasi saya untuk menjadi dosen. Bukan dosen sembarang dosen, tetapi dosen gaul tentunya, ahaha… Satu hal yang paling saya tidak suka dari dosen adalah sikap judgmental mereka terhadap mahasiswa. Hebatnya, Pa Mamid (sapaan akrabnya) tidak begitu. Beliau melihat kualitas seseorang bukan dari nilai akademisnya, tapi dari cara mereka memperoleh nilai tersebut. Sehingga tak heran pada semua mata kuliah yang beliau ajarkan, pendekatan yang dilakukan adalah mengajak mahasiswa berpikir (secara harfiah), bukan “berpikir” yang hanya mendengarkan tetapi konsentrasi belanja ke mana-mana. Sementara mahasiswa lain merasa bete karena “kenyamanan” mereka terganggu, saya justru bersemangat! It’s so fun….! 😀

Lebih kerennya lagi adalah, saya bisa tidak sengaja bertemu beliau pada event-event pergerakan sosial di Bandung. Di saat orang-orang seumuran beliau merasa hal-hal seperti itu sudah bukan urusan mereka lagi karena sudah bukan jamannya, Pa Mamid hadir untuk menginspirasi anak-anak muda.

Satu hal lain yang membuat saya heran adalah, dengan segala kesibukannya ke sana ke mari, beliau masih tetap update dengan dunia musik mancanegara. Pernah di satu kesempatan saat kami survey tempat kuliah lapangan bersama, beliau memperdengarkan musik dengan lagu berbahasa Perancis kepada saya, dia bilang “Ini lagu seksi.” Dan pada perjalanan kembali ke Bandung, saat kami mendengar lagu Britney Spears di radio, beliau berkomentar, “Hebat ya si Britney, bisa bangkit lagi dari keterpurukan.”

Eh…. Sampe tau berita tentang Britney, pak? Wah, bener-bener gaul 😀

*Padahal saya yang anak muda aja saat itu ga tau kalau itu lagu Britney, dan saya juga ga tau kalau Britney sudah bangkit dari keterpurukannya -_-*

Itulah Pa Mamid, dosen yang gaul dan asik. Someday, I want to be just like him: cerdas, gaul, hangat, inspiratif 🙂

P.S.: Gambar ini adalah hasil percobaan kali ke-tiga saya belajar menggunakan cat air, dan saya menemui kesulitan dalam mewarna kulit manusia, hahaha… Liat aja tuh hasilnya berantakan. Harusnya sih ga selegam itu kulitnya si bapak, tapi karena warnanya ga rata terus, saya poles-poles lagi.. akhirnya jadi legam banget plus tetep ga rata juga -_- *yah, namanya juga belajar :p*

P.S.S.: Beliau adalah orang yang sama dengan yang saya ceritakan di sini.

2

Drawing Day #6 “My Best Friend”

Best friend yah? Sebenernya best friend saya lebih dari satu, tapi untuk tantangan kali ini,  saya mencoba menggambar Lerry Martina sebagai best friend saya,  soalnya dia baru aja lulus S2 hari Jum’at lalu. Selamaaaaaaat >,<

Maksud saya, selamat masuk ke kandang harimau selepas dari kandang buaya (untuk kedua kalinya, heuheu :p).

Untuk Lerry, sori ya kalau gambarnya ga mirip. Kalau lebih cantik dari aslinya, anggap aja rejeki… kalau lebih jelek, anggap aja ibadah, hehehe… 😀

Thanks for being my best friend 🙂

2

Drawing Day #5 “My Favorite Food”

…..dan makanan favorit saya adalah es krim. Varian yang paling saya suka adalah rasa vanilla, baik yang polos maupun yang bertabur choco chip atau potongan kue coklat.

Kebiasaan saya saat makan es krim adalah saya menggigit bagian atas cone-nya duluan sebelum makan es krimnya. Ga tau kenapa, hahaha…. xD

Kalau kamu, suka es krim rasa apa? Dan bagaimana cara memakannya yang asik menurut kamu? 🙂

6

Drawing Day #4 “My Favorite Place”

Bicara tentang tempat favorit, maka jawaban saya pasti “hutan,” tempat terindah di Bumi, yang dari padanya manusia memperoleh makanan sehat dan udara segar.

ANAK TARZAN

(by Abah Iwan)


Aku dilahirkan jauh di dalam hutan
Di tepi telaga yang jernih airnya
dan banyak ikannya
Aku tinggal dalam rumah
Di atas pohon bercabang-cabang
Bunga-bunga bermekaran
bermacam-macam warna

Kalau aku lapar kupanggil temanku
Paman monyet yang sangat baik hati
Aku diajaknya pergi mengembara
Mencari buah-buahan yang segar

Ayahku seperti Tarzan
Dia penuh kasih sayang
Hidupku berkecukupan riang dan bahagia

Ibuku putri rimba
Titisan dewi cahaya
Kesayangan rembulan
Ia cantik sekali

Ayahku sangat gagah perkasa
Baik hati dan jujur sekali
Aku ingin seperti ayahku
yang jiwanya bebas dan hidup merdeka

Walau ayahku seperti Tarzan
Dia penuh kasih sayang
Hidupku berkecukupan riang dan bahagia

Ibuku putri rimba
Titisan dewi cahaya
Kesayangan rembulan
Ia cantik sekali

Ayahku sangat gagah perkasa
Baik hati dan jujur sekali
Aku ingin seperti ayahku
yang jiwanya bebas dan hidup merdeka

3

Drawing Day #3 “My Family”

Halo, halo, tiba kita pada hari ketiga dari tantangan 30 Days of Drawing. Tantangan hari ini adalah menggambar “my family”.

Speaking of family, biasanya kita akan menggambar ayah, ibu, dan kakak-adik. Tapi saya ga menggambar mereka,  saya menggambar anggota baru keluarga saya, namanya Ekaprasetya Yusnikusumah.

Semoga darinya dihasilkan benih-benih yang kelak akan menjadi anak-anak yang cerdas dan lucu-lucu, membentuk keluarga yang asik-surasik. 🙂

Amiiiin….. ya Alloh 😀